Ellia's Husband

Ellia's Husband
Welcome to home



Hari ini Ikram membawa Ellia kembali ke mansion, tentu setelah perdebatan panjang dengan Ifraz yang cukup menguras banyak tenaga dan pikiran, Ifraz malas jika harus mengurus pekerjaan di rumah, ini akan menyulitkan pikirnya, terlebih dengan sikap Ikram yang ia faham betul pasti sangat protektif.


Karena cukup kesal, Ifraz akhirnya meminta beberapa orang di rumah sakit untuk berpindah tugas di Mansion nya, tidak hanya itu, semua peralatan yang dibutuhkan Ellia untuk pemeriksaan juga sudah berada di mansion nya.


"Welcome to home Ellia," ucap Ikram.


"Aku mencari mansion ini hingga terjatuh dari pohon, ternyata pintu gerbangnya ada di tempat yang paling tidak ada pohon, kenapa aku mencari di tempat yang ramai dan banyak semak belukar," ucapnya.


"Itu insting manusia, Iriana yang membuat semua ini, seperti tidak ada bukan?" tanyanya yang di akui Ellia memang benar.


Bahkan jalanan menuju mansion bisa tertutup sempurna dan tidak terlihat sama sekali, semua tersamarkan dengan baik.


"Tapi bagaimana caranya tidak terlihat,"


"Semua ini hanya ada di kepala Iriana," jawab Ikram.


Perjalanan mereka kali ini memakai dua mobil yang berbeda, Ifraz dan Iriana memilih mengendarai mobil berdua, dan Ikram bersama dengan Ikram dengan Ginanjar dan Nando.


Ikram heran ketika mansion nya sudah ada beberapa orang dengan pakaian serba hitam berdiri di depan rumahnya, "mas siapa mereka?" tangan Ellia.


"Astaga, siapa yang mengirim mereka kesini tanpa izinku," ucapnya menggantung.


"Aku akan mengeluarkan kamu dulu," ucapnya begitu mobil berhenti.


"Selamat datang bos," ucap mereka semua serentak yang cukup mengagetkan Ellia, gadis ini tidak melepaskan tangan Ikram sama sekali.


Tubuh kekar dan tinggi laki-laki di depannya dalam jumlah banyak cukup mengagetkannya, "kenapa datang? aku tidak meminta kalian datang," ucapnya.


Kini Ifraz dan Iriana juga bergabung bersama mereka, beberapa ambulan yang mengangkut semua peralatan juga sudah berada di sana, mereka bersama Ginanjar masuk ke dalam mansion dan mengikuti semua arahan yang di berikan pada Ginanjar.


"Zelin meminta kami datang untuk menjaga mansion ini dan seluruh area hutan bos,"


"Aish, aku bisa menjaganya sendiri, kembali saja ke benteng, mereka akan membutuhkan banyak sekali orang, terlebih setelah kematian Hassel,"


"Tidak bos, kami akan tetap di sini, ini perintah,"


"Heh, apa ucapan ku juga bukan perintah? aku ketuanya,"


"Justru itu, setelah kami kehilangan ketua kami, kami tidak ingin kehilangan ketua lagi," jelasnya.


"Abang sudah lah, mereka akan sangat membantuku, mereka seperti mainan baru," ucap Iriana senang berbisik pada Ikram.


Ellia hanya bingung mendengar percakapan semua orang di tempat ini, ia tidak faham sama sekali.


"Baiklah, semua atas komandonya, dia Iriana adikku, yang mengatur semua formasi dan jebakan di area ini adalah dia, jadi jika ingin membantu, maka bantu dia,"


"Siap bos,"


"Baiklah, aku akan masuk dulu," ucap Ikram membawa Ellia dengan sebuah kursi roda.


"Hari ini kita libur dulu karena kakak ipar masih sakit, besok kita mulai evakuasi lapangan oke," ucapnya semangat.


"Evaluasi lapangan apa, udah ayok," ucapnya yang dengan segera menarik tangan adiknya ini.


"Iraz, aku kan bilang kakiku tidak sepanjang milikmu, tidak bisakah membawaku dengan pelan ?" teriaknya.


Namun Ifraz tetap tidak menghiraukannya, ia bergegas masuk ke dalam kamar Ikram yang sudah di sulap seperti rumah sakit dengan kamar VIP, tentunya ini lebih bagus.


Ikram membantu Ellia agar berbaring di ranjang, "pelan-pelan, semua tubuhmu pasti masih terasa sakit," tambahnya.


"Aku akan memeriksanya dulu," ucapan Ifraz.


Laki-laki ini dengan lembut dan hati-hati memeriksa Ellia, ia memanggil salah seorang perawat yang ia minta untuk datang.


"Semua sesuai petunjuk yang sudah ku jelaskan tadi," tambahnya.


"Bagaimana?" tanya Ikram.


"Masih harus istirahat, jangan melakukan hubungan itu sementara, dia baru saja kehilangan bayi," ucap Ifraz masih kesal.


Peletak.


