Ellia's Husband

Ellia's Husband
Sebuah kesadaran



"Jadi sayang, aku tidur dimana malam ini ?" tanya Nadin menggoda.


"Tidur di kamar tamu, jangan berbicara seperti itu, aku geli mendengarnya," ucap Ifraz yang sudah merinding dari atas sampai bawah.


Nadin hanya menatap Ifraz dengan tawa yang tidak berhenti dari mulutnya, "sudah aku tidur di gua saja, aku masih harus mengawasi kondisi pasien ku, psikis nya juga tidak baik," tambahnya.


"Sudah kak, tidur bersamaku saja, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan kakak," ucap Iriana.


"Tidak boleh, kau masih harus beristirahat dengan baik, sangat tidak nyaman ada seseorang di sampingmu ketika dalam masa pemulihan, Nadin di kamar tamu saja," ucap Ifraz.


"Di gua saja, aku sedang tidak ingin merusak mood baik mu, ini hari pertama kita bertemu," ucap Nadin lagi.


"Sudah cukup, Nadin di kamar Ifraz saja, nanti dia akan tidur bersama paman," ucap Ginanjar menengahi.


"Oke, itu bagus," ucap Ikram.


"Paman, tapi aku tidak bisa tidur di kamar orang lain," ucap Ifraz.


"Tidur di kamar saja bersama Nadin, malam ini abang nikahkan kalian,"


"Siap bang," ucap Nadin semangat.


"Ye, siapa juga yang mau nikah sama lu, gua mah ogah ya," ucap Ifraz lagi.


"Sudah cukup, jangan di bahas lagi, Nadin mau tidur dimana dia sendiri yang menentukan, yang pasti ada banyak kamar di tempat ini, kamu bisa memakai yang kamu suka,"


"Baik kakak ipar," ucap Ifraz, Iriana dan Nadin bersamaan tanpa komando.


"Andara, makan yang banyak, jangan sungkan," ucap Ellia.


"Siap nyonya bos, ah nyonya muda," ucapnya yang terlihat sekali sangat canggung.


"Sayang camilanku mana?" tanya Ikram.


"Ini, sudah di siapkan, habiskan dulu makanannya,"


"Undangan untuk acara besok sudah di sebarkan, tapi ada satu kendala,"


"Apa?"


"Sudah waktunya kau mengajar,"


"Ah, besok jadwal kelasku?" tanyanya pada Ellia yang berada di hadapannya.


"Besok hari apa?" tanya Ellia.


"Astaga kakak ipar," jawab Ifraz.


"Aku lupa kelas mas Ikram hari apa, hehehe," ucapnya malu.


"Abang kemari, aku sudah harus melihat wajah abang," ucap Iriana yang bergegas berdiri.


"Ada apa?"


"Ada orang yang sampai melupakan kelas abang, ini antara ketampanan abang yang hilang atau kelas abang sangat buruk,"


"Heh, enak banget ngomongnya, kelas abang selalu menjadi incaran, kakak ipar mu saja yang tidak bisa melihat kalau ada berlian di depan matanya," sanggah Ikram tidak Terima.


"Hahahaha," tawa semua orang.


"Hehe, bukan seperti itu mas, aku sudah puas melihat mas Ikram, jadi aku tidak bisa memikirkan hal lain, aku bahkan sampai lupa hari," ucap Ellia mengelak.


Begitulah suasana di meja makan, sangat hangat dan tidak pernah sepi, momen ini sangat jarang terjadi.


***


Ellia bangun agak siang hari ini, itu karena Ikram yang tidak melepaskan dirinya hingga menjelang pagi, tentu saja karena Ellia yang tidak hafal hari kelasnya mengajar.


Dengan terburu-buru ia berlari ke kamar mandi, meninggalkan Ikram yang masih di tempatnya, tidak bergerak sama sekali.


"Ellia santai saja, aku tidak akan datang terburu-buru nanti," ucap Ikram.


"Aku masih ada kelas lain sebelum kelas mas Ikram," teriak nya dari dalam kamar mandi.


