
(POV Sosok Misterius)
Ternyata Tuhan tidak mengizinkanku melewati momen ini begitu saja seperti mudahnya membalikkan telapak tanganku. Namun, batinku terpanggil begitu saja untuk tetap meneruskan perjuangan ini. Aku belum juga memulai peperangan ini, bagaimana aku bisa kalah?
"Pak...jangan gitu dong, Aufar ini kan baru aja nyampe, mbok yo diajak ngobrol yang ringan-ringan dulu gitu. Jangan langsung main tembak gitu, bisa pingsan nanti anak orang."
Suaranya Ibu Alia selalu berhasil menenangkan pikiranku yang mulai tegang. Jika di perhatikan dengan seksama, wajah wanita paruh baya ini tidak jauh berbeda dengan Alia. Hanya saja mereka terlahir dari generasi yang berbeda, membuat Alia terlihat seperti sosok miniatur mudanya istri Pak Harry ini.
"Wait a minute! Gimana ceritanya nih Ibu bisa tahu namaku? Aku bahkan belum sempat memperkenalkan diri sebelum kalimat penolakan tadi," tanyaku di dalam hati. Mereka semakin membuatku penasaran. "Alia..kamu berhutang penjelasan padaku!" Pekikku, lagi-lagi hanya di dalam hati.
Pak Harry terus menyesap asap kematian itu, membuatnya berirama semakin lambat, tanpa menggubris ucapan sang istri. Lagi-lagi aku harus menelan saliva ku dengan berat sambil memaksakan senyuman tetap terukir di bibir yang aku hadiahkan untuk wanita yang sudah melahirkan Alia itu.
Bagaimana dengan Andri? Aku juga heran, tiba-tiba saja mulut dokter yang tak kalah tampan di sampingku itu, terkunci rapat seperti seekor tikus yang jatuh ke dalam kubangan padi di tengah sawah ini. Biasanya, Andri selalu nyeletuk semaunya jika mendengar perkataan tidak mengenakkan. Namun tidak untuk saat ini. Aku rasa ia sudah terhipnotis oleh asap kematian yang keluar dari mulut Pak Harry.
"Pak, Bu...maafkan atas ketidaksopanan saya, karena saya datang kesini tanpa membawa kedua orang tua saya. Benar seperti yang Bapak katakan tadi, tujuan saya kemari adalah ingin memohon restu dari Bapak dan Ibu untuk mempersunting Alia..." Suaraku terhenti, aku hampir kehabisan oksigen karena berbicara dalam satu tarikan nafas.
"Tapi...mendengar perkataan Bapak tadi, saya juga tidak bisa memaksakan kehendak saya pribadi maupun Alia. Namun, demi kebaikan bersama, penting bagi saya untuk mengetahui alasan mengapa Bapak tidak bisa memberikan restu kepada saya? Jika ada suatu kekurangan di dalam diri ini, sekiranya saya bisa memperbaikinya sebelum akhirnya saya bisa dianggap pantas untuk menjadi menantu Bapak." Ucapku mantap jiwa.
Mendengar hal itu, Andri sontak menoleh ke arahku sambil membuka kedua bola matanya sempurna. Mungkin ia berpikir apakah seafood yang tadi aku makan telah memberikan protein yang mumpuni sehingga lisanku nyerocos begitu saja bagaikan burung kutilang.
Aku memilih untuk tidak menggubris pandangan Andri, namun ekor mataku menangkap bahwa laki-laki itu tersenyum bangga padaku. Sehingga aku semakin yakin bahwa tidak ada yang salah dari pernyataan ku barusan.
Sesekali aku melirik ke arah Pak Harry dan berpindah memandang istrinya. Ibunya Alia tersenyum kagum padaku. Aku seperti melihat sosok Mama yang sedang mengatakan kalimat, "Mama bangga sama kamu, Nak."
Bayangkan gengs, disini adalah tempat baru untukku. Aku juga adalah orang baru yang tidak memiliki sanak saudara di tanah borneo ini. Tidak akan ada yang bisa aku mintai pertolongan, jika saat itu juga Pak Harry tidak terima dengan ucapan ku dan menghajar ku habis-habisan karena aku telah lancang bahkan terang-terangan tidak ingin menerima penolakannya. Aku menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan.
"Ehm.." Akhirnya laki-laki paruh baya itu berdehem dan mematikan bara cigarette di tangannya.
"Begini Aufar.." Suaranya melunak.
DEG
Kenapa ini? Apakah beliau berubah pikiran? Aku bahkan belum berani menatap langsung netra kecoklatan miliknya yang tadi sempat terekam oleh lensaku.
Dan apa itu barusan? Beliau menyebut namaku dengan baik dan benar. Itu berarti beliau tidak anti pada pemuda sepertiku bukan? Pikiranku ini mulai travelling gengs.
"Dulu Bapak memang tidak memberikan restu itu untuk kalian. Dan itu dulu ketika Bapak belum menyadari bahwa kebahagiaan Alia adalah yang paling utama dalam hal ini. Namun tidak untuk sekarang. Bapak sudah sangat mengetahui bahwa tidak ada pemuda yang lebih dicintai Alia selain dirimu." Ucap Pak Harry dengan pandangan teduhnya tersorot lurus padaku. Calon menantunya ini.
