Ellia's Husband

Ellia's Husband
Hari H



Ikram dan Ellia saling memandang satu sama lain, ia juga di beritahu jika mereka berdua berdebat kemarin malam, namun bertanya apa yang terjadi di saat seperti ini rasanya semakin membuat tidak nyaman.


"Hendak kemana dengan pakaian itu ?" tanya Ikram.


"Ada operasi pentingĀ  di negara AD, aku harus terbang ke sana pagi ini," ucapnya pada Ikram.


"Aku sudah meminta dokter William untuk mengutus orang lain ke sana, kau tidak perlu berangkat dan tetap di sini," ucap Iriana.


"Kenapa ?" tanyanya.


"Karena kabur dari masalah bukan sebuah solusi," ucap Ellia.


"Kadang meninggalkan adalah hal yang lebih hebat dari cinta," tambah Ikram.


"Aku sedang tidak ingin mendengarkan siapapun," ucap Ifraz yang berlalu pergi dengan mobil berwarna biru metalik favoritnya.


"Abang sudah memblokir paspor mu, jangan pernah berniat untuk kabur," teriak Ikram.


"Iriana blokir visa dan paspornya sementara, dan abang nggak mau tau awasi dia," ucapnya.


"Oke bang," ucapnya senang seperti telah mendapatkan sebuah jackpot.


Gadis ini berlari dengan cepat menaiki mobil yang sudah berada tepat di belakang Ifraz sejak tadi, " aku pergi dulu bang, kakak ipar sampai bertemu nanti malam," ucapnya yang langsung berkendara dengan kecepatan tinggi keluar dari mansion.


"Kau kuliah kan ?" tanya Ikram.


"Iya,"


"Ayo, aku akan mengantarmu sampai di depan gerbang kampus," ucap Ikram.


"Nanti ketahuan tidak ?


" Tidak akan, ada aku bersamamu, tidak perlu berfikir macam-macam," ucap Ikram.


"Baik, ayo kita berangkat," ucap Ellia.


Keduanya sudah sampai di depan gerbang kampus, mobil yang di pakai Ikram kali ini berbeda dengan mobil yang biasa ia kenakan di kampus, di tambah kaca gelap yang di desain khusus anti peluru membuat tidak ada siapapun dari luar yang bisa melihat masuk ke dalam.


"Mas, aku kuliah dulu ya, nanti yang jemput aku siapa?" tanya Ellia.


"Tentu saja aku, siapa lagi," ucap Ikram.


"Oke hati-hati mas Ikram," ucapnya memeluk Ikram cukup lama sebelum keluar dari mobil.


Nando menggerakkan mobilnya menjauh dari kampus Ellia, "kau tau harus kemana kan Nando," ucap Ikram.


"Siap tuan muda,"


Nando membawa Ikram langsung menuju tujuannya hari ini, "semua sudah clear? tidak ada masalah kan?"


"Aman tuan muda, tidak sehebat itu, hanya seorang playboy kelas teri," ucap Nando.


"Oke, aku tidak ingin ada masalah lain saat kalian menyelesaikan masalah ini," tambahnya.


"Tuan muda lebih cocok menggunakan motto pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah," batin Nando.


Mereka sudah berada di sebuah tempat yang sangat tidak di sangka, sebuah kantor polisi.


"Kalian membawanya kesini ?" tanya Ikram sedikit heran, jika sebelumnya mereka membawa ke gua, rumah tersembunyi, ruang bawah tanah atau benteng hitam, tapi kali ini mereka membawanya kesini.


"Dia incaran polisi tuan muda, mereka semua sangat berterimakasih karena kita sudah berhasil menangkap nya dan menyerahkan kepada mereka," ucapnya.


"Dia melakukan apa?" tanya Ikram.


"Jual beli wanita," ucap Nando menjelaskan.


"Dia melakukan itu dengan pekerjaan sebagai dosen? pantas saja semua incarannya adalah mahasiswa," ucap Ikram.


"Menjadi dosen adalah misinya untuk mendapatkan banyak perempuan untuk di jual secara ilegal tuan muda,"


"Lalu Nadin?"


"Salah satu targetnya,"


"Wah, mengerikan sekali, apa dia bukan manusia ? sampai bersikap seperti itu pada wanita?" pikirnya.


"Dia manusia tuan muda, dia memiliki catatan medis dan masih bernafas," ucap Nando.


"Ah, mungkin dia lahir dari batu, sampai bisa melakukan hal itu," ucap Ikram lagi.


"Dia tidak pernah tertangkap karena cukup pandai menggunakan komputer, sehingga alamat IP nya tidak di ketahui, dosen hanyalah samaran tuan muda," ucap Nando.


"Silahkan tuan muda, mereka sudah menunggu anda," ucap Nando tidak menjawab ucapan Ikram sebelumnya.


