Ellia's Husband

Ellia's Husband
Day 6



Karena tidak ingin Ikram akhirnya memasak sendiri di dapur tanpanya, Ellia mau tidka mau kembali ke dapur dan memanaskan beberapa makanan, ia kurang lebih sudah hafal kebiasaan suaminya, sedikitpun jika Ikram bisa sendiri, maka ia tidak akan mengganggu Ellia, terlebih jika Ellia sudah tidur, Ikram sudah pasti akan melakukan semuanya sendiri.


Dan hebatnya lagi, Ikram bisa mengerjakan semua itu dengan sempurna, entah karena Ikram sudah terbiasa mandiri sejak kecil atau memang ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri sehingga semua akan terasa ringan untuknya.


"Apakah sudah Ellia ?" tanya Ikram yang sudah berjalan ke dapur hanya dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya.


"Loh mas kok nggak pak baju,"


"Bajuku mana ?" tanyanya yang tidak melihat baju di atas ranjang seperti biasanya.


"Ah iya aku lupa, hehe, tadi cuma ingat mas Ikram belum makan, jadi keburu langsung ke dapur, lupa bajunya, ku ambilkan bentar ya,"


"Sudah di sana saja, aku akan mengambilnya sendiri, perutku sudah sangat lapar, maaf membangunkan mu," ucapnya mendekati Ellia dan meninggalkan sebuah kecupan di dahinya.


Ellia hanya mengangguk kemudian menatap punggung Ikram yang berjalan menjauh darinya, Ellia masih mematung di tempatnya, meskipun ini adalah hal yang selalu Ikram lakukan padanya, namun ia tetap merasa malu dan tersipu jika Ikram melakukan ini lagi dan lagi.


PIpinya akan selalu memerah, tubuhnya selalu merasa penas ketika Ikram melakukan ini, "ah, panas sekali, apa aku harus mandi juga," ucapnya seorang diri.


***


Day 6


Hari ini adalah hari ke enam mereka, Ikram kali ini tidak bisa menemani Ellia berbelanja dan membeli jajanan tradisional, tepat pukul dua dini hari Ikram mendapat panggilan telfon dari Ginanjar, ada beberapa hal darurat yang harus segera di tangani dan di pantau langsung oleh Ikram, itu sebabnya laki-laki itu sudah tidak bisa tertidur kembali.


"Morning honey," ucapnya begitu melihat Ellia yang sudah duduk di atas ranjang.


"Mas Ikram nggak tidur ?' tanyanya.


"Aku masih memiliki beberapa pekerjaan," jawabnya.


"Ah tubuhku lelah sekali, mas Ikram bangun jam berapa ?" tanya Ellia dengan mata yang masih tertutup dan terbuka.


"Jam dua,"


"Hah ?" ucap Ellia dengan mata yang terpaksa terbuka semua kini.


"Kenapa ?" tanya Ikram mendekati Ellia dan membelai rambut Ellia lembut.


"Mas Ikram hanya tidur satu jam ?" tanyanya lagi.


"Iya, kenapa Ellia ?"


"Nggak capek ? mas Ikram biasanya langsung tertidur setelah kita," ucapnya terhenti karena malu.


"Ini sangat penting, pak Ginanjar bahkan sampai menelfon ku dengan tiga puluh tiga panggilan," jawab Ikram.


"Hah ? ada apa memangnya mas ? tentang pekerjaan ?"


Ikram mengangguk, "aku juga minta maaf karena tidak bisa mengantarmu untuk berbelanja hari ini," tambahnya.


"Ah, itu tidak masalah, aku akan berbelanja sendiri, mas Ikram ingin di belikan apa ?"


"Aku ingin kerang laut, bolehkah ?" tanya Ikram sopan, beginilah Ikram, ia selalu bertanya apakah boleh melakukan ini, ingin ini, makan ini, pakai ini, sejujurnya ini cukup membuat Ellia di hargai, Ikram selalu bertanya pendapatnya sebelum melakukan sesuatu.


Ellia tersenyum, "aku akan membelinya nanti, aku akan mandi dulu, sebelum matahari semakin tinggi dan aku tidak kebagian kerang laut," ucap Ellia semangat.


Begitu Ellia beranjak dari ranjang dan hendak menuju ke kamar mandi, tangan Ellia di tahan oleh Ikram, "morning kiss ku ?" tanyanya.


