Ellia's Husband

Ellia's Husband
Pukulan Terhebat



"Kau bocah sialan," teriak Maheza yang semakin menarik paksa Ellia dari Iriana.


"Ellia, Ellia, " teriaknya penuh air mata begitu melihat Ellia di seret paksa dengan kaki penuh luka.


Gadis itu merintih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, setidaknya Iriana sudah memakaikan penyangga di kakinya agar tidak bisa bergerak sehingga meminimalisir pergerakan kakinya yang terluka, namun melihat bagaimana Ellia di tarik paksa justru membuat luka di tubuh Ellia yang lain.


Iriana masih berlari dengan sekuat tenaga mengejar orang-orang yang sudah membawa kakak iparnya, "Iraz, Iraz, Iraaazzzzz," teriaknya kesal karena abangnya tidak kunjung datang.


Dor dor dor dor dor dor.


Suara tembakan demi tembakan menggema di seluruh hutan, beberapa orang berjatuhan begitu peluru melesat masuk ke dalam tubuhnya, langkah kaki Iriana berhenti melihat Ifraz, Ginanjar dan beberapa orang lain yang sudah rapi menggunakan setelah jas berwarna hitam terlihat di depannya menghadang langkah kaki orang-orang Maheza.


"Aku sudah bilang dia milik tuanku," ucap Ginanjar yang terlihat marah besar dengan apa yang ia lihat, sudah lama tidak ada yang melakukan ini di daerah kekuasaannya, kini hutan buatan karyanya di obrak-abrik oleh orang luar dan menyakiti salah satu orang yang ia harus lindungi.


Maheza terlihat cukup takut begitu semua orang yang ia bawa berjatuhan ke tanah, Maheza berlari mundur, menjauh dari semua orang yang tengah menodongkan pistol padanya, "pergi, pergi sampai kau tau siapa malaikat yang akan mencabut nyawamu, bersembunyi jika bisa, waktumu tidak akan lebih dari satu hari," teriak Ginanjar lantang penuh penekanan.


Iriana segera berlari mendekati Ellia yang di jatuhkan ke tanah, "kakak ipar, kakak ipar," panggilnya khawatir.


Tak hanya Iriana, Ifraz kini juga berlari mendekat melihat seberapa parah lukanya, "Iraz kenapa tidak cepat datang, aku sudah memberimu kode sejak awal," teriaknya marah dengan air mata beberapa kali terjadi menatap Ellia.


"Bagaimana ini ? tubuhnya penuh luka," ucap Iriana menatap getir tidak berani menyentuh tubuh Ellia.


"Kakak ipar ?" gumam Ellia sebelum ia tidak sadarkan diri.


***


Ikram dengan rute tercepat kembali ke mansion, tapi cuaca buruk membuatnya harus menempuh jalan lebih jauh, ia melihat dari semua CCTV hutan yang sebelumnya ia pasang, ia melihat semua hal yang terjadi sejak awal, sejak Ellia terjatuh dari pohon dan Iriana menolongnya, wajah itu sudah berbeda, sangat berbeda dengan ekspresi yang biasa ia tunjukkan.


"Bisakah lebih cepat ?" tanyanya.


"Cuaca sedang buruk bos, di depan hujan lebat, akan sangat berbahaya jika kita memaksa melintasi jalur ini," tambah pengemudi itu yang semakin membuat Ikram kesal bukan main.


***


Rumah Sakit


Vania dan Rara sudah mengetahui Bagaimana keseluruhan cerita Ellia, beberapa hari yang lalu Ellia memberitahunya apa yang terjadi termasuk hubungan dengan Yuda, hari ini Ifraz meminta langsung pada Nando agar memanggil teman Ellia, agar gadis ini tidak merasa sedih dan semakin terpuruk.


"Kondisi psikis dan mental Ellia juga harus di jaga, dia harus lebih dulu merasa aman sekarang, jika nanti bang Ikram marah karena keputusanku, aku yang akan bertanggung jawab paman, ini adalah diagnosa ku sebagai dokter," ucap Ifraz pada Ginanjar saat itu.


Karena pertimbangan ini akhirnya diputuskan menghubungi Rara dan Vania sebagai orang terdekat Ellia saat ini.


