Ellia's Husband

Ellia's Husband
Kenyataan tentang Ikram



Bukan menjawab Ellia hanya bergerak pelan mendekati Ikram, "aku ingin di peluk seperti biasanya," ucapnya yang sudah bergerak semakin pelan mendekati Ikram.


"Jangan dulu Ellia, lenganmu akan sakit jika terjepit nanti," ucapnya menjaga jarak.


"Enggak mas," ucapnya membantah.


"Dengarkan aku kali ini oke, hanya sampai lukamu sembuh," ucapnya.


Bibir cemberut itu terlihat menggema akan bagi Ikram, "aku bahkan di tinggal tanpa selembar baju pun, aku tidak pernah bisa tidur di malam hari, aku terbiasa memutar kancing baju tidur mas Ikram," tambahnya dengan mata terpejam.


"Sekarang aku ingin tidur sepuasnya dengan mas Ikram di sampingku, hm baunya masih sama," ucapnya pada Ikram, tangan laki-laki itu bahkan sudah berada di genggaman tangan Ellia.


"Ellia," panggilnya.


"Ellia," panggilnya lagi.


Masih tidak ada sahutan dari Ellia, hingga kemudian Ikram melihat dan menoleh ke wajah itu, dan seperti dugaannya, Ellia kembali tertidur.


"Aku juga lelah, aku akan tidur juga," ucapnya yang sudah menguap dan tidur dengan posisi menghadap Ellia yang ada di sampingnya.


"Waktu kita masih banyak Ellia, kita akan membuat satu lagi sebagai pengganti yang sebelumnya nanti," ucapnya dalam hati dengan mata terpejam dan sebuah senyuman yang terlihat sangat bahagia.


***


Beberapa hari berlalu dan Ikram masih tetap pada pendirian nya untuk tidak keluar dari mansion selama beberapa hari, namanya benar-benar menjadi trending topik dan muncul nomor satu dalam pencarian di internet.


Tidak hanya Ikram, ia juga melarang semua anggota keluarga nya termasuk Ginanjar dan semua pekerja yang ada di dalam mansion untuk tidak keluar, semua persediaan makanan dan semua hal yang di butuhkan akan di antarkan oleh sebuah helikopter logistik yang sudah tersedia.


Hingga suatu hari ponsel Ikram dan Ellia tidak berhenti berdering, saat ini semua orang sedang berada di sebuah ruangan dengan sofa banyak dan besar seperti angka U.


Orang-orang sedang bermain ramai-ramai beberapa tumpuk balok di depan mereka, terlebih Iriana dan Ifraz yang sejak tadi asyik bermain ini.


Ponsel itu diletakkan oleh Ikram dan Ellia di atas meja agar semua orang bisa melihat, meskipun memang hanya Ellia dan Ikram saja yang melihat karena kedua adiknya masih sibuk bermain.


"Mereka tidak berhenti menelfon ketika tau bagaimana hidup abang sekarang, aku yakin mereka sedang mempersiapkan siapa wanita yang akan bisa membuat abang bertekuk lutut dan tunduk patuh pada mereka," ucap Iriana yang paling ketus dengan mata uang masih fokus pada susunan balok itu.


"Nggak cuma bang Ikram, mereka juga pasti mengincar kita untuk berjodoh dengan anak, saudara atau kenalan mereka," tambah Ifraz yang tengah menahan nafas agar baloknya tidak goyah dan roboh.


"Bagaimana kondisi di luar hutan na?" tanya Ikram.


"Semua wartawan masih mencari dimana lokasi tempat kita bang," jelasnya.


"Mereka tidak akan menemukannya sampai kita yang ingin agar meraka bisa menemukan tempat ini kan?" tanya Ikram meyakinkan sekali lagi.


"Iya bang, tapi jika sebanyak itu, mungkin mereka akan menemukan nya dalam waktu dekat, uhm jika mereka bekerja sama tidak ada yang mustahil," ucap Iriana.


"Tidak coba di angkat saja dan temui mereka?" tanya Ginanjar.


