I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Simulasi



Sore itu hujan turun semakin deras. Petir dan kilat bersahut-sahutan ria tanpa merasa sungkan dengan penduduk bumi. Tak ada lagi kilatan jingga memesona di langit senja Ibu Kota Negara.


Pada waktu yang bersamaan, sebuah mobil mewah berwarna putih dengan gagah memasuki pekarangan rumah yang tak kalah mewahnya. Si pengendara telah memarkirkan mobilnya dengan apik di garasi berdampingan dengan beberapa mobil lainnya. Perlahan ia mematikan mesin mobil itu, dan menyembulkan tubuh atletisnya keluar dari kendaraan roda empat itu.


Siapakah dia???


Seorang ART (Asisten Rumah Tangga) bergegas membuka pintu rumah yang tinggi menjulang, setelah mendengar suara bel. Dengan langkah tegap ia memasuki rumah mewah itu setelah menyapa dengan ramah asisten rumah tangganya yang berusia sekitar empat puluh tahunan.


"Mama dimana, mbak?" Tanya Pria itu kepada asisten rumah tangganya.


"Nyonya sedang istirahat di kamarnya, Den. Setelah pulang dari rumah sakit tadi Nyonya langsung tidur." Jelas si ART.


"Apa Medina sudah pulang?" Tanyanya lagi setelah melepas kaca mata hitam yang bertengger dengan angkuh pada hidung mancungnya.


"Nona Medina sepertinya masih menemani Nyonya, Den." Jawabnya dengan sopan sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.


Setelah menangkap beberapa informasi dari asisten rumah tangganya, Pria itu memasuki sebuah elevator yang memang tersedia di sana sebagai akses menuju kamar Sang Mama pada lantai tiga rumah hook yang terdiri dari empat lantai itu.


Ting...(Pintu kotak ajaib itu terbuka)


Pria itu keluar dari elevator, kemudian masuk ke kamar yang ia tuju. Ia membuka pintunya secara perlahan agar tidak mengganggu tidurnya si empunya kamar.


Ceklek..(pintu kamar terbuka)


Tampaklah seorang wanita setengah baya sedang tertidur pulas di atas ranjang yang berbalut kain sprei berwarna abu-abu tua. Tembok kamar itu didominasi oleh warna biru telur bebek yang dikombinasi sedikit dengan warna abu-abu monyet. Sungguh kombinasi yang amat sangat tidak cocok bukan? Namun entah mengapa si empunya kamar sangat menyukai kedua warna tersebut bahkan ia sendiri yang memberi isyarat saat pemilihan warna untuk kamar tidurnya itu.


Mendengar suara pintu yang terbuka, seorang wanita yang berusia sekitar dua puluh tiga tahun mendongakkan kepalanya yang sedari tadi fokus memandang buku yang sedang ia baca. Ia duduk santai di sebuah sofa yang tersedia di dalam kamar itu sambil memantau kondisi wanita setengah baya yang sedang tidur tersebut.


Wanita yang sedang duduk di sofa itu tergolong dalam daftar wanita cantik dengan balutan kerudung putih yang selalu setia melindungi mahkotanya. Senyuman manis, mata tajam dan hidung mancung terkesan sangat khas di wajah ayunya yang kearab-araban. Ia menutup buku bacaannya, meletakkannya perlahan di atas meja, lalu bangkit dari duduknya untuk menyapa Pria yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Tuan Jimmy.." Sapa Medina dengan lemah lembut dan sopan.


''Sssssst... " Jimmy memberi kode agar tidak adanya percakapan di antara mereka dengan jari telunjuk di depan bibirnya. Ia tidak ingin sang Mama terbangun dari mimpi indahnya.


Medina yang menyadari hal itu lantas membekap mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Ia selalu lupa jika Jimmy paling tidak suka ada yang membuat keributan di saat Nyonya besar rumah ini sedang beristirahat.


Semua orang yang bekerja di dalam rumah itu sangat hafal dengan peraturan yang dibuat oleh Tuan Mudanya. Kecuali Medina, wanita itu selalu terlihat antusias jika bertemu dengan Jimmy sehingga membuatnya melupakan sesuatu yang sangat krusial sekalipun.


Jimmy berjalan mendekati tempat tidur dan mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang. Ia menatap sendu Sang Mama yang sedang tertidur pulas. Guratan kesedihan sekaligus kekhawatiran akan kondisi wanita setengah baya itu berhasil membingkai wajah tampannya.


"Kamu boleh pulang, Me. Pak Anto akan mengantarmu. Biar aku yang menjaga Mama." Jimmy berkata tanpa memandang ke arah Medina.


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu." Medina meraih buku miliknya yang tergeletak di atas meja, mengambil tas selempangnya dan berjalan menuju pintu kamar. Ketika kakinya hampir melangkah keluar suara Jimmy menghentikan langkahnya.


"Terima kasih sudah menjaga Mamaku dengan baik, Me.." Jimmy membalikkan badannya dan tersenyum hangat kepada Medina. Tentu saja disambut dengan tak kalah hangatnya oleh wanita itu.


"Sama-sama, Tuan. Hal itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Medina melangkah keluar setelah mendapat anggukan kepala dari Jimmy.


***


Alia sedang asyik berkutat dengan peralatan masaknya saat ini. Ia sedang menyiapkan menu makan malam special untuk menyambut kepulangan sang tambatan hati.


