
"Bagaimana ceritanya, Na, Fia?"
Aufar berhambur ke arah istrinya yang sedang berbaring seraya mengerang kesakitan. Sementara Jimmy, baru saja melewati pintu kamar dan berdiri di belakang Aufar, tepat di samping Husna.
"Ta--tadi Alia ter--peleset di kamar ma-mandi, Pak Dokter."
Delfia menyahut dengan suara terbata. Ia merasa tidak enak hati karena Aufar telah menitipkan Alia padanya. Namun naas, wanita itu malah mengalami kecelakaan ketika ingin buang air kecil. Sedari tadi wanita berlesung pipi dalam itu, duduk di samping Alia sembari mengelus lembut perut Si Bumil sebagai tanda bahwa ia paling merasa bersalah di sini.
"Sakiiit, Mas. Uuuuh ...." Alia menggeliat gusar menahan nyeri yang sesekali terasa memelintir isi perutnya. Wajahnya tampak meringis dengan peluh yang membanjiri keningnya tanpa henti.
"Iya, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang!" Aufar bersiap menggendong Sang Istri. "Jim, tolong bawa mobil gua," pintanya kepada Jimmy sembari menyerahkan kontak mobil.
"Pake mobil gua aja, Far." Jimmy berbalik arah, lalu bergegas ke luar untuk menyiapkan mobil.
"Kalian, tolong siapkan perlengkapan yang Alia butuhkan selama di rumah sakit ya," pinta Aufar sekali lagi kepada Husna dan Delfia. "Gua tunggu di rumah sakit." Husna dan Delfia mengangguk berbarengan.
Beberapa saat kemudian
"Tolong lebih cepat, Jim!" Aufar menepuk-nepuk pundak Jimmy ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Sedangkan Alia, masih saja merintih menahan diri agar tidak berteriak karena ngilu yang teramat dalam bak mengaduk-aduk isi perutnya.
"Siap." Mantan asisten pribadi Aufar itu lantas menambah laju kendaraannya menembus padatnya arus lalu lintas Ibu Kota.
***
Waktu mengukir senja, semua keluarga nampak berkumpul di depan ruang bersalin dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Sebab, hanya Aufar yang diperbolehkan untuk menemani Alia di dalam sana.
Papa Fahri, Mama Yani, Kak Fira, Kak Farun, Pak Harry, Ibu Nana dan Alan, mereka langsung terbang ke Jakarta setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Alia.
Sementara Jimmy, Husna dan Delfia sedari tadi tidak meninggalkan Aufar sama sekali. Mereka tidak kalah khawatirnya atas insiden yang menimpa sahabatnya itu.
"Sayang," sapa Mr. Berry dengan langkah tergopoh mendekati Sang Istri. Membuat semua perhatian tertuju kepada dosen muda tersebut.
Ya, suami sah dari Delfia itu langsung memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari istrinya. Ia lantas bergegas menyelesaikan seminar pendidikan yang diikutinya di kota sebelah, lalu mengurungkan niatnya untuk menginap di sana.
"Sayang, Alia ...." Belum juga selesai bicara, Delfia sudah menangis sesegukan di dalam pelukan lelakinya.
"Sssst ... Alia pasti akan baik-baik saja, kamu tenang ya." Mr. Berry duduk mengelus lembut punggung Sang Istri menenangkan.
Sementara Ibu Nana dan Mama Yani terlihat paling memilukan di antara yang lainnya. Benar saja, hati Ibu mana yang tidak gusar ketika mengetahui bahwa putrinya harus melahirkan sebelum waktunya.
Jarum jam terus berputar!
Tiga puluh menit ....
Empat puluh lima menit ....
Satu jam ....
Belum juga terdengar suara tangisan bayi. Semua wajah tampak sangat tegang. Detik-detik menunggu kelahiran seorang bayi memanglah merupakan momen yang menegangkan sekaligus membahagiakan.
Namun untuk kasus kali ini, sepertinya mereka lebih banyak khawatir akan keselamatan Ibu dan Bayi itu.
