Ellia's Husband

Ellia's Husband
Mengajar di Rumah



Ellia hampir terjatuh saat hendak menaiki bis, karena cukup banyak orang yang ingin berebut masuk, "hati-hati nyonya muda," ucap penjaga itu spontan.


"Nyonya ?" ucap beberapa orang yang tidak sengaja mendengar ucapan penjaga itu,


"Nona, saya menyebut nona, anda salah mendengar, mohon masuk dengan tertib agar tidak mengganggu mahasiswa yang lain nona-nona," ucap penjaga itu mengalihkan pembicaraan dengan tetap sopan.


"Iya pak," ucap semuanya.


Ellia berjalan naik dengan Vania dan Rara di belakangnya dengan hati dag dig dug, "kok mereka bisa kenal sama lu si El, hampir aja ketahuan," ucap Rara yang sudah duduk di kursi nya.


"Mana gua tau, gua juga gak hafal mereka satu persatu, mereka beneran banyak banget," ucap Ellia yang memang sangat benar, penjaga Ikram ada di mana-mana dengan jumlah yang tidak sedikit, menghafal satu persatu sudah pasti tidak mungkin.


Perjalanan ini benar-benar tidak bisa tenang, banyak sekali celotehan dan ungkapan bahagia dari banyak orang, tentang bagaimana Profesor Ikram sekarang, bagaimana rumahnya, seperti apa acaranya nanti, beberapa bahkan tidak lepas kaca dan bedak dari tangannya.


Ellia hanya memejamkan mata tidak ingin menikmati kehebohan yang ada di sana, tapi gadis ini tidak sadar ada seseorang yang tetap memperhatikannya dengan sebuah senyum pahit di sudut bibirnya.


Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, akhirnya bis ini sudah masuk dalam hutan buatan, "wah Profesor Ikram tinggal di tengah hutan seperti ini, apa Profesor Ikram menyukai suasana tenang dan desain rumahnya full kayu," pertanyaan demi pertanyaan kembali terdengar.


"Mereka benar-benar tidak bisa berhenti ya," ucap Vania.


"Pesona Profesor Ikram beneran gak bisa di ragukan," ucap Rara.


Ellia membuka matanya, melihat sudah sampai mana ia saat ini, "sudah mau sampai," gumam Ellia pelan.


Rumah mewah yang terlihat oleh remaja yang baru menginjak dewasa itu tak berhenti memuji takjub, semua orang tak berhenti menatap dengan menelan banyak sekali ludah melihat sebuah mansion besar di depannya.


"Mohon untuk tidak membuat kegaduhan dan tertib, tempat ini di kelilingi oleh hutan, kita tidak tau hewan buas apa yang ada di sana, karena itu jangan berjalan seorang diri dan berkeliaran kemana-mana," ucap pemandu bis yang sengaja di sewa oleh Ikram secara khusus hari ini.


"iya pak," ucap semua orang serentak.


Semua orang turun di bagian belakang mansion, tepat di taman belakang sebelah kolam renang, beberapa kursi dengan sebuah layar besar sudah di siapkan di sana.


Suasana kelas outdoor di pilih Ikram hari ini, satu demi satu orang bergantian turun dari bis, kali ini mereka tidak berani menyerobot atau masuk lebih dulu, karena Ikram dulu pernah meninggalkan kelas mereka karena ada mahasiswa lain yang pernah masuk kelas, benar-benar laki-laki disiplin.


Semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing, sepuluh menit menunggu akhirnya Ikram keluar hanya dengan celana dan kemeja dengan kancing bagian atas terbuka, sungguh semakin menambah ketampanan yang terpancar dari dalam dirinya, "siang semua," sapa Ikram dengan aromanya yang benar-benar tidak pernah hilang.


"Dia memakai semakin banyak parfum," ucap Ellia tidak suka dengan nada suara pelan. .


"Siang Pak," ucap mereka semua serentak.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu dan memindahkan kelasnya tiba-tiba," ucap Ikram.


"Bapak bagaimana kabarnya?"


