
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, namun Ikram masih tidak kunjung terbangun dari tidurnya, total sudah hampir tiga jam ia tertidur dan masih tidak menunjukkan tanda-tanda bangun.
Beberapa suara riuh masih tidak berhasil membangunkannya, hingga sebuah langkah kaki mendekati kamarnya dengan terburu-buru.
"Bos, bos, bangun dan bantu kami," ucap Andara begitu memasuki kamar Ikram, namun tetap saja laki-laki itu masih berada dalam mimpinya seolah enggan untuk bangun.
"Bos Ikram, bangun dan bantu kami sekarang," ucapnya lagi menggerakkan tubuh Ikram.
Cukup lama ia membangunkan laki-laki di depannya ini, namun tidak ada gerakan sama sekali dari Ikram, hingga Andara melihat sebuah air di dalam gelas tepat di samping Ikram.
"Maaf bos, tapi anda harus bangun sekarang," ucapnya.
Pyur
"Bos bangun," teriaknya semakin kencang.
"Diam lah Andara," teriak Ikram dengan mata masih terpejam.
"Bos, bos sudah bangun?"
"Kau punya berapa nyawa sampai berani menyiram ku dengan air hah?" ucap Ikram emosi.
"Bos, di luar sedang dalam keadaan bahaya," ucapnya panik.
"Kalian tidak pernah di serang musuh sebelumnya? kenapa sampai panik seperti ini, merepotkan saja," tambah Ikram.
"Aro bahkan sudah hampir di taklukkan bos," tambahnya.
Mata itu dengan berusaha terbuka meskipun berat, Ikram mulai memperhatikan suara di sekitarnya, beberapa kali suara tembakan terdengar meskipun samar.
Dengan cukup memaksakan diri ia bangkit dari tidurnya, tubuhnya benar-benar sangat sakit, rasanya ia sudah tidak bisa menahannya lagi, "sangat sulit di gerakkan, bagaimana aku bisa menolong dengan tubuh seperti ini,"
"Kau tau mereka siapa ?" tanya Ikram.
"Mereka sering terlihat di televisi, tapi saya lupa bos,"
"Astaga Andara, bagaimana bisa orang sepertimu menjadi sekertaris pribadi ku," ucap Ikram yang sudah sangat emosi.
"Sudah bos, kita bahas itu nanti, sekarang kita harus keluar dulu, Aro sudah hampir mati," ucapnya semakin berani.
"Kita juga akan mati dengan kondisi ku yang seperti ini,"
"Sudah bos, jika memang mati kita akan mati sama-sama, yang penting bos keluar dulu, mereka cuma ingin bos Ikram keluar," ucap Andara.
"Aish, cepat tutup mulutmu itu dan papah aku," ucap Ikram semakin kesal.
***
Bangunan tempat ini sudah di kepung oleh orang-orang dari benteng hitam di bawah arahan dan petunjuk dari Zelin, sementara itu yang lainnya berada langsung di bawah arahan dan petunjuk dari Iriana.
Beberapa orang sudah berjatuhan karena obat bius yang Ifraz kombinasi dengan peluru agar sementara menghentikan kerja saraf.
Sejak awal sudah bisa di pastikan Aro akan kalah dalam pertarungan ini, namun laki-laki licik ini sangat tau kelemahan Ifraz dan Iriana, seorang perempuan yang sejak tadi mereka lindungi dan selalu berada di belakang mereka.
Ellia saat ini berada dalam tawanan Aro, dengan sebuah pistol yang mengarah di dahinya, "jika aku melukai saudara bos Ikram, dia sudah pasti akan langsung memaki dan memarahiku, tapi gadis ini tidak memiliki hubungan apapun dengan bos, sepertinya kekasih Ifraz, mereka tidak akan menyerang ku jika aku menjadikan dia sandera," gumamnya dalam hati.
"Turunkan senjata kalian atau dia akan mati di sini," ucap Aro.
Ifraz menatap Iriana, terlihat sekali wajah ketakutan yang berhasil di sembunyikan Ellia sekuat tenaga, "I am okay, jangan khawatir," kodenya pada Iriana dan Ifraz.
