Ellia's Husband

Ellia's Husband
Kembali



"Wah Ellia, aku benar-benar harus mengajarimu dengan baik," ucap Ikram yang sudah mendapatkan tubuh Ellia dengan tangannya.


"Aku tidak ingin belajar mas," ucap Ellia dengan wajah tidak berdaya yang membuat tubuh Ikram terasa panas.


"Ellia jangan berekspresi seperti itu," ucap Ikram yang melepaskan tubuh Ellia pelan.


Laki-laki ini meletakkan tubuhnya di atas ranjang, tidak melihat Ellia sama sekali, Ellia mendekati suaminya, kali ini ia tidak diam saja.


"Mas Ikram, marah padaku kah?" tanya Ellia yang tengah merangkak naik di atas tubuh Ikram.


"El, Ellia, sudah jangan membuatku lupa kalau kau masih harus belajar," ucap Ikram menolak.


"Malam ini saja, besok aku janji akan belajar," ucapnya mulai nakal.


Ikram langsung menoleh seketika, "malam ini iya, besok lagi, besok lagi, besoknya lagi, lagi lagi setiap hari harus belajar," ucap Ikram.


Ellia cemberut dan bangkit dari tubuh Ikram, "aku malas belajar," gumam Ellia.


"Bahkan aku sendiri yang mengajarimu kau masih sempat malas?" tanya Ikram yang hanya di jawab anggukan oleh Ellia.


"Oke, aku akan berhenti mengajar kalau begitu," ucap Ikram yang bersiap mengambil ponselnya dan meminta Ginanjar untuk mengurus surat pemunduran dirinya.


"Eh, jangan, jangan keluar, mengajar saja," ucap Ellia.


"Aku kan hanya tidak suka belajar, suruh aku bekerja saja," ucapnya.


"Ellia, ingin bekerja jadi apa dengan kemampuan seperti ini, memang iya IQ tidak penting, tapi tanpa pendidikan dan pengalaman yang baik pekerjaan apapun juga hanya menjadi kacung,"


"Tapi ada yang sukses tanpa sekolah,"


"Kemari," ucap Ikram yang langsung menarik Ellia ke dalam dadanya.


Aroma wangi yang sangat khas menyeruak masuk ke dalam hidung Ellia, aroma segar namun nyaman, membuat orang sangat betah jika lama-lama berada di pelukannya.


"Sudah siap mendengar ku? ikhlas mendengar tidak?"


"Iya," jawab Ellia yang tengah memainkan ujung jari tangan Ikram.


"Aku sangat faham dengan statement yang baru saja kau ucapkan tadi, dulu aku juga tidak sekolah, aku membangun Danial group hanya dengan lulusan sekolah dasar, tapi Ellia apakah kau tau aku di remehkan karena Pendidikan ku rendah, banyak investor yang menolak ku karena aku di anggap bodoh,"


Ellia menatap suaminya, "mas Ikram hanya lulusan sekolah dasar? tapi kenapa begitu cerdas," tanya Ellia.


"Dulu iya, tapi aku menyusul ketertinggalan ku, aku tidak suka di remehkan, aku belajar, aku merawat mereka berdua dan aku juga bekerja," ucapnya pada Ellia.


"Aku pernah melewati masa sulit itu El, aku tidak ingin kalian merasakan apa yang aku rasakan, meskipun dengan menjadi istriku tidak akan ada satu orang pun yang meremehkan mu, tapi kita tidak tau bagaimana nanti, aku tidak bisa selamanya ada di sisi kalian, yang bisa ku lakukan sekarang menyiapkan kalian agar bisa berdiri sendiri di kaki kalian, tanpa aku," jelas Ikram.


"Mas Ikram," panggil Ellia yang semakin erat memeluk tubuh Ikram.


"Aku terlalu keras padamu ya?" tanya Ikram yang menepuk lembut rambut Ellia.


"Tidak, aku ingin selamanya bersama mas Ikram,"


"Sekarang kan sedang bersamaku," jawab Ikram.


"Sekarang dan selamanya," jawab Ikram.


