Ellia's Husband

Ellia's Husband
Perdebatan H-2 pernikahan



"Nadin aku bertanya padamu, mau bersamaku tidak?" tanyanya sangat yakin.


"Sekarang bukan waktunya untuk ini Iraz, antar kan aku pulang," ucapnya yang meninggalkan Ifraz berdiri di sana, Nadin berlari ke dalam mobil, mengambil nafas berat menatap lekat wajah laki-laki yang terlihat sangat frustasi di depannya.


"Aaarghh," teriak Ifraz sangat berat, yang mana semakin membuat Nadin tidak menghentikan tangisnya.


Mereka menenangkan diri mereka masing-masing, hingga hampir dari satu jam akhirnya Ifraz masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengaman untuknya dan juga untuk Nadin sebelum kemudian kembali ke mansion dalam keheningan.


Ifraz melempar kunci mobil pada penjaga yang berjaga di depan pintu rumah, ini tidak seperti ia yang biasanya, "bawa kembali mobilnya ke garasi bawah tanah, aku tidak akan memakai nya dalam waktu beberapa bulan," ucapnya.


"Siap tuan muda kedua," ucap pelayan itu siaga.


Saat dua manusia itu masih tidak ingin berbicara satu sama lain, keduanya berjalan ke kamarnya, namun kamar yang di tempati Nadin adalah kamar Ifraz.


"Kenapa mengikuti ku sampai kesini ?" tanya Nadin.


"Ini kamarku," jawab Ifraz.


"Ini kamarku sekarang sampai besok," ucap Nadin lagi tidak mau kalah seperti biasa, Nadin bahkan langsung masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Ifraz yang masih berdiri di depan sana.


Namun bukan Ifraz namanya jika ia mudah menyerah, laki-laki itu juga langsung masuk ke dalam kamar bersama Nadin, "Ya Tuhan Iraz, kenapa kau datang kemari, ada apa lagi ?" tanyanya frustasi, dia sedang ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu sekarang.


"Aku ingin tidur di kamarku," ucapnya yang langsung berbaring di ranjang kamarnya dengan Nadin yang masih ada di sana.


"Iraz, berhenti bermain-main dan kembali ke kamarmu," ucap Nadin yang lebih pelan.


"Dulu kita juga  berada di dalam satu kamar yang sama, di ranjang yang sama bahkan dengan satu selimut yang sama, kenapa baru sekarang berteriak padaku begini ? kenapa dulu tidak keberatan?" ucap Ifraz memejamkan matanya.


Nadin melihat laki-laki yang sudah berada di atas ranjang yang sama dengannya, tubuhnya juga sama lelahnya, padahal ini bukan jam tidur siang, tapi otaknya seperti meminta dia untuk tidur, benar-benar mengantuk.


"Dulu karena ku pikir rasa kita tidak sama, karena itu aku percaya sekalipun aku menggoda mu berkali-kali kamu akan tetap menjagaku dengan baik dan tidak akan goyah, tapi aku sekarang aku menjadi takut," ucapnya yang langsung menutup tubuhnya dengan selimut sebelum kemudian terpejam.


***


Ikram sudah berada dalam perjalanan pulang, ia cukup resah karena tidak mendapatkan kabar baik, masalah menikah dan cinta, ia benar-benar tidak bisa menggunakan kekuasaannya, ia tidak bisa melakukan sesuatu semaunya, ada banyak orang yang harus ia jaga perasaanya.


"Mas Ikram, tau calon suami Nadin tidak ?" tanya Ellia.


"Iya, dia dosen di kampusmu," ucapnya pada Ellia.


"Hah ? dunia ini sempit sekali mas Ikram ? siapa orangnya ? siapa dosen muda yang ada di kampus ya ? mengajar di fakultas apa ?" tanya Ellia lagi.


"Mikrobiologi Medik," jelas IKram.


Ellia berfikir, "Mikrobiologi Medik ? Mikrobiologi Medik ?" gumamnya berulang-ulang.


"Kau jurusan sejarah, bagaimana bisa tau Mikrobiologi Medik," ucap Ikram menyentil pelan dahi Ellia.


"Ada seseorang yang menyukai juga di sana mas,"


"Mahasiswa ? semester berapa ?" tanya Ikram mulai penasaran.


"Dosen mata kuliah Biomedis Veteriner kalau nggak salah, tapi lupa namanya," ucapnya berpura-pura.


"Hey, kau pikir aku bodoh ?"


"Hah ?"