CEKLEK
Daun pintu tersibak, menyembulkan tubuh atletis Aufar dengan wajah yang bersimbah air mata. Entah itu merupakan air mata bahagia, ataukah air mata kesedihan? Tidak ada yang bisa menerka.
Semua bergerombol mendekati Aufar yang sontak menghambur ke arah Sang Mama.
"Ma, maafin aku ya ... " Aufar menangis sesegukan dalam dekapan Mama Yani.
"Ba--bagaimana dengan Alia dan bayi-bayinya, Nak?" Mama Yani shock melihat ekspresi Aufar. Ia sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui kondisi menantu dan cucu-cucunya.
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja." Aufar semakin terisak.
"Lantas mengapa kamu menangis sehisteris ini?" Tanya Mama Yani kebingungan. Begitu pula dengan yang lainnya. Sikap Aufar benar-benar bermakna ambigu.
"Aku sudah melihat semuanya, Ma." Menghela nafasnya sejenak. "Ternyata begitu prosesnya saat Mama melahirkanku ke dunia ini," tuturnya semakin pilu. "Aku sungguh tidak sanggup melihat Alia kesakitan." Semakin menundukkan wajahnya.
"Maafin aku ya, Ma. Perjuangan Mama begitu mulia. Aku berjanji, mulai detik ini, aku tidak akan pernah menyakiti Alia lagi. Aku janji, Ma." Aufar mengetatkan rengkuhannya. Memejamkan kedua kelopak matanya dalam, meresapi rasa haru sekaligus sedih yang bersekongkol menghujam dadanya.
"Iya, Mama faham, Sayang. Kamu hanya terbawa suasana aja. Ya sudah, Mama do'akan semoga istri dan anak-anakmu sehat selalu." Mengecup pucuk rambut Aufar dengan penuh kasih sayang.
Pak Harry dan Ibu Nana yang melihat adegan itu, tentu saja ikut terharu. Perasaan khawatir bercampur takut kini telah melebur sudah. Kerabat dan teman yang lainnya juga merasa bersyukur dan bersorak gembira.
"Dokter Aufar," teriak seorang perawat yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruangan.
"Iya, Suster." Aufar menyeka air matanya lalu menoleh.
"Dokter Frisil ingin berbicara dengan Anda," tutur Suster itu dengan senyuman ramah.
DEG
Semuanya tersentak, wajah mereka kembali menegang. Ada apakah gerangan?
"Baik, Suster," sahut Aufar dengan wajah tenang serta pikiran yang mencoba ber-husnudzon.
Aufar lantas masuk kembali ke dalam ruangan untuk menemui Dokter Frisil.
***
Malam harinya ...
"Wajah mereka sangat mirip dengan Abu-nya. Tampan, tampan sekali." Alia masih terbaring di atas ranjang pasien, di saat suster membaringkan kedua bayinya tepat di sisi kanan dan kirinya.
Mama Yani dan Ibu Nana tampak sumringah melihat cucu-cucunya terlahir dengan selamat, normal, tanpa kurang satu apapun.
"Bu, aku mau membopong bayiku," tutur Alia kepada Sang Ibunda.
"Sebentar, Ibu bantu, ya." Ibu Nana bangkit dari kursi lalu membantu Alia duduk bersandar di muka ranjang.
Proses melahirkan normal yang dilewatinya membuat ia sudah bisa bergerak dan duduk dengan perlahan.
"Hoek ... hoek ..." Tangisan si kembar pecah ketika suster meletakkannya di pangkuan Alia.
"Mereka kenapa, Suster?" Tanya Alia dengan polos.
"Sepertinya mereka lapar, Nyonya. Nyonya bisa langsung memberikan ASI kepada mereka, karena ASI Nyonya sudah keluar." Suster itu memberikan instruksi agar Alia langsung memberikan ASI pertamanya kepada Si Jagoan Kembar.
Semasa Alia menyusui Jagoan yang pertama, Mama Yani dengan girang menggendong dan bergurau dengan Jagoan yang kedua.
