
"Aku sudah menemukan lokasinya, tapi aku cukup ragu apakah bang Ikram ada di sana atau tidak," ucap Iriana.
"Dimana?"
"Sebuah hutan di sisi lain mansion ini,"
Ifraz yang sebelumnya setengah tidur dengan kaki di atas meja segera menurunkan kedua kakinya, ia cukup antusias dengan apa yang dibicarakan Iriana kali ini, "bagaimana caramu menemukannya, jika berada di sisi lain hutan ini, maka kita seharusnya sudah mengetahuinya, suaranya pasti juga akan terdengar oleh penjaga kita,"
"Ada pergerakan aneh dari hewan-hewan bang Ikram pelihara, mereka yang tidak pernah keluar tanpa pengawasan tapi tiba tiba selalu ingin berjalan ke sisi lain hutan tepat pada titik lokasi yang ku maksud tadi,"
"Ada apa di sana ?"
"Tidak ada bangunan apapun,"
"Apa jangan-jangan mayat yang sengaja di kuburkan di sana," ucap Ellia polos.
"Permisi tuan muda," ucap salah seorang nelayan meletakkan beberapa minuman di atas meja.
"Mereka bukan anjing pemburu, bagaimana bisa mencium bau mayat, terlebih dengan daging setengah matang yang mereka konsumsi, tidak mungkin sebuah mayat menarik insting mereka," batin Ifraz.
"Sudahlah, kalian makan dulu saja," ucap Ellia tidak ingin terlena dengan harapan palsu yang belum pasti.
"Ellia, paman sudah menghabiskan minumnya, paman langsung naik ke atas untuk beristirahat saja, punggungku rasanya sudah mau patah," tambahnya memegang punggung seperti orang tua yang lain.
"Air hangat sudah El siapkan di kamar mandi paman, kalau paman ingin mandi terlebih dahulu," teriaknya.
"Iya," ucapnya sambil tersenyum meninggalkan mereka semua.
"Saya juga pamit dulu nona muda, terimakasih untuk jusnya," ucap Nando.
"Nona muda yang seperti ini memang sangat cocok dengan tuan muda yang seperti itu, semoga tuan muda segera kembali dan keadaan normal seperti sebelumnya," ucap Nando dalam hati.
Iriana menatap saudaranya yang masih mematung dengan susu di tangannya, "Woy Iraz..." ucap Iriana mengagetkan Ifraz yang mana langsung melepaskan sebuah gelas di tangannya.
Pyar
"Iriana..." teriaknya kesal.
"Tenang dong bro, kenapa melamun terus dari tadi,"
"Ngantuk,"
"Ngantuk ya tidur, ngapain masih bengong di sini," tambahnya.
"Udah ah, males lah di sini, balik aja gua ke kamar," ucap Ifraz semakin kesal, meninggalkan susu tumpah bersama dengan gelas yang masih berserakan di lantai.
Iriana hanya memajukan bibirnya ke depan melihat tingkah abangnya, "sudah Ana, ini sudah hampir pagi, sebaiknya kita juga tidur," ucap Ellia.
"Hoamm, aku sudah mengantuk," tambahnya.
"Kakak ipar tidur saja dulu, aku akan menyusul nanti," ucap Iriana.
"Oke, aku pergi dulu,"
***
Di dalam kamar Ikram dan Ellia
Setelah menutup pintu kamar, Ellia hanya duduk di balik pintu, menatap seluruh isi kamar tanpa terkecuali, berusaha sekuat apapun, ia tetap tidak bisa jika harus berpura-pura kuat, gadis ini menunduk dengan kepala bersandar pada kedua lututnya hingga butiran air mata satu persatu lolos dari kelopak mata indah miliknya.
Samar-samar ia melihat kornea mata biru yang selalu datang di saat yang tepat untuknya, memori tentang Ikram masih teringat jelas di pikirannya, bayangan semua hal yang biasanya di lakukan Ikram bahkan masih tidak bisa hilang dari kamar ini.
Ini sudah beberapa hari, perusahaan sudah berhasil diselamatkan, tapi bagaimana dengan Ikram, pertanyaan bagaimana Ikram berada, bagaiman keadaanya dan apa yang sedang ia lakukan mulai kembali muncul di kepala Ellia, hanya saja Ellia tidak ingin berfikir terlalu jauh.
Gadis yang sedang beranjak dewasa itu mulai beranjak naik ke atas kasur yang mana sudah ada baju Ikram di sana, teman tidurnya beberapa hari ini hanyalah baju bekas Ikram yang ia pertahankan agar tidak di cuci.
