
Husna menyibak satu per satu novel yang dibawa oleh Alia. Membaca cover dan sinopsis yang tertulis rapih dan menarik di dalam sana. Beberapa novel dalam bahasa asing itu sengaja Alia bawa ke kampus, karena hari ini mereka akan mengikuti mata kuliah Critical Literacy yang akan diisi kembali oleh Mr. Berry. Sang pujaan hati Delfia.
Loh Sejak kapan? Sejak pandangan pertamanya kemarin pagi di kelas ini. Bagi Delfia, jangankan melihat sosok Mr. Berry secara langsung, mendengar namanya disebutkan saja sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga.
Sejak kemarin, tujuan Delfia datang ke kampus ini menjadi bertambah satu poin. Yaitu mendapatkan gelar 'master degree' dan sekaligus menggapai gelar 'seorang istri'. Istri dari siapa? Tentunya istri dari dosen idamannya. Begitulah harapannya.
Namun seperti yang kita ketahui, manusia hanya bisa berencana dan berharap. Penentunya adalah Tuhan semesta alam. Mengenai jodoh, siapa yang tahu? Semua masih rahasia. Namun gadis itu sangat yakin dengan pepatah 'kalau jodoh gak akan kemana'. Itu petuah dari Ibunya.
Setelah asyik dengan syair-syair tiktok-nya tadi, saat ini Delfia terlihat mengerutkan keningnya dalam. Ia tampak sangat serius menatap lembaran novel yang satu persatu berhasil ia sisir dengan jari jemarinya. Mengikuti jejak Husna dan juga Alia pastinya.
Delfia dan Husna memang terkenal kocak, namun jika berkaitan dengan perkuliahan, maka mereka berdua akan berubah menjadi pribadi yang lain. Bahkan Alia sendiri tidak bisa mengenali sosok sahabatnya itu, akibat sisi lain yang tampak mengagumkan dari keduanya.
Tak terasa, beberapa saat kemudian Mr. Berry tampak memasuki ruangan kelas dengan penampilan yang tak kalah memesona dengan hari sebelumnya. Hari ini ia memakai kemeja denim berwarna biru muda. Ujung kemeja itu terselip rapih ke dalam celana yang ia gunakan. Pinggangnya diborgol posesif oleh sabuk. Kedua lengan kemejanya dilinting ke atas hingga siku, yang menambah kesan macho pada penampilannya.
Celana kain berwarna abu-abu monyet sangat fit dengan kaki jenjangnya yang membuat tinggi badan dosen muda itu mencapai 182 cm. Rambut kuningnya yang agak panjang disisir ke belakang dengan rapih dan sebelah tangannya menjepit beberapa buku yang menempel sempurna pada paha kirinya.
Dosen tampan idola Delfia itu duduk di kursi kebanggaannya seraya tersenyum hangat khas wajah seorang indo-china. Ia menyapa seluruh makhluk di kelas itu baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Apakah Delfia termasuk makhluk yang terlihat oleh pandangan dosen tampan itu? Entahlah.
"Morning everybody.." Sapa Mr. Berry memulai kelasnya.
"Morning, Sir.." Seperti biasa semua makhluk kasat mata di kelas itu menjawab sapaan sang dosen dengan serentak seperti para supporter sepak bola.
"Good to see you All, this morning we'll discuss about Critical Literacy. Are you guys ready?"
Mr. Berry beranjak dari duduknya, perlahan berjalan maju dan memposisikan dirinya berdiri tepat di depan meja Delfia.
DEG DEG DEG
Irama jantung gadis manis itu mulai bertalu-talu. Melihat penampakan sempurna sosok idamannya dari jarak yang sedekat ini menimbulkan euforia tersendiri dalam sanubarinya. Sumpah demi apapun Delfia menjadi salah tingkah. Ia ingin memekik, namun tidak bisa.
Aroma parfum khas buah anggur yang dipakai oleh si dosen muda menyeruak di indera penciuman gadis berlesung pipi dalam itu. Membuat pandangannya menjadi kabur dan serasa ingin memakan sosok yang berada di hadapannya tersebut, karena terlihat sangat menggemaskan. Ia membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak dari sebelumnya. Menimbulkan teriakan keras yang keluar dari pori-pori lantai yang diinjaknya. Pekikan lantai itu terdengar karena gesekan yang disebabkan oleh empat kaki kursi yang ia duduki.
Mr. Berry yang menyadari pergerakan tubuh Delfia sontak mengarahkan pandangannya sekilas kepada gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lalu sejurus kemudian pandangannya kembali menyapu seluruh ruangan.
"Anybody knows about Critical Literacy?" Tanya Mr. Berry sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Sir.." Husna mengacungkan jarinya. Sontak semua mata tertuju padanya tak terkecuali Delfia.
"Yes..?" Respon cepat dari Mr. Berry yang mengarahkan pandangannya lurus kepada Husna yang duduk di samping Delfia. Sedangkan Alia, ia duduk tepat di belakang Husna.
"May I?" Tanya Husna.
"Yes, Please.." Jawab Mr. Berry.
"Critical Literacy or Critical Reading is the ability to read and write critically. This includes the abilities to summarize accurately an argument and locate the assumptions (state and unstate)." Jelas si Husna gadis tomboi.
Mendengar penjelasan Husna, Mr. Berry tersenyum kagum pada mahasiswi yang tetap saja memakai topi di dalam kelas itu.