"Seneng, ya, Bu. Sekarang Kita sudah punya cucu," tutur Mama Yani kepada Ibu Nana yang sedari tadi berdiri di samping Alia.
"Loh, sampean kan udah pernah punya cucu, Jenk," kelakar Ibu Nana sambil terkekeh kecil.
"Tetep aja, Bu. Bahagianya gak ketulungan. Ya, kan Jagoan Oma? Uluh ... uluh ... tayang ... tayang ...." Menimang sambil menggoyang-goyangkan cucunya ke kiri dan ke kanan. Alia dan Ibu Nana serentak tertawa melihat tingkah Mama Yani yang dianggap sangat lucu.
Alia lantas menyerahkan Jagoan yang pertama kepada Ibu Nana, lalu menyusui Jagoan yang kedua.
"Sehat-sehat ya, Jagoan Ummi." Tak terasa air matanya belinang ketika ujung telunjuknya menari di atas wajah Sang Bayi. Sepertinya ia merasakan firasat tidak enak, sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya.
Beberapa Menit Kemudian
NYUT ... NYUT ....
"Aduh ...."
Alia meringis kesakitan sembari menekan perutnya. Mama Yani yang menyadari banyaknya cairan merah strawberry mengalir dari tubuh Alia, lantas mengambil alih cucunya dari tangan menantunya itu, lalu menekan tombol emergency.
Flashback
"Waktu Nyonya Alia tidak lama lagi, Dokter."
DEG
Kalimat apa itu? Kenapa terasa menyengat sekali di telinga Aufar ketika mendengarnya.
"Mak-maksud, Dokter?" Aufar mulai terbata.
"Nyonya Alia mengalami beberapa pendarahan. Sehingga ia mengalami komplikasi dalam proses kelahirannya. Kami sudah mengatakan padanya bahwa sangat beresiko baginya jika melahirkan secara normal. Namun kami juga tidak bisa melakukan SC karena tekanan darahnya yang begitu tidak stabil." Dokter Frisil menjeda kalimatnya sesaat. "Dokter tahu sendiri jika kami tidak segera mengeluarkan bayi itu, maka nyawa mereka taruhannya." Dokter Frisil tertunduk tidak enak hati. Sementara Aufar masih saja bergeming.
"Maafkan saya, Dok. Saya telah berjanji pada Nyonya Alia untuk merahasiakan semua ini dari Anda. Karena ia tahu bahwa Anda sangat menginginkan bayi-bayi itu. Terlebih lagi, Nyonya Alia juga sangat menyayangi mereka."
Aufar membatu. Satu persatu kalimat yang diucapkan Dokter Frisil tidak satupun menyatakan bahwa istrinya akan selamat dari maut.
Namun sebagai sesama tenaga kesehatan, Aufar sangat mengerti dengan posisi Dokter Frisil, sehingga ia tidak bisa menyalahkan Dokter Kandungan yang selama ini telah apik mengontrol kondisi kedua Buah Hatinya itu.
Tanpa berkata satu patahpun, Aufar melenggang keluar dengan langkah gontainya. Beradu kening bersama tembok yang terdapat di lorong depan ruangan Dokter Frisil.
Kepalan tangannya berkali-kali membantai tembok tersebut tanpa ampun. Teriakannya pun terdengar membahana ketika dadanya tak lagi bisa menahan sesak yang teramat sakit.
"Aaaarrrrrgggggh ... kenapa harus Alia, kenapa?"
Flashback End
Kondisi Alia semakin kritis, pendarahan yang dialaminya, tak lagi bisa membuatnya bertahan lebih lama.
Keluarga dan sahabatnya hanya bisa pasrah dan berdo'a, semoga ada mukjizat yang bisa menyelamatkan Alia dari terkaman maut.
CEKLEK
Aufar menyibak daun pintu ruang ICU yang saat ini sedang merangkeng tubuh istrinya dengan berbagai jenis selang.
Kedua bola mata Dokter Tampan itu sudah merah padam tergenangi air pilu di saat ia berdiri tepat di samping ranjang pasien.
