Ellia's Husband

Ellia's Husband
Saling bergantung



Ellia tercengang, namun Ginanjar tersenyum, "hari ini tuan muda mengingat kembali semua kejadian itu, saat dimana ibunya bunuh diri di hadapannya ketika memergoki suaminya berselingkuh. Setiap memori itu muncul ia akan merasa mual dan sangat pusing hingga kehilangan kesadaran, beliau sangat membenci dan tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan," jelasnya yang membuat Ellia seolah tersambar petir.


"Apa ia melihatku? " batin Ellia yang mulai khawatir, "bagaimana jika prof Ikram tau aku bertemu dengan Yuda, aku bahkan pergi tanpa izinnya dan di saat ia sedang sakit," batinnya mulai merasa tidak nyaman.


"Nona," panggil Ginanjar.


"Iya pak," sahutnya yang kembali menatap laki-laki di depannya.


"Tuan muda tidak pernah bermain-main dengan pernikahannya, ketika ia memilih anda untuk menjadi istrinya, artinya ia sudah membuka pintu untuk anda agar bisa masuk ke dalam hidupnya, terlepas dari semua perjanjian yang sudah kalian berdua sepakati, saya sebagai paman tidak pernah melarang apapun di hidupnya, hanya saja, ini hanya saja nona," ucap Ginanjar yang tidak melanjutkan ceritanya.


"Ada apa pak ? tolong katakan saja agar saya juga bisa menempatkan diri," tambah Ellia merasa bersalah.


"Hanya saja jika anda tidak memiliki iktikad baik dengan pernikahan ini, tolong akhiri segera, jangan membuat keponakan saya menderita lebih dalam," pinta Ginanjar tulus dengan merapatkan kedua tangannya di dada.


Laki-laki ini adalah adik dari ayahnya, ia memiliki penyesalan yang sangat besar dengan kejadian yang sudah menimpa keluarga saudaranya, jika saat itu ia tidak membawa kakaknya ke sebuah klub malam karena patah hati, kakaknya tidak akan menyukai wanita itu dan menyakiti istrinya hingga bunuh diri karena depresi.


Salah satu alasan ia rela menjadi asisten pribadi Ikram dan tidak menikah sampai detik ini adalah untuk menebus rasa bersalahnya, Ikram sudah di buang ke jalanan sejak kecil bersama kedua adiknya, kisahnya hampir mirip dengan Ellia, yang membedakan adalah cara mengambil sikap keduanya.


Ikram berusaha sangat keras untuk bisa sampai di titik ini, hingga menjadikan kedua adiknya bisa sukses dan berdiri di atas kaki mereka sendiri tanpanya, karena itu Ginanjar tidak ingin hidup dalam masa kelam dan di penuhi rasa bersalah karena tidak bisa menjaga mereka semua.


Bagi Ginanjar mereka berdua adalah anak-anak yang harus ia jaga sampai kapanpun, ia tidak tahan dengan kesulitan yang menimpa mereka, khawatir dan takut ketika mereka sakit, juga marah ketika mereka di perlakukan buruk oleh orang lain.


"Saya minta maaf sampai harus berbicara seperti ini nona muda," ucapnya lagi.


Ellia menggeleng, "Saya yang minta maaf pak, saya sudah di bantu sangat banyak namun tidak tau diri, apakah beliau tau apa yang sudah saya lakukan pagi ini ?" tanya Ellia yang sudah tidak ingin menyimpan kebohongan lagi.


Ginanjar mengangguk, "seharusnya tahu," jawabnya.


"Itu sebabnya dia mual dan tidak ingin menyentuh saya? itu juga yang membuat saya harus mandi bukan?" ucap Ellia lagi dengan mata yang sudah penuh dengan air mata penyesalan.


Ginanjar mengangguk dengan ragu, ia juga tidak tega dengan wajah penuh penyesalan Ellia, Ginanjar cukup yakin gadis seusia Ellia mungkin akan sedikit labil dalam mengambil sebuah keputusan.


