
Ellia berjalan naik, begitu sampai lorong setelah tangga tubuhnya lemas, kekuatannya sudah runtuh sejak tadi, kakinya benar-benar tidak kuat lagi untuk menyangga, namun Ikram langsung menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
"Ada apa?" tanyanya.
Ellia menatap laki-laki di depannya, "bagaimana keadaan Anna?" tanyanya.
"Ada tiga tusukan besar di perutnya, Ifraz masih berada di dalam," jelasnya yang masih berusaha menopang tubuh Ellia.
"Kuat berjalan kesana tidak?" tanya Ikram.
"Masih kuat," jawab Ellia.
Ikram membantu istrinya berjalan, sampai tepat di depan pintu kamar Iriana, Ifraz keluar dengan tangan penuh darah.
Wajah Ifraz berkeringat, tubuhnya bahkan bergetar hebat. "Ada apa?" tanya Ikram.
"Ifraz ada apa?" tanya Ikram lagi.
"Abang, aku tidak bisa melakukan operasinya, tanganku bergetar sejak tadi, aku, aku tidak bisa melakukan operasi pada Iriana," ucap Ifraz dengan suara bergetar, nampak sekali ini cukup membuatnya terpukul dan penuh rasa bersalah.
Ikram memegang tangan yang masih bergetar itu, "its okey, its okey, sudah ada dokter William di sana, its okey," ucap Ikram yang langsung memeluk Ifraz dan menenangkannya.
"Andara," teriak Ikram.
"Siap bos,"
"Bawa istriku masuk ke dalam kamar dan beristirahat,"
"Aku menunggu di sini saja mas," ucap Ellia.
"Masuklah dan istirahat dulu oke, bantu aku kali ini, aku masih harus menenangkan nya," ucap Ikram memberi penjelasan.
"Mari nyonya, saya akan mengantar anda," ucap Andara yang lebih sopan dan cukup melakukan tugasnya dengan baik setelah ancaman Ikram waktu itu.
Ifraz sangat terpukul, itu terlihat jelas sekali, dia menjadi dokter agar bisa membantu keluarganya untuk hal-hal semacam ini, tapi kali ini dia tidak bisa.
Jika Ikram yang berada di dalam sana dia memang sudah terbiasa, terlebih Ikram sangat mahir menahan sakit agar Ifraz tidak khawatir dalam mengobatinya, sangat berbeda dengan Iriana yang selalu merintih dan merengek ketika ada bagian tubuhnya yang terluka, meskipun kali ini Iriana sedang tidak sadarkan diri, namun suara rintihan Iriana masih terdengar jelas di telinga nya.
Ini untuk pertama kalinya Iriana luka cukup parah, beberapa organ dalamnya sudah koyak, ia juga sangat yakin dokter William akan sangat kesulitan berada di sana seorang diri.
Namun membayangkan Iriana yang ada di meja operasi benar-benar meruntuhkan pertahanannya, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar, sulit sekali rasanya mengendalikan diri.
Meskipun sering bertengkar dan berebut sejak kecil, tapi Iriana adalah saudara yang selalu bersamanya, mereka lebih sering berdua saat Ikram sedang tidak ada.
"Ifraz dengar abang, yang di dalam sana bukan Iriana, dia pasien yang perlu kau untuk mengoperasinya, bantu dia berjuang dan kembali pada keluarganya," ucap Ikram yang masih menggenggam kedua tangan Ifraz yang bergetar.
Ifraz menarik nafasnya, menatap Ikram yang juga tak kalah khawatir, "abang tidak memaksa mu untuk kembali ke dalam sana membantu proses operasi Iriana, jika tidak kuat kita bisa menunggu di sini bersama," ucap Ikram.
Ifraz menggeleng, "dia harus kembali pada keluarganya, aku masih harus membantu dia kembali," ucap Ifraz.
"Dokter, pasien kehilangan banyak darah, stok darah yang kita bawa sudah habis,"
"Ambil darahku," ucap Ifraz.