"Pergi, bawa semua orang mu pergi dari sini baru aku melepaskannya,"
"Bawa dulu mas Ikram, tinggalkan saja aku," ucap Ellia.
Iriana memberikan kode pada Ellia agar tetap tenang dan tidak melakukan sesuatu, "Ah, aku lupa mengatakan, aku tadi meninggalkan beberapa bahan peledak dalam perjalanan kesini, apa kalian mau coba mendengar suaranya?" ucap Iriana tanpa rasa takut.
Tangan gadis itu menekan tombol yang juga sedang angkat di udara, Duar.
Sebuah ledakan terdengar dari arah yang tidak jauh dari mereka, "bagian sisi kanan tempat ini sudah hancur bos," teriak yang lain.
"Lepaskan dia atau aku akan meledakkan yang lain," ucap Iriana tanpa basa-basi.
"Kalian tidak takut saudara kalian yang akan terkena ledakan itu?"
"Setidaknya kita akan mati bersama," ucap Iriana sangat berani.
Krek, Aro merobek lengan baju milik Ellia, "kalian bisa melumpuhkan mereka, tapi mata mereka tidak buta, bagaimana jika wanita mu kita nikmati bersama di sini," ucap Aro semakin menjadi.
"Bos dia sangat indah bos, pasti rasanya berbeda dengan yang lain," sahut beberapa orang yang lain.
"Aku akan mencicipinya setelah mu bos,"
Darah Ifraz mendidih, tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain, setelah menatap Iriana akhirnya laki-laki ini menjatuhkan senjata, "aku akan menarik mundur pasukan ku, sekarang kembalikan dia padaku," ucapnya mengulurkan tangan agar bisa di gapai oleh Ellia.
"Akhirnya kau bisa patuh karena seorang wanita, ini sangat di sayangkan," ucap Aro.
"Lepaskan dia," ucap Ifraz semakin melemah.
"Bagaimana jika aku membuka semua yang wanita mu kenakan?" ucap Aro semakin menggila.
Ellia tidak berani bergerak, gadis ini menggigit bibirnya hingga berdarah, namun tetap menahan agar tidak membuat yang lain khawatir.
Krek
"Dia wanitaku," ucap seseorang yang dengan perlahan menuruni anak tangga di bantu oleh seorang wanita di sampingnya.
"Dia wanitaku Aroooooo," teriak Ikram, laki-laki pucat itu semakin emosi begitu melihat kondisi Ellia dengan baju seperti itu.
Aro melepaskan pistol yang ada di genggamannya, dengan sigap Ifraz menarik pergelangan tangan Ellia, menutupi tubuh Ellia yang sudah terbuka dengan tubuhnya.
Ifraz melepaskan jaket yang ia kenakan dan meletakkannya di tubuh Ellia, agar tubuh gadis itu tertutupi.
Berbeda dengan Ifraz, Iriana berjalan mendekati Ikram yang benar-benar marah, "lepaskan dia, aku bisa membawanya," ucap Iriana pada Andara.
Semua orang benar-benar terkejut, Ikram yang sangat anti dengan perempuan itu kini mau di bantu oleh perempuan lain selain Andara sekertaris nya.
"Ma... maaf bos, saya tidak tau jika anda memiliki hubungan dengannya," ucap Aro dengan kepala menunduk.
Ifraz hendak membalik tubuh Ellia agar melihat Ikram, ia tau jelas Ellia juga sangat menantikan saat ini, namun tangan Ellia menggenggam erat baju yang di kenakan Ifraz, gadis ini masih menutup matanya, ia malu di perlakukan seperti ini.
"Cepat pergi dari sini, bubar sekarang," teriak Ikram semakin menjadi.
"Aku memberinya obat, mereka tidak bisa bergerak selama tiga jam ke depan," jawab Ifraz tanpa rasa bersalah.
"Berikan mereka semua tempat di sini, seharusnya kalian semua bisa akur dengan kondisi ku seperti sekarang, bukan mencari gara-gara saja," ucapnya.
"Dan kau Iriana, berhenti main-main dan minta mereka semua berhenti," bentaknya pertama kali.