Ellia's Husband

Ellia's Husband
Nyonya Ikram Al Zaidan



"Logan, cintamu benar-benar menghancurkan, dampak dari cintamu sangat luar bisa menyulitkan orang lain," gumam Ellia.


"Hendak kabur kemanapun juga tidak akan bisa lepas dari jeratan dua orang ini" gumam Ellia yang masih menatap Ikram dan Ifraz.


Ditengah keadaan yang semakin runyam, Nando datang dengan terburu-buru, Ellia yang menyadari ada orang di belakangnya segera melihat dan berbalik.


"Pak Nando, ada apa?" tanya Ellia.


Nando berdiri di tempatnya, tidak bergeming sama sekali melihat kedua tuan muda yang dia layani duduk bersimpuh di lantai dengan keadaan seperti ini.


"Ada apa Nando," ucap Ikram yang masih memeluk Ifraz.


"Saya minta maaf tuan muda, tapi kondisi Logan juga kritis,"


"Biarkan saja, aku tidak perduli bahkan jika dia mati," ucap Ifraz pada Ikram.


"Ada peluru sangat kecil di kedua bahu Logan, itu menghentikan kerja sistem saraf, sepertinya versi yang di gunakan Iriana lima puluh persen lebih kuat di bandingkan yang kau gunakan dulu saat datang ke tempat ini, di tambah sebuah luka karena pisau itu," ucap Ikram.


"Aku tidak peduli," tambah Ifraz.


Ikram menarik nafas panjang, laki-laki ini berusaha bangkit dari duduknya, "panggil dokter Nadin untuk mencari pelurunya dulu," perintah Ikram.


"Abang, jangan pernah libatkan nadin dalam hal ini," teriak Ifraz.


Ikram masih tidak bergeming, dilema cukup besar menggerogoti hatinya saat ini, ia juga sangat sulit membuat keputusan, terlebih untuk orang yang sudah menghancurkan masa depan adiknya.


"Jangan panggil Nadin, dia tidak bisa mengobati orang berbahaya sepertinya, biarkan saja dia mati, aku tidak peduli," ucap Ifraz tidak terima.


"Jika memang harus mati, itupun harus di tanganku, dia tidak boleh mati sampai aku sendiri yang menginginkan kematiannya, ini belum waktunya Ifraz," ucap Ikram.


Ifraz menatap Ikram yang masih berdiri di tempatnya, "kematian seperti ini memang sangat mudah untuknya," ucap Ifraz kemudian.


"Nando cepat hubungi dokter Nadin, aku ingin dia selamat bagaimanapun caranya," perintah Ikram final.


"Baik tuan muda,"


Klik


Dokter William baru saja keluar dari kamar Iriana, "bagaimana keadannya dok?"


"Semuanya sudah stabil, melihat kondisi pasien, dia juga punya keinginan untuk sembuh dan pulih secepat mungkin," ucap dokter William.


"Terimakasih dokter William,"


"Senang melihat anda terlihat baik-baik saja sekarang, adik anda memang lah seorang dokter yang hebat," ucap dokter William mengulurkan tangan pada Ikram.


Ikram menarik sudut bibirnya, "Dia memang yang terbaik yang aku miliki, aku mungkin tidak akan pernah bisa menemukan dokter lain sehebat dirinya," ucap Ikram.


"Tentu saja, kalau begitu tugas saya di sini sudah selesai, saya pamit undur diri," ucap dokter William yang langsung pergi bersama dengan beberapa orang perawat, namun baru beberapa langkah, Ifraz kembali memanggilnya.


"Dokter William,"


"Iya,"


"Tolong untuk tetap di sini dan menjaganya, masih harus ada orang yang mengawasi perkembangan nya," ucap Ifraz.


Dokter William bingung, "bukankah dia ada di sini? kenapa masih memintaku tetap tinggal," batin William.


"Tolong tetap tinggal dan mengawasi perkembangan kondisi Iriana," tambah Ikram yang tau apa yang tengah di rasakan oleh Ifraz saat ini.