Waktu bergulir begitu cepat. Sudah hampir maghrib namun Aufar belum juga tiba di sana. Alia segera menata maha karyanya di atas meja makan dengan rapih, lalu ia bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Tak terasa waktu tiga puluh menit ia habiskan hanya untuk melakukan ritual sakral itu. Wanita memang payah. Mandi saja seperti membuat sebuah cake, banyak prosedur yang harus dilewati. Ribet bin ruwet!!


Ketika keluar dari kamar mandi, ia mengedar pandangan ke seluruh ruangan, namun belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Aufar.


Wanita berdarah melayu itu, segera mengeringkan rambutnya dan memakai pakaian yang sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini Alia hanya mengenakan long dress tanpa lengan dari bahan sutra berwarna hitam polos. Rambut panjangnya diizinkan bergerai ria tanpa penutup kepala. Mereka bebas hari ini. Siapa? Mahkota indah yang selalu ia sembunyikan di balik kain suci yang selalu setia membalut kepalanya, walaupun di depan suami tercintanya sekalipun.


Ketika sedang asyik menyisir rambutnya di depan meja rias, ia menangkap sosok yang sedari tadi ia tunggu-tunggu, berdiri tegap tepat di belakang kursi yang sedang ia duduki dari pantulan kaca.


Senyuman khas mengembang di bibir sosok yang tak lain adalah suaminya sendiri. Aufar menyentuh kedua pundak Alia dan berbisik mesra di telinganya.


"Aku tergoda.."


Hembusan nafas hangat berbau mint menyentuh telinga Alia, membuat ia merasa geli seperti digelitiki oleh ribuan rumput liar.


"Mas sudah pulang, ayo cepat bersih-bersih." Alia segera mengalihkan topik pembicaraan, sebelum Aufar menyadari ada yang berdisko ria di dalam sana.


Wanita berlesung pipi dangkal itu bangkit dari duduknya dan meraih jas putih yang melingkar pada lengan sang suami dan menyimpannya di dalam keranjang pakaian kotor.


Ketika ingin membalikkan badannya, Alia menabrak tubuh atletis sang suami yang entah bagaimana ceritanya telah menempel sempurna dengan tubuh mininya. Alia bisa merasakan tubuh bagian bawah milik Aufar telah mengeras sempurna bak sebuah pisang raja mentah.


Alia menelan salivanya dengan berat, dag dig dug suara organ pemompa darahnya mulai bertabu-tabu bak kendang dalam acara orkes gambus. Suhu tubuhnya berubah panas dingin, karena mendapat serangan mendadak seperti itu.


Melihat wajah tegang sang istri, Aufar sedikit menyungging senyuman di bibirnya. Ia tahu bahwa Alia tidak akan bisa kabur dan berkilah lagi saat ini. Tanpa ragu Aufar meraih dagu Alia yang tertunduk malu, mendongakkan kepalanya sempurna menghadap wajahnya. Posisi yang sangat menguntungkan bagi Aufar. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi membuatnya leluasa memandang wajah teduh yang berada tepat di bawah wajahnya dengan jarak yang amat dekat.


Aufar melingkarkan sebelah tangannya di pinggang ramping Alia. Memberikan sentuhan yang berdampak fatal pada wanita pujaannya itu. Alia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya merasakan sentuhan sensual dari sang suami. Hal ini membuat libido dokter tampan itu naik kesekian persen. Ia sudah tidak bisa menundanya lagi saat ini.


Sudah kurang lebih dua minggu Aufar menahan diri untuk tidak menyalurkan hasratnya karena Alia selalu berdalih dengan kalimat 'slow down, baby'. Ia selalu berusaha mengendalikan diri agar Alia merasa nyaman tanpa adanya paksaan. Namun hari ini, Alia sendiri yang secara tidak langsung telah menggodanya. Sumpah demi apapun, kabut gairah sudah menguasai wajah tampan dokter muda itu.


Aufar memiringkan kepalanya, mengecup lembut bibir mungil Alia. Kecupan itu ia berikan berkali-kali dengan ritme yang agak lambat. slow motion, baby. Alia memejamkan matanya, merasakan kecupan sayang itu tanpa memberikan balasan. Aufar menghentikan aksinya sejenak, menatap wajah Alia yang semakin menggemaskan.


Ia menggendong tubuh mungil itu, dalam sekali hentakan. Menyusuri setiap inci tulang rahang sang istri dengan kecupan kering, yang lama kelamaan berubah menjadi kecupan basah. Hal itu membuat Alia mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar dan melingkarkan tangannya di leher Aufar. Sebenarnya Alia ingin sekali melenguh karena merasakan sensasi hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang tidak pernah ia rasakan selama ini, namun ia tak enak hati. Akhirnya bibir bawahnya menjadi korban gigitannya sendiri.


Aufar yang merasakan tak ada penolakan dan berbagai alasan lagi dari sang istri, meletakkan perlahan tubuh mungil itu di atas ranjang dengan hati-hati. Kemudian ia berdiri tegak dan melucuti kemeja kerjanya dan melemparkannya ke sembarang arah.


Namun, ketika Aufar ingin kembali melanjutkan aksi, Alia tampak sedikit berkerut dahi.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku ... aku lagi datang bulan, Mas."


Bersambung....