
"Abang," lirih Iriana namun masih terdengar di telinga Ifraz.
Ifraz hanya memejamkan mata, meraba apa yang harus ia lakukan setelah ini, "kembali ke mansion,"
"Iraz kita cari dulu bang Ikram," tahan Iriana.
Bukan menjawab, laki-laki yang biasanya lebih ramah itu hanya menatap semakin tajam pada Iriana.
"Tidak percaya padanya atau tidak percaya padaku?" ucapnya kemudian yang mana semakin membuat suasana di dalam mobil itu terasa dingin.
Iriana hanya menatap abangnya dengan kelopak mata berkaca, "kita kembali ke mansion seperti yang Iraz bilang," tambahnya kemudian sebelum memutar kepalanya ke depan.
"Aku hanya harus percaya pada mereka berdua, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi," batik Iriana.
Cukup lama keheningan terjadi di dalam mobil, hingga akhirnya sebuah panggilan masuk dari Zelin memecah keheningan.
Hanya dengan satu tombol Iriana menerima panggilan tersebut, "Halo iya kak," ucapnya.
"Aku menunggu kalian di mansion utama," ucapnya sebelum panggilan itu terputus.
"Plan B yang dibicarakan Ikram, aku menyerah kan komando sepenuhnya padamu Iraz," tambah gadis itu berusaha mengendalikan diri.
Ifraz masih duduk terdiam di tempatnya, tanpa memberi komentar pada adiknya.
"Orang kita sudah di utus ke lokasi, beberapa orang dari badan intelijen negara juga sudah mulai berdatangan, ini akan menjadi kasus publik,"
"Jangan nyalakan apapun di mansion, aku tidak ingin kakak ipar mendengar berita yang ambigu dari orang luar, aku sendiri yang akan menjelaskan kepada kakak ipar mengenai ini," tambah Ifraz.
"Kita sudah hampir masuk ke dalam mansion tuan muda,"
Setelah memasuki lokasi aman, terlihat sebuah pintu pagar besar di depan mereka, beberapa helikopter hilir mudik di udara sebelum mendarat, tak hanya itu, deretan mobil hitam besar juga sudah berjajar rapi di sana menunggu kedatangan mereka.
Waktu berfikir sudah habis, cukup lama keduanya di dalam mobil, berusaha mengendalikan diri dengan baik dan tetap berfikir jernih.
"Iriana,"
"Ingat waktu dulu abang bilang tunggu, aku akan kembali tengah malam ini," ucap Ifraz mengiyakan.
"Hmm," jawab Iriana.
"Abang datang dan menepati janjinya kan?" tanya Ifraz lagi.
Iriana tidak menjawab, gadis itu hanya mengangguk pelan dengan tetap menatap ke depan.
"Karena itu kali ini kita juga harus percaya, hanya tetap kuat sampai batas waktu yang bang Ikram bilang, kita masih harus mengurus banyak hal mengenai ini, kalo kita nggak kuat, plan B yang sudah direncakan bang Ikram juga bakal gagal," tambah Ifraz.
Iriana mengangguk, "Iraz, tetap jadi abang yang menjengkelkan saja, jangan terlalu serius dan nanggung banyak beban kayak bang Ikram, peran ini akan ku selesaikan dengan baik," ucapnya sebelum kemudian meninggalkan Ifraz di dalam mobil seorang diri.
Laki-laki itu hanya tersenyum, "semoga tidak ada variabel lain yang bakal merusak rencana bang Ikram," gumamnya pelan.
***
Ellia masih melanjutkan kelas yang belum selesai siang ini, ia berusaha mengirim pesan kepada Ikram sejak tadi, namun sampai saat masih belum juga ada balasan, membuat Ellia semakin tidak fokus untuk mendengarkan apa yang di sampaikan oleh dosen.
..."Mas Ikram, semangat untuk hari ini, nanti jangan lupa memberi kabar kalau acaranya sudah selesai,"...
......"Mas Ikram,"......
......"Halo mas Ikram, apakah ada orang di sana?"......
Beberapa kali ia memberikan sebuah pesan pada suaminya, tapi sampai sudah siang begini masih belum mendapatkan jawaban juga.
Nafas berat keluar dari mulut gadis itu, yang mana menarik perhatian kedua orang yang ada di samping kanan kirinya.
"Astaga El, beban hidup lu kayaknya berat banget sampek keluar nafas berat kayak gitu," ucap Rara.
"Hehe," jawabnya hanya meringis.
