
Ellia berjalan dengan malas, tidak ada yang ia teriaki seperti biasanya, namun langkahnya berhenti, "kenapa kalian ada di sini ?" tanya Ellia terkejut.
Yuda dan Toga sudah bersimpuh di lantai dengan kedua tangan dan kakinya di ikat, matanya bahkan di tutup dengan sehelai kain.
"Ellia," ucap Yuda begitu mendengar suara Ellia.
Dengan terburu-buru Ellia membuka penutup mata kedua temannya itu, "kenapa kalian bisa ada di sini, cepat pergi dari sini, ini bukan tempat yang aman untuk kalian, cepat pergi dari sini," ucapnya terburu-buru membuka tali yang mengikat kedua tangan keduanya.
Kedua laki-laki itu menatap sekeliling mansion sambil menunggu Ellia membukakan tali itu, Ellia masih berusaha karena talinya memang sangat kuat sehingga sulit untuk di lepaskan.
"Kamu tinggal di sini El?" tanya Yuda yang masih menatap sekelilingnya.
"Lihatlah, bahkan setelah apa yang sudah kau lakukan, dia masih menyelamatkan kalian dan meminta kalian pergi, dia adalah orang yang kau bilang pelacur," jelas Ifraz yang baru saja menuruni anak tangga.
"Kau orang di belakang Ellia?" ucap Toga tidak sabar.
"Toga jangan di teruskan," cegah Yuda yang sudah tau seberapa besar pengaruh Ikram Al Zaidan.
"Bisa dibilang begitu," jawab Ifraz.
"Bahkan seorang dokter besar dari Danial group sampai harus menculik kami karena gadis sepertinya," ucap Toga tidak memperdulikan ucapan Yuda, ia juga tau berita yang sedang ramai di media, dan ia ingat betul siapa laki-laki yang ada di hadapannya ini.
Ellia menggigit bibirnya, beberapa keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya, ia bukan sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh Toga, tapi khawatir dengan kedua temannya ini, "apa yang akan dilakukan Ifraz pada mereka berdua nanti, aku bahkan belum menceritakan apapun tapi dia seperti sudah tau,"
"Toga cukup, mereka bukan orang yang bisa kita lawan, kita bisa selamat dari sini, tapi belum tentu perusahaan ayahmu bisa bertahan setelah kau pulang nanti," ucap Yuda dengan suara kecil.
Ellia berjalan mendekati Ifraz, "dokter Ifraz, aku mohon bebaskan mereka, yang mereka katakan hanya emosi sesaat, kita berteman, apa yang mereka katakan hanya obrolan biasa antar teman, tolong bebaskan dan jangan ganggu mereka, aku tidak apa-apa," ucap Ellia sedikit memohon.
Sebuah tangan memegang kepala Ellia, "di dunia ini, tidak ada yang bisa membuat mu menangis selama aku ada di belakangmu, menjagamu sudah menjadi kewajiban ku sekarang,"
"Ah rupanya kau benar-benar orang yang ada di belakangnya, pantas saja Ellia bisa mendapatkan 30 milyar dengan mudah, ternyata dia menjual dirinya pada orang yang tepat," ucap Toga sedikit kurang ajar.
Sebuah tamparan mendarat tiba-tiba di pipi Toga hingga laki-laki itu tersungkur, "Toga," teriak Yuda.
Ifraz berbeda dari biasanya, laki-laki lembut yang selalu manja pada suaminya itu kini sangat berubah, entah beban yang di tinggalkan Ikram terlalu berat atau ada hal lain di luar yang Ellia tau, tapi ini bukan Ifraz yang pernah ia kenal sebelumnya.
"Iraz," gumam Iriana pelan di balik dinding.
Iriana hendak mendekati Ifraz namun di cegah oleh Ginanjar, "jangan di cegah, mereka juga sudah keterlaluan dengan Ellia,"
"Paman,"
"Masuk saja ke kamar, paman yang akan mengurusnya,"
"Ini juga masalah Maheza kan? bagaimana ?"
"Dia sudah ada di dalam mobil,"
"Bagaimana tubuhnya paman?''
"Masih utuh, kau tau dengan jelas Ikram tidak sekejam itu,'' tambahnya lagi.
Iriana tersenyum, kemudian beranjak pergi entah kemana.
