
"Orang-orang itu, tentu tidak akan bisa mengalahkan ku bahkan jika aku tanpa senjata," ucapnya dengan melempar sebuah pistol yang cukup mahal dengan desain terbaru dan gaya khasnya yang elegan dan tentunya tetap tampan.
"Ini," ucap Hassel yang baru kali ini melihat sebuah pistol yang mengkilat indah.
"Senjata terbaru yang bahkan badan intelijen negara ini belum memilikinya, itu di desain khusus untukku," tambah Ikram.
Zelin masih menatap Ikram yang kini tengah memutari semua orang yang ada di sana, tak lama sebuah peluru berhasil lolos dari pistol mahal yang Ikram sembunyikan di balik jasnya.
Peluru itu menembus kepala dua orang musuhnya sekaligus, "Kau," teriak Hasel.
Belum puas dengan amarahnya, Ikram mendekati Hassel dan menempatkan sebuah pistol di dahi laki-laki ini, "karena itu gunakan otak, bisa bela diri saja tidak akan cukup untuk bertahan di dunia seperti ini, kau juga harus cukup pintar dan kaya," ucapnya tanpa basi basi dengan ekspresi wajah menakutkan namun tetap tidak menghilangkan senyum di bibirnya.
Dor
"Bos," teriak yang lain begitu Hassel sudah terkapar tidak berdaya di lantai dengan peluru menembus dahinya.
"Aku tidak pernah main-main," jelas Ikram.
Sekali lagi Ikram melesatkan pelurunya, dan melemparkan sebuah peluru yang sebelumnya ia lemparkan pada Hassel kepada Zelin, Zelin yang sejak tadi sudah faham dengan kode yang di berikan Ikram kini bergerak memutar dan menembak satu persatu semua musuh yang ada di sana.
Pertempuran dan pertumpahan darah tidak bisa di hindari lagi, bedanya semangat pada diri semua orang yang sebelumnya di kalahkan setelah tembakan yang di terima ketua mereka kini bangkit lagi karena masih ada harapan di diri Ikram.
Tidak butuh waktu lama ia bisa menguasai benteng ini, "Ikram," panggil Alexander.
Ikram yang tengah memberi komando untuk membersihkan seluruh benteng dengan darah yang berceceran di mana-mana kini menoleh, laki-laki yang cukup tua itu mengangkat tangannya meminta Ikram untuk mendekat, "Ikram," panggilnya lagi.
Ikram sudah duduk di sampingnya, tepat di sebelah kanan dan Zelin di sebelah kiri, "kau sudah tau peraturan kita sejak lama, siapapun yang bisa mengalahkan ketua maka dia yang akan menjadi ketua berikutnya, aku memberimu kuasa untuk semua orang yang sebelumnya berada di bawah kepemimpinan ku, nanti kau yang akan memutuskan arah dan tujuan mereka semua, uhuk," ucapnya yang di akhiri dengan sebuah darah keluar dari bibirnya.
"Ayah," panggil Zelin.
"Aku juga akan menitipkan putriku padamu, dia hampir tidak pernah bertemu orang luar dan melakukan hubungan sosial dengan orang lain, tolong jaga dia di dunia yang sudah mulai berubah ini,"
Deg, ucapan ini cukup membuat Ikram cemas, "tapi aku minta maaf ayah angkat, aku sudah menikah, dan aku tidak bisa jika,"
"Aku tidak memintamu menikahinya, hanya jaga dia dari orang-orang yang ingin menyakitinya," ucapnya di deti-detik terakhir hidupnya.
"Ayah, aku bisa menjaga diriku sendiri, jangan berkata seperti itu," ucap Zelin yang masih tetap kuat.
"Aku ingin bicara baik-baik dengan ayah angkat untuk mempertimbangkan aku sebagai ketua tanpa harus membunuhnya, tapi dunia sedang berpihak padaku sekarang, setelah menyelesaikan semua ini aku bisa segera kembali," batin Ikram.
