Ellia's Husband

Ellia's Husband
Tetap tenang



"Urus surat atas nama ku, tentang pemindahan tanggung jawab bisnis di bidang senjata militer, paman Ginanjar akan menjadi penanggung jawabnya mulai sekarang, dan benteng hitam ku kembalikan pada Zelin Alexander,"


Deg, ini adalah sebuah hal yang bahkan Zelin sangat takut untuk bermimpi memiliki benteng hitam seutuhnya.


"Ikram," ucap Zelin tidak percaya.


Semua orang menatap Ikram tidak biasa, seolah berkata berapa murah hatinya ia hari ini.


"Baik tuan muda," ucap Andara.


"Jika belum terbiasa, minta Nando untuk membantu dan mengecek semuanya agar tidak terjadi kesalahan," ucap Ikram.


"Siap tuan muda," ucap Nando yang baru tiba dan mendengar namanya di sebut.


Kedua manusia itu segera bergegas memenuhi permintaan Ikram, Andara memang sudah berubah, dia tidak banyak bicara dan selalu melakukan tugasnya dengan baik, meskipun memang masih perlu banyak latihan dan pembiasaan, namun dia seperti menjadi dirinya sendiri.


Ifraz mengamati wajah Ikram, tapi tidak bisa membaca apapun yang berarti, "kau tidak akan bisa membaca ku Ifraz," ucap Ikram yang sudah bisa menebak saat adiknya menatap cukup lama.


"Kenapa sebaik ini padaku ?" tanya Zelin.


"Semua orang berhak memiliki kesempatan kedua," ucap Ikram.


"Oke, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu kali ini, sepertinya aku langsung pergi membawanya saja," ucap Zelin.


"Uhm, maaf kak, tapi kondisinya akan semakin buruk jika dia berpindah sekarang," ucap Nadin.


"Apakah masih separah itu ?"


"Tidak, tapi daya tahan tubuhnya sedang dalam kondisi terlemah, sebaiknya di rawat dulu di sini, ini hanya menurut analisa saya sebagai dokter, keputusan tetap ada pada kakak,"


Zelin menggigit bibirnya pelan, "aku akan menunggu beberapa hari kalau begitu, sementara aku yang akan menjaganya di sana saja, kamu tidak perlu sampai harus tidur di sana dan sakit," ucap Zelin.


"Hehe aku tidak apa-apa," ucap Nadin mengelak, melepaskan tangan Ifraz yang masih menempel di bahunya setelah memijit.


"Atau," ucap Zelin tidak di teruskan.


"Atau apa ?"


"Atau kau mau ikut bersama kami, untuk menjadi dokternya sementara," ucap Zelin.


"No," jawab tegas Ifraz.


"Tidak ada yang bisa memintanya melakukan apapun tanpa izinku, bahkan jika itu bang Ikram," jelasnya.


"Aku akan mengirim dokter lain jika kakak ingin segera kembali dengan Logan, dia di sini juga hanya menghabiskan makanan saja," ucap Ifraz yang langsung naik ke kamarnya dan membanting pintu tanpa ragu.


"Ifraz," teriak Ikram namun tidak ada sahutan sama sekali dari adik laki-lakinya itu.


Ifraz terlihat sangat marah kali ini, padahal sebelumnya biasa saja.


"Ada apa ? kenapa ribut sekali di pagi hari ?" tanya Ginanjar yang sudah siap dengan kemeja dan jas kantornya,.


"Biasa, Iraz marah, lupa minum obat dia," ucap Iriana.


"Aku akan naik ke atas dulu bang," ucap Nadin.


"Tidak perlu, dia sangat sensitif akhir-akhir ini, seperti abg yang baru jatuh cinta saja," ucap Ikram.


Ellia berfikir, "memang dokter Ifraz terlihat sekali menyukai Nadin, hanya saja dia selalu memasang tembok tinggi yang hampir tidak ada orang yang bisa merobohkannya, mungkinkah dia bisa ?" batin Ellia menatap Nadin yang duduk tidak jauh darinya.


"Biarkan saja Nadin pergi, dia butuh seseorang," ucap Ellia lembut, bahkan setengah berbisik, Ellia tidak ingin menjatuhkan martabat suaminya ketika semua orang tau ia sedang mengoreksi keputusan yang baru saja di buat oleh suaminya.