"Malas, aku hanya cukup melihat sekuat apa mereka menghubungi ku, dan untuk wartawan itu, ini belum waktunya muncul," ucapnya dengan sebuah senyum indah di bibir Ikram.


Ikram melihat beberapa snack dan buah-buahan di atas meja, cukup lama ia memperhatikan dan memang ada yang kurang di sana.


"Eh tunggu tunggu, kenapa tidak ada camilan yang biasa aku makan di meja ini," ucap Ikram yang baru sadar snack favorit nya tidak ada di sana.


"Iya tuan muda,"


"Tolong panggilkan snack yang biasa di kamarku, aku ingin mereka semua juga di beri satu-satu," ucapnya.


"Aish, bang Ikram yang sedikit kurang tampan dari Ifraz, apakah sopan memberi masing-masih dari kami satu buah toples sedangkan di depan kita penuh dengan makanan sebanyak ini?" tanya Ifraz sembari memperagakan kata banyak dengan kedua tangannya.


"Tentu saja sopan, apa yang tidak sopan,"


"Bilang aja itu akalnya abang biar kami nggak minta makanan abang kan? kita sudah hafal," sindir Iriana.


"Enggak dek, nggak gitu, kan berbagi itu baik," jelasnya.


Percakapan itu masih tidak berhenti dan berbuntut panjang hanya karena masalah snack yang memang Ikram tidak ingin membaginya, haha.


Laki-laki ini sangat pelit jika menyangkut apa yang ia sukai, snack ini adalah salah satu favoritnya, ia tidak ingin berbagi dengan siapapun.


"Mas Ikram, haruskah aku mengangkat panggilan dari ayah saja," ucapnya pada Ikram karena tidak tega.


Panggilan ini tidak hanya dari keluarga Ikram, tapi juga dari keluarga Ellia yang sangat khawatir harus kehilangan seseorang seperti Ellia yang sudah berhasil menikahi orang yang sangat kaya.


"Lakukan yang kau mau," ucap Ikram tanpa memaksa.


Ellia dengan segenap hati dan kemantapan jiwa akhir menerima panggilan suara tersebut.


"Mode speaker Ellia," ucap Ikram memberi kode.


"Halo Ellia, ini ayah dan Ibu, benarkah apa yang sudah di katakan media, kata ayahmu Ikram Al Zaidan itu suamimu, pantas saja jika tiga puluh milyar sangat mudah baginya, dia benar-benar sangat kaya, apakah dia tidak punya saudara laki-laki? Ellia? Ellia jawab ibu, kenapa kamu diam saja," ucapnya yang tetap tidak mendapat sahutan dari Ellia.


"Mas Ikram, dia bertanya apakah mas Ikram punya saudara laki-laki yang lain," tanya Ellia tanpa mematikan panggilan itu.


"Sayangnya saudaraku sangat mahal jika harus menikah dengan batu kali seperti putri anda," ucap Ikram yang langsung menekan tombol matikan di layar ponsel Ellia.


"Abang terbaik, kukira aku akan di jual," ucap Ifraz lega.


Ellia masih termenung di tempatnya, "mereka tau aku istri Ikram Al Zaidan, semua berita mengatakan aku baru saja mengalami kecelakaan dan harus kehilangan bayi, tapi bahkan menanyakan kabarku saja tidak, di hanya memikirkan menjodohkan anaknya dengan saudara mas Ikram yang lain," batin Ellia.


"Tidak perlu bingung, orang seperti mereka memang seperti itu, abaikan saja," ucap Ikram yang faham bagaimana perasaan Ellia, laki-laki ini menarik lembut Ellia ke pelukannya dan mencium kening Ellia lembut.


"Tuan muda, tuan muda," panggil Nando yang tengah berlari terburu-buru.


"Apa Nando, kenapa sampai berlari seperti itu,"


"Kami menemukan Maheza di antara beberapa wartawan di luar sana," ucapnya panik.


Sebuah senyum puas terlihat di wajah Ikram, "aku sudah bilang dia akan meminta kematiannya padaku,"


Deg, Ellia menatap wajah suaminya sedikit takut.


TO BE CONTINUE