Ellia's Husband

Ellia's Husband
Failed



Ellia sudah bergegas untuk segera sampai di kampus dengan cepat, ia bahkan melewatkan sarapan, dengan mata panda dan bengkak ia berjalan cepat menuju kampus dengan harapan bisa bertemu dengan Ikram di pertemuan mata kuliahnya hari ini.


"Ellia," panggil Vania dan Rara bersamaan di sebuah taman.


Sungguh keduanya tercengang dengan penampilan sahabatnya yang satu ini, "kenapa mata lu jadi kayak panda kedinginan kek gitu hah ?" tanya Rara khawatir.


"Lu ada masalah El ?" tambah Vania.


"Gua lagi nggak pengen cerita sekarang, nanti kalo perasaan gua udah membaik, gua janji kalian orang pertama yang akan tau," jawab Ellia dengan senyum yang sangat jelas sekali di paksakan.


"Oke, oke," jawab keduanya bersamaan tanpa di komando.


"Lu udah sarapan belom ?" tanya Rara yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Ellia.


"Oke sama, gua juga belum makan, udah kepengen cepat ketemu prof Ikram sih, haha,"


"Kira-kira siapa ya yang bakal jadi istrinya nanti, pasti beruntung banget dapet paket lengkap kayak prof Ikram," tambah Rara.


"Haduh bocah, jangan banyak menghayal ibu, nanti kalo jatuh masuk kandang ayam sakit," sahut Vania.


"Lu liat jam nya kan, itu jam mahal yang hanya bisa di desain khusus untuk satu orang, harganya selangit bu," ucap Rara tanpa henti yang mana membuat hati Ellia kian meringis.


"Benarkah," tanya Vania.


"Iya gua yakin banget soalnya abang gua pengen jam yang kek gitu tapi nggak kuat cicilannya, dan jamnya sama persis kayak yang di pakai pak Ikram," tambah Rara dengan sangat yakin.


"Aku istrinya, dia memberi semua yang ia miliki untukku, aku yang tidak bersyukur memilikinya sebagai suamiku," batin Ellia dengan sebuah senyum masam.


"Udah ayok ke kantin, gua udah lapar banget," tambah Vania.


"Ayok ayok, El ayo come on," ajaknya yang menggandeng Ellia dan mengapitnya di tengah-tengah.


Cukup lama ia berbincang di kantin karena kelas yang pertama sudah di liburkan, kali ini mereka semua sudah berada di kelas untuk mata kuliah yang di ajar oleh Ikram, Ellia yang teringat dengan ucapan Ikram kepada Ifraz yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang pertama yang tidak berusaha duduk di depan ketika dia mengajar. akhirnya Ellia memutuskan untuk duduk di bangku paling depan, tentunya dengan Vania dan Rara di sampingnya.


Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 tepat yang artinya kelas ini sudah harus di mulai namun Ikram tetap tidak kunjung datang, beberapa mahasiswa mulai resah karena dosen pujaan hati mereka kembali tidak datang untuk mengajar.


Namun keresahan itu hilang karena sebuah layar besar di kelas ini tiba-tiba menyala secara otomatis dan memunculkan wajah Ikram di sana, "Selamat siang semua ? bagaimana kabar kalian hari ini," sapa Ikram.


"Profesor," teriak semua orang yang sudah rindu dengan sosok tampan yang sudah lama tidak mereka lihat.


"Saya minta maaf harus mengajar menggunakan ini, saya masih berada di luar kota untuk sekarang, sehingga pertemuan kita kali ini bisa di lakukan tanpa tatap muka," jelas Ikram dengan wajah dan penampilan yang memukau seperti biasa, meskipun ada sedikit luka di pipi sebelah kanan tepat di bawah mata dan di dahi sebelah kiri.


"Iya prof,"


"Jangan ada yang tidur atau tidak memperhatikan, karena saya juga bisa melihat kalian semua di sana, mengerti,"


"Mengerti prof," jawab mereka semua serentak.


"Dia masih tampan seperti biasanya, tapi kenapa kemejanya berantakan seperti itu, apakah dia tidak menyetrika kemejanya ? dan wajah itu ? kenapa dia terluka ? mas Ikram ada di mana ? kenapa sampai terluka seperti itu," batin Ellia sedih, ia gagal lagi untuk bertemu Ikram, namun yang lebih mengusik perhatiannya adalah bagaimana Ikram bisa terluka, sehari sebelumnya Ikram masih utuh tanpa ada goresan sedikitpun.


