
"Aku sangat menyayangi Ayah Mas, tapi.....hiks, tapi sekarang dia sudah mempunyai putri yang lain, hiks...hiks..." Tangis Alia memilu ketika mengingat bahwa sang Ayah telah memiliki putri dari wanita lain. Hal itu membuat Aufar menarik tubuh mungil Alia ke dalam pelukannya. Memberikan rangkulan ternyaman yang menenangkan.
"Ssssst...Aku di sini, Sayang." Menghujani pucuk kepala Alia dengan kecupan sayang. "Aku akan selalu bersamamu dan akan selalu berada di sisimu." Tutur Aufar sambil mengelus lembut punggung Alia dengan maksud menenangkannya.
Sungguh berbanding terbalik. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Aufar ketika mengatakan hal tersebut pada Alia. Bagaimana tidak? Skandalnya yang masih tertutup rapat itu belum diketahui nasib kelanjutannya. Ia tidak ingin jika Alia sampai mengetahui hal tersebut sebelum dia sendiri yang akan mengatakannya. Tetapi, bagaimana caranya? Kapan waktunya? Haruskah saat ini?
Suasana hati sang istri saat ini, masih sangat tidak stabil. Tidak mungkin baginya untuk mengatakan hal itu lagi. Keputusan yang tepat adalah menunggu pergerakan Jimmy. Jimmy adalah satu-satunya malaikat yang selalu bisa dia andalkan. Semoga saja semuanya akan berjalan sesuai apa yang ia harapkan. Semoga saja.
***
"So, kapan elu balik?" Jimmy menyipitkan sebelah matanya. Ia sedang mengendarai mobil ketika menerima panggilan suara dari Boss-nya.
"Besok.." Jawaban singkat dari Aufar di seberang sambungan.
"Okay. Elu tenang aja, Boss. Gua pastiin semuanya aman." Lelaki berhidung mancung dengan balutan kemeja denim biru muda itu menyunggingkan seringai tipis.
"Good, gua tau elu gak bakalan ngecewain gua. Thanks, Jim. Gua tutup dulu."
Tut..Tut..Tut...(Sambungan Telepon Berakhir)
Jimmy menginjak pedal gas dan menambah kecepatan kendaraannya. Sesampainya di tempat tujuan, ia memarkir mobilnya di pekarangan sebuah Restoran khas India. Ada seseorang yang telah menunggu kedatangannya di dalam sana.
Tanpa berlama-lama lagi, ia menyembulkan tubuhnya dari kereta roda empat itu dan berjalan menuju pintu masuk. Ketika kakinya menginjak batas pintu, tampak seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya. Jimmy menangkap penampakan tersebut, lalu segera menghampirinya.
"Elu udah dapet dokumen yang gua minta?" Sergah Jimmy ketika mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang berhadapan dengan wanita itu. Wanita yang berbusana khas model itu lumayan cantik dan seksi, namun tidak sedikitpun menarik perhatian Jimmy.
"Kebiasaan, bukannya nanyain kabar dulu." Cebik wanita itu sambil bersungut kesal. Ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah sembari mengocok-ngocok minumannya dengan sedotan yang ia cubit.
"Gua kesini bukannya mau reunian ama elu ngerti?" Respon Jimmy datar tanpa ekspresi.
"Mana dokumennya?" Jimmy membentangkan telapak tangannya ke arah wanita itu.
Wanita berhidung mancung itu melirik telapak tangan Jimmy sekilas, lalu memutar tubuhnya ke arah map biru yang ia geletakkan sedari tadi di atas kursi kosong di sisi kirinya.
"Nih..." Menyerahkan map biru itu kepada Jimmy dengan kasar. Dibaringkannya tepat di atas telapak tangan lebar milik Jimmy. "Setelah ini gue bebas dari ancaman apapun kan? Jangan pernah hubungin gue lagi! Kita impas." Tegas wanita itu, dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Jimmy tersenyum tipis, lalu menarik map tersebut dari tangan mungil di depannya. "Enak aja!" Membuka map itu, lalu memeriksa kelengkapan data yang ia butuhkan. "Soal video skandal Aufar, mana? Serahin ke gua, sekarang juga!" To the point, no basa-basi. Ia kembali membentangkan sebelah telapak tangannya ke arah wanita itu.
Ya, wanita yang sedang duduk tegak di hadapan Jimmy saat ini adalah Ghifana Aurora.
"Video itu diluar kesepakatan kita. Lagian mana ada kaitannya ama elu, Jim. Jangan ngadi-ngadi lu!" Fana menolak menyerahkan file asli video syur Aufar yang telah ia ciptakan.
"Oh, jadi gitu? Okay. Sepulang dari sini, gua tinggal serahin semua bukti kejahatan elu pada Alia selama ini ama Aufar. Dan gua pastiin abis itu elu bakalan meringkuk dalam jeruji besi." Mengangkat sebelah sudut bibirnya sangat tipis, hampir tak ketara di mata Fana.
