
"Ayahmu yang memintaku, lepaskan aku," ucapnya begitu melihat hewan-hewan buas yang siap menerkamnya kapanpun.
"Karena itu kepalamu akan ku kirimkan padanya sebagai hadiah karena kembali masuk di hidupku,"
Ucapan Ikram semakin membuat laki-laki itu bergidik ngeri, terlebih binatang-binatang yang siap memangsanya hidup-hidup saat ini, "tidak Ikram, kau bukan orang yang kejam, maafkan aku, maafkan aku, aku tidak berniat buruk padanya, aku hanya di minta mencari dimana kalian semua tinggal, lepaskan aku, aku berjanji tidak akan datang lagi di kehidupan kalian."
"Aku tidak pernah percaya dengan ucapan manusia selagi dia masih hidup, jika ingin mendapatkan kepercayaan ku, maka siap-siap mati saja," ucapnya membalik tubuhnya hendak keluar dari pintu.
"Waktunya makan, jangan lupa sisakan kepalanya dan bawa ia padaku," ucap Ikram sebelum benar-benar keluar dari tempat itu.
Suara teriakan dan jeritan tiada henti bahkan tidak membuat Ikram membalikkan badannya dan hanya berjalan lurus ke depan dengan kedua kakinya, menghampiri seekor singa betina di dalam sebuah gua yang sudah ia siapkan sejak ia membangun hutan ini, gua tempat keempat hewan peliharaannya tinggal.
Sejak di beritahu bahwa salah satu hewan peliharaannya jatuh sakit, Ikram sudah menghubungi salah seorang dokter hewan yang biasa merawat dan mengobati hewan ini, di tambah oleh seorang tenaga ahli yang sudah di latih secara khusus untuk menjinakkan mereka semua.
Sejujurnya semua hewan ini sudah terlatih memakan daging setengah matang, mereka semua tidak terbiasa makan langsung daging mentah terlebih manusia secara utuh, tentu saja apa yang ia ucapkan di depan laki-laki tadi hanyalah sebuah gertakan semata, makan mungkin tidak, mereka hanya mengizinkan ketika hewan itu untuk bermain dan bersenang-senang, mungkin sedikit cakaran dan jilatan bisa membuat mereka senang.
Ikram melihat ibu Singa yang sudah terbaring tak berdaya di dalam gua beralaskan tanah, sedikitpun laki-laki ini mendekat tanpa rasa takut sama sekali, ia mengelus kepala ibu Singa perlahan hingga hewan itu membuka matanya, mendekati Ikram dan kembali berbaring, Ikram masih mengelus lembut kepala singa betina ini dengan sayang.
Tak lama dua orang datang, salah satunya adalah dokter yang akan memeriksa ibu Singa, "siang tuan muda," ucapnya memberi hormat.
"Tolong lihat apakah ada yang salah dengannya, dia menjadi tidak semangat dan sering mengeluarkan makanan yang sudah ia makan sebelumnya,"
"Baik tuan muda,"
Ikram masih setia dan duduk manis dengan kepala singa di pangkuannya, ia berusaha membuat ibu singa tenang dan tidak berbuat kasar terhadap orang yang baru saja ia temui.
"Bagaimana ?"
"Sepertinya ia memakan sesuatu yang salah, sesuatu itu masih berada di dalam perutnya tuan muda, ini yang menyebabkan ***** makannya tidak ada dan berusaha mengeluarkan seluruh makanannya, saya harus membawanya dan melakukan beberapa pengecekan,"
"Tidak bisakah di sini saja ?" tanya Ikram.
"Saya harus membawanya tuan muda, anda bisa mempercayakan dia pada kami," tambah dokter itu meyakinkan.
Sebenarnya tidak masalah, hanya saja Ikram tidak ingin singa jantan akan menggila karena singa ini akan di bawa, "baiklah tapi tunggu hingga temannya datang, aku akan memberi mereka penjelasan terlebih dulu, aku tidak ingin mereka merasa kehilangan atau merasa kehidupan mereka terancam ketika salah satu dari mereka tidak ada,"
"Sesuai yang anda inginkan tuan muda," tambah dokter itu masih dengan kepala menunduk, tidak berani melihat Ikram secara langsung.