"Tidak, kau masih harus kembali ke dalam, akan sangat sulit untuk berdiri jika kau juga mendonorkan darahmu,"
"Abang tapi,"
"Abang juga punya darah yang sama dengan Iriana, kendalikan dirimu, masalah darah abang yang urus," ucap Ikram.
Setelah cukup menenangkan diri, Ifraz kembali setelah melepas baju bedah, "sudah siap?"
"Bantu aku dari sini bang," ucapnya sebelum masuk.
"Berapa banyak darah yang di butuhkan?" tanya Ikram.
"Cukup banyak tuan muda,"
"Aro," teriak Ikram.
"Iya bos,"
"Aro, minta semua orang untuk berkumpul aku butuh orang dengan golongan darah AB negatif, jika ada yang menolongku aku akan memberi apapun yang mereka inginkan,"
"Tidak perlu bos, mereka memang harus melakukannya tanpa perlu di beri apapun," ucap Aro yang langsung beranjak dari sana menuju tempat semua orang.
"Siapkan beberapa orang untuk mengambil darah mereka," perintah Ikram.
"Siap tuan muda,"
Ikram masih mematung di tempatnya, dengan darah yang masih di sedot keluar, laki-laki ini berfikir cukup banyak, "apa yang ada di pikiranmu na, kenapa sampai bisa memikirkan hal ini, jika aku menjadi Irana, apa yang akan ku lakukan," ucap Ikram dalam hati.
"Dia bukan orang ceroboh yang tidak meninggalkan bukti," pikir Ikram.
Laki-laki ini mengambil ponselnya, "Nando cepat cari di seluruh kamar, bukti, kamera atau apapun, bahkan jika ada lalat atau hewan kecil yang ada di sana juga bawa kemari, jangan sampai ada orang lain yang mendapatkannya sebelum kita," ucap Ikram.
"Baik tuan muda,"
Tidak butuh waktu lama, Nando mengirim sebuah video dari rekaman yang memang sengaja di pasang oleh Iriana untuk memantau semua hal yang ada di sana.
Ikram memutar video itu di dalam ponselnya, terlihat saat kedua orang yang sangat di kenalinya masuk ke dalam kamar dengan posisi saling berpelukan.
"Iriana, ada yang harus ku bicarakan dengan mu,"
Iriana memberikan sebuah anggur dengan kualitas terbaik untuk Logan "Ah ada apa? ini minumlah dulu, aku mengambil secara khusus di gudang anggur milik bang Ikram," ucap Iriana dengan suara yang terdengar jelas saat itu.
Logan menerima gelas dari Iriana dan meminumnya hingga habis.
"Bagaimana jika kau meminta bagianmu pada Ikram, bukankah anak perusahaan yang bergerak di bidang robot adalah milikmu? setelah menikah kita akan mengelolanya bersama tanpa ada campur tangan Danial group," ucap Logan yang sedang duduk di sebuah kursi dengan Iriana berada di pangkuannya.
"Itu tidak mungkin, meskipun bagianku, tapi semua itu adalah milik bang Ikram,"
"Tapi kamu adalah adik kesayangannya, dia pasti akan memberikannya pada mu, kamu pantas menerimanya,"
Sebuah senyuman terlihat samar di bibir Iriana, gadis ini sudah menyiapkan sebuah pisau di balik jaket yang ia kenakan.
"Aku memang pantas menerimanya, tapi kamu tidak," ucap Iriana yang sudah menusuk perut Logan dengan pisau.
"Iriana apa ini ?" tanya Logan yang terkejut Iriana akan melakukan ini.
"Jangan bodoh, aku wanita tapi aku bukan yang terlemah di antara semua saudaraku, semua kekuatan rahasia bang Ikram ada di dalam genggaman tanganku, lalu orang sepertimu berani bermimpi mengelabui ku untuk menghancurkan bang Ikram, mimpi," ucap Iriana dengan emosi yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Aku terlalu meremehkan mu," ucap Logan yang langsung Menyerang balik Iriana.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.