Ellia's Husband

Ellia's Husband
Sang CEO



Acara masih berlangsung dengan lancar, semua berada di posisinya dengan baik, hari ini, saat Ikram sudah mulai mendeklarasikan siapa dirinya, artinya ia sudah siap untuk segala hal yang akan ia hadapi nanti, semua orang akan tau seberapa kuat Danial group sebesar apapun angin yang akan menerpanya.


Malam sudah sangat larut, namun semua orang enggan beranjak dari sana, entah karena jamuan yang begitu mewah atau masih belum puas mendekatkan diri dengan sang CEO.


"Abang, ini sudah malam, sebaiknya abang masuk dan beristirahat, yang di sini ada kami yang akan menemani mereka," ucap Ifraz.


Ikram melihat jam tangan mewah yang ada di pergelangan tangannya, "sudah jam sepuluh, ku serahkan mereka pada kalian,"


"Ini masih jam sepuluh, kenapa terburu-buru masuk ke dalam kamar, apakah ada yang sedang menunggu anda tuan Ikram,"


"Dokterku mengatakan harus kembali dan beristirahat, bagaimana caranya saya bisa menolak, saya masih dalam masa pengobatan karena ledakan yang terjadi terakhir kali," ucap Ikram kemudian, memberi penjelasan.


"Abang bisa naik sekarang, tidak baik untuk tidur terlalu malam dan kelelahan besok," ucap Ifraz lagi yang mana membuat Ikram segera naik ke atas setelah berpamitan dengan beberapa orang.


"Memiliki adik seperti anda mungkin adalah sebuah keberuntungan untuk tuan Ikram,"


"Bukan dia yang beruntung, tapi saya, bukan, kami yang beruntung memiliki saudara sepertinya, tanpa dia kami bukan siapa-siapa," ucap Ifraz membungkam orang yang berkata lagi.


***


"Pagi semua," ucap Nadin yang baru saja datang dan menepuk pundaknya cukup kasar.


"Ada apa ?" tanya Ifraz.


"Aku tertidur sambil duduk, bangun-bangun sudah sakit semua rasanya," ucap Nadin.


"Kemari aku akan melihatnya," ucap Ifraz berdiri dari kursinya, mempersilahkan Nadin duduk di kursinya.


"Kau perempuan tapi tubuhmu keras sekali,"


"Aku tidak tidur dengan baik beberapa hari terakhir ini,"


"Sudah kubilang tidur di kamarku, kenapa malah memilih di sana, sudah banyak nyamuk, bau darah,"


"Aku tidak nyaman tidur di kamar sebesar itu, kamar di tempat ini sangat besar," ucap Nadin.


"Aku akan buatkan kamar untukmu di sana,"


"Jangan, aku juga akan pindah dalam beberapa hari,"


"Kenapa ? kenapa pergi tanpa bilang padaku terlebih dahulu,"


"Tidak baik meninggalkan laboratorium kita terlalu lama, kondisinya juga sudah cukup baik, hanya tinggal pemulihan saja, lagipula kamu ada di sini," ucap Nadin.


Ifraz memijit pelan pundak Nadin untuk meringankan sakitnya, "aku akan memindahkan lab nya ke sini, tidak perlu kembali ke sana," tambah Ifraz.


"Sudah meminta izin bang Ikram, kamu seolah pemiliknya saja" tanya Nadin.


"Aku sudah mengizinkannya, tinggal di sini saja, rumah ini terlalu besar dan dingin jika di tinggali sedikit orang, bersama keluarga bukankah lebih hangat," ucap Ikram.


"Siap bang," ucapnya bersemangat.


"Aku yang bilang tidak percaya, tapi berubah seperti anak kucing saat abang datang,"


"Tentu saja, dia adalah ayah mertuaku, tentu saja aku harus bersikap baik padanya," ucap Nadin tanpa berfikir.


Seberapa kali pun ia menolak, tapi sebuah senyum dengan sadar terukir di bibir Ifraz.


"Ada apa ? jangan berlarian begitu, hati-hati," ucap Ikram.


"Kok buku ku baik-baik saja ? tasku juga ? kemarin ini tidak begini," ucap Ellia bingung.


"Tidak tau, tasnya kan milikmu, kenapa bertanya padaku ?"


