Ellia's Husband

Ellia's Husband
Persiapan Pesta



Ikram mengernyitkan dahinya, "apa aku tidak memberinya cukup uang sampai harus menyimpan fotoku dari barang-barang bekas seperti itu," ucap Ikram dalam hati yang masih menyusun foto dirinya yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian.


"Tidak masalah, nanti aku akan mencetak foto kita yang banyak, sudah buang saja yang itu," ucap Ikram menghalangi tangan Ellia yang masih menyusun beberapa potongan foto yang sudah tidak terlihat lagi bentuknya.


"Ini aku mencarinya dengan susah payah, jangan di buang," cegah Ellia.


"Orangnya sudah ada di depan matamu, untuk apa lagi menyimpan ini, aku akan menggantinya nanti, dua kali lebih banyak,"


"Baiklah," ucap Ellia menarik tangannya dari potongan foto Ikram yang ada di lantai.


"Ada apa? ada masalah apa sampai murung seperti ini, aku minta maaf tadi bersikap tidak baik padamu saat di kelas ?" ucap Ikram.


Ellia hanya menatap Ikram, bergelayut manja di lengan kekar milik suaminya, "ada apa?"


"Mas, ingin permen karamel, kata dokter Ifraz ada di kamar, tapi aku mencarinya tidak ada, milikku tadi sudah di makan dokter Ifraz," ucap Ellia dengan tatapan penuh dengan genangan air mata.


"Permen karamel? dia murung dan menangis hanya untuk ini?" batin Ikram.


"Ifraz, permen karamel Ellia di mana?"


"Ah, oke aku akan mengantarkannya," ucap Ifraz di balik earphone yang terpasang di telinga Ikram.


"Ifraz akan membawanya kemari, ada apa, kenapa sampai seperti ini karena fotoku dan permen karamel," ucap Ikram yang langsung memeluk tubuh Ellia di dalam pelukannya.


"Kakak ipar," panggil Ifraz berkali-kali, laki-laki ini memanggil Ellia bahkan sebelum masuk ke dalam kamar.


"Kakak ipar, abang, kenapa di luar? cuaca sedang tidak bagus akhir-akhir ini, masuklah atau kalian akan sakit," ucapnya yang cukup terkejut saat melihat Ellia menangis di pelukan Ikram.


"Ini permen karamelnya, aku letakkan di sini ya," ucap Ifraz meletakkannya di atas ranjang.


Namun tangan itu berhenti saat melihat tas yang di pakai oleh Ellia penuh dengan sayatan, isi bagian dalamnya juga bahkan ikut terkoyak.


"Abang," panggil Ifraz serius dengan membawa tas Ellia ke balkon.


Ikram memberi kode agar Ifraz keluar lebih dulu, dengan perlahan tanpa suara Ifraz keluar dari kamar.


"Ada apa? tidak ingin bercerita denganku?' tanya Ikram.


"Aku hanya ingin mas Ikram yang menjagaku, aku tidak ingin orang lain," ucapnya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari matanya.


"Mereka melakukan hal buruk padamu setelah dari sini?" tanya Ikram yang sudah faham dengan arah pembicaraan kali ini.


Ellia menggeleng, "aku tidak suka saja, tidak masalah jika dunia tidak tau kalau kita sudah menikah, tapi aku juga tidak ingin ada isu lain mengenai aku dengan laki-laki lain atau mengenai mas Ikram dengan perempuan lain, kita saling menjaga saja bisa tidak?" ucap Ellia memeluk Ikram semakin erat.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu," ucap Ikram dalam hati.


"Aku akan melakukannya," ucap Ikram tulus, menepuk pelan punggung Ellia dan menenangkannya.


"Sekarang mandi dan bersihkan tubuhmu, malam ini jangan keluar dari kamar dan lakukan semua hal dari dalam sini saja oke," ucap Ikram.


"Iya mas," ucap Ellia.


"Kemari, aku akan membawamu ke kamar mandi, kita mandi bersama saja," ucap Ikram yang langsung menggendong Ellia dan langsung membawanya ke kamar mandi.


***


Ifraz segera masuk ke kamar Iriana dan menceritakan hal yang baru saja ia lihat padanya.