Menyadari ponselnya bergetar Ikram perlahan memindahkan kepala ibu singa yang sebelumnya berada di pangkuannya, laki-laki ini mengambil ponsel di dalam saku celana yang ia pakai.
Iriana.
Terlihat jelas nama Iriana di layar ponsel Ikram, "iya na ? ada apa ?'
"Orang itu datang,"
"Siapa ?" tanya Ikram lagi.
"Dia sudah berada di depan pagar pertama mansion ini," tambah Iriana.
"Siapa na ?" tanya Ikram lagi.
"Adams," jelasnya tanpa basa basi.
"Dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini bersama paman,"
"Uhm," Ikram masih berfikir.
"sambut saja dia, biarkan dia masuk, Ifraz dan paman akan datang jadi kau tidak perlu melakukan apapun,"
"Abang,"
"Jangan bersikap kasar Iriana, jangan coba-coba menjahilinya, darahnya juga mengalir dalam darahmu," tegas Ikram yang sudah faham bagaimana sifat adiknya itu.
"Darah yang mana, ayah Iriana hanya abang, darah abang juga mengalir di tubuh Iriana,"
"Iya, sudah, sekarang bukakan pintu gerbangnya, abang akan ke sana dengan memberi sedikit kejutan,"
"Siap pak bos,"
"pastikan Ellia dan teman-temannya tetap di dalam mansion dan jangan biarkan dia melihat keluar bahkan jika hanya dari jendela, aku khawatir mereka akan ketakutan dengan apa yang aku bawa,"
"Abang akan membawa mereka keluar ?" tanya Iriana.
"Iya,"
"Asik," ucapnya senang.
***
Sebuah mobil terlihat menatap sebuh gerbang besar di depannya, Adams dan istrinya di tambah seorang sopir yang menjadi pengemudi kini telah menghentikan mobilnya cukup lama karena tidak tau bagaimana caranya masuk.
Tidak ada satu orang pun yang bisa mereka tanyai atau melapor bahwa mereka ingin masuk, bahkan bel untuk memberikan tanda bahwa ada tamu juga tidak terpasng, pagar ini bahkan tidak memiliki grendel seperti pagar pada umunya, tapi entah kenapa juga tidak bisa di buka.
Yups, itu karena pagar ini adalah pagar otomatis yang mana hanya Iriana yang bisa membukanya, dan tentu saja sudah sepengetahuan dan izin dari Ikram abangnya.
"Pagar sebesar dan semewah ini tapi tidak ada tanda tanda untuk bisa di buka,"
"Halo apakah ada orang ?" tanyanya yang juga masih belum mendapat sahutan apapun dari pemilik rumah.
Cukup lama namun tetap tidak ada sahutan apapun, hingga pagar tersebut terbuka sendiri, "tuan besar pagarnya terbuka secara otomatis ?" ucap sopir itu yang cukup takjub dengan pemandangan di depannya.
Adams memang cukup kaya dengan kekayaan yang di tinggalkan oleh Agatha, namun saat ini kekayaanya bahkan sangat jauh berbeda dengan level kekayaan Ikram.
Semua memandang takjub dengan jalanan yang cukup panjang untuk mencapai mansion ini, jalanan panjang dengan sebuah mansion besar sebagai tujuan perjalanan mereka benar-benar membuat mata terpanah.
"Dia bisa membangun istana semegah itu di tengah hutan tepat di pusat kota, apa yang sudah dia lakukan hingga bisa mencapai semua ini," batin Adams yang cukup terpukau dengan semua hal yang ia lihat ketika sampai di sini.
Berbeda dengan Adams, istrinya itu bahkan tidak bisa menutup mulutnya karena keindahan yang ia lihat dalam bentuk rumah, "ini sangat besar, aku akan sangat bahagia jika bisa tinggal dan menjadi nyonya rumah ini," batinnya dalam hati.
Mobil ini berhenti tepat di depan seorang wanita yang tanpa rasa takut menghadang jalannya dengan mengangkat sebuah tangan.
TO BE CONTINUE