"Baik," ucapnya yang langsung kembali dan masuk ke dalam kamar Iriana.


"Kau sudah melakukan yang terbaik, dia juga akan mengerti keadaan mu, kemari, bersihkan dirimu sekarang dan tenang, abang nggak akan biarkan apapun terjadi pada Iriana, tenang dan serahkan semuanya pada abang Oke, jangan banyak berfikir," ucap Ikram menenangkan.


Ifraz melangkah masuk ke dalam kamarnya setelah cukup lama melihat Ikram yang masih berusaha menenangkan dirinya, meskipun terlihat jelas sekali bahwa dia juga sangat terpukul dengan kejadian ini.


Setelah Ifraz masuk ke dalam kamarnya, Ikram dengan langkah gontai masuk ke dalam kamarnya juga, kedua manusia hebat itu sedang tidak baik-baik saja, mereka butuh waktu untuk menenangkan diri.


Ellia berjalan, masuk ke dalam kamar Iriana, melihat adik ipar yang selalu membantunya kini terbaring lemah di ranjang kamar.


Cahaya yang masuk ke dalam kamar bahkan tetap membuat kamar ini terasa gelap.


"Dia adalah cahayai untuk mas Ikram dan dokter Ifraz, mau seberapa banyak lampu yang menerangi tempat ini, tapi jika cahayanya hilang maka semua tempat juga akan menjadi gelap," batin Ellia.


"Dokter apakah dia masih bisa pulih?"


"Sangat bisa nona,"


"Kemungkinan memiliki keturunan apakah benar-benar tidak bisa?"


Dokter William diam, "bisa, kemungkinan selalu ada, tapi sedikit lebih sulit di bandingkan orang normal pada umumnya, kita masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar tau bagaimana detilnya nanti," jelas dokter William.


Ellia terdiam, menatap Iriana dengan sendu, "apakah sakit? dulu saat aku sedang terpuruk karena di tinggalkan oleh mas Ikram, kamu adalah orang yang menolongku pertama kali, maaf tidak bisa menolong mu hari ini, cepat sembuh Anna, kita akan berlibur setelah ini, jangan biarkan kedua laki-laki yang sangat menyayangi mu itu semakin terpuruk dan hancur dengan perasaan bersalah karena tidak bisa menjagamu dengan baik," ucap Ellia yang tanpa sadar meneteskan satu persatu bulir air mata di pipinya.


"Siapa dia? sepertinya dekat sekali dengan keluarga ini?" batin dokter William.


Merasa ada orang yang mengawasinya membuat Ellia menoleh ke arah sudut ruangan, "astaga, aku lupa tidak menyiapkan kamar kalian, berada di sini mungkin akan sangat tidak nyaman, aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk kalian beristirahat sembari menunggu perkembangan Iriana," ucap Ellia.


"Tidak perlu repot nona, kami baik-baik saja," ucap dokter William.


"Sudah, tidak perlu sungkan, tuan muda kami sedang ada kesibukan lain, karena itu tidak menjamu kalian dengan baik," ucap Ellia yang kini tengah mengambil ponsel dari sakunya.


"Andara bolehkah aku minta tolong ?" ucapnya dengan seseorang di balik ponsel.


"Saya akan segera kesana nyonya bos," ucap Andara.


Tak butuh waktu lama Andara datang, "sudah siap nyonya bos,"


"Ah, baik, bantu aku mengantarkan mereka," ucapnya.


"Siap nyonya bos,"


"Nyonya bos?" gumam orang-orang itu dalam hati.


"Siapa sebenarnya nona Ellia ini?"


"Mari saya akan mengantarkan anda," ucap Andara.


"Kami pergi dulu nona,"


"Iya,"


Dokter William mengikuti Andara, "siapa perempuan tadi, kenapa anda memanggilnya nyonya bos? ah maaf, maksudku aku hanya penasaran, tidak perlu menjawab jika memang ini rahasia," ucap Dokter William yang tau diri.


"Dia istri bos Ikram, nyonya Ikram al Zaidan," jelas Andara.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.