"Thank you, Miss..." Ucap Mr. Berry yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena tidak mengetahui nama gadis itu.
"Husna, Sir.." Jawab Husna dengan tegas.
"Yes, Husna..verry good answer." Tutur dosen itu dengan ramah. "Any other opinion?" Tanyanya lagi sambil melempar pandangan ke seluruh kelas.
"Sir.." Alia mengacungkan jarinya.
"Yes..?"
"I just wanna give some additional answer." Jawab Alia.
"Go ahead!"
"critical literacy also guide us to evaluate the strength of the evidence and the soundness of the reasoning offered in supporting our thesis. In the other words, we can go straight with our critical thinking when we are reading a journals, books, or novel. But we also can use it when we are writing." Jelas Alia melengkapi jawaban Husna.
Sesaat kelas menjadi hening, hingga akhirnya suara tepukan tangan dari Mr. Berry mencairkan suasana yang tadinya sepi seperti kuburan.
"Well done. You guys amazing. Give applause to Husna and...." Lagi-lagi Mr. Berry harus memotong kalimatnya karena tidak mengetahui nama Alia.
"Zalia, Sir.." Jawab Husna yang tiba-tiba menjadi juru bicara bagi Alia. Sontak Alia mentowel punggung sahabatnya itu yang diiringi kekehan kecil yang keluar dari bibir Husna.
Seluruh kelas bertepuk tangan ikut memberikan apresiasi kepada Alia dan Husna.
Tak terasa setelah melakukan role-play dan beberapa penugasan, tibalah mereka di penghujung waktu. Mr. Berry terlihat sangat kagum akan kemampuan semua mahasiswa dan mahasiswinya. Ia memberikan feedback positif atas pekerjaan yang mereka buat dengan memberikan kesimpulan dari salah satu bab dalam novel yang mereka bawa.
"I think that's all for today. Do you have any question before I leave?" Mr. Berry beranjak dari kursinya dan menjinjing beberapa buku ditangan kanannya.
"What do you like to eat, Sir?"
Gol. Pertanyaan itu tidak sengaja keluar dari bibir manis Delfia. Membuat semua makhluk di kelas itu bersorak kepadanya.
"Sorakin Fia.."
"huhuhuhuh.."
"mana orangnya?"
"tuh tuh tuh tuh.."
Semua jari tertunjuk kepada Delfia. Ia tercengang dan menatap heran kepada teman-teman sekelasnya.
Sedangkan Mr. Berry, laki-laki itu hanya bisa tersenyum lebar dan hampir terkekeh mendengar pertanyaan dari Delfia. Ia menggeleng pelan dan pergi meninggalkan kelas tanpa menggubris pertanyaan dari gadis yang cukup manis dimatanya itu.
"Apaan sih, kalean? Iriii?" Seloroh Delfia dengan bibir mengerucut ke depan. Mungkin dia merasa kecewa karena dikacangin oleh sang idola.
***
"Kenape lu Fi?" Tanya Husna sambil melingkarkan sebelah tangannya di pundak Delfia. Mereka hanya terlihat berdua tanpa sosok Alia di sana.
Keduanya sedang berjalan di halaman kampus menuju parkiran. Waktu bergulir begitu cepat, tak di sangka jam sudah menunjukkan pukul 16.00.
"Kaga ape-ape Na." Delfia terus saja tertunduk tanpa mengalihkan pandangannya pada Husna.
"Mikirin Mr. Berry?" Tanyanya lagi. Namun tak ada jawaban dari Delfia yang sejak tadi terus menendang box kecil bekas jus Buavita rasa guava yang sudah tak berbentuk lagi. Lusuh bin lecek.
"Kan gue udah bilang ama elu, kalo mimpi tuh ja...." Kalimat Husna terhenti karena kehadiran Mr. Berry yang tiba-tiba memotong langkah mereka. Sontak membuat Delfia mengangkat kepalanya tak percaya.
Tatapan mata laki-laki itu terlihat sangat tajam dan seperti ingin membunuh salah satu diantara mereka. Deru nafasnya yang tidak beraturan, terdengar jelas di indera pendengaran Husna dan Delfia. Namun kedua netra yang berwarna cokelat keemasan itu, perlahan menjadi datar dan normal kembali. Sepertinya hanya karena efek berlari, semuanya terlihat seakan mencekam.
Tanpa basa-basi, dosen tampan itu menyelipkan lipatan kertas di salah satu telapak tangan Delfia. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan kedua gadis itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Delfia dan Husna sontak saling melempar mata. Terkejut bin bingung. Namun karena rasa penasaran yang menjulang tinggi, Delfia membuka lipatan kertas itu, lalu membaca tulisan romantis yang menurutnya melebihi keromantisan ungkapan cinta seorang Romeo kepada sang Juliet.
So sorry, aku gak bisa jawab pertanyaan kamu di depan semua orang. By the way, aku suka makan Pop Mie Dower pake Bon Cabe level 15
Berry
"What?"
Delfia memekik dan berjingkrak ria di atas kebingungan Husna. Membuat sahabat tomboinya itu menggelengkan kepala karena perubahan sikap Delfia yang berubah 180 derajat berbanding terbalik dari sebelumnya setelah kehadiran Mr. Berry.
"Dasar cokelat batangan.." Lirih Husna.
Bersambung..