I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Partner Undangan



"Katanya mau nemenin aku belajar, Kak?" Cebik Alan yang melihat Kakaknya sudah berpakaian rapi. Sepertinya akan pergi.


"Iya, maaf ya dik tadi Kakak lupa kalau ada janji nemenin Kak Urai ke resepsi pernikahan rekan bisnisnya." Alia berkata sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Berharap sang adik mau bertoleransi.


"Iya deh iya asalkan pulangnya bawa oleh-oleh." Alan bernegosiasi. Cerdas sekali anak ini, batin Alia.


"Iya iya tenang aja." Alia kembali merapikan kerudungnya di depan cermin.


Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Sudah satu minggu Alia di kampung halamannya. Malam ini ia meminta izin kepada Ayah dan Ibunya untuk menjadi partner undangannya Kak Urai.


Sebenarnya Kak Urai sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Harry via telepon, dan pastinya Pak Harry tidak keberatan. Namun Alia kurang afdol jika tidak izin langsung kepada kedua orang tuanya.


Tin..tin..


Terdengar suara klakson mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Alia yakin itu mobilnya Kak Urai. Ia segera mengambil tas kecil miliknya dan keluar dari kamar dan menghampiri Ibunya di dapur.


Tok..tok..tok


"Assalamu'alaikum.." Ucap Kak Urai sambil mengetuk daun pintu yang memang sudah terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam.." Jawaban serentak dari seluruh anggota keluarga Pak Harry.


"Nak Urai sudah datang. Ayo masuk dulu." Pak Harry mempersilakan Kak Urai masuk dan duduk di ruang tamu.


"Iya Pak, Terima kasih. Apa Alia sudah siap Pak?" Tanya Kak Urai yang sudah tidak sabar bertemu partnernya malam ini.


"Waaah sepertinya ada yang sudah tidak sabar lagi nih." Pak Harry memainkan kedua alisnya keatas dan kebawah menggoda Kak Urai.


"Jangan larut malam pulangnya kalau bawa anak gadis orang." Lanjutnya dengan nada tegas.


"Pasti dong Pak, Bapak kan sudah mengenal saya lama. Saya sudah tahu aturannya." Kak Urai mengindahkan perintah Pak Harry.


"Bagus. Ya sudah kamu tunggu disini Bapak panggilkan Alia." Pak Harry bangkit dari duduknya kemudian berlalu menuju dapur untuk menemui Alia.


Sesampainya di dapur ia melihat pemandangan yang menyejukkan hati. Kedua wanita yang ia sayangi itu sedang bersenda gurau tertawa lepas bersama.


Lama Pak Harry dalam posisi terdiam dalam haru di pintu dapur. Pasalnya sudah lama ia tidak melihat sang istri tertawa lepas seperti itu. Begitu menderitakah wanita yang sudah mendampinginya selama 22 tahun ini? Sampai-sampai untuk tertawa lepas saja sangat jarang tertangkap pandangannya.


Ia menghembuskan nafas pelan sambil menundukkan kepala ia kembali mengingat tragedi perkelahiannya dengan sang istri waktu itu.


Sejak mengetahui fakta bahwa Pak Harry telah menikahi wanita lain selain dirinya, Ibu Nana bersikap tak lagi seperti dulu. Ia lebih banyak diam dan hanya berbicara jika Pak Harry bertanya padanya.


Yang membuat salut kepada Ibu dua anak itu adalah. Walaupun ia tidak menyetujui keputusan suaminya itu, ia tidak pernah melabrak wanita yang sudah menjadi madunya tersebut.


Pasalnya Alia selalu melarang Ibunya untuk melakukan tindakan tidak terpuji itu. Takdir memang sudah takdir yang tidak bisa dihindari. Menjadikan pertikaian rumah tangga menjadi tontonan khalayak ramai dan konsumsi recehan publik hanya akan menjatuhkan nama baik keluarga mereka.


Alia tidak ingin Ayah dan Ibunya menjadi bahan pembicaraan tetangga karena memang tidak ada yang tahu fakta itu selain keluarga dekatnya.


"Eh, sejak kapan Bapak berdiri disitu?" Alia membuyarkan lamunan Pak Harry kemudian ia mengangkat wajahnya.


