Ellia's Husband

Ellia's Husband
Ikram dan cintanya dalam diam



Tok tok tok


"Ellia,"


"Mas Ikram," ucapnya yang bergegas membukakan pintu, namun Ellia kecewa begitu sosok yang ada di depannya bukan Ikram.


"Yuda? bagaimana bisa tau alamat ku?" tanyanya dengan wajah yang berair mata.


"Suamimu, dia meminta ku untuk datang menjemput ku," jawabnya yang membuat Ellia faham.


"Dia sudah menyiapkan semuanya sejak awal," batin Ellia dengan perasaan remuk redam.


"Ellia ada apa denganmu ? apa dia menyakitimu ? apa yang dia lakukan padamu ?" tanyanya khawatir melihat Ellia dengan mata memerah.


"Apa kamu bertemu dengannya tadi ?" tanya Ellia.


"Tidak, dia hanya menelfon ku tadi malam dan memintaku untuk datang, baru tadi pagi dia memberiku alamat rumah ini, nomornya ku hubungi lagi juga sudah tidak aktif, sepertinya nomor sekali pakai," jelasnya pada Ellia yang hanya diam.


"Ellia," panggil Yuda, laki-laki ini menyentuh pipi Ellia yang masih basah dengan air mata, namun belum sempat Yuda menyentuhnya, Ellia bergerak mundur dan menjauh.


"Masuk dan tolong tunggu aku Yuda, aku akan mandi dan bersiap dulu," ucapnya mempersilahkan Yuda masuk dengan sebuah senyum.


"Ellia ada apa ?" tanya Yuda sekali lagi, sejak tadi air mata tidak pernah berhenti menetes dari sudut mata Ellia, "apa yang sudah terjadi sampai kau tidak bisa menghentikan tangisanmu begitu, aku sesak melihatnya," ucap Yuda lagi.


"Tidak ada apa-apa, aku siap-siap dulu," tambahnya yang sudah memutuskan masuk ke dalam kamar meninggalkan Yuda di ruang tamu.


***


Setelah melakukan panggilan telfon dengan Ginanjar, Ikram saat ini tengah membuat kopi di dapur kemudian membawanya di ruang kerja yang ada di area belakang rumah ini, Ikram mengambil sebuah alat untuk menyamarkan suaranya dan sebuah ponsel dengan nomor sekali pakai.


Sebuah nomor tanpa nama menjadi target telfon Ikram berikutnya, Yuda Maheza.


Entah bagaimana Ikram bisa mendapatkan nomor ponsel ini, yang pasti nama ini sudah ada di kontak ponselnya, setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya Ikram memutuskan untuk segera melakukan panggilan.


"Halo, siapa ?" ucap salah seorang dari sebrang sana.


"Suami Ellia," jawab Ikram.


Cukup lama Yuda terdiam, hingga akhirnya Ikram kembali memulai percakapan untuk mengatakan maksudnya, "masih mencintai Ellia ?" tanyanya.


"Selalu," jawabnya tanpa berfikir.


"Ellia sudah menikah, artinya kami juga sudah melakukan hubungan yang seharusnya suami istri lakukan, saya yakin kamu juga faham sebagai laki-laki,"


"Tidak, Ellia sudah membicarakan perjanjian pernikahannya dengan anda, kalian tidak akan pernah melakukan itu,"


"Tapi Ellia melanggar kesepakatan itu dengan mencintaimu, artinya ia juga harus menerima konsekuensi dengan menjadi istri seutuhnya,"


"Membiarkan Ellia menikahi mu adalah kesalahan terbesar yang ada di hidupku, bagaimana dia dan apa saja yang sudah kalian lakukan aku tidak pernah perduli, yang aku cintai hanya Ellia, aku tidak ingin tau bagaimana dia dan seperti apa masa lalunya," jawabnya kembali tanpa berfikir.


"Bahkan jika itu ayahmu ? apa kau bisa menjaganya,"


"Pasti,"


***


Pagi ini Ikram bangun sebelum matahari sudah bergerak semakin tinggi, saat itu langit masih gelap dan Ikram sudah mulai bergerak di dapur membuatkan makanan dan susu untuk Ellia, sebelum itu ia juga sudah menyiapkan semua baju Ellia agar gadis ini tidak kesulitan nanti.


