I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Sandiwara Asmara



Suara gemuruh transportasi udara yang ditumpangi Aufar dan Alia, baru saja menjejakkan rodanya di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Keduanya bergantian menyembul keluar dan menuruni satu persatu anak tangga yang menjadi jembatan bagi mereka untuk menginjakkan kaki di bumi metropolitan.


Selama perjalanan menuju ruang kedatangan, keduanya tak sedikitpun melepaskan tautan tangan mereka. Tertempel erat bak dibubuhi lem paling gila.


Di pintu keluar telah tampak sosok yang tak kalah tampan dari Aufar berdiri tegap dengan kedua tangan menelusup ke dalam saku celana kain yang ia kenakan. Tak lama kemudian, ia melambaikan sebelah tangannya dan tersenyum ketika pandangannya menangkap kelebat sang atasan bersama wanita yang ia cintai.


Kali ini Jimmy tak datang sendirian. Ada seorang gadis berambut lurus, berpipi tembem dan mengenakan topi kebanggaannya dengan ransel kecil tersampir apik di sebelah bahunya. Mereka berdua berdiri berdampingan bak sepasang kekasih. Sepasang makhluk ciptaan Tuhan yang begitu terlihat serasi namun tak sehati itu, melepaskan kaca mata hitam yang mereka gunakan secara bersamaan ketika Aufar dan Alia telah hampir mendekati mereka.


"Husna.." Pekik Alia dari kejauhan. Melepaskan kaitan tangannya dari sang suami, lalu menghambur memeluk sahabat kampusnya itu.


Gadis tomboi itupun bergeming dan membalas pelukan Alia. Keduanya lama dalam posisi berpelukan dan saling bercerita heboh karena telah cukup lama tak saling bertatap muka secara langsung.


Sementara Jimmy, ia menambah langkahnya ke depan sehingga mencapai tangan Aufar dan memeluk tubuh si Boss dengan gaya macho.


"Sejak kapan si Doraemon jadi cemcemannya elu?" Bisik Aufar di telinga Jimmy, sehingga membuat lelaki itu menarik tubuhnya sedikit menjauh dari si Boss dan tersenyum kecut.


"Just a friend," Respon Jimmy santai.


Tak ingin melanjutkan pembahasan tersebut, Asisten pribadi Aufar itu, langsung menyambar troli yang berisi koper dan barang lainnya yang digenggam oleh sang atasan. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil.


Mereka berempat telah berada di dalam kereta roda empat milik Jimmy. Ia langsung melajukan kendaraannya, ketika semuanya telah mengenakan sabuk pengaman dengan sempurna.


"Urusan kita belum selesai," seru Jimmy sambil mendengus pelan. Sementara Husna melirik sinis ke arah lelaki yang masih fokus dengan kemudinya itu.


Tentu saja hal tersebut membuat Aufar dan Alia saling melempar pandang. Mereka saling mengedikkan bahu masing-masing, merasakan atmosfer ketidakberesan yang telah terjadi di antara dua orang yang duduk anteng di hadapan mereka saat ini.


"Jim, tolong langsung ke apartemen ya," pinta Aufar mencairkan suasana kikuk yang menyelubungi mereka.


"Siap, Boss."


Jimmy menambah kecepatan mobilnya. Lima belas menit kemudian, mereka telah tiba di apartemen Aufar. Alia dan Husna telah naik terlebih dahulu ke lantai dimana unit Aufar berada. Sedangkan sang suami, masih berada di basement menunggu Jimmy menurunkan barang-barang bawaan mereka.


"Ada masalah apa elu ama Husna?"


"Enggak ada masalah apa-apa."


"Elu jan berkilah!"


"Siapa yang berkilah?"


"Ya elu, masa' gua?"


"Heh...."


Jimmy menghela nafas. Tidak mungkin ia menceritakan kepada Aufar tentang Husna yang mulai mencurigainya. Gadis tomboi itu sengaja menguntit Jimmy untuk menguak konspirasi antara dirinya dan Fana. Apalagi pertemuan mereka kemarin sore semakin menambah bukti bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres di antara keduanya.


"Husna cemburu," kilah Jimmy.


"Pffffft, what? Jadi kalian udah jadian?"


"Hemm..."


Aufar tak bisa menahan tawanya. Ia tergelak sehingga membuat kedua sudut matanya basah.


