Ellia's Husband

Ellia's Husband
Istri Rahasia



"Wah, Ifraz dia istriku loh, kenapa seperti kamu yang menjadi suaminya, seharusnya aku yang mengatakan itu." ucap Ikram semakin tidak senang.


"Kalau abang suaminya, lindungi dong," jawab Ifraz.


"Kau juga Ellia, kenapa hanya membuatkan mereka teh dan tidak mengkhawatirkan aku, aku yang sedang sakit,"


"Kan mas Ikram sudah ada Andara, minta saja teh padanya," ucap Ellia.


"Kakak ipar aku tetap mau susu, aku tidak suka teh," rengek Ifraz seperti anak kecil.


"Dia sudah kembali dalam mode ini, kembali seperti adik ipar yang dulu," batin Ellia.


"Kau bikin sendiri saja, kenapa merengek begitu pada istriku,"


"Cih, abang selalu datang di saat yang salah, orang sakit lebih baik diam saja dan tidur,"


"Kenapa tidak menawariku ?" tanya Ikram mendekati Ellia.


"Kata dokter Ifraz, mas Ikram harus minum obat khusus untuk memperbaiki tulang yang patah, obatnya tidak boleh di minum bersamaan dengan susu, sudah puas ?" jelas Ellia.


"Kalau begitu tidak ada teh untuk mereka juga malam ini," ucapnya.


Tok tok tok


"Masuk,"


"Kami mengantar barang anda tuan muda," ucapnya dengan membawa apa yang di inginkan oleh Ifraz.


Ikram berjalan menuju sebuah sofa, memberi ruang pada mereka untuk meletakkan barang tersebut di tempat nya.


"Kakak ipar ganti baju saja dulu, ada banyak orang di sini," bisik Ifraz pelan.


"Barang nyonya bawa kemari," ucap Ifraz kemudian.


"Iriana kemari," ucap Ikram menepuk sebuah sofa di sampingnya.


Dengan langkah kaki kecil Iriana berjalan ke arah Ikram, "ada apa? ingin memberiku hadiah?" tanya Iriana antusias.


"Mau apa? abang akan berikan apapun yang kau inginkan," ucap ikram merapikan anak rambut yang berada di wajah Iriana.


"Uhm, apa ya?"


"Maaf tadi sudah membentak mu," ucapnya lembut, seperti Ikram yang biasanya.


Iriana hanya diam dan menunduk, "di maafkan tidak?" tanya Ikram lagi yang hanya di jawab anggukan oleh Iriana.


Ikram memeluk pelan tubuh kecil di depannya ini, "lain kali jangan bermain-main seperti itu, bagaimana jika ada seseorang di dalam gedung yang tidak sengaja menjadi korban ledakan itu," ucap Ikram lembut.


"Tapi dia mengganggu kakak ku," ucapnya membela diri dalam pelukan Ikram.


"Nanti sudah ada abang, abang yang akan menjaga kalian," ucapnya menenangkan.


"Abang tidak ingin berbicara dengan kakak ipar ?" tanya Iriana setengah berbisik.


"Kenapa ?"


"Dia selalu diam-diam menangis setiap malam," jelasnya.


"Kau melihatnya ?"


"Tidak, tapi dia selalu terbangun dengan mata panda setiap hari, tapi tidak pernah mengeluh sama sekali agar kita tidak khawatir, itu sebabnya Iraz lebih perhatian padanya, agar kakak ipar tidak merasa menjadi beban di keluarga kita karena tidak adanya abang," jelas Iriana dengan tetap berbisik yang mana hanya di balas acakan gemas di rambutnya oleh Ikram.


"Aku akan berbicara dengannya sendiri nanti,"


"Abang kemari lah, aku akan memeriksa mu sebentar," ucap Ifraz.


"Ada seseorang yang sudah merawat ku sebelumnya," jelas Ikram.


"Benarkah, aku mendengar bahwa seseorang mengatakan aku dokter yang hebat dan bisa menyembuhkannya," goda Ifraz.


"Dia orang mu ?" tanya Ikram.


Bukannya menjawab, Ifraz mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, "Dokter William akan menjadi wakil ku di rumah sakit," ucapnya dan segera menutup panggilan telfonnya.