Kelas berlangsung kurang lebih satu jam, "baik, sampai sini ada yang ingin bertanya ?" tanya Ikram lagi.


Salah seorang mahasiswa mengangkat tangan nya, "Profesor kenapa anda terluka ?" tanya salah seorang mahasiswa yang juga fans berat Ikram.


"Yang lain ?"


"Hu," teriak yang lain.


"Yang lain ?" ucap Ikram lagi.


"Bagaimana kabar anda ?" ucap Ellia.


Ekspresi wajah itu masih tersenyum seperti biasa, namun tatapannya tetap tak lepas dari layar dan mengamati wajah Ellia dengan mata panda, "oke karena tidak ada pertanyaan yang sesuai dengan materi pembelajaran kita hari ini, maka perkuliahan kali ini kita akhiri sampai di sini," belum sempat Ikram melanjutkan ucapan penutupnya, Zelin datang dan memberikan makanan tepat di depan Ikram, "Ikram makan dulu dan minum obatmu," ucapnya.


"Bisa permisi sebentar, kau menggangu pertemuan di jam perkuliahan ku," ucap Ikram meminta Zelin pergi dengan lembut.


"Ah sorry sorry, ku pikir kau sudah selesai tadi," ucap Zelin yang segera keluar dari kamar tempat Ikram berada saat ini.


Bisik-bisik di antara semua orang kian riuh, semua bertanya dan mempertanyakan siapa gadis itu, "mas Ikram bersama siapa ?" tanya Ellia dalam hati.


"Profesor, siapa perempuan itu tadi ? bagaimana anda bisa bersamanya ? profesor ? profesor ?"


"Baik, kelas kita akhiri, sampai jumpa di kelas berikutnya," ucapnya begitu saja dan diakhiri dengan matinya layar yang ada di depan kelas itu.


"Wah... siapa perempuan itu?"


"Kenapa bisa ada perempuan di rumah prof Ikram, apa dia sudah menikah?" tanya yang lain.


Ellia masih menatap nanar layar yang sudah gelap di depannya, "Aku akan mencari mas Ikram di mansion," ucap Ellia dalam hati.


"Rara bisa tolong izinkan aku untuk kelas nanti sore, aku harus mengerjakan sesuatu," ucapnya memohon.


"Baiklah hati-hati,"


Gadis ini berlari terburu-buru menuju pintu, namun sebuah tangan mencegahnya, "aku akan mengantarmu," ucap Yuda.


"Aku akan pergi sendiri Yuda," ucapnya.


"Lihatlah kondisi mu, dia menelfon ku dan mengatakan bahwa menjagamu kini berada di pundak ku, tolong mengertilah," ucap Yuda.


"Aku tau, tapi sekarang aku sedang ingin sendiri," tambah Ellia yang melepaskan lengannya dari tangan Ikram dan bergerak keluar.


Gadis ini pergi ke hutan dimana mansion Ikram berada, tak tak juga menemukan dimana pintu gerbang nya, "dimana tempatnya? kenapa masih belum ketemu? aku yakin ada di sini," gumamnya.


Ellia mencari dan menyusuri hutan yang berada di tengah kota, seorang diri bahkan tanpa pengaman, tapi selama berhari-hari ia juga tak kunjung menemukan pintunya.


Berangkat pagi buta hingga matahari hampir terbenam, kakinya bahkan sudah penuh luka karena terkena akar dan batang pohon, bahkan sesekali terjatuh karena tersandung sesuatu yang ia tidak lihat.


Ellia tidak menyerah, ia mulai datang dengan sebuah tangga dan melihat di atas pohon, ia masih terus berusaha sekalipun Ikram sudah tidak ingin bertemu dengannya.


"Iraz?" panggil salah seorang gadis yang sejak tadi mengamati pergerakan Ellia di atas pohon.


"Hah, kenapa?"


"Aku mengamatinya, dia berada di sekitar hutan ini selama berhari-hari, apa yang dia cari?"


"Siapa?"


TO BE CONTINUED