Ellia's Husband

Ellia's Husband
Perselisihan dengan Ifraz



Ellia baru saja selesai mandi, gadis ini sedikit menata rambutnya kemudian melepaskan seprai yang sudah tidak karuan bentuknya, kamar ini masih dipenuhi oleh aroma Ikram, bau parfum mahal itu benar-benar tidak bisa hilang.


Setelah selesai Ellia membawa seprai itu keluar untuk memasukkannya di keranjang pencucian, "itu apa kakak ipar?" tanya Ifraz meskipun sudah tau itu apa.


"Sate," jawab Ellia asal, sudah tau bawa seprai malah nanya.


"Perasaan kakak sama abang baru pindah ke sini kemaren kok udah ganti aja nih," ucap Ifraz.


Peletak


Sebuah sentilan mendarat sekali lagi dengan sempurna di dahi Ifraz, kali ini Ikram mengerahkan tenaganya lebih keras dari pada sebelumnya.


"Ah, abang,"ucapnya.


Ellia yang melihat kelakuan kakak beradik itu hanya terkekeh dan tetap melanjutkan pekerjaannya, setelah menaruh seprai itu, Ellia melihat beberapa makanan yang sudah siap di atas meja.


"Hanya perlu di makan ini mah," ucapnya dalam hati.


"Mas Ikram mau makan sekarang kah?" tanya Ellia.


"Aku juga kakak ipar," sahut Ifraz.


"Dia hanya menawari ku, cepat pulang saja Ifraz,"


"Nggak,"


"Ifraz,"


"Kalo abang tetap maksa, ntar Iriana dateng gua nggak akan bantu, serah tuh si Iriana mau ngapain abang,"


"Ya elah, gitu aja ngambek sih,"


Ellia yang tengah menyiapkan makanan di sebuah meja masih mendengar ucapan kedua saudara yang saat ini berada di sofa ruang tengah, ruangan tengah dan dapur tidak terlalu jauh bahkan tidak ada dinding penyekat sehingga masih bisa terlihat oleh Ellia, percakapan mereka berdua sangat menarik untuk di dengar, Ellia sangat suka mendengar tingkah manja Ifraz pada suaminya Ikram, dia seperti bayi yang merengek pada ayahnya akan sesuatu, sangat lucu dilihat dari usia Ifraz, terlebih pekerjaannya sebagai dokter.


"Abang, bagaimana abang akan menyuapiku dengan tangan melepuh itu," ucapnya menunjuk pada tangan Ikram yang memerah dan mulai menggelembung.


"Makan sendiri," jawab Ikram ketus.


"Nggak mau," ucap Ifraz dengan mode manja.


"Kau tidak malu dengan kakak ipar mu jika bersikap manja seperti ini," bisik Ikram tepat di telinga Ifraz agar tidak terdengar oleh Ellia.


Ifraz menggeleng dengan yakin, "tidak, kenapa aku harus malu, dia sudah ku anggap seperti ibu," ucapnya yang menyisakan ekspresi aneh di wajah IKram kakaknya.


"Sosok ibu itu bukan Ellia," batin IKram mengingat perjanjian satu minggunya dengan Ellia.


"Pulang Ifraz, pulang," usir Ikram yang terlampau kesal dengan sikap adiknya ini.


Jika sudah bersama Ikram, baik Ifraz atau Iriana pasti tidak akan bisa lepas darinya, ia akan selalu berada di sekeliling Ikram dan menanyakan banyak sekali hal yang tidak penting, apalagi jika tentang makan, keduanya tidak akan makan jika Ikram tidak menyiapkan makanan itu di hadapan mereka berdua.


"Sebaiknya kau menemukan seorang kekasih Ifraz, harus ada orang yang bisa mengendalikan sikap manja mu itu, aku tidak tau hidup sampai seberapa lama, tidak ada jaminan aku bisa bersama kalian selamanya," ucap Ikram memberi petuah yang cukup menyakitkan untuk di dengar oleh Ifraz.


"Ayo makan dulu, makanan sudah siap, Ifraz ayo ikut juga," ajak Ellia.


