
Setelah mendengarkan penuturan Alia, Jimmy langsung menambah langkahnya menuju meja makan, dimana Husna sedang menikmati sensasi asam dan manisnya jus jeruk buatan si empunya dapur. Gadis itu terlihat sangat menikmati minumannya dengan penuh penghayatan, sehingga membuat Jimmy hampir terkekeh dibuatnya.
Ketika menangkap penampakan lelaki berhidung mancung itu, Husna tak segan-segan menegakkan tubuhnya hingga membentuk posisi duduk siap, bak seorang siswi tingkat sekolah dasar ketika ingin menerima wejangan pembelajaran dari gurunya.
Tatapan gadis itu sangat tajam namun tak menusuk pertahanan Jimmy. Dengan santai ia duduk berhadapan dengan Husna, sembari menggamit segelas jus jeruk yang berdiri anteng di atas meja.
"Katakan alasannya kenapa elu nguntit gua kemarin sore?"
DEG
Husna terperangah. Bagaimana Jimmy bisa mengetahui hal itu? Kalau dipikir-pikir, sepertinya dia sendiri tidak sampai keceplosan tentang misi pengintaian tersebut. Jadi dimana bagian yang bocor?
Kening Husna mendadak mengkerut. Jari-jemari yang saling bertautan itu mulai ia remasi hingga basah. Ia berusaha sekeras mungkin memikirkan jawaban apa yang tepat untuk berkilah. Di dalam benak Husna adalah jangan sampai si Jimmy menyadari jika Husna mempunyai misi terselubung.
"Gu..gue kebetulan lagi makan di sana kok ama si Fia. Siapa juga yang nguntit elu? Pede amat lu..! Lagian buat apa juga juga ngintilin elu, nambah penghasilan juga kaga." Husna memutar kedua bola matanya dengan jengah. Mencoba mentralisir kegugupan. Namun tetap saja terdengar galak.
Jimmy kembali menenggak kenikmatan dari sari buah jeruk itu, lalu menatap Husna dengan penuh selidik. Menyadari hal itu, tentu saja Husna tidak mau kalah telak. Ia membalas tatapan Jimmy tak kalah menyeramkan.
Husna semakin yakin bahwa Jimmy mengkhawatirkan sesuatu tentang dirinya. Jimmy kemungkinan takut jika Husna benar-benar telah mengetahui rencana kotornya pada Alia dan Aufar. Padahal gadis itu baru saja menemukan sedikit clues yang belum bisa dijadikan bukti adanya tindak kriminalitas atau sejenisnya di sini.
Perlahan tapi pasti Jimmy bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Husna. Ia berdiri di samping gadis itu dengan sebelah tangan di atas meja untuk menumpu berat badannya. Sedangkan sebelahnya lagi ia lingkarkan untuk menggenggam erat sandaran kursi Husna, sehingga membuat tubuhnya agak condong ke bawah mendominasi.
Husna yang bergeming, lantas mendongakkan wajahnya dan menatap lurus pada dua manik mata sayu di atasnya dengan tatapan curiga.
Ketika sepasang bibir ranum Husna hampir mengatakan hujatannya, Alia dan Aufar pun tiba di sana dengan komentar mengejeknya.
"Ehem..ehem..masih di apartemen gua wooi," sindir Aufar kepada Jimmy. Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara.
Demi untuk meyakinkan Aufar dan Alia, tanpa ragu Jimmy memutar rotasi tubuhnya sehingga berada di belakang Husna dan memeluk tubuh gadis tomboi itu agak erat. Husna sontak terperanjat dan hampir berontak, namun lelaki itu lekas mencubit lengan Si Pacar Bualannya, sehingga membuat Husna mau tidak mau mengikuti permainan Jimmy.
"Masa' kita kalah ama kalian, sama pacar sendiri mah bebas." tutur Jimmy tanpa beban.
"Hah...?" Husna membeliak tidak suka ke arah Jimmy dan menggoyang-goyangkan rengkuhan lelaki itu agar terlepas dari dirinya. "Elu bacot apaan sih, penyihir?" Kembali memekik tertahan, namun hanya terdengar di telinga Jimmy.
Lelaki itu hanya tersenyum menggoda dan mengerlingkan sebelah matanya kepada Husna. Genit..! Begitulah pemikiran gadis tomboi berbaju serba hitam itu.