"Nadin ajak Ifraz bicara dengan Ellia," ucapnya kemudian setelah cukup berfikir dan menimbang matang-matang.


"Aku ikut kakak ipar," ucap Iriana yang hendak beranjak pergi dari kursinya.


"Iriana di sini,"


"Ada apa ?" tanya Iriana.


"Masih kesal dengan keputusan yang abang buat ?"


"Bukan kesal abang, tapi tidak siap, tidak siap kalau nanti abang terluka atau ada terjadi hal buruk dengan kita," ucap Iriana.


"Apakah bisa ? apakah bisa Logan mendengarnya sekarang ?" tanya Iriana.


"Aku akan berusaha," ucapnya.


"Terserah abang saja, aku tidak ingin ikut campur lagi dalam hal ini," ucap Iriana yang juga ikut kembali naik ke atas.


Ikram menatap semua makananĀ  di meja yang hampir tidak tersentuh sama sekali, mereka bahkan belum ada yang makan, tapi sepertinya sedang tidak berselera.


"Hendak berubah pikiran ?" tanya Zelin,


"Tidak, lakukan saja yang kau inginkan, kalau ingin membawanya pergi, segera bawa pergi sebelum mereka semua membuat ulah, nanti dokter William yang akan menemani kalian," ucap Ikram lagi.


"Sudah siap tuan muda," ucap Andara yang langsung datang dengan beberapa berkas yang langsung di tandatangani Ikram tanpa berfikir,.


"Oke," ucap Ikram menyerahkan kembali dokumen itu pada Andara.


"Ah, akhirnya aku bisa bebas juga," ucap Ikram bernafas lega.


"Pakai helikopter yang besar saja, itu lebih nyaman di pakai di udara," ucap Ikram lagi.


"Makan dulu sebelum berangkat, mereka sudah tidak akan makan hari ini," tambah Ikram yang langsung mengambil tas kerjanya dan berangkat bersama Ginanjar.


"Dia terlalu misterius, jalan pikirannya tidak bisa di duga dan di prediksi," ucap Zelin.


***


"Iraz," panggil Nadin.


Ifraz masih diam di dalam kamarnya, tidak menyahut sama sekali, "kak, sudah biarkan saja, dia hanya sedang tidak ingin bertemu siapapun di saat begini," ucap Iriana.


"Kita tunggu saja sampai keluar," ucap Ellia.


"Kakak biarkan saja, aku masih harus membereskan goa dan membuat catatan medis karena Logan akan di pindahkan," ucap Nadin.


"Iya, urus saja dulu," ucap Ellia.


Kali ini hanya tinggal Ellia dan Iriana duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari pintu kamar ifraz.


"Kenapa dia memasang tembok setinggi itu untuk orang lain," ucap Ellia.


"Dia hanya tidak ingin kehilangan teman jika terjadi sesuatu yang terjadi di antara mereka nanti," ucap Iriana.


"Dia benar-benar mencintai Nadin," ucap Ellia lagi.


"Tentu saja kak, itu terlihat jelas sekali di wajahnya," ucap Iriana yang tengah menyalakan TV dan mencari sesuatu yang bagus untuk di tonton di sana.


Pintu terbuka.


"Membahas aku?"


"Terlalu percaya diri," ucap Iriana.


"Siapa yang membahas dokter Ifraz, kita membahas tentang temanku,"


"Siapa?"


"Temanku,"


"Siapa namanya kak?"


"Ifraz,"


"Kakak, aku bukan temanmu," ucapnya merajuk.


Ellia hanya tertawa, "kemari duduk, kenapa sudah siang masih belum berangkat ke rumah sakit?"


"Rumah sakit mana yang pemiliknya masih harus melakukan operasi, mereka hanya memintaku duduk dan tidak melakukan apapun, lebih baik aku di rumah bermain dengan Iriana," ucapnya mengambil sebuah remote game yang hendak ia mainkan bersama Iriana.


"Ya sudah, aku ada kelas pagi ini, aku berangkat dulu ya," ucap Ellia.


"Hati-hati kakak ipar, jangan sampai ada orang yang ingin berbuat jahat lagi, aku akan tau siapa dia dan membuat perhitungan," teriak Iriana.