
"Selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu...." Celoteh Alia sambil menghitung jari-jemarinya. Wajahnya nampak sedang memikirkan sesuatu. Kala itu ia duduk santai sambil berselonjor kaki di atas tempat tidur.
"Lagi ngapain, Sayang?"
Tiba-tiba saja Aufar datang menghampirinya setelah keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada. Aroma shampo mint yang ia pakai menyeruak hingga ke rongga hidung Alia. Pandangannya terkunci, tercengang, dan terpana menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang terbentuk dalam wujud laki-laki tampan yang sudah menjadi suaminya itu. Sexy sekali, begitulah kira-kira isi kepala Alia.
Aufar meletakkan handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya di atas meja di samping tempat tidur. Kemudian ia mulai menyusupkan kepalanya di atas paha sang istri. Lebih parah lagi dokter tampan itu mengkusuk-kusukkan wajahnya ke arah perut Alia. Menghirup aroma minyak telon My Baby khas pakaian bayi yang selalu setia membalur tubuh istrinya.
"Eh, ini Mas, lama banget ya nungguin hari sabtu. Aku udah enggak sabar pengen ketemu temen-temen kampus." Cebik Alia yang terbuyarkan lamunannya akibat tingkah manja sang suami. Sepertinya wanita itu mulai bosan dengan hari-hari yang ia lalui di rumah sendirian ketika Aufar sedang bekerja di rumah sakit.
Ya, setelah kepulangan para tetua mereka, Aufar memboyong Alia untuk tinggal di apartemennya. Sedangkan apartemen yang biasa ditempati Alia, untuk sementara waktu dipakai untuk menampung Jimmy. Karena tidak mungkin bagi Aufar mengizinkan Jimmy untuk tinggal satu atap dengan mereka.
Walaupun dalam satu minggu ini tidak ada hal aneh yang menimpa istrinya, Aufar tetap siaga memasang Jimmy sebagai tameng bagi Alia, ketika ia sedang tidak berada di rumah. Pastinya dengan senang hati Jimmy menjalankan tugas yang memang sebelumnya telah ia emban. Apalagi pekerjaan itu berkaitan dengan wanita yang ia cintai. Tanpa diminta Aufar pun ia akan selalu siap siaga. Entah bagaimana nasib hati Jimmy nantinya? He doesn't care about it.
Kembali ke pasangan keceh ya.
"Jadi Sayang bosan nih, di rumah aja menanti kepulangan suami kesayangan?" Aufar menarik wajahnya yang tadi menempel pada perut Alia layaknya perangko.
"Enggak gitu juga maksudnya, Mas. Aku cuma terbiasa bekerja aja,,hehe." Alia mulai cengengesan mengimbangi tatapan sendu yang Aufar selipkan di wajah tampannya.
"Jadi, Sayang pengen bekerja?" Aufar mengangkat sebelah alisnya.
"Emangnya boleh?" Respon Alia dengan antusias sambil mengelus pipi sang suami.
"Emm...sebenarnya aku pengennya kamu di rumah aja, Sayang. Tapi...." Suara Aufar tercekat. Lalu ia melanjutkan kalimatnya kembali dengan perasaan sedikit ragu.
"Tapi...kalo kamunya ngerasa enak sambil beraktifitas di luar, aku juga gak bisa maksain kamu untuk tetap di rumah aja." Lanjutnya dengan berat hati sambil memainkan kuku-kuku di jari tangannya.
"Jadi enggak ikhlas nih ngizininnya? Kalo Masnya keberatan, akunya juga gak mau ah, takut dosa." Alia pura-pura memalingkan wajahnya bermaksud menggoda Aufar.
"Sayang..." Aufar bangkit dari tidurnya dan duduk di hadapan sang istri. Posisi ini membuat mereka leluasa menatap manik mata satu sama lain.
Aufar merangkum wajah Alia ke dalam genggamannya, memberikan tatapan penuh cinta dan menghadiahkan kecupan dalam di kening bening itu.
"Lakukan apa saja yang membuatmu bahagia, sebagai suami aku akan selalu mendukungmu. Asalkan kamu mau berjanji akan menjaga dirimu agar tetap baik-baik saja ketika sedang tidak bersamaku. Bukan hanya untuk dirimu, tetapi juga untuk diriku."
Alia mencoba menyusup ke dalam dua manik hitam pekat milik Aufar, mencoba mencari titik gurauan dalam setiap ucapannya. Namun, nihil. Tak bisa ia temukan.
Seketika itu juga Alia menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan indah. Ia bisa merasakan bahwa Aufar benar-benar sangat mencintainya. Bagaimana tidak? Laki-laki itu bisa mengalahkan keegoisannya demi membuat Alia tetap merasa nyaman berada di sampingnya. Mendampinginya, hingga maut memisahkan.