"Mulai hari ini elu jadi pacar bayaran gua." Bisik Jimmy di telinga Husna. Tentu saja hal tersebut membuat si tomboi semakin naik tensi darahnya.
Sumpah demi apapun ia ingin sekali menjerit dan menghabisi Jimmy saat ini juga. Berani-beraninya laki-laki itu mengakui dirinya sebagai seorang kekasih? Kekasih bayaran lagi. Sungguh Jimmy sangat menguji kesabaran gadis berambut lurus dan berpipi tembem itu.
Namun ia teringat kembali akan misinya. Jika Jimmy mengambil keputusan ini, maka akan lebih mudah bagi dia untuk menyelidiki seluk-beluk lelaki yang masih berdiri anteng di belakang kursinya itu. Hikmah dari kejadian ini adalah Husna semakin meyakini bahwa lelaki yang telah dianggapnya teman baik itu mempunyai tujuan tambahan dibalik sandiwara ini.
"Gue akan ikutin permainan elu, Jimmy Newtron. Meskipun harus bertarung hingga titik darah penghabisan. Persahabatan adalah harga mati. Apapun yang akan terjadi, gue bakalan stay di samping dan di depan Alia." tekat Husna di dalam hati. Semangatnya berkobar-kobar bak lidah api yang sangat merah dan panas.
Bagi Husna persahabatan lebih dari apapun. Sebuah hubungan yang tidak bisa diukur dengan nilai rupiah. Sebuah ikatan hati yang bahkan tidak bisa digantikan oleh cinta pertama sekalipun. Sebuah simbol kebersamaan yang hakiki walaupun harus melewati badai topan sekalipun.
Mungkin kali ini ia benar-benar harus mengalah pada Jimmy. Mengalah untuk menang, mengalah untuk berkibar, dan mengalah untuk bisa menguak sisi lain Jimmy di kemudian hari. Semoga saja.
***
"Apa? Papa masuk rumah sakit? Gimana keadaannya, Kak?"
Aufar tidak bisa menyembunyikan kepanikannya ketika Kak Fira menghubunginya via sambungan telekomunikasi. Perasaan cemas mulai merayapi dirinya ketika mengingat bahwa Papa Fahri mempunyai riwayat penyakit Ensefalitis atau yang dikenal dengan sebutan radang otak.
Sekali lagi, penyakit tersebut didominasi oleh sistem kerja otak yang terlalu berat serta didukung oleh koneksi dari suasana hati dan pikiran yang mulai membuat korbannya menjadi stress atau sejenisnya.
Mungkin hal tersebut ada kaitannya dengan masalah perusahaan yang akhir-akhir ini belum menemukan titik terang. Berulang kali Kak Farun berusaha memperbaikinya, namun naas nasib baik belum berpihak kepada mereka. Semua ini sungguh sangat menguras otak, hati, dan pikiran.
"Papa udah ditanganin sama Dokter Ahli. Kakak cuma pingin kamu tau aja, Lagipula sekarang kondisi Papa udah stabil kok. Cuman masih dalam pengawasan dokter." Jelas Kak Fira menenangkan Sang Adik.
"Tapi Kak..."
"Sssst...udaaaah. Kamu do'ain aja supaya Papa bisa segera pulang. Kakak tutup dulu teleponnya ya."
Seumur-umur baru kali ini Aufar melibatkan pemikirannya untuk sesuatu yang berhubungan dengan bisnis Sang Papa. Seperti yang kita ketahui, selama ini tidak sedikitpun ia ambil pusing dengan masalah yang berkaitan dengan perusahaan. Aufar tak setertarik itu. Namun kali ini berbeda. Mau tidak mau ia harus melakukannya sebagai bentuk dukungan.
Lama ia berdiam diri di sana dengan kepala tertunduk dan dua paha menekuk di depan. Namun rasanya sangat sulit bagi dokter muda yang satu ini untuk memikirkan hal yang tidak termasuk di dalam ranah profesinya. Otaknya mulai buntu. Tak seencer ketika ia berhadapan dengan puluhan masalah pasien setiap harinya di rumah sakit.
"Bisnis itu keras.." Lirihnya sendirian. Sementara Alia sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Inilah salah satu alasan kenapa Aufar tidak ingin menjadi seorang pengusaha. Karena bagi dia, banyak pengusaha yang mau melakukan cara yang tidak halal untuk menggapai tujuannya.