"Abang,"


"Sampai kapan kesal padaku? aku salah apa memangnya,"


"Cih, pakai nanya salah apa?" ketusnya keluar begitu saja dari kamar Ikram.


"Selamat beristirahat kakak ipar, aku kembali ke kamar ku dulu," ucapnya yang langsung berlari mengejar Ifraz dengan berteriak.


"Iraz, Iraz, Iraz tunggu aku," teriaknya.


"Kalian bisa keluar," ucap Ikram pada perawat itu.


"Aku selalu meninggalkan mereka berdua sejak kecil untuk mencari uang, jadi mau tidak mau mereka hanya berdua dan saling membatu di rumah,"


"Oh,"


"Sudah tidurlah dulu, istirahat dengan baik dan segera pulih, pak Ginanjar akan mengurus masalah perkuliahan mu," ucapnya.


"Temenin," ucapnya yang tidak ingin di tinggal Ikram lagi.


"Tumben,"


"Aku sudah bersusah payah mencari mas Ikram, aku nggak ingin di tinggal lagi, kesini, naik kesini dan temani aku tidur, aku sudah lama tidak mendengar cerita mas Ikram,"


Ikram hanya tersenyum dan naik ke atas ranjang, "sudah ?" ucapnya yang sudah berada di atas ranjang.


"Hu uhm,"


"Uhm Ellia, waktu itu kenapa wajahmu sampai kusut begitu di hari pertama aku mengajar setalah perpisahan kita,"


"Enggak, mana ada kusut, aku senang kok,"


"Aish, sudah ketahuan masih saja berbohong,"


"Aku memang tidak apa-apa, kenapa memangnya ?"


"Ye, apa aku harus berhubungan dengan orang lain dulu agar kau bisa memastikan perasaan labil mu itu,"


"Hey, jangan nakal, lagi pula kenapa mas Ikram membawa semua barang tanpa tertinggal satupun tapi meninggalkanmu, kenapa aku nggak di bawa juga, masih berani mencari perempuan lain," ucapnya kesal teringat ketika seorang wanita muncul di kamera Ikram.


Bibir Ellia mengerucut sempurna, ia sangat membenci hari itu, alasan ia mencari Ikram mati-matian karena ia sangat cemburu, ia menjadi khawatir ketika Ikram bersama wanita lain selain dirinya, itu membuatnya merasa tidak tenang dan jauh dari rasa nyaman.


Yuda juga cukup terkenal di kalangan wanita, tapi ia tidak pernah merasakan ini, ini berbeda dengan apa yang ia rasakan dulu.


"Perempuan yang mana, aku tidak pernah mencari perempuan, semua perempuan itu selalu datang padaku begitu saja,"


"Mas," panggil Ellia ingin menatap Ikram yang berada di sampingnya, namun lehernya sangat sakit jika di gerakkan.


"Jangan bergerak dulu,"


"Aku ingin melihat mas Ikram," tambahnya.


"Apa apa ? ingin bertanya apa sampai harus melihatku ?"


"Siapa wanita yang saat itu muncul di kamera mas Ikram ?" tanyanya spontan.


"Zelin,"


"Aku tidak tau namanya,"


"Aku tau kau tidak tau namanya, karena itu kuberi tau, dia Zelin,"


"Lalu kenapa bersamanya ?" tanyanya lagi.


"Karena dia membutuhkanku," jelasnya.


"Ah, mas Ikram," ucap Ellia semakin cemburu.


"Tunggu, tapi kenapa dia sampai memberi makan dan obat,"


"Karena aku terluka Ellia," ucapnya yang kini tengah duduk dan membuka jas serta kemeja yang ia pakai, "lihat, lihatlah tubuhku," ucapnya yang tengah membuka satu persatu kancing bajunya.


Terlihat cukup banyak sayatan di seluruh tubuh itu, ini lebih banyak dari semua luka di tubuhnya, "aku hanya di tangan dan kaki namun sangat pedih sekali, lalu mas Ikram bagaimana mas Ikram tidur dengan semua luka itu,"


"Ini sudah biasa, ini hampir sembuh,"


"Apanya yang hampir sembuh, lukanya bahkan masih berdarah,"


"Benarkah ? mungkin terbuka ketika aku menggendong mu tadi," ucapnya dengan nada bicara santai.


"Ya Tuhan,"ucap Ellia tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan suaminya, dengan segera Ellia segera memanggil Ifraz dengan sebuah tombol di samping tempat tidurnya.


Tanpa lama, sepaket kakak beradik itu datang bersamaan, " ada apa kakak ipar ?" tanya Ifraz.


"Lihatlah semua luka di tubuhnya, ini sudah hampir dua minggu tapi lukanya masih berdarah," ucapnya menatap Ikram yang baru saja turun dari tempat tidur.


"Benarkah sampai terbuka ?" ucap Ikram tidak percaya dan melihat tubuhnya di cermin.


"Ah ah ah ah ah," rintihnya berteriak sakit.


TO BE CONTINUE