I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Sangat Berkesan



Kak Selvia terus saja menarik tangan Alia hingga berhenti di samping sang Mama yang sedang berdiri di pojokan ruangan itu.


"Mama..."


Ibu Rana menoleh, ia tersenyum melihat putri tercintanya menghampirinya.


"Ada apa sayang hm? Kami mau makan atau minum sesuatu? Tanya Ibu Rana sembari memegang pundak anaknya.


"Tidak Ma, ini aku mau kenalin temennya aku yang waktu itu dampingi aku ke kota Palembang waktu itu." Selvia ceplas ceplos saja didepan sang Mama.


"Oh, iya..siapa namanya? Alia ya? Iya Alia, Ibu baru ingat. Apa kabar kamu, nak?" Ibu Rana terlihat sangat antusias dan ramah. Berbeda dengan perkiraan Alia.


"Iya tante, nama saya Alia. Alhamdulillah baik tante. Tante gimana kabarnya?" Tanya Alia kembali sambil tersenyum hangat. Alia berpikir orang kaya itu akan bersikap sombong dan acuh. Ternyata dia salah. Ibu Rana sangat baik dan lembut.


"Alhamdulillah baik, sayang. Selvia sudah menceritakan semua tentang kamu. Apalagi waktu kamu ngerawat Selvia waktu di kapal. Tante benar-benar berterima kasih sayang." Ibu Rana mengelus lembut pundak Alia.


"Sama-sama Tante. Sudah sewajarnya saya melakukannya. Jika saya diposisi Kak Selvia, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama."


"Kamu baik sekali nak, cantik lagi. Kamu sama siapa kesini?" Tanya Ibu Rana melihat kesana kemari mencari partner Alia. Alia merasa tidak enak untuk mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin ia jujur dan mengatakan kalau putra pertama Ibu Rana yang mengajaknya ke tempat itu.


"Emmm...anu Tante, saya...."


Kak Selvia yang mengerti dengan sikap Alia lantas memotong kalimatnya. "Ma, kami pergi dulu ya. Kembali ke meja Alia. Di sana sudah ada teman Alia yang menunggu. Mama lanjut lagi ya.." Kak Selvia menarik tangan Alia dan mengajaknya pergi.


"Kak, kenapa pergi begitu saja? Aku belum juga pamit sama beliau."


"Nggak papa Al...mama pasti memaklumi apalagi yang mengajakmu kan Aku." Kak Selvia mengerlingkan matanya sambil tersenyum


"Eh, tunggu dulu Kak." Alia menghentikan langkahnya. Kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya.


"Kenapa Kakak memotong percakapanku dengan Tante tadi?" Alia menaikkan salah satu alisnya, penasaran.


"Alia...Alia...kamu aja nggak bisa jawab gitu. Kamu nggak mau kalau mamaku tahu kalau kamu datang kesini dengan Kakak kan?" Kak Selvia melipat kedua tangan diatas perutnya.


"Ba-bagaimana Kakak bisa tahu itu?" Alia mulai terbata-bata.


"Haha...kamu itu ya, kenapa jadi takut Al? Di mejamu tadi kan ada mbak Yuna, jadi pastinya ada Kakak kan?" Kak Selvia tergelak melihat ekspresi wajah Alia.


"Eh iya ya, hehe..." Alia tersenyum malu.


"Sudah siap jadi pengantin Al? Goda Kak Selvia sambil menyentuh pundak Alia dengan bahunya.


"Apaan sih, Kak? Masih kuliah juga masa' ditanya soal nikah." Cebik Alia. Ia sungguh tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan ini.


Mereka kembali ke meja dan bergabung kembali bersama Yuna. "Kakak kemana, mbak?" Kak Selvia bertanya kepada Yuna.


"Tadi katanya ingin menemui rekan bisnisnya sebentar. Tidak tahu juga kenapa bisa selama ini?" Yuna sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oh, ya sudah nggak papa. Kamu sudah makan Al?" Kak Selvia beralih kepada Alia.


