I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
So, Kita Jadian?



*Saat jumpa pertama


Ku sadari ada pesona


Ingin ku mengatakan


Aku tresno Mas..


Dari jumpa pertama


Tak menentu rasa di dada


karena pandangan mata


Awan bengi Mas, atiku kangen


Kalau dari dulu kita bertemu


Mungkin telah lama kita bersatu


Diriku pun tau dari sikapmu


Seakan-akan kau sayang padaku*


Teringat dirimu dalam hati deg-degan


Hati Alia jingkrak-jingkrak seolah sedang bernyanyi di dalam sana. Entah ini mimpi atau kenyataan. Aufar menyatakan perasaannya. Alia berbunga-bunga. Semua jenis bunga bermekaran di hatinya. Kata-kata Aufar membawanya terbang di awang-awang.


Dari awal hatinya hanya fokus pada satu Pria. Ya, Pria itu Aufar. Pria tampan dan baik hati yang ia kenal dengan tidak sengaja. Tidak berhenti disitu. Tuhan juga mengirim Aufar untuk menghiasi hari-harinya. Mengajarkan ia menikmati perasaan yang dia sendiri pun tidak bisa menjelaskannya.


Alia ingin terus dan terus merasakan ini. Kebahagiaan disaat mendengar penuturannya membuat Alia tersenyum penuh arti. Aufar awalnya ragu mengartikannya. Namun sejurus Alia angkat bicara.


"Mas..."


Tatapan mereka bertemu, tatapan yang tak ingin mereka akhiri. Ingin rasanya mereka menghentikan waktu. Seterusnya bersama dan menghabiskan waktu berdua.


"Tuhaaan..aku terlalu bahagia. Tapi apakah adil jika aku mengutarakan perasaanku padanya?" Pekik Alia dalam hati. Seketika Alia mengingat Kak Urai. Logikanya bergulat dengan hatinya. Apakah hatinya akan menang?


"Tidak, Aku harus mengikuti kata hatiku." Alia meyakinkan dirinya. Ia tahu bahwa sikapnya ini egois. Namun ia juga berhak menentukan pilihannya sendiri tanpa harus selalu didoktrin oleh Ayahnya.


Sejak kecil ia selalu menjadi anak yang patuh. Semua keinginannya selalu terkubur dalam karena harus mematuhi titah Ayahnya. Mulai dari masuk SMP, SMA, sampai masuk Perguruan Tinggi ini pun mengikuti kehendak Ayahnya.


Alia berpikir tidak ada salahnya sekali saja mengikuti kata hati. Mencintai Pria pilihannya. Alia termenung. Berpikir lagi dan lagi. Mencari keputusan yang menurutnya lebih baik. Hingga ia melupakan sosok Pria yang sudah tidak sabar menanti tanggapannya.


***


Melihat Alia termenung, Aufar merasa ciut. Sepertinya Alia tidak memiliki perasaan apapun padanya. Hanya menganggapnya sebatas teman. Mungkin ia telah salah mengartikan sikap Alia selama ini. Tetapi ia tidak ingin berasumsi sendiri. Ia memberanikan diri untuk bertanya langsung.


"Alia..." Aufar melambaikan tangannya di depan wajah Alia. Membuat Alia sontak tersadar dari lamunannya.


"I-iya mas, maaf..aku..tadi.."


"Jika kamu merasa terganggu dengan kata-kataku tadi. Kamu boleh melupakannya. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu." Aufar mendesah lirih.


"Tidak mas, tidak sama sekali." Alia menjawab dengan tegas mencoba meyakinkan Aufar bahwa ia sudah salah faham.


"Aku senang mendengarnya Mas." Sambung Alia.


"Tapi kenapa kamu termenung tadi?" Tanya Aufar menggebu-gebu.


"Aku hanya masih tidak percaya kamu akan mengutarakan perasaanmu mas. Perasaan yang juga sudah lama aku rasakan."


DEG


Aufar seperti tidak percaya. Gadis yang ada di hadapannya itu menyambut hatinya. Perasaannya berbalas. Ia tidak bertepuk sebelah tangan. Aufar serasa ingin jingkrak-jingkrak mendengar penuturan Alia.


Ia masih tidak percaya.


"Benarkah yang kamu katakan Al? Apa aku tidak salah dengar?" mengklarifikasi ulang.


"Mas tidak salah dengar. Aku memang menyukaimu mas. Sejak awal kita bertemu." Wah, lagi-lagi Aufar merasakan aliran listrik menyetrum tubuhnya. Energinya bertambah. Bahagia dan haru menghantamnya.