"Nando, aku tidak ingin membuat kehebohan, antar kan aku langsung padanya saja secara pribadi, sisanya aku serahkan pada mereka untuk menyelesaikan kasusnya." ucap Ikram.


"Baik tuan," ucapnya, Nando langsung keluar dari dalam sana, masuk terlebih dahulu dan menjelaskan apa yang di inginkan Ikram dengan baik dan mudah di Terima.


"Baik tuan Nando, sebagai bentuk ucapan terimakasih kami, kami akan berpura-pura tidak mengenal siapa beliau, jika terjadi sesuatu anda bisa memanggil kami,"


"Baik, terimakasih komandan," ucapnya pada kepala Polisi tempat ini.


"Semua kembali ke tempat dan pekerjaan masing-masing, tuan muda Ikram sangat low profil dan tidak ingin menerima perlakuan khusus dari siapapun, tetap berusaha membuat beliau nyaman," tambahnya.


"Siap bos,"


Ikram masuk dengan tenang, ia langsung di antar menuju sebuah ruangan interogasi yang cukup gelap.


Hanya seorang saja yang duduk di sana, dengan Nando yang masih setia di belakangnya, Ikram duduk di sebuah kursi berhadapan dengan laki-laki ini.


"Kau di pecat,"


"Memang kau direktur kampusku ? kau juga hanya seorang dosen dan pengusaha, siapa kau memecat ku begitu saja?" ucapnya.


Ikram melemparkan sebuah kartu nama, "aku memang direktur," ucapnya, laki-laki itu mengambil kartu nama yang baru saja di lemparkan oleh Ikram.


"Aku tau bahwa kau bekerja di universitas yang sama denganku, aku akan membeli universitas itu dengan syarat, kau harus di pecat," ucap Ikram.


"Tunggu.. Apa??"


"Kau berhasil menghindar ditangkap sejauh ini, namun sayangnya kau bertemu denganku," ucap Ikram, laki-laki di hadapannya hanya menatap Ikram yang masih berbicara dengan alis bertaut.


"Seperti yang kau lihat, aku kaya, gigih, dan pintar, setelah di penjara kau akan kesulitan mencari kerja," ucap Ikram yang sudah bangkit dari duduknya.


"Tolong ampuni aku, kumohon tolong ampuni aku," ucapnya yang bahkan tidak mendapat respon sekali dari Ikram, Ikram bahkan membalikkan badannya hendak keluar.


"Hey," teriak laki-laki itu dengan menggebrak meja.


"Ini tidak ada hubungannya dengan mu, kenapa kau bertindak sejauh ini?" ucapnya kasar.


"Kau, sudah mengganggu orang yang seharusnya tidak kau ganggu, dasar sampah," ucap Ikram yang langsung bergerak pergi dari sana tidak perduli suara teriakan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya.


***


Hari H pernikahan


"Iraz cepat bangun," ucap Iriana berusaha membangunkan Ifraz yang masih enggak membuka matanya.


Ini sudah kedelapan kalinya Iriana datang dan membangunkan Ifraz pagi ini, mulai dari Iriana belum mandi sampai sekarang sudah cantik dan rapi dengan dress ungu muda yang membalut tubuhnya.


"Abang, aku sudah menyerah, dia sama sekali tidak beranjak dari tidurnya," ucap Iriana kesal.


Ikram menarik sedikit anak rambut Iriana, "kenapa bang,"


"Begini lebih cantik," ucap Ikram.


"Benarkah?" tanya Iriana senang.


"Turun kebawah dan tanya pendapat Ellia, dia memiliki selera yang bagus dalam tatanan rambut," ucap Ikram membujuk halus agar adiknya itu tidak semakin kesal.


"Siap abang," ucapnya yang segera berlari ke bawah.


Ikram masuk ke dalam kamar Ifraz, mendekati ranjangnya dan menyiram adik laki-laki nya ini dengan air yang sebelumnya ada di dalam sebuah gelas di samping tempat tidurnya.


"Kau mau menikah tidak?, jika tidak abang akan batalkan pernikahannya," ucapnya yang terdengar samar di telinga Ifraz.


"Aku tidak di undang, kenapa aku datang," ucap Ifraz yang belum setengah sadar.


"Kau jadi mau menikah atau tidak? abang tidak akan membiarkan Nadin menunggumu lagi kali ini," ucap Ikram yang langsung membuat mata Ifraz terbelalak.


"Hah, benarkah aku yang akan menikah?" tanyanya lagi tidak percaya.


Ikram tidak menjawab, tapi jarinya menunjuk pada sebuah setelan baju pengantin yang sudah menggantung di lemari miliknya.


***


Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.


Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.


Selamat membaca.