
"Iraz?" panggil salah seorang gadis yang sejak tadi mengamati pergerakan Ellia di atas pohon.
"Hah, kenapa?"
"Aku mengamatinya, dia berada di sekitar hutan ini selama berhari-hari, apa yang dia cari? ini hampir dua minggu,"
"Siapa?"
"Itu lihatlah gadis itu menggunakan teropong ini ?" ucap gadis tersebut menyerahkan teropongnya pada laki-laki di dekatnya.
"Kakak ipar ?"
"Kakak ipar ?" ulang lagi.
"Dia Ellia, istri bang Ikram, apa yang dia lakukan di atas pohon begitu," ucap Ifraz yang masih mengamati Ellia, gadis itu tengah berusaha mencari jalan untuk masuk ke dalam mansion Ikram dengan sebuah teropong kecil.
"Iraz, apa aku perlu datang dan berkenalan dengannya ?" tanya Iriana.
"Jangan nakal, bang Ikram sangat mencintainya, kau bisa masuk kandang buaya jika berani menyentuh seujung kuku tubuhnya," jelas Ifraz.
"Aish, nggak asik ah," ucap iriana yang kini mengambil alih teropong dari tangan Ifraz.
Iriana segera kembali begitu mengetahui bahwa Ikram akan kembali ke benteng hitam, ia ingin sekali menahan Ikram dan memintanya untuk tetap tinggal dengannya, namun mendengar semua cerita Ifraz abangnya, ia mengurungkan niatnya dan membantu Ikram untuk mengelola perusahaan sementara waktu.
Iriana yang sejak tadi masih mengamati Ellia kini secara tiba-tiba menarik dirinya menjauh dari teropong, "ada apa ?" tanya Ifraz panik melihat pergerakan Iriana yang tiba-tiba.
"Dia terjatuh," ucapnya yang ikut kaget dan bingung harus apa.
"Hah ? siapa yang jatuh si na ?" tanya Ifraz semakin panik.
"Itu kakak ipar, dia terjatuh dari pohon ?" ucap Iriana bergidik ngeri, pasalnya pohon yang di panjat Ellia adalah pohon yang cukup tinggi, "apa yang akan terjadi dengannya ketika terjatuh dari pohon setinggi itu ?" gumam Iriana pelan.
Ifraz langsung mengambil teropong itu dan mengamatinya, terlihat Ellia sedang terduduk di tanah dengan memegangi lutut dan bahunya, "aku akan ke sana na," ucap Ifraz terburu-buru.
"Iraz tunggu, jangan gegabah, dia akan tau dimana mansion ini berada jika kau muncul, bagaimana jika bang Ikram marah," tahan Iriana.
"Bang Ikram akan lebih marah jika kita membiarkan dia terluka Iriana," tambah Ifraz yakin dengan pilihannya.
Ifraz mengambil sebuah tas di atas meja, laki-laki ini berlari keluar dari mansion dikuti oleh Iriana di belakangnya, "Aish, jangan berlari terlalu cepat Iraz, kakiku nggak panjang ini," teriak Iriana kesal dengan reaksi spontan yang di tunjukkan oleh Ifraz.
Ifraz mengambil sebuah motor gunung, memasang helm untuknya dan untuk Iriana,namun dengan cepat Iriana menghentikan gerakan tangan Ifraz, "cukup Iraz, aku yang akan ke sana, kalo dia liat kamu sekarang, dia akan menanyakan dimana bang Ikram, itu akan menyulitkan, aku yang pergi, dia tidak mengenalku," tambah Iriana.
"Hati-hati, jaga dia dengan baik," pesan Ifraz sebelum melepas Iriana pergi dengan sebuah motor gunung.
"Pegang ini, jika nanti aku tidak bisa mengatasinya, aku akan langsung terhubung dengan mu tanpa menelfon," ucapnya memberikan sebuah benda kecil di telinga Ifraz.
"Hati-hati," teriak Ifraz lagi.
***
"Aduh," ucap Ellia begitu tubuhnya sudah mencapai tanah, rasa pedih di seluruh kakinya yang penuh dengan luka semakin membuatnya merintih kesakitan.
"Bagaimana aku keluar jika begini, ini sudah hampir malam," ucapnya ketika melihat langit sudah mulai gelap.
Ellia dengan sekuat tenaga mengambil sebuah kayu yang terletak tidak jauh dari tubuhnya, kayu itu hendak ia gunakan berjalan dan keluar dari hutan ini, gadis ini tidak mengeluh, ia menghabiskan semua waktunya untuk mencari Ikram hampir dua minggu ini tanpa mengeluh sama sekali, ia baru menyadari satu hal, Ikram sangat berharga di hidupnya terlepas dari semua hal yang ia miliki.