"Barusan. Kamu sudah ditunggu nak Urai tuh." Alia tertegun. Seandainya sang Ayah memanggil Aufar dengan panggilan sayang itu pasti dia akan sangat bahagia. Namun mendengar panggilan sayang itu ditujukan kepada Kak Urai membuat hatinya sakit.


"Oh, iya Ayah. Ibu Alia pamit dulu ya. Ibu mau dibelikan sesuatu? Makanan misalnya." Alia berdiri dan mencium punggung tangan Ibunya.


"Tidak usah, nak. Kamu hati-hati ya." Ucap Ibu Nana yang masih fokus memandang perubahan wajah suaminya beberapa saat yang lalu.


"Iya, Bu. Ayah, Alia pamit ya." Berpindah posisi mencium punggung tangan Ayahnya. Sepertinya hati Alia sudah berdamai dengan sang Ayah. Namun Ia masih berusaha sekuat mungkin untuk tetap menjaga tameng hatinya. Walaupun nanti akan mendapat penolakan kembali dari Pak Harry.


"I-iya, hati-hati." Pesan Pak Harry yang merasa salah tingkah mendapat tatapan dari Ibu Nana.


Alia berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu di dapur. Ia menghampiri Kak Urai yang memang sudah tidak sabar bertemu dengannya di ruang tamu.


Kak Urai takjub. Ia tidak sekalipun berkedip melihat Alia bak seorang putri. Alia menggunakan long dress berwarna hitam berlapis motif bunga dibagian luar dengan kerudung berwarna senada. Polesan make up yang terlihat natural membuat wajahnya semakin fresh dan cantik.


"Ayo, Kak.." Ajak Alia.


Melihat Kak Urai yang tidak ada respon membuat Alia memandang ke seluruh bagian tubuhnya. Memastikan ada keanehan atau tidak sehingga Kak Urai tidak bergeming menatapnya.


Kali ini Alia melambaikan tangannya di depan wajah tampan laki-laki yang sedang memakai setelan jas hitam dengan kemeja putih di bagian dalam dan celana hitam senada dengan dress yang dipakai Alia.


"I-iya ke-kenapa Al?" Jawab Kak Urai yang merasa salah tingkah karena tertangkap basah memandangi Alia.


"Kenapa Kakak memandangiku seperti itu? Ada yang salah ya sama penampilanku?" Alia kembali memandangi dress yang ia pakai.


"Tidak ada yang salah Al, hanya saja...." Kak Urai sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Hanya saja apa, Kak? Tanya Alia semakin dibuat penasaran.


"Hanya saja...kamu terlihat sangat cantik, Al." Puji Kak Urai sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Biasanya ya, laki-laki kalau lagi salah tingkah pasti melakukan hal itu๐Ÿคญ.


Alia merasa kikuk saat dipuji Kak Urai. Entah mengapa Alia merasa seperti mendapat pujian dari seorang penjilat. Ia terlihat seperti memaksakan senyumannya. Kenapa beda sekali rasanya, ketika mendengar pujian dari Aufar, batin Alia.


"Ah, Kakak bisa aja. Ayo berangkat." Alia berusaha merespon sebagai kode etik kesopanan.


"Sepertinya kamu udah nggak sabar jadi partnernya Kakak, ya?" Goda Kak Urai sambil berdiri dan berjalan menuju mobil.


Alia hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun. Sepertinya ia tidak boleh terlalu merespon, batinnya lagi.


Kak Urai membukakan pintu mobil, mempersilakan Alia duduk. Kemudian ia berjalan mengitari mobilnya. Ia membuka pintu dan duduk di kursi kemudi. Sebelum melajukan mobilnya Kak Urai menoleh ke arah Alia dan tersenyum.


"fasten your seat belt, please." Ia berkata seolah-olah pramugara dalam sebuah pesawat.


"Yes, thank you."


Setelah memastikan Alia memakai sabuk pengamannya. Kak Urai memajukan mobilnya menuju hotel bintang lima di kotanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa jempol digoyang sayang๐Ÿ‘๐Ÿ’ž๐Ÿ˜


Bantu vote yah,,thank you๐Ÿ™๐Ÿ’ž