"Tasnya penuh sayatan, sangat banyak, buku dan semua yang di bawa oleh kakak ipar juga ikut terkena sayatannya," ucap Ifraz.


"Elu sih, udah pasti nih gara-gara fans lu, ada aja masalah,"


"Ya gua salah juga gak mikir panjang,"


"Sudah Iraz, ini yang terakhir, lain kali hati-hati dalam bersikap dan melakukan sesuatu,"


"Astaga, gua nih yang lebih tua dari lu, kenapa gua mulu yang kena marah coba," gerutu Ifraz.


"Ya lu emang salah sih, pakai acara rayu-rayu kakak ipar, udah tau remaja zaman sekarang pada anarkis semua," ucap Iriana.


"Udah diem, mending lu cari tau siapa orangnya, abis ini bang Ikram pasti langsung tanya," ucap Ifraz.


Ikram sudah bersiap untuk acara malam ini setelah membutuhkan waktu untuk menenangkan Ellia, kini istrinya itu sudah memakaikan dasi untuknya.


"Mas, jangan memakai banyak parfum saat di luar, itu akan menggoda sangat banyak wanita yang mencium nya," ucap Ellia.


"Tadi tertawa di kelas karena membayangkan ku?" tebak Ikram.


"Tidak," ucap Ellia malu, bagaimana bisa Ikram tau apa yang ada di pikirannya itu.


"Pasti iya, sudah aku tidak ingin kau malu, jadi topik ini ku akhiri sampai di sini," ucap Ikram memberi kecupan di kening Ellia, yang mana membuat istri kecilnya ini semakin malu.


"Parfum ku?" tanya Ikram.


"Jangan banyak-banyak," ucap Ellia.


"Sayang, aku tidak percaya diri jika tidak memakainya, itu seperti jati diriku, aku merasa sempurna saat memakainya," ucap Ikram memelas.


"Sedikit saja,"


"Oke, berikan aku parfum sedikit saja," jawab Ikram.


"Kau juga, jangan terlalu dengan Yuda, aku tidak suka di memberimu permen karamel, aku bahkan tidak tau kalau kau menyukainya," ucap Ikram.


"Itu karena mas Ikram tidak tanya, hehe," ucap Ellia tertawa melihat wajah cemburu Ikram.


Tok tok tok


"Masuk,"


"Tuan muda, beberapa tamu sudah mulai datang, tuan muda kedua dan nona ketiga sudah di depan menyambut para tamu," ucap pelayan itu.


"Paman Ginanjar?"


"Tuan Ginanjar sedang melakukan cek keseluruhan,"


"Zelin sudah datang ?"


"Nona Zelin sudah datang, beliau menunggu anda," ucapnya.


"Oke, sepuluh menit lagi aku turun," ucap Ikram.


"Ada Zelin juga?"


"Iya, dia salah satu pilar ku, tidak mungkin pertemuan ini terlaksana tanpanya," ucap Ikram.


"Aku janji akan menjaga diri dengan baik dan tidak akan membuatmu cemburu," ucap Ikram lagi.


"Aku percaya mas Ikram kok, hanya khawatir dengan Logan saja,"


"Logan sudah ku serahkan pada Nadin untuk sementara, jangan terlalu khawatir,"


"Sudah, ini sudah rapi, semangat mas Ikram," ucapnya dengan sebuah senyum yang kembali ceria.


"Bagaimana ini? kenapa aku jadi tidak rela kalau harus meninggalkan mu di sini," ucap Ikram yang memeluk Ellia dari belakang.


"Kenapa tidak rela," tanya Ellia namun sudah faham dengan raut wajah suaminya saat ini.


"No mas Ikram, mas Ikram sudah di tunggu, nanti kalau sudah selesai saja,"


"Tidak apa, sekarang saja, mereka memang harus menungguku," ucapnya hendak mencium bibir Ellia.


"Ikram,"


"Nah kan, udah di panggil, udah sana keluar dulu," ucapnya.


Tok tok tok


"Ikram ada di dalam? semua orang sudah menunggu," ucap Zelin lagi.


"Aish, menjengkelkan saja," ucapnya dengan wajah frustasi melihat adik kecilnya yang sudah terbangun sempurna.