DEG
Kenapa ini dengan jantungku? Sejak tadi dentumannya semakin hebat dan menjadi-jadi. Apakah itu efek yang ditimbulkan karena aku terlalu bahagia mendengar kalimat romantis Pak Harry? Aku tidak sedang bermimpi bukan? Tadinya otakku sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Ayah yang telah membesarkan gadis polos ku ini, namun ternyata pemikiran ku itu salah besar. Astaghfirullah, aku berdosa karena telah berburuk sangka kepada calon mertua sendiri.
"Kamu tahu tidak Pemuda yang barusan beranjak pergi? Ia sudah bertahun-tahun mendekati Alia. Malah sejak Alia masih duduk di bangku SMA kelas XI sampai putri Bapak itu Wisuda Sarjananya. Tetapi Alia menolak lamarannya mentah-mentah, karena apa? Apa kamu tahu alasannya?" Tanyanya langsung padaku. Aku harus jawab apa gengs?
"Saya sudah tahu semuanya, Pak. Karena saya selalu menguntit anak Bapak lewat si Andri ini." Ujarku di dalam hati. Namun tidak ada satu katapun yang bisa aku ucapkan pada laki-laki paruh baya itu.
"Jawabannya adalah karena Alia hanya mencintaimu, Nak." Lanjutnya melengkapi kalimat tanyanya tadi.
DEG
Aahhh...
Romatic...
Ternyata Pak Harry sangat ahli dalam menerbangkan hati seorang Aufar. Setelah tadi ia menghempaskan perasaanku, membantingnya sekuat tenaga hingga hancur berkeping-keping tak bersisa.
Tapi sekarang, kepingan perasaan yang terbanting tadi menyatu kembali seperti sedia kala. Bak aku ini memiliki ajian Rengka Gunung yang dipopulerkan oleh Sudawirat dalam serial laga Angling Dharma.
Aku benar-benar merasa melayang di langit-langit ruangan itu. Mengibaskan sayang-sayap putih bak seekor burung merpati. Thank God.
"Pak...saya..." Bibirku ingin berucap,, namun kalimatnya tercekat. Sumpah demi apapun, I'm speechless. Buliran bening yang sejak tadi membingkai kedua bola mata ini, akhirnya terjun bebas tanpa permisi. Membuatku terlihat seperti a pinky boy di hadapan kedua calon mertuaku.
"Aufar..." Ibunya Alia bersuara.
"Tidak ada yang diinginkan Alia untuk menjadi pendamping hidupnya selain dirimu, Nak. Ibu yakin, jika bersamamu hidup putri Ibu itu pasti akan sangat bahagia."
Sumpah ada yang banjir gengs, tapi bukan sawah ini, melainkan kedua pipiku. Aku mengusapnya perlahan menghilangkan jejak yang terbentuk akibat jalur yang mereka ciptakan semaunya.
Aku beringsut mendekati kedua orang tua yang luar biasa itu, tanpa banyak basa-basi aku bersimpuh di hadapan keduanya. Aku mencium kedua tangan kokoh laki-laki yang dengan penuh kasih sayang merawat dan membesarkan wanita yang aku cintai itu. Aku terisak sambil membungkukkan tubuhku yang terus bergetar mencium tangannya. Pak Harry mendaratkan tangannya menyentuh kepalaku. Aku merasa sangat direstui sekarang.
Hal yang paling tidak aku sangka, beliau dengan sigap menarik tubuhku menghadap padanya. Aku bisa melihat langsung bola matanya mulai memerah, kilatan penyesalan dan rasa bersalah tersembunyi di balik wajah tegasnya.
Namun aku belum bisa menemukan jawaban dari semua teka-teki ini, mengapa beliau harus semenyesal ini? Dan gol. Air matanya merembes. Ia menarik tubuhku, mendekap ku dengan nyaman. Bisa aku rasakan tubuhnya bergetar mengimbangi perasaan melow yang sedang melandanya. Aku membiarkan hal itu sejenak, sampai beliau merasa lega dan akhirnya menarik tubuhnya dariku.
"Maafkan Bapak, Nak. Dulu Bapak terlalu egois." Ucapnya seraya memegang erat kedua pundak ku. Aku masih dirundung kebingungan. Sebenarnya ada apa ini? Otakku saat ini berada di jalan buntu, tidak bisa menebak-nebak. Yang bisa aku lakukan hanya lah menganggukkan kepala serta berterima kasih atas restu dan ridho yang telah ia berikan dengan ikhlas kepadaku.
Kemudian aku menghampiri calon Ibu mertuaku itu, melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada Pak Harry. Hanya saja aku tidak berani memeluk si Ibu karena khawatir si Bapak akan berubah pikiran dan menarik ucapannya kembali. Bisa pulang dengan tangan kosong aku nantinya.
Sedari tadi wanita paruh baya yang bisa dibilang sebagai kembaran Alia itu, sudah menangis haru menyaksikan drama yang aku ciptakan bersama suaminya.
"Ibu merestuimu, Nak." Serunya sambil merangkum wajahku ke dalam genggamannya. Sumpah demi apa, aku seperti melihat Alia sedang tersenyum bahagia kepadaku.
Jujur, aku sangat merindukan gadis polos ku itu, sudah dua tahun ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Tetapi memandang wajah Ibunya sedekat ini, paling tidak berhasil mengurangi rasa rindu yang sudah meradang di dalam dada bidang ini.
"I miss you..."
Bersambung..