"Dari mana kau belajar hal-hal yang seperti ini ?" ucap Ikram.


"Cukup melihat dan mengamati abang saja sudah cukup," jelasnya.


"Ellia ganti baju dimana ?"


"Di kamar mandi, ingin aku menyusul dan melihat kondisinya,"


Plak, sebuah buku mendarat cantik tepat di kepala Ifraz.


"Aduh..." sebua rintihan berhasil keluar dari bibir Ifraz.


"Di mana sopan santun mu itu ?" tanya Ikram.


Ikram hanya memajukan bibirnya kesal, "sudah cepat kemari," ucapnya yang sudah menyiapkan beberapa suntikan di atas meja.


"Bagaimana bisa begitu bodoh, memaksakan diri tetap menjadi pelatih di tengah kondisi ini, lihat tubuh abang sekarang, jika bukan dokter Willian yang menjahitnya, aku sudah pasti akan membuka perban itu dan melihatnya sendiri," ucap Ifraz.


"Padahal hanya tinggal memberi kode pada Iriana, kita akan datang dengan baik-baik, abang bisa sembuh, pelatih akan datang mengajari mereka sesuai standar pelatihan kita, dan kami juga tidak perlu mengkhawatirkan abang, kakak ipar juga tidak di permalukan seperti ini,"


"Iya juga, kenapa kamu menjadi lebih pintar sekarang ? habis makan apa ?"


"Abang," teriaknya semakin kesal.


Dengan bibir maju, Ifraz masih memasang selang infus yang akan ia pasang di tangan Ikram, laki-laki ini memeriksa total kondisi Ikram dengan banyak sekali tes yang ia lakukan sejak tadi dengan Iriana di sampingnya.


"Dia terlihat seperti dokter sungguhan sekarang," ucap Ellia yang baru saja datang.


Ifraz menghentikan gerakannya, "dulu aku tidak seperti dokter ?" tanya Ifraz tidak terima.


"Iya," jawab Ellia cepat.


Iriana menahan tawa, Ifraz membulatkan matanya dengan sempurna, "Tuhan kenapa ada di berikan dua kakak yang selalu ingin menindas ku," ucapnya semakin kesal.


"Bos," ucap Andara yang langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada apa ?" tanya Ikram.


"Kamarnya sudah siap," jelasnya.


"Dia bisa keluar masuk kamar ini bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sedekat apa dia dengan mas IKram," batin Ellia.


"Iriana kau istirahatlah dulu, akan lama jika menunggu Ifraz selesai," ucapnya.


"Oke deh, aku ke istirahat dulu,"


"Uhm, mas, aku ikut tidur bersama Ana saja, biarkan dokter Ifraz berada di sini, ini sudah cukup larut, dia harus beristirahat setelah memeriksa mas Ikram," jelas Ellia.


"Kau tetap di sini," ucap Ikram.


"Sudah kakak ipar, bukankah kalian juga sudah lama tidak bertemu, bang Ikram butuh seseorang yang membantunya ketika bangun di malam hari," tambah Iriana yang faham dengan kode yang diberikan oleh abangnya.


"Saya akan berjaga disini untuk anda bos," ucap Andara yang mana membuat Iriana langsung menatap Ikram dan Ellia.


"Sudah ada Andara, aku ikut dengan Ana saja," jelas Ellia.


"Kau tetap disini Ellia," ulang Ikram pada Ellia.


"Iya," ucap Ellia terpaksa.


"Kau masih di sini ? bagaimana aku bisa tahu dimana kamarku jika kau masih berada di sini," tanya Iriana.


"Ah, sudah ada seseorang yang akan mengantar anda menuju kamar," jelasnya.


Ellia berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, karena kelihatannya pemeriksaan yang dilakukan Ifraz masih lama, gadis ini mempunyai sebuah akal baru agar bisa keluar dari tempat ini, sebenarnya ia juga rindu dengan Ikram, tapi Ikram seperti sangat jauh untuknya sekarang ini, Ikram yang ia kenal sangat baik hati dan selalu berkata-kata lembut padanya, bukan yang seperti ini, terlebih dengan Andara yang sepertinya tidak bisa lepas dari suaminya sedikitpun.


"Lagipula aku hanya istri rahasia," ucap Ellia cukup sedih.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.