Gadis itu menggenggam erat kedua baju yang menggantung di tubuhnya, beberapa keringat muncul di dahi bersihnya, "saya tidak tau apa yang ada di pikiran beliau saat ini nona, tapi sebelum beliau sempat memikirkan sesuatu yang aneh yang nanti akan berdampak tidak baik untuknya dan untuk kita semua, tolong jaga kepercayaannya," ucap Ginanjar memberi nasehat sebagai orang tua yang lebih dulu mengenal Ikram.


***


Di dalam kamar IKram Al Zaidan


Ikram masih menepuk punggung adik laki-laki yang berada di pelukannya, bagaimanapun Ikram adalah sosok yang tidak pernah tergantikan di hati kedua adiknya, dia ayah, ibu, saudara, dan sahabat bagi kedua adiknya, "abang bahkan tidak mengundang kami di acara pernikahan abang, kenapa harus sampai sakit dengan kakak ipar yang tidak mencintai abang," tambah Ifraz dengan sedikit terisak.


Laki-laki yang sudah menjadi dokter ini bahkan tidak lebih seperti bocah ketika ia sudah bertemu dengan abangnya, "Ellia, dia menarik ku untuk selalu dekat dengannya, hidupnya kurang lebih sama seperti kita Ifraz, aku hanya tidak ingin ada orang lain lagi yang merasakan apa yang kita rasakan dulu, di buang oleh keluarga sendiri, di jual untuk membayar hutang, bayangkan jika itu terjadi dengan Iriana, membayangkannya saja sudah membuatku takut," jelas Ikram.


"Tapi abang tidak harus mencintai dan menikahinya yang nanti hanya akan menyebabkan abang sakit hati dan terluka, jadikan dia seperti Ifraz dan Iriana, kami berdua bisa menerima orang lain untuk masuk dan jadi keluarga kita," tambahnya.


"Ketika aku sudah membuka hatiku untuk orang lain, itu artinya aku sudah siap terluka, jangan khawatir Ifraz,"


"Abang masih demam, ini masih sangat tinggi, masih pusing tidak? aku tidak bertanya karena ada kakak ipar tadi," ucapnya dengan manja.


"Biarkan saja, dia juga pasti akan menangis lebih keras jika tau abang sampai kehilangan kesadaran karena wanita itu,"


"Dia istriku, jangan panggil dengan sebutan wanita itu, itu tidak sopan,"


"Abang masih saja membelanya," ucapnya yang sudah duduk membelakangi Ikram.


Ikram menggerakkan tangannya menarik cukup keras telinga adik laki-lakinya itu, "ah, ah, ah, abang sakit,"


"Ini untuk ucapan tidak sopan tadi, lu gua? siapa yang mengajarimu untuk itu,"


"Aku hanya mencoba bang, lepaskan, ah, ah, ah," ucapnya memegangi telinganya yang memerah.


Ikram melepaskan tangannya dari telinga Ifraz, "jangan nakal lagi, sudah makan belum?" tanya Ikram.


Ifraz hanya menggeleng dengan wajah cemberut itu, "tinggal di sini malam ini, aku akan memasak sesuatu untukmu," tambahnya.


"Tidak, abang tunggu di sini, aku yang akan memasak sesuatu untuk abang," tambahnya.


Ifraz sudah berdiri dan mengarahkan tangannya pada Ikram, "ingat, duduk dan tunggu di sini, jangan jadi pasien yang menjengkelkan dan tidak menuruti ucapan dokter,"


"Siapa dokter?"


"Paman, paman Ginanjar," teriak Ifraz.


"Iya tuan muda,"


"Jaga abang di sini, aku akan memasak,"


"Sudah ada makanan yang di pesan tuan muda pagi ini,"


Ifraz menatap Ikram seolah bertanya apa benar yang di katakan Ginanjar, "berikan pada tetangga kita atau petugas apartemen ini, kau bisa memasak sesuatu untukku," ucap Ikram tidak ingin membuat Ifraz kecewa.


"Abang terbaik," ucapnya yang langsung berhamburan keluar.


"Jangan terlalu menuruti keinginannya,"


"Dia hanya ingin memasak untukku, aku hanya ingin memberikan apresiasi untuk semua hal yang ingin ia lakukan selama itu baik,"


"Itu akan membuat mereka berdua bergantung padamu,"


"Aku juga bergantung banyak hal pada paman, apakah juga tidak boleh?"


TO BE CONTINUE