
Saat mobil itu mulai berjalan, sebuah motor cukup besar mengikuti mobil mereka dari belakang, sebenarnya sopir mobil yang mengemudikan mobil Ellia juga sudah faham ketika ada seseorang yang mengikutinya, namun suara Ikram yang terdengar jelas di earphone yang terpasang di telinganya membuat ia kembali tenang dan tidak waspada.
Tiga orang wanita yang masih berada di dalam mobil itu tidak tau menahu apa yang akan terjadi pada mereka, ketiganya hanya sibuk berbicara dengan memakan camilan yang sudah ada di dalam mobil.
"Nanti jangan sampai mas Ikram tau jika kalian memakan snack itu," ucapnya.
"Kenapa memangnya ?" tanya Rara tanpa dosa yang masih memasukkan satu demi satu snack yang masih berada di tangannya.
"Dia bahkan bisa mencium bau snack favoritnya di mulut orang lain ketika berbicara, dia bakal nuduh kalian makan miliknya, dia sangat menyukai snack itu, harganya sangat mahal," ucapnya lagi berusaha menakut-nakuti.
"Waduh, mati dong gua," ucap Rara yang langsung meletakkan snack yang sebelumnya berada di tangannya.
Namun tiba-tiba sopir tersebut tiba-tiba berhenti yang mana membuat semua orang yang ada di dalam sana terkejut, "pak ada apa ? kenapa berhenti tiba-tiba,"
"Tuan Nando akan mengambil alih perjalanan anda nyonya," ucap laki-laki yang baru saja menjadi sopir Ellia itu.
"Nando ? kok pak Nando ? pak Nando kan harus ikut kemanapun mas Ikram pergi, kalo di sini nanti mas Ikram gimana," ucap Ellia yang sebelumnya mendengar bahwa Ginanjar sudah bukan lagi sekertaris pribadi Ikram, posisi itu kini sudah menjadi milik Nando.
"Ini perintah tuan muda nona, saya hanya mematuhinya," ucap Nando yang sudah membuka pintu.
"Bagaimana dengan orang yang tadi tuan Nando?" tanya sopir itu sebelum turun dengan berbisik pelan.
"Anak buah tuan muda yang lain sudah mengurusnya, terimakasih sudah menjaga nona sampai saat ini, kau bisa turun sekarang," ucapnya.
Memang benar, sudah tidak ada yang mengikuti mereka, semua orang yang tidak tau apa-apa masih dengan senang hati bercengkrama dengan yang lainnnya, hingga tanpa sadar mereka sudah melewati gerbang masuk menuju mansion.
Vania yang menyadari lebih dulu segera bergerak menoleh ke jendela, "lu tinggal di rumah itu El?" tanyanya.
Ellia menatap apa yang menjadi objek pertanyaan Vania, "iya, sebelumnya di apartemen yang tidak jauh dari kampus, tapi karena identitas mas Ikram sudah di ketahui semua orang jadi kita tinggal di sini deh sekarang,"
"Mas Ikram ? lu udah panggil prof Ikram mas sekarang ?" tanya Rara.
"Ye udah dari dulu kali," jawabnya.
"Tuan sedang bersama pak Ginanjar mengikuti sebuah rapat di ruang kerjanya nona muda, mohon untuk tidak mengganggu dan membuat keramaian di area tersebut sampai pekerjaan tuan muda selesai,"
"Siap,"
"Makanan dan semua hal yang di perlukan sudah di siapkan tuan muda, akan ada beberapa pelayan yang akan melayani anda bertiga nanti," ucapnya dengan senang hati melayani Ellia.
"Silahkan nona," ucap salah seorang lain yang sudah membuka pintu bagian belakang di kanan kiri.
Vania dan Rara masih terpana dengan sebuah istana yang ada di depan mereka, halaman rumah ini bahkan sangat besar, bukan sangat lagi, ini benar-benar besar, "ini sih lebih besar dari kampus kita El, prof Ikram beneran nggak punya adik apa, mungkin bisa di jodohkan sama gua," celetuk Rara tanpa ragu.
