I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Emosi Sang Perindu



Sejak tragedi perpisahan itu tidak pernah ada lagi kabar diantara keduanya. Aufar sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta. Sedangkan Alia melanjutkan hari-harinya sebagai mahasiswi.


Berhubung Aufar sudah melewati pendidikan profesinya atau yang lebih dikenal dengan istilah Koas, dan lulus dalam UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia), maka kompetensinya sebagai seorang dokter sudah tidak diragukan lagi. Bahkan jauh sebelum ia melebarkan sayap karirnya di dunia pelayaran. Sekarang Aufar sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang Master.


Tidak bisa dipungkiri, keinginannya untuk memiliki rumah sakit sendiri di kota kelahirannya kelak, membuat ia tidak mengendorkan semangat sedikitpun untuk terus menuntut ilmu sampai ke jenjang doktoral.


***


"whooooaaaam..kelar..."


Aufar meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena telah selesai merevisi bab terakhir dalam thesisnya.


Namun wajahnya terlihat sangat kusut karena akhir-akhir ini ia kurang istirahat. Di sela-sela kesibukan pekerjaannya, ia juga harus menyelesaikan project akhir pendidikannya.


Dia nampak sangat semrawut dengan rambut yang terlihat seperti tidak disisir selama satu minggu. Wajahnya yang sudah seperti tidak pernah dicuci namun tidak mengurangi tingkat ketampanannya. Yang lebih parah lagi, kantong matanya terlihat seperti mata seekor panda yang sedang menatap laptop.


"Ku harap besok akan menjadi hari keberuntunganku. Eh, salah bukan besok tetapi hari ini."


Saking fokusnya dengan laptop dan thesisnya, membuat ia lupa bahwa jam dinding sudah menunjukkan pukul 04.30 dini hari.


Aufar menekan tombol print pada layar laptopnya dan mengizinkan printer yang terletak di samping laptopnya meloloskan lembar demi lembar hasil kerjanya. Sambil menunggu proses itu selesai, Aufar mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kali ini ia sedang berada di apartemennya, yang terletak di kawasan dekat rumah sakit tempat ia bekerja. Sejak menempuh pendidikan profesinya, Aufar sudah membeli apartemen ini. Ia lebih merasa aman dan nyaman berada di lingkungan apartemen ketimbang harus memilih tempat tinggal di lingkungan komplek perumahan.


Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan baginya. Hari dimana ia akan memperjuangkan hasil kerjanya selama 18 bulan ini.


Dokter muda ini selalu bersemangat dalam menggapai mimpi-mimpinya. Semua itu tidak lain karena Alia. Alia yang membuat ia semakin tergila-gila dengan kemajuan diri. Alia yang membuat ia selalu menginginkan lebih dan lebih untuk masa depan. Alia yang selalu membuatnya terus dan terus berjuang mengalahkan rasa takut. Alia yang menjadi awal permulaan cintanya berenang tiada henti menyusuri luasnya lautan pemisah dan Alia pula yang akan membuat cintanya berlabuh di pelabuhan kasih.


Setahun enam bulan bukanlah waktu yang lama bagi mereka yang tidak merasakan sakitnya menahan rindu. Namun bagi Aufar hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada kalanya ia merasa putus asa dengan keadaan yang tidak mendukungnya untuk mengejar Alia.


Padatnya jam terbang membuatnya tidak mempunyai waktu luang untuk sekedar mengobati rasa rindu walau hanya menyapa dari balik layar ponselnya.


Sebenarnya ia sudah sering menghubungi Alia, namun hasilnya nihil. Alia tidak pernah mengangkat panggilan suara maupun membalas pesannya. Mungkin Alia sengaja mem-blacklist kontak Aufar agar panggilan yang dilakukan oleh Aufar tidak pernah sampai kepada Alia. Padahal Aufar merasa bahwa panggilannya tersambung dengan sempurna.


Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, Aufar mencoba menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaik, sayang...Mama baru aja mau telepon kamu. Eh, kamunya telepon duluan. Semangat ya buat hari ini. Mohon maaf Mama dan Papa tidak bisa menyaksikan perjuanganmu hari ini soalnya Papa ada pekerjaan penting yang sangat mendesak di Jember dan Mama harus mendampingi Papamu." Ucap Ibu Yani dari seberang telepon.


"Wa'alaiksalam Ma, iya enggak papa, aku faham. Aku ngubungin Mama cuma ingin minta do'anya, Ma."


"Pasti, sayang. Do'a Mama dan Papa selalu mengalir untukmu. All the best ya, sayang, hiks...hiks."


Suara Ibu Yani terdengar terisak.


"Jangan menangis, Ma. Ya sudah aku tutup ya. Sampaikan salamku untuk Papa. Assalamu'alaik.."


"Okay, baby. Nanti Mama sampaikan salammu pada Papa, wa'alaiksalam."


Setelah menghubungi Mamanya, Aufar terlihat mencari satu kontak lagi untuk dihubungi.