Ellia dengan cukup malu memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Ikram, "bukan begitu, aku kan sudah mengajarimu,. begini yang benar," ucapnya yang semakin mempererat tubuh Ellia padanya.


"laki-laki ini seperti memiliki energi yang tidak pernah habis jika untuk itu, tapi kenapa aku sangat menyukai semua yang ia lakukan padaku," batin Ellia ketika Ikram masih enggan melepaskan bibir keduanya.


"Mas Ikram sudah, nanti kesiangan akunya," ucap Ellia yang sudah menarik diri dari Ikram.


"Lalu ?"


"Aku ingin kamu saja," tambahnya.


"Kemaren malam kan udah, di beri jeda dulu mas,"


"Tapi besok hari terakhir," gumam Ikram pelan namun masih terdengar oleh Ellia.


"Setelah sarapan, bagaimana ? aku tidak ingin suamiku kelaparan dan jatuh sakit, sekarang selesaikan dulu pekerjaannya,"


"Janji ?"


"Janji,"


"Siap bu bos," ucap Ikram patuh.


"Bu bos ?"


"Kau memanggilku pak bos, aku juga akan memanggilmu bu bos," tambah Ikram.


"Hehe, sudah aku akan mandi dulu," tambahnya.


"Jangan lama-lama nanti belanjanya," tambah Ikram yang hanya di balas anggukan dan sebuah senyum di wajah Ellia sebelum kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Sepeninggal Ellia, Ikram kembali ke sebuah meja kerja kecil di sudut ruangan, sebenarnya meja kerjanya bukan di sini, namun ia hanya khawatir dan Ellia mencarinya ke seluruh sudut rumah, akhirnya dia memutuskan untuk membuat meja kerja sederhana di dalam kamar.


Laki-laki ini menarik nafasnya perlahan, sebelum kemudian fokus pada pekerjaan dan memeriksa semua laporan yang masuk di email nya, wajah yang biasa tersenyum itu kini berubah menjadi sangat datar dan tanpa ekspresi, sangat jauh dari Ikram yang biasa terlihat.


Beberapa panggilan telfon yang masuk tanpa henti sengaja ia abaikan, ia sedang fokus dan tidak ingin di ganggu saat ini, "masalah apa ? siapa yang sudah berani mengganggu ketenangan ku di saat-saat ini," batinnya.


Cukup lama ia berkutat dengan data-data itu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima panggilan telfon Ginanjar, "tuan muda," terdengar suara seseorang di balik ponsel,


"Biarkan saja,"


"Tapi tuan muda, saham anda,"


"Biarkan saja, dia tidak akan bertahan lama di bisnis ini," tambahnya.


"KIta akan mengatasinya sebelum terlambat,"


"Dia harus bertahan agar kehidupan Ellia juga akan aman bersama Yuda,"


"Ini terlalu beresiko,"


"Aku bisa bangkit lagi jika gagal, kehancuran satu perusaan tidak akan membuatku di hancurkan dengan muda, kartu as ku ada di mana-mana," tambahnya.


"Sesuai yang anda katakan tuan muda," ucap Ginanjar sebelum Ikram mengakhiri panggilan itu.


Ellia keluar dari kamar mandi, "tunggu aku, aku akan mengantarmu berbelanja," tambahnya yang langsung menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Kenapa aku senang dengan tingkahnya," batin Ellia yang tida bisa berhenti tersenyum.


Keduanya akhirnya memutuskan untuk membeli sarapan di sebuah warung kecil di dekat pantai, mereka hanya membeli sebuah jajanan tradisional kemudian berjalan-jalan, Ikram dengan sepeda ontel yang selalu menemaninya kini tengah membawa Ellia yang duduk manis di belakang, gadis ini sangat suka berjalan-jalan dengan jalanan yang sepi dan menyapa para nelayan.


"Ah ini sangat menyenangkan, aku tidak akan pernah bisa menemukan ini di kota," ucapnya.


"Kau bisa berkunjung ke sini kapanpun kau mau," tambah Ikram.


"Nggak mungkin mas, seluruh tempat ini sudah penuh dengan kenangan kita, aku tidak ingin menimpanya dengan kenangan bersama orang lain,"


TO BE CONTINUE