***
"Kita hanya akan memberikan klarifikasi secara tertulis di website Danial grub, Iriana blokir siapapun yang hendak masuk atau menghubungi kita bahkan jika itu utusan dari negara, sementara amputasi semua donasi yang masuk dalam kas negara dalam bentuk apapun, dan kak Zelin, bantu aku mengontrol dan mengawasi seluruh hutan di area mansion ini, aku tidak ingin ada siapapun yang masuk mulai saat ini hingga beberapa hari, setelah kakak ipar datang segera tutup rapat pintu mansion, tidak boleh ada yang bisa keluar masuk bahkan hanya seekor semut," ucap Ifraz begitu masuk ke dalam rumah dengan pintu besar itu.
"Kita rapat sekarang," tambah Iriana.
Semua orang yang sudah cukup jelas dengan perintah Ifraz dan Iriana segera bergerak menuju posisinya masing masing.
***
Beberapa orang sudah duduk sesuai tempatnya di dalam ruang rapat berukuran besar dengan desain mewah seperti bagaimana desain mansion pada umumnya, kursi itu hanya di isi oleh beberapa orang, Ifraz, Iriana, Zelin, dan Ginanjar.
Tak lupa juga Nando yang masih setia berdiri di belakang kursi utama tempat Ikram biasa duduk, meskipun tuan yang ia layani itu tidak ada di sana.
"Ini sebuah pesan yang diberikan Ikram padaku, aku juga belum membukanya," ucap Ginanjar memberikan sebuah flashdisk pada Nando.
Nando dengan cepat dan hati-hati membuka isi flashdisk itu di depan semua orang, untuk mengetahui bagaimana langkah selanjutnya akan di ambil.
"Hay, kalian sedang panik karena aku?" ucap Ikram yang ada di dalam layar besar yang kini sedang menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruangan ini.
"Jika tidak terjadi apa-apa padaku kalian pasti tidak akan pernah melihat video ini, jika kalian sampai melihatnya, maka sudah bisa di pastikan aku sedang dalam bahaya atau bahkan sudah tidak ada," ucap Ikram dengan masih tersenyum.
"Oke langsung saja, Ifraz, kau teruskan pusat penelitian yang sudah kita rencanakan dari awal, jangan membuat pergerakan terlalu mencolok, semua bisnis di bidang kesehatan sementara berada di wilayah kekuasaan mu, tak hanya itu, seperti yang kubilang sebelumnya, kau akan menjadi wakil ku dalam membuat keputusan apapun,"
"Dan Iriana, kalau tidak salah usiamu masih belum genap 25 tahun kan, bermain saja dan lakukan apapun yang kamu inginkan, semua perusahaan akan abang serahkan sementara pada paman untuk mengurusnya,"
"Tunggu bang," ucap Iriana tidak Terima.
"Iriana bebas bermain dan berkarya dengan robot-robot yang sangat kamu suka itu, tapi ingat untuk tetap berinteraksi dengan manusia,"
"Zelin, benteng hitam dan distribusi senjata militer sementara tolong mengurusnya, jika musuh yang ku hadapi sekarang lebih kuat dari dugaan ku, artinya aku juga harus menghabiskan waktu lebih lama, tapi ingat, kau tau kekuatanku lebih dari siapapun, tidak mudah untuk menghabisi ku, dunia boleh menganggap aku mati, tapi ingat kalau aku pasti kembali, anggap saja aku sedang cuti sementara dan membagi sedikit tugasku pada kalian semua," jelasnya sebelum layar itu kembali hitam pertanda pesan Ikram sudah selesai.
"Bagaimana paman?" tanya Ifraz meminta saran pada Ginanjar.
"Masalah perusahaan dan mansion ini, kamu yang mengambil alih sementara nak, paman hanya akan membantu mengurus perusahaan, keputusan akhir tetap ada padamu, perihal benteng hitam dan semua yang ada di sana sepenuhnya menjadi tanggung jawab Zelin Alexander, kita tidak bisa mengusik nya sedikitpun," jelas Ginanjar.
"Aku akan kembali ke benteng dan melakukan tugasku sampai ketuaku kembali, sampai saat itu akan selalu ada yang menjaga mansion ini sepanjang waktu, keselamatan kalian semua menjadi tanggung jawab kami, jangan lupa untuk tetap koordinasi," ucap Zelin yang sudah beranjak dari duduknya.
"Apakah dia benar-benar bisa bertahan setelah terjadinya ledakan itu?" tanya Iriana.