***
Ellia sudah sampai di depan apartemen tempat dirinya dan Ikram tinggal sebelumnya, awalnya Yuda tidak merasa heran karena ini memang bukan apartemen mewah, ini hanya apartemen sederhana yang sering Yuda jumpai, "aku akan membantu membawanya," ucapnya pada Ellia yang hanya di jawab oleh sebuah anggukan.
Ellia hanya menggeleng dan meletakkan tangannya pada sebuah kotak kaca tepat di atas tombol-tombol angka itu, "Ellia ini ?" tanya Yuda.
"Hanya aku yang bisa masuk ke sana," tambah Ellia.
Pintu lift terbuka, Yuda kembali di buat tercengang dengan semua hal yang menarik perhatiannya di apartemen ini, mulai dari desain interior, furnitur dan beberapa peralatan canggih berada di rumah ini, bahkan rumah miliknya belum memiliki semua ini,"
"Suami Ellia bukan orang sembarangan, apartemen kecil dan murah di tengah kota, tapi siapa sangka isinya akan semewah ini," batin Yuda.
"Terimakasih Yuda, kamu bisa pulang sekarang," ucap Ellia.
"Aku akan mengizinkan kamu besok pagi, prof Ikram juga kebetulan minggu lalu tidak masuk, jadi jangan khawatir, aku akan mengabsen untukmu besok,"
"Prof Ikram," ulang Ellia.
"Iya,"
"Aku akan datang besok, jangan khawatir,"
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu," tambahnya canggung.
Entah sejak kapan jarak mereka jadi sejauh ini, kali ini bahkan lebih jauh dari sebelumnya, Ellia berbicara tanpa gairah, ia datang dan langsung bergerak menuju tempat tidur dan meringkuk di sana.
Sebelum benar-benar terlelap, Ellia terlebih dulu memutuskan untuk melihat kamar Ikram dan seluruh isi rumah, ia ingin memastikan lagi bahwa semua ini tidak benar, "mas Ikram masih ada, aku masih bisa bertemu dengannya lagi," pikirnya berulang-ulang.
Dengan terburu-buru Ellia berjalan menuju kamar Ikram, hal pertama yang menarik Ellia adalah lemari, ia ingin memastikan baju milik Ikram masih di sana, namun di luar dugaan, lemari itu sudah kosong tanpa satu pun pakaian dan peralatan milik Ikram.
Ellia bergerak ke kamar mandi, bahkan sabun yang biasa Ikram pakai pun tak ada, "besok aku harus menemui mas Ikram di kampus," pikir Ellia.
Ia benar-benar merasakan kehilangan, Ikram tanpa sadar menabur benih dengan sangat rapi hingga Ellia sendiri tidak sadar jika tanaman itu sudah tumbuh, dan sepertinya sudah rimbun.
Tidak ingin terlalu memikirkan Ikram, Ellia memutuskan untuk membersihkan seluruh apartemen yang masih bersih dan kinclong, bahkan tak ada satupun debu di apartemen ini karena ada pembantu rumah tangga yang selalu membersihkan setiap hari.
Mulai menyapu, mengepel dan mencuci piring yang masih bersih, Ellia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ikram, gadis ini menahan agar ia tidak down dan air matanya tidak tumpah.
Yang lebih membuatnya menyesal adalah, ia salah kenapa tidak mempertahankan Ikram sebelumnya, kenapa masih berhubungan dengan Yuda padahal dia sudah menikah, jika ia tidak bermain api mungkin ia bisa kembali bersama Ikram di apartemen ini sekarang.
Sekuat apapun Ellia, tangis itu tetap tidak bisa di hentikan, berkali-kali ia mengusap air matanya dan berusaha tidak menangis namun air mata itu sekali lagi telah jatuh dan menghancurkan pertahanan dirinya, matanya bahkan masih bengkak, tapi air matanya tetap tidak mau berhenti.
"Kenapa sampai meninggalkan ku dengan cara ini, kenapa tidak menungguku bangun dan berpamitan dengan baik, aku menjadi merasa sangat bersalah," ucap Nadia yang tengah terduduk seorang diri di dapur dengan tangan masih penuh sabun.
TO BE CONTINUE