Ellia's Husband

Ellia's Husband
Hadiah kunjungan



"Kenapa ? masih ingin bermain denganku bersama suami anda nyonya Dirgantara ?" ucap Andara pedas yang mana membuat wanita paruh baya itu melotot sempurna.


Deg.


Jika Dirgantara gila, maka istrinya juga gila, dulu saat Hassel kalah dalam bermain judi dengan Dirgantara, ia selalu mendorong Andara ke sisi laki-laki yang ada di depannya ini, tentunya bermain gila bertiga dengan istrinya.


Wanita yang terlihat polos itu juga sama liarnya saat berada di atas ranjang, sangat berbeda dengan penampilannya di luar, anggun, berdedikasi dan cukup ramah terhadap sesama.


Aslinya benar-benar gila, sangat gila.


"Sudah mengerti sekarang ?" ucap Ikram mengintimidasi.


"Apa yang kau inginkan sampai harus datang sendiri ke sini ? ini wilayah ku, wilayah kekuasaan ku, saat kau datang ke sini maka artinya kau juga bersiap untuk mati," tanya Dirgantara.


"Hanya ingin berkunjung saja, kudengar kau adalah penyumbang dana terbesar di beberapa kelompok mafia, mungkin akan mengajakmu bekerja sama, tenang dulu, jangan mudah marah begitu, padahal di luar kau memiliki kepribadian yang sangat baik loh, tidak bagus menunjukan sikap aslimu di depanku," ucap Ikram.


"Bekerja sama dengan orang gila sepertimu ? kau pikir aku bodoh ?" ucap Dirgantara meremehkan.


"Orang gila ?" ulang Ikram.


"Tapi anda memang gila bos, cukup gila jika sampai melepaskan mereka," ucap Andara, kali ini ia tidak memanggil Ikram tuan muda, karena memang situasi dan kondisinya mendukung untuk bersikap bar-bar.


Pasalnya ia memiliki dendam pribadi yang cukup besar untuk kedua orang ini, kedua orang yang menjadikannya binatang, dan hal hal buruk yang pernah mereka lakukan padanya sebelumnya selama bekerja dengan keluarga Hassel.


"Benarkah ? menurutmu mereka bisa tunduk dalam genggaman tanganku ?" tanya Ikram


"Sangat bisa, ini mudah sekali bos," jawab Andara menjadi kompor.


"Kalian pikir aku bisa semudah itu di tumbangkan," ujarnya mulai muncul sifat angkuh dan sombong.


Kemarin dia masih rendah hati dan banyak diam, tapi kali ini karena dia merasa aman dan berada di kandangnya sendiri, ia cukup berani untuk melawan Ikram di sini, terlebih ada beberapa orang yang menjaga rumah ini.


"Penjaga," teriaknya.


"Hey, aku bisa sampai di sini, di hadapanmu, kau pikir mereka masih bisa selamat setelah aku berhasil melewati mereka ? itu sangat tidak mungkin," ucap Ikram lagi.


Ikram berjalan, duduk tepat di kursi taman yang sebelumnya menjadi tempat duduk Dirgantara.


Tentu saja dengan buah dan kopi yang masih tersisa di sana, perlahan laki-laki ini meminumnya, "terlalu pahit, bagaimana kau masih bisa menikmatinya di usiamu yang sekarang, ini bisa merusak lambung dan mengganggu kesehatanmu," ucap Ikram lagi berbasa-basi.


Laki-laki ini meletakkan kopinya, kemudian mengambil buah segar yang ada di hadapannya, menggigitnya dengan sempurna dan masih terlihat tampan, sangat tampan.


"Apa mau mu ?" tanya Dirgantara cukup kesal.


"Andara, kemari dan coba buahnya, kita adalah tamu, tapi tuan Dirgantara ini sepertinya sangat pelit sampai tidak memberi kita kesempatan untuk duduk dan menikmati buah-buahan ini," tambahnya.


"Siap bos," ucap Andara yang langsung duduk di kursi yang sebelumnya di tempati bu Dirgantara dengan lebih dulu menyingkirkan bu Dirgantara dari sana dengan cukup kasar.


"Kau, wanita ini," ucapnya yang mulai kehilangan kendali dan hendak menarik rambut Andara yang sudah duduk di hadapannya.


