Ellia's Husband

Ellia's Husband
Terungkap



"Tapi kamu adalah orang pertama yang membuatku ingin memilikimu sebagai istri, jadi apapun yang terjadi nanti, berita apapun yang kau dengar di luar, tolong jangan menghiraukannya, aku tidak ingin bertengkar dengan mu karena wisata masa lalu yang aku bahkan sudah lupa," jelas Ikram.


Ellia terdiam menatap suaminya yang menatapnya dengan perasaan bersalah, "memangnya mas Ikram baru saja melakukan apa ? kenapa sampai memperlihatkan wajah ini ? aku tidak menyukai mas Ikram dengan wajah ini, di sini rasanya sesak sekali jika melihat mas Ikram seperti ini," tanya Ellia lembut dengan tangan memegang dada.


"Aku sudah melupakan tentang Zelin sejak bertahun-tahun yang lalu, itu sudah lama sekali, umurku bahkan belum genap enam belas tahun waktu itu, aku benar-benar sudah melupakannya, aku juga tidak ingin membahasnya,"


"Lalu ?"


"Aku tidak bercerita kepada siapapun, tapi hari ini Ifraz membukanya,"


"Tentang dia yang mencintai mas Ikram ?" tebak Ellia.


"Bagaimana kau tau ?" tanya Ikram mengernyitkan dahinya.


"Tentu saja tahu, itu terlihat sangat jelas sekali di wajahnya, aku melihat semua wanita yang mencintai mas Ikram akan memperlihatkan wajah itu, yah meskipun Zelin berusaha menutupinya," ucap Ellia.


"Sejak kapan tau ?"


"Sejak dia memberikan obat dan makanan saat mas Ikram mengajar,"


"Selama itu ? tapi kau diam saja dan tidak bertanya padaku ?" tanya IKram lagi.


"Aku juga banyak salahnya, meskipun terlihat sangat jelas Zelin mencintai mas Ikram, tapi aku tidak melihat cinta yang sama di mata mas Ikram, pandangan mata itu, perhatian itu, bahkan semua hal yang mas Ikram lakukan padaku tidak pernah mas tunjukkan pada orang lain selain Iriana, jadi untuk apa aku bertanya, sudah jelas sekali kalau mas Ikram sangat mencintai aku," ujar Ellia.


"Wah, sepertinya Ifraz salah menilaimu kali ini," ucap Ikram dengan senyum merekah di bibirnya.


"Begitu, tertawa seperti itu saja, itu terlihat sangat tampan," ucap Ellia.


"Benar-benar tidak marah ?"


"Begini, kita berdua sama-sama punya masa lalu, dan itu tidak bisa di rubah, menyesalinya juga akan percuma, jadi nikmati saja semua hal di hidup kita mulai hari ini, tidak perlu mengungkit yang sudah lewat,"


"Tidak mau mendengar ceritaku ?" tanya Ikram.


"Tidak perlu, itu tidak penting," ucap Ellia yang semakin mengembangkan senyumnya.


"Ah, tapi ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan kalian, bolehkah menyuruh Ifraz masuk sekarang ?"


"Astaga aku lupa jika ini kamar dokter Ifraz," ucap Ellia.


"Ifraz masuklah," teriak Ikram yang sudah tau pasti kalau adiknya saat ini pasti sedang duduk di depan kamarnya karena tidak tau harus kemana.


Pintu baru saja terbuka, "astaga abang, kenapa masih tiduran di ranjangku ketika aku masuk, pikiran kotorku bisa berlarian kemana-mana tau tidak ?" gerutu Ifraz.


"Tidak masalah, aku memang ingin menikahkanmu dalam waktu dekat,"


"Sudah kemari, duduklah di sini," ucap Ikram yang menepuk ranjang di bawah kakinya.


"Ada apa ?"


Ifraz melihat Ellia yang biasa saja, bahkan tidak ada gurat marah sama sekali, "betul kan, orang seperti abang memang lebih cocok dengan kakak ipar yang seperti ini," batin Ifraz yang cukup senang juga melihat kedua kakaknya tenang dan damai seperti sebelum negara api menyerang.


"Sudah siap ?" tanya Ikram.


"Siap,"


"Siap,"


"Logan sudah menikah dengan Zelin,"


Deg


"Menikah ? dia sudah menikah tapi masih berani menjalin hubungan dengan Iriana ?" tanya Ifraz tidak percaya.