"Kau hafal mata kuliah Biomedis Veteriner dengan otak ini, tapi bagaimana bisa lupa siapa nama dosennya, nama mata kuliahnya bahkan tidak pasaran, tapi mahasiswa sejarah bisa fasih menyebutnya," ucap Ikram tidak suka.


"Aku benar-benar lupa mas Ikram," ucapnya bohong, khawatir suaminya ini cemburu dan melakukan hal buruk, mereka satu kampus, ini sangat berbahaya pikir Ellia.


"Siapa namanya ?" tanya Ikram lagi.


Bibir Ellia maju ke depan, "Alvin, Alvin Gail," ucap Ellia.


"Nyonya, silahkan lihat ini, saya tadi tidak sengaja melihat dan mengambilnya di rumah nona Nadin," ucap Nando memberikan sebuah undangan kepada Ellia.


"Oh, undangan Nadin, aku tadi juga sudah punya," ucapnya yang langsung mengambil undangan itu dari tasnya.


"Benarkah dengan dia mas Ikram ?" tanya Ellia tidak percaya.


"Cemburu karena dia akan menikah dengan Nadin, kau jadi tidak memiliki penggemar dosen setelah ini," ucap Ikram mulai menunjukkan tanda-tanda tidak suka.


"Ya Tuhan paman, apa dia memang selalu seperti ini, kami bahkan tidak pernah berhubungan, mana mungkin cemburu,"


"Kau sampai hafal mata kuliah yang dia ajar dengan kalimat yang sesulit itu, tapi tidak pernah bisa menghafal pelajaran di mata kuliah ku," ucapnya tidak terima.


"Mas Ikram, itu tidak sengaja, saat itu kan aku masih bersama dengan Yuda, tidak bersama mas Ikram, di sukai dosen kan memang sebuah prestasi tersendiri," jawabnya sesuai kenyataan.


"Wah paman, rasanya aku semakin tidak menyukai laki-laki itu, sangat tepat untuk menyingkirkannya, rasanya ada lahar panas hendak keluar dari atas kepalaku," ucapnya memberi kiasan.


"Ayo, paman akan berada tepat di belakang mu nanti,"


"Kenapa di belakangku ?"


"Kau kan tau paman tidak bisa bertarung dan bela diri, tentu saja akan kalah, maka berlindung di belakangmu adalah pilihan yang tepat," ucap Ginanjar.


Nando hanya tersenyum gemas dengan tuan dan nyonya yang dia layani, "tuan, anda lebih cocok menjadi tuan muda yang ceria dan cool saja, peran ini tidak cocok untuk anda, saya geli mendengarnya," ucap Nando dalam hati.


"Jadi bagaimana ?" tanya Ellia.


"Sejak kapan dia menyukaimu ?"


"Sejak dua tahun yang lalu, tapi dia sudah memiliki pacar, sudah cukup lama bergonta-ganti pasangan, tapi mas Ikram , apa dosen memang memiliki gaji yang besar ? semua yang dia pakai sangat mewah," ucap Ellia.


"Tentu saja tidak, bahkan tidak cukup untuk uang saku Iriana satu hari,"


"Ah sudahlah, aku tidak mau peduli tentangnya," ucap Ellia yang lebih memilik tidur seperti Ginanjar.


"Selamat tidur El,"


"Selamat tidur paman," ucapnya senang.


Setelah menghabiskan banyak sekali waktu di perjalanan, akhirnya mereka sampai di mansion, Ikram menggendong Ellia dan memindahkannya ke dalam kamar, bukan bersih-bersih seperti biasanya, ia langsung bergegas mencari Ifraz di manapun, mulai kamar Ginanjar, laboratorium bahkan hampir mengecek seluruh ruangan namun Ifraz sama sekali tidak ada di manapun.


"Dimana Ifraz ?" tanyanya pada seorang pelayan.


"Belum keluar dari dalam kamarnya sejak tadi tuan muda,"


"Kamar yang mana ? aku sudah mencarinya kemana pun,"


"kamar tuan muda kedua,"


"Nadin ?"


"Di kamar yang sama tuan muda,"


"Sejak kapan ?"


"Mereka berdua seperti sedang bertengkar tuan muda, belian datang langsung masuk ke dalam kamar meskipun sedikit terjadi perdebatan sebelumnya,"


"Oke, tolong panggil Iriana ke kamarku,"


"Siap tuan muda,"


"Jangan lupa Snack nya ya," teriak Ikram tidak melupakan makanan favoritnya itu


***


Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.


Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.


Selamat membaca.