"Belum, Kak. Kita ajak mbak Yuna aja sekalian." Alia mengalihkan pandangannya kepada Yuna sambil tersenyum. Ketika itu juga Yuna memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Loh, kenapa lagi dia? Apa aku salah bicara ya?" Batin Alia.


Mereka beranjak menuju meja menu dan mengambil makanan dan minuman sesuai dengan selera masing-masing.


***


Di sebuah meja bundar yang terletak di pojokan sana terlihat seorang laki-laki dewasa dan beberapa orang laki-laki paruh baya sedang bercengkerama dan berbincang tentang banyak hal. Sesekali mereka membahas dunia perbisnisan yang mereka jalani.


"Kami salut padamu, nak Urai. Di usia yang semuda ini kamu sudah bisa menjalankan bisnismu sendiri tanpa mengandalkan aset keluarga. Seandainya saja putra saya juga mau berbisnis sepertimu, saya akan merasa sangat bangga." Ucap Pak Fahri yang menyesalkan putranya yang mengambil jalan lain.


"Maksud Bapak? Anak Bapak tidak mau meneruskan perusahaan yang Bapak rintis selama ini?" Tanya Kak Urai penasaran.


"Iya nak Urai. Dia lebih memilih untuk menjadi seorang Dokter. Saya tidak begitu kecewa dengan keputusannya. Hanya saja, Saya lebih menginginkannya untuk menjadi penerus perusahaan saya." Ucap Pak Fahri sambil tersenyum.


"Benar juga ya nak Urai. Kalau begitu saya harus sesegera mungkin meminta anak saya untuk menikah." Timpalnya sambil tersenyum penuh semangat.


"Ah, Pak Fahri...Jangan asal nikahkan saja, Pak. Zaman sekarang kita harus hati-hati memilih calon menantu yang benar-benar baik, Pak." Ucap salah satu laki-laki paruh baya yang duduk disamping Pak Fahri.


"Hahaha...Bapak ini bisa saja. Masih banyak orang yang baik kok Pak. Saya yakin anak saya pasti sudah punya kandidatnya." Pak Fahri tergelak.


"Kamu sendiri kapan menikah nak Urai?" Pak Fahri menepuk pundak Kak Urai.


"Hehe, belum Pak. Masih menunggu." Jawab Kak Urai sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Jangan kelamaan nunggu nak Urai. Nanti keburu diambil orang." Goda salah satu dari mereka.


"Tenang saja, Pak. Tidak akan saya biarkan dia direbut orang." Kak Urai tersenyum penuh keyakinan. "Ngomong-ngomong, saya pamit dulu ya Pak, tidak terasa sudah lama saya meninggalkan partner saya di meja sana. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi." Kak Urai undur diri dan meninggalkan meja itu.


Kak Urai berjalan menuju mejanya yang sudah terlihat ada tiga wanita yang tidak asing lagi baginya duduk disana.


"Maaf ya, jadi lama." Kak Urai mendudukkan tubuhnya kembali.


"Kalau ngajak partner undangan tuh nggak boleh ditinggal-tinggal loh, Kak. Untung aja tadi Alia nggak kabur." Celetuk Kak Selvia.


"Iya, maaf ya Al. Tadi ada rekan bisnis yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Nggak enak juga kalau langsung ditinggal gitu aja." Jelas Kak Urai.


Mendengar kata Surabaya hati Alia serasa sejuk dan bergetar. Pikirannya langsung tertuju pada Aufar. Belum ada kabar hari ini dari Aufar. Ia belum membaca pesan singkat maupun mendengar suara Pria pujaan hatinya itu sebagai penawar rindu.


Ketika pikirannya melayang kepada Aufar yang jauh disana. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tasnya dan melihat ada pesan singkat. Lantas Alia membuka pesan itu, yang ternyata dari Aufar. "Panjang Umur," gumam Alia pelan sambil tersenyum. Melihat Alia yang tersenyum sendiri, membuat Kak Selvia dan Kak Urai saling melempar tatapan.


"Siapa yang panjang umur, Al?" Tanya Kak Selvia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Udah lebih dari seribu kata gengs🙏 lanjut next episode yah☺️ Mohon maaf aku selalu ngingetin goyang jempol😁💞