I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Penolakan Ayah



Alia mematuhi perintah Ibunya untuk membangunkan sang adik yang masih terbang di alam mimpi.


"Dik...bangun, udah siang lho.." Alia menepuk lembut bahu Alan.


"Hmmmm.." Alan hanya berdehem tanpa bergerak sama sekali.


"Kakak datang bukannya disambut malah molor sampe siang bolong gini. Ayo bangun tukang tidur." Alia mengapit kedua pipi adiknya sambil tersenyum gemas.


Namun Alan tak juga bergeming. Alan Alianto, putra kedua Pak Harry yang memiliki karakter berbanding terbalik dengan Alia.


Alan terkesan lebih pendiam, namun mewarisi sifat Ibunya yaitu penyabar. Bisa dibilang cuek bebek tapi sangat penyayang dan patuh.


Adik Alia yang satu ini terkenal tukang tidur. Kadang jika hari libur, ia bisa menghabiskan waktu dengan molor. Sungguh si Alan tukang tidur.


Alan tidak terlalu menonjol dalam bidak akademik. Sangat berbeda dengan Alia. Kadang Pak Harry suka membandingkannya dengan Alia. Namun ia diam saja tanpa respon.


Prinsip Alan dalam pendidikan adalah no bolos dan naik kelas. Hanya itu. Untuk peringkat tidak pernah ada dalam kamusnya. Mungkin karena laki-laki ya dia lebih mengutamakan bidang atletik dan musik.


Sudah banyak koleksi gitar dan sepatu olahraga yang ia peroleh dengan menjual rayuan maut kepada Kakaknya.


Walaupun laki-laki Alan terkesan lebih manja baik kepada Ibu maupun Kakaknya. Hanya saja ia tidak pernah bersikap manja kepada Ayahnya. Ia tahu bahwa Ayahnya tidak akan pernah mau memanjakannya.


"Dik...ayolah..kakak sudah lapar banget. Susah sekali membangunkan kelelawar weekend ini." Alia nampak frustasi. Berbagai cara dilakukannya untuk membangunkan sang adik namun hasilnya nihil.


Ia bangkit dari posisi awal, kemudian keluar meninggalkan Alan. Ketika Alia belum jauh dari muka pintu, tiba-tiba tubuhnya dipeluk erat oleh sang adik.


"Kakak, aku kangen." Alan meletakkan dagunya dipundak sang Kakak. Alia tersenyum simpul. Sebenarnya ia tahu bahwa Alan sudah bangun sejak ia menepuk bahunya tadi. Ia keluar kamar hanya semata-mata berpura-pura tidak tahu.


"Kalau sudah bangun kenapa tidak mandi dari tadi?" Alia membalikkan badannya dan mencubit lembut hidung Alan.


"Aw...sakit Kak, hehe. Aku sengaja biar Kakak membangunkanku." Alan mengusap-ngusap lehernya.


"Aaah cowok kok lempeng, udah sana mandi!" Alia berbalik meninggalkan Alan dan menghampiri Pak Harry yang baru saja tiba di rumah.


"Siap, komandan." Alan menegakkan tubuhnya memberi hormat kepada sang kakak layaknya seorang prajurit. Kemudian ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


"Al...tolong bikinkan teh hangat untuk Ayahmu ya!" Perintah Ibu Nana.


"Baik, Bu."


Alia menuju meja yang diatasnya tertata gula, kopi, susu, dan teh. Ia mengambil gelas yang biasa dipakai Ayahnya. Kemudian memasukkan teh celup dan menuangkan air panas. Ia mencelup-celupkan kantong teh itu hingga airnya berubah warna.


Setelah dirasa cukup, ia memasukkan dua sendok gula kedalam biang teh itu. Diaduknya hingga gulanya terurai dan menambahkan air dingin hingga memenuhi gelas. Kemudian ia kembali menghampiri Ayahnya bersama teh hangat di tangannya.


"Silakan diminum Yah." Alia meletakkan teh hangat itu disamping Pak Harry dan duduk di samping beliau.


"Terima kasih, nak." Ucap Pak Harry sambil meraih gelas itu dan meminumnya.


"Wah, teh anak gadis memang mak nyos ya. Bu...beda banget sama buatan Ibu." Pak Harry menggoda Ibu Nana.


"Iya, kalau anaknya udah pulang Ibu dijelek-jelekin tu. Padahal kalau anaknya nggak ada siapa juga yang ngurusin kalau bukan Ibu." Sahut Ibu Nana sambil menata makanan di atas meja.


"Aaah..Ibu serius amat, Bapak kan cuma bercanda, Bu."


"Huuuh..dasar si Bapak."