Tidak hanya Ifraz, Ellia bahkan menjatuhkan sebuah benda kecil yang baru saja ia pungut di ranjang kamar Ifraz, semua orang yang ada di sana tidak kuasa mendengar kenyataan yang baru saja di sampaikan oleh Ikram.


"Mas, ini beneran nggak bohong ?'


"Aku akan memberitahu Iriana, ini udah gak bisa di biarkan bang," ucap Ifraz yang mulai kehilangan kendali.


"Iraz, Iraz dengar abang," teriak Ikram menahan pergelangan tangan adiknya yang sudah mengambil sebuah pistol dan pisau kecil dari dalam lemarinya.


"Dia bukan lawanmu, abang bahkan mungkin juga tidak bisa jika harus melawannya, tapi tolong bersabar, Iriana tidak bisa di perlakukan kasar, abang tidak pernah mengajarimu gegabah dalam mengambil keputusan,"


"Abang please, jangan hanya menuruti Iriana bisa tidak ? Logan hanya menargetkan abang, Iriana adalah alatnya untuk menghancurkan abang," ucap Ifraz yang sudah lemas begitu mendengar ucapan Ikram.


"Abang punya kalian, kenapa kau begitu khawatir, tidak akan ada yang bisa menghancurkanku selama ada kalian di sini," jelas Ikram.


"Hari ini Ana kemana ?" tanya Ellia.


"Keluar bersama Logan," jawab Ifraz yang masih mengatur nafasnya yang makin memburu.


Ellia mengingat sesuatu, pagi ini saat selesai makan Iriana berkata sesuatu padanya, "kakak ipar aku akan pergi siang ini, nanti kalau aku belum pulang sampai jam dua belas siang, tolong jemput aku di hotel Bangsawan kamar 707," ucap Ellia mengingat pesan yang di berikan Iriana pagi ini.


"Mas Ikram,"


"Hmm," ucap Ikram yang masih berusaha menenangkan Ifraz agar tidak kehilangan kendali dan pergi mencari Iriana,"


"Apakah mungkin Iriana tau sebenarnya tentang mas Ikram dan Logan,"


Ellia menceritakan apa yang di katakan Iriana padanya pagi ini yang membuat kening Ikram dan Ifraz berkerut, "Dia tidak pernah tau tentang Logan sebelumnya," ucap Ikram.


"Mungkinkah," ucap Ifraz.


"Ada apa ?"


"Aku sempat memberitahunya mengenai luka di bahu abang karena mobil meledak waktu itu," ucap Ifraz.


"Mungkinkah dia mnecari tau siapa yang membuat abang mendapatkan luka itu ?" tanya Ifraz lagi.


Ikram segera berlari keluar dan masuk kedalam kamar Iriana di ikuti Ifraz dan Ellia, tujuan pertama Ikram adalah sebuah laptop yang ada di meja kerja Iriana.


Mulai dari riwayat pencarian dan beberapa folder pribadi semua di buka oleh Ikram tanpa ada yang tertinggal, "dia sudah tau semuanya, dia sudah tau," ucap Ikram.


"kakak ipar dimana tadi hotelnya ?'


"Hotel bangsawan,"


"Ellia tolong jaga tempat ini, tidak ada yang boleh masuk dan keluar sampai aku kembali, tutup pintu rapat-rapat dan jangan menghubungi, mengganggu atau mengirim pesan apapun pada kami sementara," pesan Ikram sebelum berlari turun ke bawah dengan Ifraz yang masih mengikuti di belakangnya.


Ellia turun, semua orang sedang berkumpul di bawah melihat Ikram dan Ifraz yang berlari menuju sebuah mobil yang di kendarai sangat kencang, "nyonya bos ada apa ?"


"Tutup pintunya," ucap Ellia


"Tidak ada yang bisa masuk dan keluar tempat ini sampai mereka kembali,"


"Baik nyonya bos,"


"Ada apa ?" tanya Aro.


"Paman bantu aku mengumpulkan semua ponsel mereka," ucap Iriana.


"Karena pak bos sedang tidak ada di tempat, kita akan bermain tanpa gadget hari ini, aku punya sebuah permainan untuk kalian mainkan di sini," ucap Ellia dengan sebuah senyum yang sangat indah.


"Baik nyonya bos," ucap mereka serentak.


"Segera kembali dalam keadaan baik-baik saja, aku menunggu kalian bertiga," batin Ellia.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.