Kedua gadis remaja itu berlarian di lorong rumah sakit, mencari ruangan Ellia, keduanya segera meninggalkan kelas begitu tau apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya, Ifraz di bantu oleh Iriana sudah menceritakan apa yang terjadi dan meminta mereka untuk tetap membuat Ellia merasa aman.


Ifraz dengan kemejanya yang penuh darah dan baju Iriana yang sudah banyak sekali bekas tanah cukup membuat Vania dan Rara tau bahwa keduanya adalah orang yang menghubungi mereka, "Kalian,"


"Terimakasih sudah menghubungi kami dan menyelamatkan Ellia," ucap Vania yang langsung segera masuk melihat keadaan Ellia.


Rara berhenti di ambang pintu melihat Ellia yang tidak berhenti menangis, terlebih semua luka di tubuhnya, kaki bagian kiri yang sudah terpasang gips, dan lecet parah di kaki sebelah kanan, belum lagi wajahnya, wajah itu sudah membiru di banyak bagian.


"Ellia," panggil Rara.


Ellia tidak bisa menggerakkan lehernya, lehernya cukup sakit jika di gerakkan, Rara dan Vania segera mendekati Ellia, "Ellia jangan menangis, jangan menangis, semua akan baik-baik aja, kita ada di sini, adik ipar lu udah jamin keselamatan lu," ucap Vania yang tidak tega dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


Tidak ada jawaban, Ellia hanya mengeluarkan air matanya tanpa bicara, ia menatap kedua sahabatnya dan semakin tidak bisa menghentikan tangisnya, "Ellia tenang, ada kami sekarang, tidak akan ada lagi orang yang akan menyakitimu," ucap Rara yang juga tengah menangis menatap air mata yang tidak berhenti menetes itu.


Ifraz menatap Iriana, adiknya ini juga terluka meskipun tidak sebanyak dan fatal seperti Ellia, "Iriana kemari, aku akan mengobati luka mu, bang Ikram akan marah jika kalian berdua kacau seperti ini," ucapnya yang meminta Iriana duduk di sebuah kursi tunggu di depan ruangan Ellia.


"Tuan muda, saya akan mengurus sebuah ruangan lain untuk nona Iriana," ucap Ginanjar.


"Tidak paman, aku akan menunggu bang Ikram dulu, ini tidak parah," ucapnya pada Ginanjar yang baru saja datang dengan beberapa orang yang ia minta untuk menjaga di area sekitar rumah sakit.


"Paman, kenapa ada orang masuk ke hutan tanpa kita tau sebelumnya,"


"Hutan ini memang sering di masuki orang, tuan muda juga pernah mengatakan selama orang itu tidak membuat masalah dan menerobos masuk ke dalam mansion, maka penjaga kita juga tidak akan menandai mereka dengan orang yang berbahaya." ucap Ginanjar.


Tak lama derap kaki Ikram yang berjalan mendekat ke arah ruangan Ellia membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Tuan muda,"


"Abang," panggil Ifraz.


Wajah ini sudah tidak bersahabat, Iriana takut dan bersembunyi di balik tubuh Ifraz, Ikram yang tau pergerakan Iriana segera mendekati adiknya yang menunduk tidak berani menatap wajahnya, "Iriana ? nggak ingin lihat abang ? ini pertemuan pertama kita," ucapnya saat itu.


"Abang sorry," ucap Iriana yang merasa gagal menjaga sesuatu yang sangat di sukai Ikram.


"Abang sorry," ucapnya lagi penuh penyesalan.


Ikram menarik Iriana ke dalam pelukannya, "terimakasih sudah bantu abang jaga dia," ucap Ikram masih memperlihatkan senyumnya.


"Kemari abang lihat, bagian mana lagi yang terluka ?" tanyanya melihat seluruh tubuh Iriana.


"Aku yang akan mengurus Iriana bang, abang bisa masuk sekarang," ucap Ifraz.


"Abang masuk dulu, ingat untuk mengobati lukamu dan minum obat oke," ucapnya masih sempat mencium kening Iriana dengan lembut.


Kaki itu dengan berat melangkah masuk menuju pintu, "abang, usia bayinya delapan belas hari, maaf tidak bisa menyelamatkannya," ucap Ifraz penuh rasa bersalah yang mana langsung menghentikan langkah kaki Ikram.


TO BE CONTINUED