"Hey, ingin menyentuh orang ku ?" ucap IKram yang sudah menahan tangan bu Dirgantara dengan tangannya.


"Tidak semudah itu," tambahnya lagi yang langsung mendorong tangan istri Dirgantara hingga hampir terjatuh.


Dirgantara menahan tubuh istrinya yang hampir terjatuh, kemudian menarik kursi yang lain, menatap laki-laki yang ada di hadapannya dnegan cukup gusar.


"Apa yang kau inginkan ?" tanyanya lagi tidak sabar.


"Cepat katakan apa yang ingin kau lakukan, aku sudah tidak ingin berbasa-basi lagi," ucap Dirgantara.


"Jangan mencari tau, menyentuh bahkan seujung kuku istriku, aku bisa menjadi  jahat lebih dari yang kalian tau," ucap Ikram dengan penuh penekanan, aura di sekelilingnya terlihat sekali berubah, wajah ramah yang selalu tidak pernah hilang sebuah senyum dari bibirnya itu bahkan terlihat sangat menyeramkan.


"Dia kelemahan mu ?"


"she is my hidden strength, menyentuhnya sama dengan menjadikanku monster seutuhnya, lihat dan tunggu saat aku menginjak kalian dengan kakiku jika masih ingin mencobanya," ucapnya semakin mengerikan.


"Aku belum menyentuhnya,"


"Karena itu aku datang mengingatkanmu, aku juga bukan orang yang sabar," ucap Ikram yang tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mengajak Andara pergi dari sana.


"Dia hanya bermulut besar," ucap bu Dirgantara.


Ikram sempat mendengarnya, namun laki-laki ini hanya masuk ke dalam mobil dan duduk di sana dnegan tenang, "apakah perlu untuk membalasnya bos ?" tanya Andara.


"Tidak perlu, aku sudah menyiapkan hadiah kedatanganku untuk mereka, mereka pasti akan melompat senang dengan hadiahnya," ucapnya lagi.


"Baik bos,"


Mobil itu berjalan lurus melewati kebun anggur yang benar-benar luar biasa besar milik Dirgantara, Ikram hanya menatap pemandangan hijau di sekitarnya, kemudian menatap sebuah pesawat jet yang bergerak menjauh melintas di angkasa, hingga tanpa sadar Andara cukup terkejut dengan lautan api yang sudah bergerak di belakang mobil mereka.


"Bos," ucapnya khawatir.


"Itu hadiah kunjungan ku," ucap Ikram yang mana membuat Andara cukup shock mendengarnya.


"Bos bisakah kita lebih cepat sedikit, api itu sangat cepat sekali bergerak, bagaimana jika kita terkejar ?"


"Aku sudah menghitung kecepatan angin dan kecepatan mobil ini, tenang saja," ucap Ikram.


***


Dirgantara masih kembali duduk di tempatnya dengan kesal. belum menyadari jika kebun anggur miliknya sudah terbakar habis tanpa sisa, "tuan besar, tuan besar," panggil salah seorang tukang kebun.


Mereka masih tidak bergeming, hingga lautan api yang semakin besar di depan mata mereka dan hiruk pikuk orang yang ramai berteriak satu sama lain menyadarkan mereka dengan apa yang tengah terjadi.


"Tuan besar, tuan besar,"


"Ada apa ?"


"Kebun anggur milik kita sudah terbakar habis tuan,"


Dirgantara dan istrinya langsung bergegas melihat, dan benar saja kebun miliknya sudah berakhir dengan lautan api yang semakin besar dan tinggi.


Dirgantara mengingat kembali percakapan dirinya dengan Ikram kemaren malam.


..."Ini anggur yang anda inginkan tuan muda," ucap pelayan yang bersiap menuangkan botol anggur di sebuah gelas....


..."Tidak perlu, ku berikan padanya sebagai hadiah, khawatir setelah ini dia akan merindukan rasa anggur mahal seperti ini,"...


Kedua orang itu sangat shock dengan apa yang dia lihat, "Ikram Al Zaidan," teriaknya penuh amarah dan benar saja, kedua orang ini benar-benar melompat panik karena kebun yang harus ia panen terbakar menjadi abu.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak semua