Ellia berjalan dengan sangat cepat menuruni anak tangga, ia bahkan meninggalkan sarapan karena waktunya sudah tidak cukup untuk makan.


"Sudah ada sopir yang akan mengantarmu,"


"Iya,"


Baru saja Ellia keluar, namun gadis itu kembali lagi dengan membawa kunci mobil, "mas, aku ingin mobil yang jelek saja, kenapa memberiku mobil sebagus itu, mereka akan mengira aku simpanan Seseorang," ucap Ellia merajuk.


"Pakai mobil yang paling biasa saja Nando," ucap Ikram.


"Itu mobil yang paling biasa yang kita miliki tuan muda,"


"Ya sudah, aku pakai motor saja," ucap Ellia.


"Tidak ada motor, mau pakai itu atau aku sendiri yang akan mengantarmu," ucap Ikram.


"Yasudah iya iya aku berangkat," tambahnya yang langsung kabur begitu saja dengan tergesa-gesa.


***


Setelah cukup lama dia tidak masuk kelas, Vania dan Rara sudah menunggu Ellia di depan kampus dengan tidak sabar, Ellia masih harus berlari agar bisa sampai tepat waktu.


"Dimana Ellia ini, katanya hari ini sudah masuk, kok sampai jam segini belum datang juga,"


"Vania Rara," teriak Ellia dari kejauhan.


"Hey, lu sampek basah gini, lari dari mana buk?" tanya Rara.


"Di depan sana," jawab Ellia dengan nafas ngos-ngosan.


"Hari ini laki lu ngajar nggak?"


"Kayaknya sih enggak, kenapa emang," tanya Ellia lagi.


"Udah mending kita masuk aja dulu, udah telat ini kita," ucap Vania yang langsung menarik tangan kedua sahabatnya ini.


Kelas pertama di hari ini berakhir dengan aman dan damai, tidak ada yang bikin spot jantung, hal yang di khawatirkan Ellia mengenai banyak sekali libur yang ia habiskan ternyata tidak di persoalkan.


Entah karena memang dosennya yang lupa atau karena pengaruh Ginanjar yang secara langsung mengurus ini sehingga tidak ada hal yang tidak di inginkan terjadi.


"Mau ke kantin nggak?" tanya Rara.


"Nggak ah, langsung ke kelas aja," ucap Ellia.


"Nggak lapar?"


"Lapar tapi males, masuk aja dulu, absen, abis itu baru makan, kelas mas Ikram juga paling nggak lama, dia sibuk banget soalnya." ucap Ellia yang hanya di jawab anggukan kepala oleh kedua sahabat nya.


Baru sampai di kelas, namun ternyata ada informasi bahwa kelas akan di alihkan secara langsung di kediaman Profesor Ikram, tak hanya itu, sebuah bis cukup mewah juga sudah di siapkan untuk membawa semua mahasiswanya untuk menghadiri kelasnya secara langsung.


"Wah, nggak sabar banget bisa ketemu sama orang hebat kayak Profesor Ikram,"


"Iya beruntung banget bisa ambil kelasnya,"


"Gimana ya kira-kira rumah Profesor Ikram, nggak sabar,"


Ternyata ada seorang pemandu yang mengabsen satu persatu orang yang masuk ke dalam bis, hanya yang berasal dari kelas yang memang di ajar oleh Ikram yang bisa masuk.


Dua orang berada di dalam bis dengan kursi paling belakang, "benarkah kita akan datang ke rumah itu lagi?" tanya Toga.


"Iya,"


"Sementara lu jangan deketin Ellia, atau melakukan hal bodoh yang akan membuat kita mati nanti," ucap Toga cukup takut.


Beberapa mata-mata yang di minta oleh ayah Toga untuk mencari tahu siapa Ikram Al Zaidan ternyata hasilnya sangat mencengangkan, sungguh di luar dugaan.


"Gua tau apa yang harus gua lakukan," ucap Yuda.


***


Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.


Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.


Selamat membaca.