
"Kau tidak ingin makan dulu?" ucap istri Adams mencoba ramah.
"Aku sedang tidak ingin apapun," ucapnya yang langsung pergi begitu saja, bahkan seorang bocah yang memanggilnya juga tak di hiraukan nya, laki-laki ini ingin segera kembali dan membagi beberapa beban yang ia miliki dengan Iriana.
Dulu dia hanya menjadi dokter, melakukan banyak operasi, bisa melakukan apapun yang dia inginkan, jika butuh uang hanya perlu minta kepada Ikram, namun hanya beberapa hari Ikram pergi, ia bahkan sama sekali tidak bisa datang ke rumah sakit.
Cukup banyak hal yang harus ia urus, jika bukan Ellia yang mengingatkannya, ia juga mungkin lupa untuk makan.
"Bagaimana bisa bang Ikram hidup seperti ini, baru beberapa hari tapi aku sudah hampir frustasi," ucapnya dalam perjalanan pulang.
"Dia bahkan tidak pernah mengeluh pada kami seberapa lelahnya dia mengurus seluruh perusahaan seorang diri, kadang bahkan masih harus mengurus kenakalan-kenakalan yang aku dan Iriana buat,"
Sebuah panggilan telfon dari Iriana merusak keheningan di dalam mobil Ifraz, "ada apa ?"
"Ada panggilan darurat dari rumah sakit,"
"Operasi?"
"Bukan, sudah kubilang ini panggilan darurat,"
"Tentang apa?"
"Kita ketemu di rumah sakit saja," ucap Iriana.
"Astaga,"
***
Rumah Sakit
Ifraz sampai lebih dulu di rumah sakit, mobil keluaran terbaru itu dengan santainya langsung masuk tepat di depan pintu lobby rumah sakit, seseorang membuka pintu untuk Ifraz, laki-laki ini hanya keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobil pada petugas yang ada di sana.
Dulu ia juga punya posisi, tapi tentunya tidak setinggi posisinya sekarang.
"Siapa yang membuat panggilan darurat saat sudah larut seperti ini di rumah sakit ?" gumamnya pelan.
"Malam dok,"
"Malam dok," ucap semua orang yang ia lewati, laki-laki ini hanya mengangkat tangannya dengan memberikan sedikit senyuman kepada semua orang, pelit sekali pikirnya, tapi ia sudah tidak memiliki waktu untuk tebar pesona.
"Iraz," teriak seseorang yang berada di belakangnya.
"Ah, baru datang na ?" tanyanya.
"Iya, kau juga baru sampai ?" tanya Iriana.
Gadis ini memegang lengan Ifraz dengan santai tidak peduli semua orang di sana melihat mereka berdua dengan pandangan iri, "kau sudah makan ? jangan hanya memakan camilan oke," ucapnya menggenggam erat tangan adiknya itu.
"Kenapa dokter Ifraz sangat manis," ucap salah seorang perawat yang sedang memperhatikan Ifraz dan Iriana bersama orang-orang yang lain.
"Benarkan? dia sejak dulu sangat manis dan humoris, padahal dia sangat kaya, apalagi sekarang setelah menjadi salah satu pilar Danial group, di terlihat semakin tampan,"
"Hari ini dokter Ifraz menggunakan mobil sport hitam yang hanya ada dua di dunia, dia sangat low profil sebelumnya, sekarang dia mulai menunjukkan siapa dirinya," ucap salah seorang yang lain.
Tidak bisa dipungkiri, gen unggul milik Agatha tidak bisa di samakan dengan yang lain, semuanya sempurna dalam segala sisi, tapi tidak beruntung di hal yang lain.
Iriana dan Ifraz sudah sampai di ruangannya, laki-laki ini cukup terkejut dengan apa yang ada di depan matanya, ini sangat berbeda dari apa yang ia lihat terakhir kali, "kalian memanggilku dengan panggilan darurat hanya untuk menunjukkan ruangan baruku ?" tanyanya polos.
Pletak.
"Ah, kenapa memukulku ?"
"Kenapa menjadi bodoh Iraz ?"