"Aku mencarinya bukan untuk melanjutkan kembali pernikahan ini, tapi meminta maaf untuk semua hal menyakitkan yang mungkin terjadi selama aku menjadi istrinya, dia memberiku banyak hal tapi aku hanya memberinya luka, semangat Ellia, ini semua terjadi karena aku bisa melewatinya," batinnya menyemangati diri sendiri, air mata itu menetes tanpa bisa ia hindari, dengan cepat Ellia menghapus air mata itu, ia tidak boleh menangis, ia tidak boleh menangis sekarang.
"Panggil saja aku Ana, kenapa kau sampai terjatuh di hutan ini sendirian ? dimana temanmu ?" tanya Iriana yang saat ini tengah membantu meluruskan kaki Ellia yang sepertinya sedikit bergeser.
"Ah, ini sakit, tolong pelan sedikit," ucapnya.
"Maaf maaf, ini akan sedikit sakit tapi setelahnya akan membaik," ucap Iriana lembut dengan senyum menenangkan.
"Ah, ah ah aduh, ini sangat sakit,"
"Setelah ini bawa periksa ke rumah sakit dan jangan terlalu banyak bergerak, sementara aku akan membantumu dengan ini," ucap Iriana sebuah alat asing di kaki Ellia.
"Apakah anda seorang dokter nona ?" tanya Ellia.
"Aku ? hehe tentu tidak, aku hanya senang naik motor di hutan, ini tenang dan menyenangkan, lalu aku mendengar suara teriakan dari arah sini dan datang kemari,"
"Ah," ucap Ellia yang masih mengamati wanita yang dengan telaten membantu kakinya ini.
"Senyum itu sangat indah,"
"Hah ?"
"Senyum itu sangat indah, kamu memiliki senyum yang sama indahnya dengan seseorang yang saya kenal," jelas Ellia dengan bersikap formal, Iriana memang terlihat lebih dewasa darinya.
"Benarkah ? dia kekasihmu ?" tanya Iriana lagi.
Ellia tersenyum, "saya tidak tau harus menyebutnya apa, sepertinya jarak di antara kami sudah semakin jauh sekarang, sudah sudah saya sedang tidak ingin membahasnya," tambahnya.
"Terlihat sekali kamu masih mencintainya, apa dia benar-benar istimewa ?" tanya Iriana lagi ingin menggali lebih jauh.
Ellia mengangguk mantap mendengar pertanyaan itu, "wangi parfumnya, bentuk jari tangannya, bentuk kepalanya kalau dilihat dari belakang, cara dia bawa sepeda, cara dia berbicara, bentuk bibir dan hidungnya, bentuk matanya pas lagi senyum, cara dia menjelaskan sesuatu, bentuk wajahnya, jumlah detak jantungnya, cara dia genggam tangan saya, cara dia ngambil tangan saya saat kita bersepeda, semua tentang dia masih terekam jelas di otak saya," ucap Ellia dengan tersenyum.
Iriana melihat gadis ini, perasaan perih muncul di hatinya ketika mendengar Ellia bercerita, "abang, ini bukan cinta sebelah tangan," batin Iriana.
Tak hanya Iriana, Ifraz yang saat ini terhubung dengan Iriana juga tengah merasa sesak di dadanya mendengar apa yang di ucapkan Ellia barusan.
"Semoga, kalian bisa bertemu dan kembali seperti yang kamu harapkan," ucap Iriana tulus.
"Aku akan mengantarmu sampai jalan raya, di sini sangat sulit untuk mencari kendaraan umum, dan kamu masuk terlalu dalam ke hutan," ucap Iriana lagi.
"Uhm, apakah kamu sering berada di sekitar sini ?"
"Iya, ada yang bisa ku bantu ?" tanya Iriana lagi.
"Apa kamu pernah melihat sebuah dinding besar atau sebuah mansion di sekitar sini ?" tanya Ellia penuh harap.
TO BE CONTINUED
***
Terimakasih untuk semua yang sudah memberi dukungan baik berupa like, komentar, dan vote untuk karya ini.
Sejujurnya author sangat senang ketika membaca komentar-komentar kalian yang beraneka ragam, karena itu tetap dukung karya ini dengan memberi masukan dan komentar-komentar positif yang akan membuat author lebih semangat lagi nantinya.
See you next chapters