"Siang kakak ipar," sapa Iriana yang baru saja turun dari mobil dengan jaket dan celana kulit yang sangat pas di badannya.
"Iriana dari mana ?" tanya Ellia yang mulai berjalan perlahan mendekati Iriana.
Iriana mengangkat tangannya, "kursi roda untuk kakak ipar ?" tanyanya pada beberapa pelayan yang ada di sana.
"Tidak apa-apa, kaki kakak ipar akan lama sembuhnya jika banyak digunakan berjalan di rumah ini," ucapnya.
"Ah iya kenalkan mereka teman-temanku," ucapnya pada Iriana.
"Aku tau, aku yang menghubungi mereka saat itu kakak ipar ? dia Vania dan dia Rara, kalian berdua masuk dalam fans club bang Ikram di kampus kan?,"
"Hah bagaimana kamu tau ?"
"Itu mudah untukku mencari," ucapnya riang.
Kedua gadis yang tengah berdiri ini tersenyum malu, "sudah tidak perlu malu, aku juga tau, jika aku bukan adiknya aku juga tidak akan tahan dengan pesonanya," tambah Iriana ramah.
"Hehe,"
"Sudah ayo masuk," ajak Ellia begitu kursi roda yang akan ia gunakan sudah sampai.
"Silahkan nyonya," tambahnya.
"Mas Ikram ?" panggil Ellia yang lupa dengan apa yang baru saja di ucapkan Nando bahwa suaminya sedang rapat bersama pak Ginanjar.
Ini sudah menjadi kebiasaanya,. seperti seorang anak yang akan selalu mencari ibunya, begitulah Ellia ketika sudah berada di rumah, ia akan selalu memanggil Ikram karena ingin memastikan apakah laki-laki ini benar ada di rumah atau tidak.
"Mas Ikram ?" panggilnya lagi karena tidak mendapat sahutan.
"Tuan muda sedang rapat nona, saya sudah memberitahu ini pada anda baru saja,"
"Ah iya aku lupa. maaf maaf," tambahnya menatap Nando yang masih tersenyum kepadanya.
"Kemari, kalian semua ayo duduk di sini, kalian pasti belum makan, ayo kita makan dulu, seharusnya bang Ikram sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian," tambah Iriana,
Vania dan Rara benar-benar tidak bisa berhenti takjub dengan apa yang ada di hadapan mereka, keduanya bukan berasal dari kalangan orang menengah ke bawah, tapi siapapun juga akan takjub dengan semua hal yang ada di mansion ini, ini lebih indah dari semua hal yang di pikirkan semua orang.
Semua orang sudah duduk di tempatnya, meninggalkan kursi utama karena memang kursi itu hanya boleh di duduki oleh Ikram, ini bukan peraturan, tapi seperti sudah menjadi tradisi di keluarga ini yang sudah bertahun-tahun di lakukan oleh Ifraz dan Iriana.
"Ellia, kau sudah pulang ? kenapa aku tidak mendengar suara teriakan mu," ucapnya tidak seperti biasa.
Ikram muncul dengan rambut basah dan handuk baju yang sudah jelas sangat mahal jika di lihat dari desain dan motifnya, di tambah tubuh yang mengenakkan nya sangat indah, ini benar-benar karya tuhan yang luar biasa.
"Mas Ikram, kenapa hanya memakai handuk ketika keluar," ucap Ellia yang dengan cepat menggerakkan kursi rodanya menutupi dada Ikram yang sedikit terbuka.
"Kenapa ?'
"Kenapa apanya ? apa mas Ikram tidak tau jika sangat berbahaya memperlihatkan tubuh ini pada orang lain, ini milikku," bisiknya penuh penekanan ketika kedua temannya tidak lepas melihat tubuh Ikram sejak tadi.
***
Sebuah gudang tidak jauh dari hutan milik Ikram kini tengah riuh dengan suara teriakan tanpa henti.
"Lepaskan aku, hey lepaskan aku," teriakan demi teriakan masih tetap terdengar tanpa ada seorang pun yang bisa mendengarnya.
TO BE CONTINUE