GLEK
Wanita yang terkenal dengan julukan wanita ular itu, juga tidak bisa membayangkan seperti apa nasibnya jika ia membekap bertahun-tahun di dalam buih. Ia juga tidak ingin hal itu sampai menimpa dirinya. Bagaimana pun Aufar tidak boleh sampai mencium bangkai kejahatan yang telah ia lakukan kepada Alia sejauh ini. Wanita yang amat sangat dicintai oleh dokter tampan incarannya itu.
"Tidak, tidak!" Fana menggeleng penuh cemas. Jimmy memang sangat cerdas memutar situasi. "Elu enggak boleh ngelakuin itu ama gue, Jim. Tega amat sih lu. Setelah apa yang udah gue kasi, elu malah ngancam gue begini." Fana memasang wajah penuh iba. Ia harap Jimmy bisa diajak berkompromi.
Namun bukan Jimmy namanya, jika termakan acting receh yang dipertontonkan oleh Fana dengan penuh penghayatan semu. Lelaki itu menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Gua itung ampe 10, kalo elu enggak nyerahin file aslinya ke gua. Gua cabut, dan.....elu tinggal tunggu aja panggilan dari nine-one-one." Jimmy menjentikkan keempat jarinya di atas meja menciptakan irama mengerikan di telinga Fana.
"Satu...dua....tiga...." Fana terlihat menggigiti kukunya, kedua kakinya mulai menghentak-hentak tak beraturan. Pandangannya semakin memelas lurus ke arah Jimmy. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa laki-laki itu akan mengasihaninya.
"Tujuh...delapan...sembilan...se..." Asisten pribadi Aufar itu menggantung kata terakhirnya, dan menegakkan tubuhnya seraya tersenyum sinis.
Fana sudah tak memiliki pilihan lain. Sangat sulit baginya untuk main petak umpet dengan makhluk singa di hadapannya ini. Jimmy memang sangat berbahaya. Selalu menggagalkan rencananya untuk mendapatkan Aufar. Jimmy selalu berdiri di garda terdepan jika hal itu berkaitan dengan Alia. Fana pasrah. Sudah tak ada waktu lagi.
Ketika Jimmy hampir beranjak dari duduknya. Fana menahan pergelangan tangan lelaki itu sehingga membuat Jimmy refleks duduk kembali.
"Elu emang bejat, Jim. Gue bakal serahin file itu."
"Kalo gua bejat, elu apa dong?"
"Bisa aja ya lu mempermalukan gue? Nyesel gue pernah berurusan ama manusia kek elu, Jim. Tobat gue udah."
Fana meletakkan lempengan berbentuk lingkaran bersampul plastik khusus di atas meja yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya. Jika dilihat dari arah yang berbeda, benda itu akan menampakkan pantulan pelangi namun bukan pelangi di matamu. Jimmy mengalihkan pandangannya pada barang tersebut dan menyambarnya, bak seekor kucing yang menangkap ikan di hadapannya.
"Good girl," ia menyeringai puas sembari beranjak dan mengibas-ngibaskan benda itu di samping wajahnya. "Thank you for your cooperation, dokter Ghifana Aurora." Lantas berlalu meninggalkan Fana dengan berjuta kedongkolan.
***
"Elu ngapain sih, Na? Ngapain elu ajak gue ke sini? Ngumpet-ngumpet lagi." Sungut Delfia ketika Husna mengajaknya menguntit si Jimmy.
"Itu elu kaga liat apa si Jimmy Newtron?" Husna mengarahkan jari telunjuknya ke arah Jimmy yang baru saja berlalu dari hadapan Fana. Delfia mengikuti arah telunjuk sahabat tomboinya itu dengan ekspresi penuh kebingungan.
"Iya terus kenape coba? Apa pentingnya buat kita, Ayatul Husna?" Kelakar Delfia. Namun hal itu tak membuat Husna tertawa, melainkan melototi Delfia dengan wajah memberengut.
Ada kecurigaan di benak Husna terhadap lelaki yang akhir-akhir ini selalu membersamainya itu. Bukannya cemburu atas pertemuan Jimmy dengan wanita lain. Melainkan, gadis tomboi berpipi tembem seperti tokoh kartun doraemon itu, mencium aroma konspirasi di antara dua orang yang sedang ia bidik dengan tatapan serius itu.
"Sssst, elu bisa diem kaga sih cokelat batangan. Gue lagi ngintel nih." Cerca Husna sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Karena kesal dengan cercaan si tomboi, Delfia menyentil topi yang menutupi pucuk kepala sahabat kocaknya tersebut dengan sekuat tenaga.
"Sejak kapan sih elu ganti profesi, hah? Mau gantiin kerjaannya aparat negara lu? Dah kek om polisi aja." Delfia mendengus pelan. Ia benar-benar tidak peduli dengan misi tersembunyi si Husna.
Husna hanya menoleh sekilas mendengar ocehannya Delfia, lalu kembali memasang kuda-kuda dan menajamkan pandangannya ke arah Fana. Namun malang, wanita itu telah bergeming dari posisi awalnya dan membuat Husna menggerutu tak jelas.
Bersambung..