
"Dia hanya seorang anak tiri dengan keluarga yang berantakan, kenapa membelanya sampai begitu, kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik seribu persen darinya nak, ayah akan mencarikan mu yang lainnya, dia tidak cocok untukmu, dia tidak pantas di perlakukan seperti ratu di istana ini," ucapnya masih dengan sikap arogan seperti sebelumnya.
"Aku memperlakukan dia seperti ratu karena aku terlahir dari rahim seorang ratu, dia bukan sepatu yang mana aku harus menggantinya ketika aku ingin," ucap Ikram dengan tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.
Hingga tanpa ia sadari sosok gadis kecil mendengar semua yang ia ucapkan bersama teman-temannya di balik dinding, Ellia sudah merasa aneh ketika Ikram meminta Iriana untuk memantau komputer sepanjang waktu, dan tiba-tiba Iriana keluar meninggalkan kamar dan komputernya, dari sini saja bisa di simpulkan ada sesuatu yang terjadi hingga Iriana harus keluar meninggalkan perintah Ikram untuk tetap berada di depan komputer.
Awalnya Ellia masih bingung dengan Iriana yang menghadang sebuah mobil yang baru saja masuk ke mansion, pasalnya pagar rumah ini tidak akan terbuka tanpa izin darinya, tapi mengapa ia membuka pagar tapi berdiri di sana seolah tidak memberi izin untuk masuk.
"Saya memang berasal dari keluarga berantakan, tapi saya tidak sendiri, keluarga anda juga sama berantakannya," ucap Ellia yang tidak bisa jika diam saja.
"Ketika dua orang berantakan mulai menata hidupnya yang sudah hancur dan patah oleh orang tua memulai untuk bangkit kembali, lalu masalah kami ada di mana? kenapa anda harus datang dan hendak mematahkan kami lagi, secara tidak langsung anda yang sudah membuat kaki kami semua pincang," tambahnya tanpa rasa takut, beginilah Ellia, dia bukan orang yang sabar.
"Hey bocah, aku tidak mengambil apapun milik mereka, lancang sekali mulutmu bicara seperti itu padaku," jawab Adams yang semakin tersulut emosi dengan ucapan Ellia.
"Tu tuan besar, tolong jangan berdebat dengan mereka semua di sini, dia adalah wanita yang sangat di cintai oleh putra anda, jika terjadi sesuatu dengannya, Ikram tidak akan berhenti memburu anda," ucap laki-0laki yang sudah penuh luka itu memohon dengan tatapan mata memelas.
Ikram menghela nafasnya pelan, "iya, kau tidak mengambil apapun milikku, karena itu pergi sekarang, kami semua sama-sama tidak memiliki hutang, sudah pergi saja jangan membuatku semakin kesal," ucap Ikram berusaha mengendalikan diri.
"Abang," ucap iriana lirih.
Awalnya Ikram hendak memberi sedikit pelajaran pada ayahnya ini, entah mencakar nya, memukulnya, atau bahkan mematahkan bagian tubuh nya, namun karena Ellia datang, ia mulai mengendalikan dirinya agar tidak bersikap berlebihan di depan wanitanya yang mana nantinya akan membuat Ellia takut.
"Mas Ikram bisa melakukan apapun yang mas Ikram inginkan, jangan ragu karena ada aku di sini," tambahnya yang faham Ikram berusaha mengendalikan diri dengan baik.
Tatapan mata itu masih menatap satu sama lain,"kalau begitu bisa ajak mereka semua masuk, hanya tinggalkan kami saja dulu, aku ingin menyelesaikan ini di antara keluarga," ucapnya menatap Vania dan rara yang masih dengan tatapan takut melihat ketiga hewan yang masih diam dan hanya menatap Ikram.
"Aku akan pergi, untuk kali ini, mas Ikram tidak perlu mengendalikan diri, aku saja tidak sabar dengan ucapan sombongnya," tambahnya sebelum masuk ke dalam mansion dengan kedua temannya.