"Elu enggak becanda kan, Jim?"


"Siapa juga yang becanda?"


"Jadi wanita yang elu maksud selama ini, si Doraemon?"


"Iya, Boss.."


Jimmy memutar kedua bola matanya dengan malas. Beberapa kali ia membuang pandangannya ke sembarang arah. Tidak ingin Aufar menyadari bahwa dirinya sedang berbohong.


Setelah menceritakan sandiwara asmara yang baru saja ia ciptakan, akhirnya Aufar percaya tanpa merasa curiga sama sekali jika semua yang dikatakan oleh Jimmy hanyalah kebohongan semata. Hal itu ia lakukan supaya Aufar tak akan pernah menyadari pergerakan misinya ke depan.


"Terus, gimana masalah Fana?"


Jimmy menghentikan gawainya, lalu menghela nafas kembali.


"Gua udah dapetin video skandal lu. Tapi gua enggak yakin kalo Fana bener-bener udah nyerahin file aslinya."


***


"Aw....."


Tanpa disadari, Alia menabrak tubuh seseorang di saat keluar dari kotak ajaib berjalan yang mengantarkannya pada lantai tujuan.


"So sorry..." Tutur Alia sembari membantu wanita yang telah ia tabrak itu untuk bangkit. Posisinya tertunduk sehingga menyulitkan Alia untuk menangkap sorot wajahnya.


Husna memerhatikan gelagat dan potongan tubuh wanita tersebut. Memorinya mulai memutar kilas balik. Ia merasa pernah melihat wanita itu, dan.....


"Bukankah ini wanita yang bertemu dengan Jimmy kemarin sore?" Batin si tomboi.


"Kau..."


"Kamu..."


Alia dan Fana serentak menunjuk wajah masing-masing. Hal tersebut membuat Husna berkerut dahi. Namun ia mulai menyadari bahwa satu petunjuk yang menjadi titik terang telah ia temukan. Alia mengenal wanita itu. Wanita yang ia yakini telah merencanakan sesuatu yang buruk bersama Jimmy. Entah misi itu ditujukan untuk siapa, Husna masih belum bisa menyimpulkan.


"Kalo jalan pake mata, dasar kampungan." Sergah Fana kepada Alia.


"Eh...ngomong yang sopan sedikit napa, Mbak?" Sela Husna, menambah langkahnya sedikit lebih maju.


Ia tidak terima jika sahabatnya sampai mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan. Apalagi insiden tabrakan tersebut terjadi karena unsur ketidaksengajaan.


Perlahan Alia menarik lengan Husna, berusaha untuk menenangkannya. Ia tidak ingin sahabatnya itu terlibat masalah dengan wanita gila seperti Fana.


"Kamu siapa juga? Ikut campur aja." Dengan kesal Fana mengalihkan pandangannya pada Husna.


"Oh, jadi elu pengen kenalan ame gue? Kenalin nih, gue Husna. Bodyguard-nya Nyonya Zalia Aliyanti, jelas?" Husna menjentikkan jempol pada ujung hidungnya sekilas dan membusungkan dadanya ke depan. Mirip seperti lakon tokoh preman di pasar minggu.


"Oh...begitu? Jadi sekarang Aufar sudah membayar bodyguard untuk istrinya yang kampungan ini? Heh, tak sepadan." Menyilangkan kedua lengannya di depan dada dengan senyuman mengejek ke arah Alia.


"Na, udah ah. Jangan diladenin. Wanita ini kurang waras." Bisik Alia di telinga Husna sehingga membuat sahabatnya itu bergidik kebingungan.


Tanpa merespon ucapan Alia, Husna kembali menghunuskan pandangannya lurus menantang wanita ular di hadapannya.


"Kalo iya kenape, hah? Kenape elu yang mules? Alia tuh Bininye Aufar, wajar dong dia memperlakukan Bininye kek Permaisuri." Seloroh Husna dengan tampang mengejek. Hal itu semakin membuat Fana menggeram dan mengetatkan kedua rahangnya.


"Cih...! Yang pantas bersanding dengan Dokter Aufar itu cuma Aku, bukan wanita kampung ini." Fana mengarahkan jari telunjuknya lurus ke arah Alia.