"Siapa yang menjual diri hah? siapa yang kau bilang menjual diri ?" ucap Ifraz semakin hilang kendali.
Ifraz kembali mengangkat tangannya, namun kali ini Ellia memohon di bawah kakinya, kakak iparnya ini sampai duduk di bawah kakinya agar ia tidak kembali menyakiti teman-temannya.
"Dokter Ifraz aku mohon, bebaskan saja mereka," ucapnya cukup ketakutan, jika ini Ikram ia sudah pasti akan memeluknya agar suaminya tidak menggila, tapi karena ini Ifraz ia tidak tau harus melakukan apa.
"Aku, aku akan melakukan apapun untuk mereka, katakan saja apa yang harus ku lakukan," tambahnya.
"Ellia, kau tidak perlu melakukan ini," ucap Yuda.
Kedua laki-laki yang ada di belakang Ellia kini hanya menatap gadis di depannya dengan sedikit tidak percaya.
"Ellia,"
"Paman,"
"Bangun," ucap Ginanjar, tapi tidak dihiraukan oleh Ellia.
"Ifraz,"
"Ellia bangun, jangan melakukan ini," ucap Ginanjar menarik lengan Ellia agar segera berdiri, namun Ellia tetap tidak mau bangkit menunggu jawaban Ifraz.
''Ifraz," panggil Ginanjar lagi.
Ifraz menutup kedua matanya, ia mencoba berfikir lebih jernih, cukup lama dalam keheningan akhirnya tubuh laki-laki tampan yang hampir mirip dengan suaminya itu kini berada di hadapannya.
"Kakak ipar," panggilnya.
"Kakak ipar?" gumam Toga.
"Kakak sudah menjadi nyonya rumah ini, tidak perlu melakukan ini dan memohon padaku,"
Mata itu berkaca-kaca, "aku, aku minta maaf karena sering merepotkan," ucap Ellia.
Ifraz hanya tersenyum, "sekarang bangunlah, jangan memohon seperti ini lagi kak," ucapnya menarik Ellia.
"Lepaskan mereka, aku sudah tidak ingin melihat mereka lagi," perintah Ifraz.
Beberapa orang datang melepaskan ikatan tangan Yuda dan Toga, "Maheza sudah berada di mobil yang akan mengantarkan kalian pulang,"
Wajah Yuda terangkat, "Terimakasih Ellia, terimakasih tuan Ifraz, aku akan membayar kebaikan ini nanti, aku pasti akan melakukannya," ucap Yuda lega.
"Tidak perlu, ini untuk semua perbuatan baik yang sudah kakak ipar ku terima selama kalian berhubungan, terimakasih sudah menjadi rumah untuknya selama ini, setelah ini cukup kau hidup dengan baik agar kakak ku tidak di penuhi perasaan bersalah dan bisa tenang," tegas Ifraz.
Guratan aneh terlihat sekali di wajah Yuda, namun laki-laki ini cukup bisa mengendalikan dirinya sendiri, "Baik, terimakasih atas semua kebaikan kalian,"
"Aku sudah tidak perlu khawatir padamu El, kamu sudah di kelilingi orang-orang seperti mereka, orang sepertiku sudah tidak ada gunanya lagi jika harus dibandingkan dengannya, semoga bahagia El, aku tidak tau bisakah aku mencintai orang lain selain kamu, tapi selama kamu bahagia, itu sudah cukup,"
"Siapa suaminya ? Mungkinkah?" tanya Toga berhati-hati.
"Ikram Al Zaidan," ucap Yuda tidak ingin kembali memperkeruh suasana.
"Professor Ikram?"
"Iya," wajah putih Toga semakin pucat mengetahui beberapa fakta di depannya, "sombong sekali aku berbicara begitu berani kepada Ellia," batin Toga.
"Bawa mereka pergi," ucap Ifraz.
"Aku yang akan mengantar mereka," ucap Ellia.
Sebuah tangan menghalangi Ellia, menarik lembut pergelangan tangannya, "tidak, kakak ipar tetap di sini,"
"Paman yang akan mengawal, kalian naiklah," ucap Ginanjar.
Yuda melihat aneh Ginanjari, dengan pelan dan hati-hati ia berbisik pada Toga, "hati-hati, dia lebih kejam dan tidak di duga dari yang kita temui tadi,"
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.
Semoga menghibur.