Namun baru beberapa langkah Ellia berjalan, Ikram memberikan sebuah benda kecil di tangannya dan memasangkan di telinga Elia dengan lembut, "kau bisa mendengarnya," ucapnya meninggalkan sebuah senyum pada istri yang sangat di cintai nya itu.
"Aku tidak ingin mempunyai kebohongan denganmu, " ucapnya dalam hati begitu melihat Ellia berjalan menjauh.
Adams masih menatap ketiga anaknya, melupakan luka di tangannya, "kembali dan urus perusahan yang di tinggalkan ibumu, kita bisa hidup bersama mulai sekarang, jangan terpisah-pisah begini,"
"Lalu kalian berdua tinggal di sini bersama kamu? itu tujuanmu bukan?" tanya Ikram yang sudah tau maksud dan tujuan dua manusia ini datang.
"Ini investasi yang tidak menguntungkan bang," tambah Ifraz menatap tajam laki-laki di depannya.
"Ifraz, aku ayahmu, tidak sopan berbicara seperti itu pada ku,"
"Kita punya paman dan bang Ikram, kita masih punya orang tua, kita masih punya mereka," ucapnya menghentikan ucapan saudara laki-lakinya yang sudah terlampau emosi.
Ikram menatap kedua adiknya yang masih berpegangan tangan, Iriana tidak melepaskan tangannya dari lengan Ifraz, "pergi saja, aku tidak ingin bersikap kasar pada kalian semua, ambil saja semua harta ibuku untukmu dan selingkuhan mu, itu sedekah dari kami bertiga," ucapnya jelas.
Wajah Adams memerah begitu mendengar kata sedekah, "tidak Ikram, ambil saja semua milik kalian, semua itu milik kalian sejak awal, itu milik Agatha,"
"Baiklah jika kalian memaksa, Nando," teriaknya dengan cukup keras.
"Iya tuan muda," ucapnya datang dengan terburu-buru.
"Akuisisi semua milik ibuku, perusaan itu aku ingin menjadi milik ku sekarang," tambahnya pada Nando yang berada di sampingnya.
"Sesuai yang anda inginkan tuan muda," ucap Nando yang segera bergegas masuk.
Hanya beberapa detik, Adams sudah mendapat pesan bahwa perusahaan nya sudah bukan miliknya lagi, semua pemegang saham bahkan di luar kendalinya.
"Ini, tidak, Ikram ini apa?" Ucapnya yang tidak percaya kekuatan Ikram begitu kuat.
"Kita masuk sekarang," ucapnya pada mereka semua meninggalkan Adams beserta istrinya yang masih mematung karena langkahnya di halangi oleh ketiga hewan peliharaan Ikram di tambah berita perusahaan yang sudah di ambil alih.
"Ikram tunggu Ikram, bukankah kita sudah menjadi keluarga, Ikram, Ikram," teriaknya tanpa henti.
"Kalian tidak memberinya, aku yang merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, tentunya karena kalian yang memaksa," jelasnya tanpa menoleh ke belakang.
Adams baru saja melangkahkan kakinya hendak mengejar Ikram yang terus berjalan tanpa menghiraukan nya namun ketiga hewan itu dengan tatapan lapar berjalan ke arah mereka yang semakin berjalan mundur.
Ikram mengangkat tangannya, meminta pada semua peliharaan nya untuk membuat mereka semua pergi dari rumah ini.
"Kalian mau apa? kalian mau apa?" teriaknya begitu semua hewan itu mulai berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh.
"Mas kita masuk saja, kita pulang, mereka akan memangsa kita jika kita masih ada di sini," ucapan istri Adams yang semakin ketakutan.
Plak
Sebuah tamparan terjadi begitu saja, "kau tidak lihat semua milikku sudah di ambil hah?" ucapnya semakin tidak terkendali.
TO BE CONTINUE