Berbeda dengan Ellia yang mulai terlelap dengan baju Ikram di pelukannya, Iriana mulai bergerak dengan beberapa layar komputer di kamarnya, ia juga mengeluarkan sebuah drone tanpa lampu agar tidak terlihat di kegelapan malam.
Ifraz keluar dari kamar nya menuju tempat Iriana berada saat ini, laki-laki ini memakai jaket kulit berwarna hitam dengan sebuah pistol di saku kanan kirinya.
"Aku akan membawa mereka ke titik yang kau sebutkan tadi," ucap Ifraz begitu masuk ke dalam kamar Iriana.
"Pakai ini, ingat untuk menjaga diri dengan baik, beberapa orang ku akan tetap berjaga di sekitarmu untuk berjaga-jaga," ucap Iriana memberikan sebuah benda kecil di telinga abangnya.
"Aku pergi dulu, amati beberapa area di cctv, khawatir mereka melakukan pergerakan lebih dulu dari kita," pesannya.
***
Ifraz mulai membuka kunci terali besi untuk mengeluarkan semua hewan peliharaan abangnya, "Come on, kita mencari pemilik kalian, jangan bersuara terlalu keras," ucapnya pada hewan itu seolah mereka teman.
Ifraz menaiki seekor singa yang berukuran paling besar, dengan perlahan hewan-hewan itu berlari cukup kencang, hingga sampai di sebuah tempat kosong tanpa bangunan apapun di sana.
"Ada apa di sini?" batinnya namun segera turun dari bapak singa yang sebelumnya ia duduk.
Seekor hewan mulai menggerakkan kakinya di sebuah pasir yang cukup keras hingga berbunyi duk duk duk.
"Ada apa?"
Ifraz mendekat, karena keadaan masih gelap, Ifraz sungguh kesulitan untuk melihat apa yang ada di sana, tangan putih miliknya berusaha meraba apa yang ada di sana.
Deg.
"Sebuah peti? atau sebuah ruangan rahasia ? tapi sejak kapan ada di sini?" gumamnya dalam hati.
Ifraz mulai menggali, "Iriana, ini cukup dalam, panggil orang mu kemari untuk membantu sebelum matahari naik," ucapnya.
Tak lama beberapa orang berjalan mendekat untuk membantu Ifraz menggali, "ini bukan peti tuan muda, ini pintu kayu,"
"Buka," perintah Ifraz.
"Sepertinya ini sudah lama tidak di buka tuan muda, kuncinya sudah sampai seperti ini,"
"Hancurkan," ucap Ifraz tidak sabar.
Butuh waktu lima menit hingga pintu kayu itu benar-benar bisa di buka, "ada tangga yang langsung menuju bawah tuan muda,"
"Aku yang akan masuk terlebih dulu,"
Ifraz dan beberapa orang di belakangnya menuruni satu demi satu anak tangga ini, tidak terlalu dalam, namun ada sebuah tempat tidur kosong penuh darah yang masih segar tertinggal di sana.
"Berikan aku sebuah tempat," ucapnya sopan.
"Ini tuan muda,"
Ifraz dengan hati-hati mengambil kain berlumuran darah di sana, bau darah semakin pekat di dalam sini, jika dirinya bukan dokter mungkin sudah tidak tahan dengan bau ini.
"Cari apakah ada pintu lain, aku harus kembali ke lab ku," Ucapnya.
"Iriana siapkan labnya," ucapnya pelan.
Dengan bergegas Ifraz berjalan naik, tidak dengan hewan, kali ini ia memakai motor hutan yang sudah di siapkan Iriana untuknya.
Dengan kecepatan penuh Ifraz segera menuju lab pribadi miliknya yang berada tidak jauh dari mansion, lab ini sebenarnya bisa melalui jalan pintas dari kamarnya, namun sudah sepagi ini, ia tidak mau membuat keributan.
Perasaan berkecamuk di dalam dirinya benar-benar sudah tidak bisa di netral kan, ia khawatir jika apa yang ada di pikirannya terjadi.
"Ifraz ada apa?"
"Kemari, aku akan mengambil darahmu,"
"Untuk apa?"
"Cepat, aku juga akan mengambil darahku sendiri,"
Ifraz dengan sigap dan hati-hati mengambil sampel darah Iriana dan darah miliknya.
"Ingin melakukan tes DNA?"
"Iya,"
"Dengan siapa?"
"Tunggu dan lihat hasilnya," ucap Ifraz tidak mau di sela.
Jika dia harus ke rumah sakit, maka akan menunggu lama, karena itu ia membangun lab sendiri dan melakukan berbagai eksperimen sendiri di lab yang di bangunkan Ikram untuknya ini.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Iriana setelah menunggu hampir tiga puluh menit.
"99,99% berhubungan,"