Tut..tut..tut...(Tersambung)


"Tidak ada yang berubah.." Aufar berdecak kesal. Namun ia tidak pantang menyerah. Ia mencobanya sekali lagi.


Tut..tut..tut...(Tersambung)


Lagi-lagi tidak ada jawaban. "Sebegitu bencikah kamu padaku, Zalia Aliyantiku?"


Aufar mengusap layar ponsel itu dengan ibu jarinya seakan mengusap lembut wajah Alia yang terpampang nyata disana. Selain karir dan kehidupannya, tidak ada yang berubah dari Aufar. Gadis borneo bermata bulat itu masih tetap bertahta di singgasana hatinya.


Lama mengusap layar benda pipih itu, ia mencoba menghubungi Andri.


"Halo, Far...gimana persiapan lu hari ini?" Sambut Andri dari seberang telepon.


"Beres ndri, doa'in gua ya..Oh ya, gimana hari ini? Apa benar ia bakal ngikutin ceremonial gelar sarjananya?" Aufar bertanya dengan antususiasnya.


"Setau gua kemarin yudisiumnya di gelar di kampus mereka. Berarti hari ini wisudanya, Far. Lu masih pengen gua jadi fotografer mata-mata lu hari ini?" Andri bersungut halus. Ia sudah faham mengapa Aufar menghubunginya pagi-pagi buta seperti ini.


"Lu tu emang sahabat yang pengertian ya..belum juga gua ngomong lu udah faham aja. Ni Dokter cerdas amat dah." Aufar tersenyum sumringah melemparkan pujian itu kepada sahabatnya.


"Kalo ada maunya aja lu muji gua ah. Beruntung aja lu karena hari ini gua gak dinas. Ntar deh gua kesana buat jepret-jepret wajah terkasih lu."


"Ingat jangan lama-lama mandangin dia lu, awas lu kalo sampe jatuh cinta ama pujaan hati gua!" Ancam Aufar.


"Ah lu ya, udah minta tolong pake ngancam segala. Dasar..udah ah gua mau lanjut tidur. Baru pulang dari rumah sakit nih. Sukses ya buat lu hari ini." Ucap Andri yang sudah memutus telepon Aufar tanpa permisi.


"Dasar tukang tidur.." Aufar tersenyum membayangkan wajah kusut sahabatnya itu.


***


Hari ini memang hari keberuntungan bagi Aufar. Sidangnya berjalan dengan lancar dan gelar Master sudah berhasil dikungkunginya.


Ungkapan rasa syukur tak henti-henti terlontar dari bibir sensualnya. Sayang, di hari bersejarah ini ia tidak didampingi oleh orang-orang yang ia sayangi.


Namun ia tetap bahagia, karena hari ini bertepatan dengan hari wisudanya wanita yang sudah menguasai jiwa dan raganya selama ini, Alia. Ya, Alia. Hanya Alia dan akan selalu Alia. Walaupun Alia memintanya untuk menghapus ukiran nama itu, namun Aufar tetap menjaganya agar tetap terukir indah dihatinya.


Aufar telah tiba di apartemennya sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Ia langsung membersihkan diri karena merasa tubuhnya sangat lengket karena keringat akibat seharian beraktivitas. Kemudian ia melaksanakan kewajiban dan menikmati makan malam yang telah ia pesan dari warung online.


Sambil bersantai di sofa ruang tengahnya. Aufar menyalakan laptop miliknya dan menge-check email yang dikirim oleh Andri. Karena sebelumnya Andri telah mengiriminya pesan bahwa hasil jepretannya hari ini telah ia kirim lewat email.


Slide pertama membuat bola mata Aufar nampak berbinar melihat sosok wanita yang amat dicintainya itu tersenyum lebar di hari bahagianya. Bola mata itu juga berbingkai cairan bening yang siap gugur membasahi pipinya. RINDU..tentu ia sangat merindukan sosok yang berada di layar lebar laptopnya. BANGGA..tentunya ia sangat bangga karena sosok itu telah mencapai garis finish pertamanya.


Namun seketika wajah haru itu menyurut bagaikan ombak yang berguling meninggalkan pantai. Gurat kebencian dan kemarahan tampak di wajahnya setelah melihat slide berikutnya yang menunjukkan foto kebersamaan Alia dan keluarganya. Bukan kerena keluarganya, tetapi karena sosok laki-laki yang sudah menyebabkan kandasnya hubungan asmara antara dirinya dan Alia. Laki-laki itu berdiri tersenyum dan tertawa bersama Alia.


Rahang Aufar mulai mengeras. Barisan giginya sudah mengeluarkan gesekan bunyi yang menakutkan. Kepalan tinju sudah siap mendarat pada wajah musuhnya. Namun ia hanya bisa melampiaskan emosinya pada meja yang berada di hadapannya.


PYAAAAR..


Meja berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kaca itu hancur berkeping keping menjadi korban luapan emosi Aufar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



nih, foto dede Alia abis yudisium yang bikin mata babang Aufar berbinar-binar🤭


Kalo nggak mau babang Aufar tambah ngamuk, tinggalkan jejakmu ya sayangku🤭😘