
"Kau tau bagaimana perasaan ku sekarang," ucap Ikram.
"Aku sudah cukup melihat, tidak perlu menjelaskannya, melihat caramu membunuh semua orang dalam keadaan hatimu sedang hancur sudah menjelaskan semuanya," ucap Zelin meskipun tidak bisa di pungkiri jika Zelin masih menyimpan perasaan terhadap laki-laki yang sudah menjadi suami orang ini.
Ikram masih terduduk di sofanya, menatap punggung gadis yang pernah berada di masa lalunya.
"Kenapa tidak memberitahuku tentang apa yang terjadi dengan mu dan Logan beberapa tahun terakhir ini," ucap Ikram.
"Tidak penting," jawab Zelin.
"Wisata masa lalu? aku cukup terganggu dengan kata-kata ini, meskipun tidak benar tapi yang di katakan Ifraz juga tidak sepenuhnya salah, kita tidak pernah berhubungan, tapi pernah memiliki perasaan bersama memang iya," ucap Ikram.
Zelin tersenyum, dalam sekali lihat juga tau senyum itu menyimpan banyak sekali luka.
"Huft," sebuah helaan nafas terdengar di telinga Ikram.
"Ada apa? masih sanggup tidak?" tanya Ikram yang kini tengah menarik tubuh Zelin agar melihat ke arahnya.
Zelin hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ikram, "Kenapa tidak memberitahu mengenai hubungan kalian? aku sampai tau dari orang lain bahwa kalian menikah," tanya Ikram.
"Aku yang tidak memberi tahu atau kamu yang menutup mata dan telingamu untuk semua hal tentangku," ucap Zelin tidak kalah berteriak.
"Aku belum siapa-siapa saat itu, umurku masih belum genap tujuh belas tahun, di tambah Ifraz dan Iriana menjadi tanggung jawabku, aku selalu pulang dengan darah di seluruh tubuhku karena Logan yang tidak suka aku dekat denganmu, mereka berdua selalu menangis saat melihat keadaan ku, sejak dulu aku hanya menjadi bayang-bayangnya, sangat mustahil menjadikanmu milikku sekalipun aku mencintaimu saat itu,"
"Itu juga bukan alasan, karenamu menolakku aku harus di nikahkan dengan dia, dia yang terhebat setelah mu, kau berfikir perasaanku tidak?" ucap Zelin.
"Zelin kamu bisa menolak, kenapa menikah dengan nya jika kau tidak mau, menikahlah dengan orang yang kau cintai, kenapa begitu bodoh sampai harus menghabiskan waktu dengan orang sepertinya selama ini," teriak Ikram tidak perduli dengan mata Zelin yang sudah berkaca-kaca.
"Lalu siapa laki-laki yang kucintai itu, kau bahkan sudah berjalan mundur sebelum kita memulainya, aku bisa jatuh cinta kepada siapa lagi di dalam kungkungan orang seperti dia," ucapnya dengan nada suara tak kalah tinggi.
"Sudah cukup Zelin, aku sudah tidak ingin membahas ini lagi, kita fokus di kehidupan kita masing-masing, yang pasti aku akan melakukan apapun untuk adikku, Iriana tidak pantas mendapatkan orang sepertinya, dan cintaku, aku minta maaf karena aku belum siap dan belum matang saat itu,"
"Bagaimana sekarang?" tanyanya.
Ikram tertawa, ini adalah pertanyaan yang cukup lucu untuk ia dengar sekarang, "kau tanya sekarang? aku sudah menikah, aku tidak akan pernah menghianati nya, dia wanitaku satu-satunya," tegas Ikram
"Aku juga sudah menikah Ikram,"
"Kondisi kita berbeda, kau bisa meninggalkan Logan, sangat bisa, tapi aku tidak bisa meninggalkan Ellia,"
Zelin menatap laki-laki yang ada di depannya ini dengan sebuah senyum yang di paksakan, "Baik, kalau begitu jaga dia dengan baik, setelah ini jangan membahas hal ini, aku sudah muak mendengar nya, masalah perasaan ku padamu aku bisa mengurus nya sendiri, jangan terlalu terbebani, waktu kita memang selalu salah, semoga di kehidupan selanjutnya kita memiliki waktu yang tepat," ucap Zelin yang langsung keluar begitu saja meninggalkan Ikram yang dengan kasar menarik rambutnya pelan.