"Kami minta maaf dok, kami tidak tau siapa anda sebelumnya, ternyata rumah sakit ini milik anda, pantas saja tuan Ikram selalu meminta anda yang secara khusus untuk merawatnya," ucap salah seorang kepala rumah sakit yang tidak tau menahu bahwa seluruh rumah sakit milik Ikram berada di bawah kekuasaan Ifraz.
Dia hanya mengikuti banyak sekali operasi agar semua orang tidak tau seberapa hebat kemampuan yang ia miliki, benar-benar sebuah penyamaran yang sempurna, namun sampai detik ini dunia tidak perlu tau seberapa hebatnya dia dalam hal ini.
"Kami tidak tau, tapi dokter William memaksa untuk segera bertemu dengan anda segera, dia tidak menceritakan apapun pada kami ?"
"William ? dia yang mana ?" tanya Ifraz lupa-lupa ingat.
"Dokter William yang dulu bersama dengan anda sebagai dokter bedah pertama untuk operasi tuan Ikram,"
"Saat itu bang Ikram terluka kenapa ?" tanya Iriana.
"Ah. aku ingat sekarang, itu sudah dua tahun yang lalu, kupikir dia sudah tidak bekerja di rumah sakit ini, aku sangat jarang bertemu dengannya," tambah Ifraz.
"Kalian boleh keluar, panggil dokter William untuk datang menemui ku di sini," ucapnya.
Setelah mereka semua keluar, Iriana kembali memutari Ifraz dan bertanya seperti bayi, "kenapa dulu bang Ikram terluka ? kenapa aku bisa tidak ingat,"
"Kau masih belajar dulu, ada yang meletakkan bom di mobil bang Ikram, kejadiannya sudah lama, aku bahkan sudah lupa, karena sudah di bawa ke rumah sakit, mau tidakĀ mau aku hanya menjadi asisten kedua saat itu," ucap Ifraz.
"Oh," ucapnya dengan bibir yang maju kedepan.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Iriana dari dalam.
Seorang dokter masuk ke dalam ruangan Ifraz, usianya cukup muda, hampir sama dengan Ikram.
"Wah dokter William, anda terlihat tampan dari pada pertama kami bertemu di ruang operasi," ucap Ifraz menjabat tangan dokter seniornya ini.
Berbeda dengan Ifraz yang masih terlihat ramah dengan Iriana yang duduk di samping kursinya, William beberapa kali membersihkan dahinya karena keringat yang tidak sengaja keluar, bahkan tangan laki-laki ini sangat dingin.
"Tenang saja, tidak perlu terlalu gugup,"
"Maaf sebelumnya dok, maaf jika saya lancang atau atau... atau," ucapnya terbata dengan sebuah beberapa keringat yang terus bercucuran.
"Tenang dokter William, santai saja, bicara yang nyaman, kami tidak akan melakukan apapun" ucap Iriana.
William menelan ludahnya berkali-kali, seolah apa yang di sampaikan nya adalah sesuatu yang serius.
"Baru saja saya memeriksa seseorang,"
"Lalu,"
"Anda ingat saya pernah melakukan operasi pada tuan Ikram?"
"Iya, bersamaku bukan? ada apa?"
"Kejadian itu tidak pernah bisa saya lupakan sampai sekarang dok, saya masih ingat betul hasil operasi saya,"
"Tunggu tunggu, intinya bagaimana?"
"Saya baru saja memeriksa seseorang dengan luka operasi seperti operasi yang saya lakukan pada tuan Ikram,"
Deg.
"Lukanya di bagian mana?"
"Pundak sebelah kiri, pelurunya tembus dari depan hingga belakang, memang lukanya sudah samar tapi masih terlihat jelas dok, anda ingat sendiri ketika kita bersama mengoperasinya, sangat jarang orang yang memiliki bekas luka sama persis,"
"Dia kenapa sampai meminta anda memeriksa nya dok?"
"Lukanya cukup parah, sangat banyak, bahkan seluruh bajunya sudah penuh dengan darah,"
"Wajahnya?"
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.