"Tapi kemarin tidak begini, kenapa sekarang jadi begini," pikir Ellia bingung.


"Memangnya kemaren ada apa ?" tanya Ikram.


"Tidak ada apa-apa sih," ucap Ellia bohong, ia hanya takut teman-temannya memiliki hari yang buruk karena suaminya tidak terima dengan apa yang terjadi padanya kemarin.


Flashback On


Ellia baru saja turun dari bis, ia hendak ke kamar mandi, Vania dan Rara berjalan lebih dulu menuju kelas, namun beberapa mahasiswa datang mengikutinya, mendorongya ke dinding dan mengambil tas ransel miliknya.


"Kalian mau apa ? gua nggak pernah punya masalah sama kalian ya," ucap Ellia saat tas miliknya berhasil mereka rebut.


"Wajah cantik lu itu masalah, lu udah ambil Yuda, sekarang lu buang gitu aja saat dia lagi susah, terus sekarang lu udah ada incaran baru aja, jangan mimpi lu bisa sama dokter Ifraz deh, cewek kayak lu tuh selalu serakah," ucap perempuan itu.


Perempuan lain mulai mengeluarkan cutter dan menyayat tas Ellia, bahkan isi yang ada di dalamnya juga ikut hancur, "haha lu penggemarnya profesor Ikra, jangan mimpi ketinggian deh," ucapnya saat tidak sengaja melihat beberapa foto Ikram di dalam tas yang sudah terbuka.


"Itu bukan urusan kalian, kembaliin tasnya," ucap Ellia memberontak dan mengambil tas miliknya.


"Orang cantik dan nggak punya otak kayak lu tuh nggak usah mimpi ketinggian, dasar munafik, suka banget ganggu kebahagian orang,"


"Woy, gua ganggu kebahagiaan kalian yang mana ?" teriak Ellia yang juga tidak mau kalah, kesabarannya benar-benar sudah habis saat foto Ikram sudah berceceran di lantai kamar mandi.


"Pertama lu rebut Yuda,"


"Gua nggak pernah rebut Yuda dari siapapun, dia nggak sama siapapun sebelum ama gua, masalah lu itu dimana ?" ucapnya kesal, namun dia kalah jumlah, perempuan lain sudah menarik rambut panjang miliknya.


"Lu nggak rebut dia, tapi lu ambil kesempatan gua buat dapetin dia tau nggak, dan sekarang dokter Ifraz, mimpi," ucapnya lagi.


"Lepasin, lepasin," ucap Ellia berusaha menarik rambutnya yang semakin sakit.


Namun tubuh itu di dorong, masuk ke dalam kamar mandi dan di kunci dari luar, "keluarkan aku," teriak Ellia.


Tidak ada yang menyahut sama sekali, Ellia hanya menarik nafas panjang berusaha mengendalikan diri, ponselnya ada di dalam tas, ia tidka bisa menghubungi siapapun, namun Ellia memegang telinganya, ia ingat Ikram pernah berpesan padanya.


"Hanya tekan ini, mereka akan datang di manapun kau berada," ucap Ikram yang masih teringat jelas di telinga Ellia.


Ellia menekan tombol kecil di benda yang setiap hari di letakkan Ikram di sana, seperti earphone tapi berbeda dengan earphone pada umumnya, hanya dalam hitungan detik seseorang datang membuka pintu untuknya, "nyonya, anda baik-baik saja ?": tanya orang itu khawatir.


"Hanya kita yang tau, jangan sampai tuan muda tau, tidak hanya tuan muda pertama, tuan muda kedua dan nona ketiga juga tidak boleh atau, ini hanya antara kita," ucap Ellia.


"Baik nyonya."


Ellia keluar, merapikan rambutnya yang berantakan dan mengambil tas yang sudah hancur beserta isinya yang sudah berserakan di mana-mana, "tolong carikan aku sebuah kantong plastik saja pak, aku akan menunggu di sini" ucap Ellia meminta tolong.


"Baik Nyonya," ucapnya sebelum pergi.


"Anda yang seperti ini bukankah terlalu baik nyonya, tuan muda bisa melakukan apapun untuk anda, apa yang perlu anda khawatirkan," batin orang itu merasa khawatir.