Ifraz dan Aro masih berada di depan pintu kamar saat Zelin berjalan keluar tanpa menatap ke arah mereka berdua, "ini yang ku maksud tadi, jika kedua orang ini di satukan, tidak perlu satu hari, satu jam saja mungkin bangunan ini hanya tinggal runtuhan batu, saat bertengkar mereka akan beradu nada tinggi atau bahkan saling Menodongkan senjata satu sama lain," ucap Ifraz menggelengkan kepala.
"Bagaimana mereka bisa terlihat biasa saja di tengah gejolak cinta yang rumit ini," ucapAro cukup pusing.
"Ini sudah bukan cinta segitiga, tapi cinta segi lima, ha ha ha," gurau Ifraz.
"Aku lebih baik berurusan dengan bom dan senjata dari pada terjebak dengan hal-hal semacam ini," ucap Aro bergidik ngeri.
Untuk Zelin memang sudah bukan cinta, saat dia meninggalkan semua hal tentang Zelin setelah banyak sekali yang di lakukan Logan padanya, ia sudah memutus rantai cinta yang tidak menguntungkan ini.
Namun yang tersisa hanyalah rasa bersalah karena harus meninggalkan Zelin dengan orang yang picik seperti logan, "inikah maksud Alexander memintaku untuk menjaganya, karena dia sudah tau Logan seperti apa?" gumamnya pelan.
Setelah cukup beradu panjang lebar antara hati dan pikirannya, laki-laki ini beranjak dari duduknya.
Ikram membuka pintu kamarnya, "Iriana sudah kembali?" tanyanya pada Ifraz dan Aro.
"Belum bang,"
"Sudah berapa jam?"
"Astaga bang, baru setengah jam," jawab Ifraz.
"Kirim orang untuk mengawasi mereka,"
"Siap bos," jawab Aro yang langsung pergi.
"Jangan masuk ke kamarmu sampai Ellia terbangun," ucap Ikram.
"Hah? abang, trus aku harus pergi ke mana?"
"Kemanapun terserah, awas saja sampai menginjakkan kaki di sana," ucapnya menunjuk kamar Ifraz seolah itu adalah sebuah tempat suci yang benar-benar di jaga.
"Cih, dasar bucin," teriak Ifraz begitu Ikram masuk ke dalam kamar Ifraz dan menutup pintu.
Laki-laki ini berbaring tepat di sebelah Ellia, Ellia bergerak ketika ada seseorang yang memeluknya sangat erat, "uhm mas Ikram, aku tidak bisa bernafas," ucap Ellia dengan suara parau.
"Ada apa ?" tanya Ellia ketika Ikram masih belum menjawab pertanyaanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Ikram
"Aku hanya ingin memelukmu saja, maafkan aku ya," ucapnya kemudian.
Ellia membalik tubuhnya menatap Ikram yang tengah menatapnya, "ada apa mas Ikram ?" tanyanya membelai lembut rambut kepala Ikram.
"Saat aku berkata kamu adalah orang pertama, itu memang benar, memang bukan kamu wanita pertama yang aku cintai,"
"Lalu ?" tanya Ellia dengan kening berkerut.
"Tapi kamu adalah orang pertama yang membuatku ingin memilikumu sebagai istri, jadi apapun yang terjadi nanti, berita apapun yang kau dengar di luar, tolong jangan menghiraukannya, aku tidak ingin bertengkar dengan mu karena wisata masa lalu yang aku bahkan sudah lupa," jelas Ikram.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.