Ia menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana. Perlahan, Aufar meraih tangan Alia yang sudah terhubung ketat dengan selang infus. Mengelusnya dengan lembut sembari menyibak kembali memorian momen indah bersama wanita yang sudah terbaring tak berdaya di hadapannya.
"Jangan tinggalkan aku, Sayang." Air mata Aufar tak lagi mampu ia bendung. Tumpah ruah begitu saja, membanjiri kedua pipinya.
"Aku tau kamu sayang sama aku dan bayi kita. Jadi aku yakin kamu gak akan tega meninggalkan kami tanpa memberikan salam terakhir." Aufar terisak sejadi-jadinya. Kalimat yang ia ucapkan sangatlah perih mengiris kalbunya. Namun ia harus mengatakan hal itu agar Alia bisa mendengarkannya.
"Kamu adalah wanita terbaik yang Tuhan takdirkan untukku. Aku sangat bersyukur akan hal itu ...." Menarik nafasnya berat. "Terima kasih Engkau telah menciptakan Alia untukku, Ya Allah ...."
Sesegukan, memekik kecil, terisak pilu bertopang siku. Aufar tak lagi bisa berkata-kata. Air mata yang berderai tanpa segan membasahi punggung tangan Alia. Harapannya hanyalah, bisa berbicara dengan Alia untuk yang terakhir kalinya.
Beberapa menit kemudian, Aufar terperangah. Ia bisa merasakan gerakan pelan dari jari wanitanya.
"Sayang ...." Aufar bangkit dari peraduannya saat Alia mengerjap pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya.
"Sayang ...." Suara Alia terdengar sangat lirih namun Aufar masih bisa mengartikannya. Selang yang terhubung dengan mulutnya sangat menyusahkannya untuk berbicara dengan jelas.
"Yang mana yang sakit?" Aufar bertanya sembari mengelus lembut pucuk kepala wanita yang telah melahirkan dua buah hatinya itu.
Alia hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Aufar.
"Ber-berjanjilah pa-padaku, kalo ka-kamu gak akan nangis," tuturnya terbata-bata.
"Tidak ...." Aufar menggeleng dengan wajah pilu.
”Ka-kamu je-jelek banget ka-kalo nangis." ucapnya lagi sambil mencoba tersenyum. "Ka-kalo kamu ce-cengeng be-begini, si-siapa yang a-akan men-jaga anak-anak ki-ta nan-ti?"
"Tidak ...." Aufar kembali menggeleng pilu, seakan tidak suka dengan perkataan istrinya.
"Kamu gak akan pergi kemana-mana, Sayang. Kamu akan selalu bersama kami," lanjutnya sembari memeluk tubuh Alia dari samping.
"Aku mencintaimu, Sayang ... jangan pergi!"
"A-aku ju-ga men-cin-tai ka-lian tak ter-hing-ga."
DEG
Aufar mematung. Suara monitor di sampingnya terdengar melengking panjang, bersamaan dengan tak ada lagi pergerakan naik-turun dari tubuh Sang istri, pertanda wanitanya tak lagi bernafas. Aufar mulai melepaskan rengkuhannya, lalu memeriksa denyut nadi Alia.
Aufar memekik tidak terima.
Kemudian ia menekan tombol urgent yang tersedia di sebelah kanan ranjang lebar itu. Lalu melorotkan tubuhnya ke lantai dengan tangisan yang memecahkan seantero ruangan.
Pihak kerabat yang mendengar hal itu, lalu berhambur masuk. Satu persatu dari mereka bertukar pandang dengan isak tangis yang terdengar serentak memenuhi ruangan yang menjadi saksi bisu pertemuan terakhir mereka dengan jasad Alia yang tak lagi ditinggali roh.
Jasad itu terbujur kaku di atas ranjang dengan wajah tersenyum penuh keikhlasan dan kedua mata yang terpejam lekat. Hal ini mengingatkan bahwa 'setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada-Nya.
...💚Selamat Jalan Zalia Aliyanti💚...
...TAMAT...