"Tidak perlu mengajaknya, ia harus di latih agar bisa mandiri," jawab Ikram.


"Aish," ucap Ifraz yang tetap mengikuti Ikram dan Ellia dari belakang.


Ikram berada di sisi Ellia dan Ifraz di hadapannya, Ikram beberapa kali melihat tangannya dan menatap cukup lama tangan yang memerah itu, ia mencoba mengambil piring namun tangannya di cegah oleh Ellia, "aku yang akan menyuapi mas Ikram, sudah diam saja," ucapnya.


Ikram hanya berkedip bingung harus melakukan apa, Ellia dengan telaten mengambilkan makanan untuk Ifraz terlebih dulu, "dokter Ifraz ingin makan apa ? ini bukan aku yang memasak jadi aku tidak tau bagaimana rasanya,"


"Aku ingin makanan seperti abang saja," jawabnya.


"Mas Ikram mau apa ?"


"Lobster saja," ucapnya.


"Oke aku juga lobster kakak ipar,"


Ellia menempatkan piring yang sudah berisi lobster itu tepat di depan Ifraz, kemudian mengambil satu piring lagi untuk dirinya dan Ikram, gadis ini dengan telaten menyuapi Ikram dengan kedua tangannya sendiri, namun Ikram tidak kunjung membuka mulutnya ketika Ellia memberikan makanan, Ikram hanya melihat Ifraz yang juga tengah menatapnya, "Ifraz bisa makan sendiri tidak ?" tanya Ikram, laki-laki ini meskipun kasar ucapannya jika dengan Ifraz, tapi dia sangat menyayanginya.


"Bisa abang, abang makan lah juga," ucapnya.


Ifraz masih melihat pemandangan asing di depannya, "abang nggak pernah mau jika kami berdua bergantian ingin menyuapinya makan, dia selalu berusaha kuat di depan kami berdua apapun keadaan yang dia alami, hari ini ada orang lain yang dengan senang hati menyuapinya dan abang terlihat senang," batin Ifraz senang, laki-laki ini diam-diam mengambil gambar abangnya dengan kamera ponsel kemudian mengirimnya pada Iriana.


"Jangan khawatir adik abang yang cantik, sudah ada yang jaga bang Ikram di sini, kita hanya nggak perlu mengusik abang sementara, balik kerja nggak usah terbang ke sini," send.


Ifraz masih terus makan dengan lahap sembari menatap Ikram dan Ellia di depannya, "kakak ipar, milikku sudah habis, bisa tolong ambilkan aku susu, bang Ikram membiasakan aku minum susu di pagi hari," ucapnya dengan mulut penuh.


Ellia menatap Ikram, "pantas saja tadi aku juga di beri minum susu,"


"Itu baik untuk pertumbuhan gigi dan tulang," ucap Ikram yang mengundang gelak tawa Ellia.


"Ha ha ha ha ha ha," tawanya.


"Kenapa tertawa ?" tanya Ikram heran.


"Hehe nggak papa mas, tapi dokter Ifraz sudah besar, kenapa anda masih memberinya susu di pagi hari," ucap Ellia yang masih tidak bisa berhenti tertawa.


"Aku dan Iriana menyukainya," sela Ifraz.


"Hah ?"


"Aku tau bagaimana dulu abang berusaha mati-matian mencari uang untuk memberikan susu untukku dan Iriana agar kami sehat dan penuh nutrisi, itu bukan hanya sekedar susu kakak ipar, ada banyak sekali kasih sayang di dalamnya, kakak ipar tidak akan faham," ucap Ifraz sedikit sengit, tidak suka dengan apa yang baru saja di ucapkan Ellia.


Ikram tersedak, ia terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh adiknya, Ellia juga tertegun mendengar apa yang baru saja ia dengar, "aku minta maaf, aku akan membuatkannya," ucap Ellia yang sudah bangkit dari duduknya.


"Aku akan membuat sendiri saja kakak ipar," ucap Ifraz mulai tidak nyaman.


"Duduk Ifraz, abang yang buat," ucapnya.


"Mas tangannya,"


"Aku bisa Ellia," ucap Ikram seolah tidak ingin di bantah.


TO BE CONTINUED