"Kami rela pak,"


Beberapa jawaban aneh lain juga terdengar sahut menyahut, hanya sebuah senyum yang tidak pernah surut dari bibir Ikram menjadi jawaban, laki-laki ini tidak mau menjawab selain pelajaran.


Ikram masih dengan lancarnya memberi penjelasan di depan, Ellia hanya menatap laki-laki yang sudah menjadi suaminya ini, setiap gerakan dari ujung kaki hingga rambut yang bergerak karena angin tak pernah lepas dari pandangan Ellia.


"Dia memang sangat tampan, siapa orang beruntung yang bisa menjadi istrinya kelak," gumam Ellia dalam hati.


Namun seketika ia tersadar, "Ah, tapi aku istrinya, hehe," ucapnya lagi yang tidak sengaja mengeluarkan suara tawa.


"Kamu, yang di sana," tunjuk Ikram.


"Iya, kenapa tersenyum sejak tadi? saya lucu saat memberi penjelasan di sini?" tanya Ikram.


"Ti, tidak prof," ucap Ellia terbata.


"Diam dan dengarkan," ucap Ikram kemudian.


Vania dan Rara hanya menatap Ellia yang cukup tidak nyaman dengan apa yang baru saja di ucapkan suaminya.


"Wah, wajah kakak ipar kesel banget kayaknya sama abang, mampus lah abang, Siap-siap aja ntar nggak dapat jatah," ucap Ifraz sangat senang sekali.


"Abang mah, nggak asik banget, padahal udah jelas banget kalo kakak ipar tertawa karena liat abang, jahat banget sampai kena tegur, udah hati kakak ipar lembut banget lagi," gerutu Iriana seolah faham perasaan sesama wanita.


"Hai Iriana,"


"Hai kak, baru bangun?"


"Yah, aku baru kali ini tidur nyenyak," ucap Zelin yang juga ikut menatap layar komputer di laboratorium Ifraz.


"Kakak ipar mahasiswa bang Ikram,"


Iriana dan Ifraz hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab, mereka berdua masih mengamati wajah Ellia yang benar-benar sangat masam.


Hingga tanpa sengaja Ellia menggerakkan tangannya, grep.


Layar itu mati, hitam total.


"Ada apa El?" tanya Vania.


"Ada hewan, sepertinya nyamuk, atau hewan lain, gua juga nggak terlalu faham," ucap Ellia yang masih tidak faham kalau itu adalah anak-anak Iriana yang sengaja di keluarkan.


Kelas berjalan dengan baik, sejak kejadian Ellia tidak ada yang berani berulah di kelas ini, "baik kelas kita cukup sampai di sini, karena ini sudah jam istirahat, semoga kalian tidak keberatan menikmati jamuan sederhana yang sudah saya persiapkan sebagai permintaan maaf karena tidak bisa mengajar selama beberapa pertemuan," ucap Ikram.


"Baik Profesor," ucap semuanya.


Semua orang mulai beranjak dari kursinya, mulai menikmati banyak sekali hidangan yang di siapkan Ikram untuk mereka, namun Ellia masih duduk di tempatnya merapikan beberapa buku, hingga sebuah tangan meletakkan permen caramel di atas mejanya.


"Ini kesukaan mu, makan dan kembali ceria," ucap Yuda yang langsung pergi begitu saja tanpa menunggu respon dari Ellia.


Ellia melihat sebuah permen caramel favoritnya, tanpa sadar sebuah senyum muncul di wajah cantiknya, seperti seorang anak kecil.


Baru saja hendak mengambilnya, namun Ifraz datang dan mengambil permen itu, " aku menginginkannya," ucap Ifraz yang langsung membuka permen itu dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Permen ku," ucap Ellia kecewa.


"Wah, Ellia," teriak yang lain saat sadar ada sosok tampan lain yang kini berada tepat di depan meja Ellia.


***


Khusus hari ini dan besok, author hanya bisa up 1 chapter setiap harinya, karena ada kegiatan lain yang tidak memungkinkan untuk menulis.


Sampai ketemu 2 chapter di hari senin.


Happy weekend