Sebelum pergi Ikram menyempatkan melihat Ellia yang masih terlelap di tidurnya, gadis yang masih memakai pakaian tidur dan meringkuk di bawah selimut ini membuat Ikram mendekatinya, "see you next time Ellia, semoga kita tidak bertemu di waktu yang salah lagi," ucapnya sembari mencium kening istrinya.


Masih di pagi buta, Ikram beranjak dari rumah dengan sebuah koper berukuran tanggung yang ia bawa ketika sebuah mobil berwarna hitam tengah menunggunya, bukan Ginanjar juga bukan Nando, sosok lain yang kini tengah mengemudi mobil itu, "silahkan bos," ucap laki-laki itu membukakan pintu pengemudi mobil untuk Ikram.


"Sudah siap semua ?" tanyanya.


"Siap bos," jawabnya singkat.


Ikram masuk ke dalam mobil seorang diri, laki-laki yang sebelumnya membawa mobil ini masih setia menunggu di luar sampai Ikram melajukan mobilnya dan hilang dari pandangan, laki-laki ini berkendara menuju bandara dengan mata memerah dan sesak di dadanya.


Dalam diam Ikram masih melajukan mobilnya, mengabaikan hatinya yang kian terasa sakit, air mata yang sudah bertahun-tahun tidak tumpah itu mengalir satu demi satu, Ikram berusaha menghapusnya, namun tetap mengalir tetes demi tetes air mata yang tidak bisa ia kontrol.


"Tuhan, kini wanita itu akan pergi membawa separuh ku, dan kembali pada cintanya sepenuhnya, seharusnya aku bahagia karena ini jalan kita yang seharusnya, karena sejak awal aku mencintainya, aku tidak pernah berniat merebutnya, tapi mengapa hari ini aku seakan mati tanpa di bunuh," batinnya dengan pandangan yang masih menatap lurus ke jalan dengan air mata yang masih berjatuhan.


Begitu sampai di bandara ia tak kunjung keluar dari mobil. Laki laki ini terluka, dia tidak bisa bicara apa-apa, jiwanya masih berusaha untuk menerima antara kenyataan dan rasa yang menyesakkan, tapi dia masih tersenyum, demi menutupi segala hal di hatinya yang hampir pecah.


Hingga sebuah telfon dari Ginanjar membuyarkan lamunannya, "Iya paman ?"


"Hendak kabur kemana ?" tanya Ginanjar dengan nada khawatir.


"Paman."


"Ikram paman memintamu untuk meninggalkan Ellia, bukan kehidupan mu saat ini nak, cepat kembali atau aku akan menyeret mu dari bandara," ucapnya sedikit kesal.


"Aku juga harus menyelesaikan urusanku paman, masalah perusahaan aku akan menyerahkan semuanya pada paman dan Nando, semua keputusan tolong minta pertimbangan pada Iriana, dan masalah anak perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan, aku menyerahkan sepenuhnya pada Ifraz,"


"Ikram,"


"Kalian semua sudah lebih dari cukup, ada atau tidak adanya aku tidak akan membuat perbedaan,"


"Kau akan kembali ke tempat itu ?" tebak Ginanjar.


"Yah, seperti Ellia, aku juga sudah menjual diriku pada mereka sejak muda agar tetap hidup, aku hanya kembali ke tempatku,"


"Ikram mereka tidak memaksamu untuk kembali, lalu kenapa harus pergi,"


"Aku harus jaga-jaga seperti ucapan paman, mereka akan mengatur salah seorang wanita untuk ku untuk memperluas daerah kekuasaan, aku hanya berjaga-jaga sebelum itu terjadi, aku harus menjadi pemimpin di sana sebelum semua orang mengendalikan hidupku,"


"Ikram,"


"Aku menitipkan Ifraz dan Iriana pada paman, tolong jaga mereka, mereka mungkin akan sedikit nakal," tambahnya.


"Kenapa menitipkan mereka padaku, kau yang seharusnya menjaga mereka, bukan aku," bentak Ginanjar cukup keras.


Ikram hanya diam dan tidak menjawab, "kau menangis?"


TO BE CONTINUED