Berbeda dengan dirinya yang berprofesi sebagai seorang tenaga ahli kesehatan. Mereka harus meninggalkan semua keinginan dan kepentingan pribadi demi menyelamatkan satu nyawa yang sangat berharga dari apapun bagi orang-orang yang mencintainya.
Ketika sedang khusyu' dengan dimensinya sendiri, tiba-tiba Alia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan terusan selutut berlengan pendek. Rambutnya dibiarkan tergerai berjuntai.
Warna putih tulang dari pakaian yang ia kenakan menambah aura bercahaya yang seolah menyilaukan pandangan Aufar yang telah menyadari kelebat sang istri ketika wanita itu beringsut ke atas tempat tidur dan bergabung bersamanya.
"Mau dibikinin kopi?" Memijat sekilas kedua bahu Sang Suami dengan sentuhan lembut.
"Boleh, Sayang." Menoleh seketika dan tersenyum agak dipaksakan.
Alia yang menyadari aura tidak mengenakkan dari ekspresi wajah lawan bicaranya, lantas semakin mendekatkan dirinya ke arah wajah sang suami. "Is everything alright?" Tanyanya dengan mimik cemas.
Aufar kembali memaksakan senyuman dan berkata, "bikin kopi aja dulu, Yang. Ntar aku ceritain." Mentowel ujung hidung Alia, sehingga membuat wanita itu menyimpul senyuman termanisnya.
"Siap, Boss.."
Alia berlalu menuju dapur dan meninggalkan Aufar dengan tatapan yang masih sama dengan sebelumnya. Merenung.
Sesampainya di dapur, Alia langsung mengambil cangkir kesayangan Aufar. Lalu menjejali mulut cangkir itu dengan kopi khas racikannya, kopi susu. Efeknya akan menghangatkan dan membuat mood buruk akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Setelah dirasa selesai dengan gawainya, Alia berjalan menuju kamar mereka. Ketika berada di ruang tengah, ia mendengar bell berbunyi. Pertanda ada tamu yang datang. Lantas ia meletakkan terlebih dahulu kopi yang telah ia alasi lepek itu si atas meja sofa ruang tengah, lalu menuju pintu depan dan membukanya.
Namun ketika daun pintu terbuka lebar, tak ada satu makhluk kasat matapun yang tampak di sana. Melainkan sebuah map cokelat dengan tali yang menggulung di sisi atasnya untuk mengaitkan kedua sisinya yang terbuka tergeletak di lantai tepat diujung jari kaki Alia.
*TO NYONYA ZALIA*
(Tulisan di bagian depan map cokelat tersebut)
Alia membacanya dengan berkerut kening. Ia bergumam sendiri sambil membolak-balikkan map tersebut. "Apa ini?" Segera menutup pintu kembali, lalu membuka map tersebut dan mengecek isinya.
Ketika ia tarik keluar, muncullah sebuah benda berbentuk lempengan silver yang dibungkus dengan plastik transparan.
"Kaset apa ini?" Ia bergumam sendiri. "Perasaan aku tidak ada order barang apapun via online deh." Lanjutnya dengan mimik sok berpikir. "Mending ditonton aja, daripada penasaran.
Ia kembali menampah lepek yang dipijaki oleh secangkir kopi susu itu dan bergegas masuk ke dalam kamar.
"Kok lama, Yang?" Aufar telah bersandar di muka ranjang.
"Oh, iya..tadi ada yang datang nganterin ini." Alia mengibas-ngibaskan benda berbentuk kaset DVD itu di samping wajahnya setelah menyerahkan kopi tersebut kepada Sang Suami.
Aufar yang pikirannya sedang kalut, tak mencurigai sedikitpun dengan map kaleng yang diterima oleh si istri. Ia mengangguk setuju ketika Alia mengajaknya untuk memeriksa isi dari salah satu benda yang bersifat bisa menyimpan data tersebut.
Setelah menyiapkan DVD player dan menekan tombol merahnya, Alia beringsut ke atas kasur dan bergabung dengan Aufar, menunggu proses loading dari data yang tersimpan didalam kaset tersebut.
Ketika loading-nya telah selesai, tampaklah adegan skandal Aufar bersama Fana yang terjadi di kamar sebuah hotel di Bali tempo hari.
DUAAAAAAAR
Bagai disambar petir di siang bolong, keduanya mematung dengan ekspresi paling bodoh yang pernah terlihat.
Bersambung...