Gadis yang ia anggap tidak akan membalas perasaannya itu, benar-benar membuatnya kagum setengah mati. Bagaimana bisa ia mengganggap penting seorang ABK sepertinya. Bahkan banyak orang mengagangap profesi mereka sebelah mata.


Namun tidak dengan Alia. Gadis itu benar-benar berhati tulus. Ia bisa mengalahkan logikanya dan mengikuti kata hatinya.


Disaat gadis seumurannya memilih laki-laki yang kaya raya dengan jabatan super duper tinggi, ia malah duduk berdua disini dengan Pria biasa tanpa iming-iming apapun.


Alia..oh..Alia..


Betapa Aufar ingin memeluk gadis itu. Melampiaskan kerinduannya. Berbisik di telinganya bahwa ia sangat menyayanginya.


Berbalas rasa seperti ini saja sudah sangat membuatnya bahagia bukan kepalang. Apa yang harus ia lakukan untuk menunjukkan kepada Alia betapa bahagia dirinya?


"Alia..aku masih tidak percaya kamu mempunyai perasaan yang sama denganku."


"Jadi mas tidak mempercayaiku?" Alia menyipitkan matanya.


"Bukan, bukan itu maksudku, hehe. Ada makna tersiratnya Al.." Tersenyum usil.


"So, kita jadian nih?," lanjut Aufar memperjelas.


"Haha mas ini, seperti anak SMA aja pake jadian segala." Alia tergelak.


"Iya dong sayang, kita harus ada komitmen agar hubungan kita jelas dan terarah. Di usia seperti kita bukan waktunya untuk main-main lagi kan?" Jelas Aufar panjang lebar. Ia ingin meyakinkan Alia kalau dirinya tidak main-main dengan perasaannya.


"Kita jalani dulu ya Mas, biarkan waktu yang menjawab. Semoga masa depan bersama kita." Jawaban Alia yang singkat padat dan jelas itu sungguh menyentuh hati Aufar. Setidaknya ada harapan mereka akan tetap bersama.


Aufar tersenyum menatap manik mata gadis pujaannya itu. Pancaran kebahagian tak meredup sedikitpun di wajah keduanya. Bagi Aufar, Alia adalah gadis berhati mulia.


Di masa seperti ini masih ada gadis yang mengedepankan hati dibandingkan logikanya. Kekaguman Aufar semakin bertambah. Alia bagai pelita penerang relung hatinya yang telah lama ini redup.


Ia merasa sangat beruntung Tuhan mengirimkan sosok gadis manis itu untuknya. Tercapai sudah keinginannya. Selangkah lebih maju.


Menjadi teman Alia saja sudah sangat membuatnya bangga. Apalagi mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Ia akan memberitahu Ibunya tentang hal ini.


Ibunya pasti akan senang mendengar kabar ini. Ia telah menemukan tambatan hatinya. Wanita idamannya sekarang berada di hadapannya. Bersama dengannya. Membalas perasaannya. Bahkan sanggup menerima apa adanya seorang Aufar.


Aufar terharu. Hatinya tersentuh. Matanya berkaca-kaca. Ia terlalu bahagia. Sangat bahagia.


Begitu juga dengan Alia. Ia sangat senang. Teramat senang. Ia yakin sosok Aufar benar-benar bisa mengayomi dan melindunginya. Pria itu terlihat sangat bertanggung jawab.


Berada di sisinya membuat hatinya deg-degan. Jauh darinya terasa tersiksa. Diselimuti rindu ingin segera bertemu.


Terlebih lagi soosoknya yang penyayang, sabar dan perhatian membuat Alia ingin selalu bersama. Aufar tidak hanya tampan tetapi ia juga baik hati. Terlepas statusnya hanya seorang ABK, itu tidak masalah untuk Alia.


Namun berbeda dengan Aufar, Alia berencana akan menyimpan sendiri ceritanya dengan Aufar. Ia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Sampai waktunya tiba, ia akan memberitahu orang tuanya tentang hal ini.


Untuk saat ini, ia hanya ingin menjalani hubungan ini dengan Aufar sewajarnya tanpa melewati batas kewajaran. Ia menyadari hubungan ini tidak halal. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk menghalalkannya.


Ia hanya berharap suatu saat nanti, Ayahnya bisa memberikan restu untuk hubungan mereka. Semoga saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pendukung Alia dan Aufar mana nih? Like dan komen ya guys💞 Thank you🙏