Buliran bening mulai membingkai kedua bola mata bulat wanita bernama lengkap Zalia Aliyanti itu. Rasa terharu dan bahagia menghujam kuat di dadanya. Membuat ia tak bisa lagi menahan diri.
"Terima kasih, Suamiku." Lolos. Cairan bening itu terjun bebas tanpa permisi, membuat kedua ibu jari Aufar menjalankan tugas yang semestinya mereka lakukan.
"Sama-sama, Istriku. Jangan menangis lagi." Responnya sembari meraih tubuh mungil sang istri ke dalam dekapannya.
***
Dua hari kemudian
Setelah selesai sarapan dengan dua potong sandwich keju plus segelas susu cokelat kesukaannya buatan sang istri, Aufar bersiap-siap untuk bertolak ke rumah sakit. Hari ini ia ada janji dengan seorang pasien khusus tepat pukul delapan nanti.
"Sayang, maaf ya aku enggak bisa nemenin kamu ke sekolah buat ngantar lamaran. Tapi aku udah bilang sama Jimmy kok untuk mendampingi kamu." Tutur Aufar sambil meraih jas putih kebanggaannya yang mengalungi sandaran kursi.
"Iya, enggak papa, Mas. Aku faham kok, inilah resiko jadi istrinya seorang dokter. Jadinya kemana-mana diantar asisten deh," Alia terkekeh.
Mungkin menurutnya kalimat itu hanyalah gurauan belaka. Namun tidak untuk Aufar. Tiba-tiba, rasa bersalah menghujam dadanya tanpa ampun.
"Sayang..." Aufar meraih kedua pundak Alia yang masih duduk anteng di atas kursi sambil memegang separuh sandwich yang terluka akibat gigitannya.
"Maafin aku ya, Sayang..pekerjaan ini sudah menjadi cita-citaku sedari aku masih kecil. Sampai-sampai aku harus mengorbankan keinginan Papa untuk menjadi penerus di perusahaannya. Jadi aku mohon, terima profesi ku ini dengan ikhlas ya." Pinta Aufar dengan mimik seolah memohon kebesaran hati Alia dengan penuh harapan.
"Mas..." Alia meletakkan kembali potongan sandwich itu diatas piringnya dan merangkum wajah sendu sang suami.
"I'm really sorry, aku enggak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sungguh. I was joking, baby. Mengenai profesi mu saat ini, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Mau kamu itu seorang ABK ataupun Dokter, itu tidak akan mengurangi kadar cintaku padamu, Mas." Alia berkata sambil tersenyum manis. Tentu saja hal itu membuat hati Aufar bersorak bahagia.
"Kamu tuh ya ngegemesin banget. Kamu tahu enggak aku tuh bisa gila tanpa kamu, rubah kecilku." Aufar mencubit mesra pipi chubby sang rubah.
"Ya udah aku berangkat dulu ya, mungkin setengah jam lagi Jimmy akan menemuimu. Ingat sayang, jaga jarak!!!" Aufar berkata dengan wajah seriusnya. Datar, namun terpendam rasa cemburu di dalam sana.
"Iya iya Tuanku, udah sana berangkat nanti pasiennya keburu dateng loh, terus nungguin dokternya lama banget, kan kasian." Alia mendorong punggung Aufar menuju pintu keluar.
"Enggak papa kali, Sayang. Biarin aja dia menunggu sebentar."
Aufar membalikkan badannya menghadap Alia. Padahal mereka sudah berada di muka pintu apartemen itu. Namun, entah mengapa kaki dokter tampan itu sulit sekali untuk melangkah pergi seolah membawa beban beton yang amat sangat berat.
Aufar menarik pinggang ramping Alia hingga menabrak tubuh tegapnya dengan sempurna. Lekat, tanpa adanya jarak yang tersisa. Kedua tangan Alia mendarat indah pada dada bidang sang suami, membentuk sunggingan manis di bibir dokter itu.
Ia meraih dagu Alia yang tertunduk malu, membuat pandangan di antara keduanya bertemu dan terkunci rapat. Aufar memiringkan sedikit kepalanya, perlahan mendekatkan bibirnya menuju sasaran. Perfect, bibir itu mendarat sempurna. Terjadilah kecupan sayang tanpa nafsu. Hal itu terjadi sangat singkat karena dengan berat hati Aufar harus beranjak pergi dari sana.
"Best of luck, baby." Ia melambaikan tangannya dan berlalu.
Namun tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang menyaksikan adegan penutup breakfast yang mereka lakukan di muka pintu itu. Oh no....
Bersambung