Alia yang melihat tingkah laku kedua orang tuanya itu, ikut tersenyum lebar. Sudah lama ia tidak berada di sekeliling mereka. Hingga hal kecil yang sangat berharga ini tidak bisa ia saksikan.


***


Setelah makan siang bersama, Alia dan keluarga besarnya berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Pak Harry yang dari tadi ingin berbicara dengan Alia, memulai interogasinya.


"Alia.."


DEG


"I-iya Ayah.." Ia mulai terbata-bata.


"Ayah ingin bicara." Tegas Pak Harry.


"Bi-bicara apa Ayah." Alia melirik ke arah Ibu Nana. Beliau memberi kode agar Alia tetap tenang dengan mengayunkan tangannya di depan dada.


"Kamu sudah menepati janjimu kepada Ayah?" Pak Harry menatap tajam mata Alia. Membuat ia sontak ketakutan. Meremas kedua tangannya yang basah karena keringat.


"Janji apa yang Ayah maksud?" Alia memancing arah pembicaraan sang Ayah.


"Kamu pasti sudah mengerti apa maksud Ayah. Apa perlu Ayah perjelas lagi?" Pak Harry semakin menegaskan suaranya. Membuat Alia semakin gugup dan gelagapan.


"Ma-maaf Ayah.." Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir manisnya. Tanpa terasa air matanya menetes karena rasa takut kepada sang Ayah. Ia takut Ayahnya akan murka.


"Kamu sudah tahu kan? Ayah paling tidak suka kalau kata-kata Ayah dibantah!" Pak Harry semakin meninggikan suaranya.


"I-iya Ayah..A-aku..." Belum selesai Alia berbicara Pak Harry memotong kalimatnya.


"Siapa laki-laki itu? Ceritakan semuanya!" Perintah Pak Harry tak ingin dibantah.


Alia yang masih terisak mengusap pelan pipinya yang basah akibat guyuran air mata. Perlahan ia berani mengangkat wajahnya menatap wajah sang Ibu.


Ibu Nana yang kala itu juga memperhatikan wajah sang anak menganggukkan kepala tanda memberikan izin agar Alia menceritakan kebenarannya.


"Alia..." seru Pak Harry.


"I-iya Ayah..maaf. Di-dia teman dekatku Ayah. Kami bertemu di kapal ketika aku ikut Kongres waktu itu." Jawab Alia terbata-bata.


"Dia masih kuliah?"


"Ti-tidak Ayah. Di-dia sudah bekerja." Alia masih tertunduk takut."


"Kerja dimana?"


"Di-di kapal itu Ayah. Di-dia seorang ABK." Wajah Pak Harry langsung memerah.


"Apaaaaa? Apa yang kau harapkan dari seorang ABK Al?" tanya Pak Harry yang sekarang telah merubah posisi duduknya hingga lebih tegak. Alia tidak menjawab.


"Tapi dia sangat baik Ayah. Kami saling memahami dan mengerti satu sama lain. Hanya dia yang membuatku merasa nyaman saat bersama."


"Kamu pikir teorimu itu akan membuat Ayah berubah pikiran? Dari mana asalnya?"


"Su-surabaya Ayah." Alia kembali menitikkan air matanya. Harapan mendapat restu dari sang Ayah hancur sudah.


"Alia..Alia..masa depan seperti apa yang kamu harapkan? Ayah memberikanmu pendidikan hingga perguruan tinggi agar bisa mengubah masa depanmu menjadi lebih baik. Jangan seperti keluarga kita sekarang ini. Jika seleramu hanya seorang ABK kamu tidak perlu jadi sarjana Al."


Pak Harry mengusap kasar wajahnya. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya itu. Ia ingin anaknya mendapatkan calon suami yang menyayanginya dan menjamin hidupnya kelak. Hanya itu. Namun Alia mengecewakannya.


"Jika kamu masih tetap ingin menikah dengan laki-laki itu, silakan! Pasti akan Ayah nikahkan. Tapi setelah itu pergi dari rumah ini, anggap saja kamu bukan anak Ayah lagi!"


"Ayaah..."


Alia dan Ibu Nana berkata serentak. Mereka saling pandang satu sama lain. Alia menggelengkan kepala agar sang Ibu tidak membelanya. Ia tidak ingin Ayah dan Ibunya bertengkar hanya karena dirinya.


Kemudian Alia beranjak dari tempat duduknya. Melangkah perlahan menuju kamar. Ibu Nana ingin menyusul Alia. Memberikan sentuhan yang bisa menguatkan sang anak.


Menurutnya saat ini, Alia pasti sedang berada pada titik rapuh. Namun sejurus Pak Harry melarangnya. Akhirnya, ia hanya bisa duduk tertunduk di samping suaminya.


Bersambung......


like, vote, dan komen yah💞


jangan lupa tap favorit❤️