"Musuhku sangat banyak, tanganku sudah kotor dengan banyak sekali darah, denganmu berada di sisiku hanya akan membahayakan nyawamu," jelas Ikram yang masih memainkan rambut Ellia dengan wangi parfum shampoo yang sengaja ia pilihkan sebelumnya.


"Tidak bisakah kita hidup tenang,"


"Bisa, nanti setelah semua pekerjaan ini selesai, aku hanya akan fokus di perusahaan, sampai saat itu aku minta maaf karena tidak bisa mengatakan bahwa kamu istriku di depan media, itu akan sangat berbahaya untuk keselamatan mu," ucap Ikram.


"Kapan kita akan kembali mas,"


"Lusa, dengan kapal pesiar milik Ifraz yang sudah siap di dermaga,"


"Benarkah? benar-benar bisa naik kapal pesiar? wah pasti menyenangkan," tanya Ellia senang, mata gadis ini terlihat berbinar-binar.


"Aku tidak pernah mengajak mu jalan-jalan ya selama menikah,"


"iya," ucap Ellia mengangguk mantap.


"Sekarang belajarlah dulu, aku akan mengajak mu jalan-jalan nanti," ucap Ikram membuat Ellia sedikit kecewa.


"Iya mas," ucapnya tak kuasa menolak dan langsung bergegas menuju koper untuk mengambil beberapa buku yang sempat ia bawa.


Beginilah Ikram, sangat lembut dan jarang sekali marah, apalagi memaksakan kehendaknya untuk orang-orang di sekelilingnya, orang yang berhadapan dengannya seolah tersihir untuk melakukan hal yang Ikram inginkan tanpa bisa menolak.


Entah karena pesona, kharisma atau wajah yang begitu rupawan, tapi ini tidak hanya pada Ellia, Ifraz dan Iriana juga sama, seolah Ikram sangat tau bagaimana dia harus bersikap pada setiap orang yang ia hadapi.


***


Media sudah ramai dengan berita yang baru saja di tulis di web resmi Danial group, "CEO Danial group akan kembali memimpin dalam beberapa hari,", berita ini sangat berpengaruh dalam harga saham yang semakin menjulang tinggi.


Di Universitas tempat Ikram mengajar juga tidak kalah heboh, beberapa fans club Ikram bahkan sudah menyiapkan pesta penyambutan dosen idola mereka.


Dan Negara, ini juga berita yang sangat baru, kembalinya Ikram artinya kembalinya donasi negara yang sempat di cut oleh Ifraz karena apa yang terjadi pada Ikram.


Ramainya berita di luar sana tidak membuat ketenangan yang di nikmati oleh Ikram dan keluarganya ketika tengah berlibur dalam perjalanan pulang dengan sebuah kapal pesiar yang di siapkan sebelumnya.


"Aro, tempat ini aku serahkan padamu, fokus pada apa yang ku katakan dan lakukan sesuai instruksi, Andara akan ikut bersamaku dan mendampingi ku mulai hari ini," pesan Ikram sebelum berpisah kapal pesiar dengan beberapa orang lain yang juga ikut berlayar bersama mereka sebelumnya.


"Siap bos,"


"Andara akan bekerjasama dengan asisten pribadi ku sebagai sekertaris ku di perusahaan," jelas Ikram.


"Siap bos,"


"Setelah ini jangan panggil bos, panggil tuan muda," tambah Ifraz.


"Siap bos kedua," jawab Andara.


"Tuan muda kedua," jelas Ifraz penuh penekanan.


"Siap tuan muda kedua," ucap Andara.


"Berapa lama lagi kita sampai?"


"Enam jam, tidak perlu terburu-buru, kita nikmati saja waktunya bang," ucap Ifraz.


"Oke, kalian bisa pergi," ucapnya.


Ikram mencari Ellia yang tidak tau sedang apa, dia tidak melihatnya sejak tadi, tak butuh waktu lama Ikram mencari, ternyata Ellia tengah duduk dengan sebuah kursi kecil menunggu sebuah pancing.


"Sedang apa?" tanya Ikram yang langsung memeluk tubuh kecil Ellia.


"Memancing, tapi tidak dapat, he he," tawanya yang langsung berhenti karena bibir basah yang mendarat cantik di bibir Ellia.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.