Semua kata-kata pedas yang keluar dari bibir Fana sungguh tak ada pengaruhnya bagi Alia. Ia telah biasa menghadapi tabiat tercela dari wanita yang merupakan mantan kekasih suaminya itu. Bagi Alia, meladeni Fana sama saja dengan meladeni orang gila.


Namun tidak untuk Husna. Mendengar kata-kata itu, telinganya terasa gatal dan panas. Ia sontak mengepal erat tinjunya yang hampir mendarat indah di wajah Fana. Namun Alia dengan sigap menarik tangan sahabatnya itu, lalu membawanya berlalu meninggalkan Fana.


***


"Kenapa elu diem aja sih, Al? Wanita model begitu tuh harus dikasi pelajaran biar jera." Kesal Husna ketika mereka telah berada di dalam unit apartemen milik Aufar.


"Udahlah, Na. Ngabisin tenaga aja." Alia segera berlalu menuju dapur menyiapkan minuman untuk mereka berempat. Husna yang masih kesal tak habis pikir dengan respon sahabatnya itu.


"Sebenarnya wanita itu siapa sih?" Berdiri sambil berkacak pinggang di belakang Alia. Husna memulai misi interogasinya. Ia harus mengorek informasi se-detail mungkin agar mendapatkan petunjuk berikutnya.


"Aufar's ex-girlfriend." Jawab Alia tanpa mengalihkan pandangannya dari empat gelas jus jeruk yang sedang ia aduk.


Got it. Wajar saja wanita tersebut menemui Jimmy. Sudah bisa disimpulkan jika keduanya terlibat persekongkolan kotor.


Husna telah lama mengetahui jika Jimmy tertarik pada Alia, dan wanita itu masih saja mengejar-ngejar Aufar. Sekarang Husna sudah bisa menyimpulkan bahwa keduanya bekerjasama untuk memisahkan Alia dan Aufar demi tercapainya hasrat masing-masing.


"Disgusting..!" Gumam Husna.


"What?" Alia tersentak mendengar celetukan sahabat kocaknya itu. "Kamu mikirin apa sih, Na?" Lanjutnya sambil meletakkan nampan berisi empat gelas itu di atas meja makan. Ia menghentikan langkahnya yang hendak menuju ruang tamu karena penasaran dengan gelagat mencurigakan dari Husna.


Husna yang tidak ingin berbasa-basi lantas menarik salah satu kursi dan duduk dengan antengnya.


"Elu sadar kaga sih kalo si Jimmy itu suka ame lu?"


Alia tergelak mendengar pertanyaan Husna. Ia tidak habis pikir, bagaimana Husna bisa mengatakan hal tersebut.


"Kamu cemburu?" Alih-alih menjawab pertanyaan Husna, Alia malah menyerang balik. Ia ikut mendudukkan tubuhnya di samping gadis tomboi berkulit putih itu.


"Yaelah, Al. Sejak kapan gue tertarik ame cowok?" Bela si Husna. Ia mendengus pelan mendengar cercaan Alia.


"Mana tau sejak kenal Jimmy kan? Jimmy itu baik loh, Na. Aku setuju kalo kamu sama dia."


Husna memutar kedua bola matanya malas. Niat awalnya ingin mendiskusikan misi kedepannya untuk menghalau Jimmy dan Fana, menjadi terhalang oleh kepolosan sang sahabat. Agaknya sedikit sulit bagi Husna untuk mengubah paradigma Alia tentang Jimmy.


Beberapa menit kemudian, Aufar dan Jimmy tiba dengan membawa koper dan beberapa oleh-oleh khas daerah kelahiran sang istri. Alia yang menyadari hal itu, lantas bangkit dan menghampiri mereka.


"Ini jus jeruknya, Mas." Menyerahkan segelas jus jeruk itu kepada sang suami.


"Jim, sana deh temui Husna. Dia kayaknya udah nungguin kamu dari tadi." Mengalihkan pandangannya pada asisten pribadi sang suami yang telah dianggapnya sebagai sahabat itu.


Menanggapi kalimat Alia, Jimmy hanya bisa tersenyum kikuk, lalu berlalu menemui Husna.


"Mereka beneran jadian?"


"Enggak tau juga sih, Mas. Husna mah enggak ngaku. Palingan juga masih PDKT."


"Jimmy bilang sih udah."


"Gitu ya? Syukurlah.."


Bersambung..