
Ikram mengendarai mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi, "abang biar aku yang membawa mobilnya, abang masih belum sembuh benar," ucap Ifraz khawatir terjadi sesuatu dengan abangnya.
"Kau bawa semua peralatanmu ?"
"Aku sudah meminta orang untuk menyiapkannya," jelas Ifraz.
Ifraz mengeluarkan sebuah tablet yang sengaja ia simpan di bawah kursi setiap mobil yang mereka miliki, itu berguna untuk hal-hal macam ini.
"Kau bisa melacak ponsel Iriana ?" tanya Ikram.
"Tepat di hotel Bangsawan seperti yang kakak ipar bilang,"
"Lacak mobilnya dan hubungi ponsel Iriana," minta Ikram.
"Dia tidak menjawab sejak tadi, aish kemana dia ini?"
Mereka sudah sampai di sebuah hotel yang cukup besar, bukan cukup besar, ini sangat besar, Ikram berjalan lebih dulu menuju resepsionis, "bukakan pintu kamar 707 atas nama Iriana," ucap Ikram tidak sabar.
"Kami minta maaf tuan, kami tidak bisa memberikan layanan semacam ini, ini privasi pelanggan kami, kami di larang untuk memberitahukan pada anda,"
Ikram semakin tidak sabar, dengan cepat ia mengambil ponsel di saku celananya, mencari nomor Ginanjar.
Tut tut tut
"Ada apa Ikram?" tanya Ginanajar di balik telfon.
"Akuisisi hotel Bangsawan dalam waktu lima menit paman, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,"
"Oke, tunggu sebentar,"
Tak lama beberapa orang berlarian menuju Ikram saat ini, "kami minta maaf tuan Ikram, kami tidak menyambut kedatangan anda dengan baik," ucapnya penuh keringat dingin sebesar jagung.
"Bukakan kamar 707," ucapnya tanpa basa-basi.
"Cepat bukakan pintu kamar untuk tuan Ikram,"
"Ba baik pak," ucap resepsionis itu yang langsung memandu jalan untuk Ikram.
Ikram mempercepat langkahnya, "bisakah lebih cepat, aku sedang terburu-buru," ucap Ikram.
Klik
"Pergilah," ucapnya meminta orang yang mengantarny segera pergi.
Pintu kamar terbuka, terlihat Iriana dengan luka di perutnya sudah terkapar di atas lantai dengan Logan terikat di sebuah kursi dengan keadaaan tidak sadarkan diri.
Ikram berlari melihat kondisi Iriana, adiknya ini bahkan sudah tidak sadarkan diri dengan luka di bagian perut.
Ifraz yang baru saja datang dengan sebuah tas cukup besar di tangannya segera melihat kondisi Iriana.
"Abang," ucap Ifraz meminta Ikram agar bergeser.
Ikram berjalan mundur, adik yang sudah mati-matian ia jaga kini harus berada di depan matanya dengan banyak sekali darah keluar dari perutnya.
"Nando," teriak Ikram.
"Siap tuan muda,"
"Bawa dia ke tempat hewan-hewanku, aku sedang tidak ingin melihat nya, dia akan ku urus nanti setelah urusanku di kota ini selesai," ucap Ikram bahkan tidak melihat ke arah Logan dan Nando.
Ikram diam bukan berarti tidak bisa melawan Logan, dengan semua yang Ikram miliki sekarang, sangat mudah sekali menjatuhkan bahkan menghukum laki-laki ini, tapi ia menolak membuat keributan berkepanjangan yang nantinya akan semakin mempersulit langkahnya.
Tapi hukuman saja tidak cukup, ada harga yang harus di bayar jika sudah berani mengusik harta berharga Ikram.
"Abang, kita harus kembali sekarang, aku harus melakukan operasi," ucap Ifraz.
"Kita kembali ke mansion," ucap Ikram.
"Terlalu jauh, tempat kita sangat dekat dari sini, rumah sakit terdekat akan mengirim perlatan medis ke sana," ucap Ikram.
"Kenapa tidak ke rumah sakit?"
"Lalu membuat kehebohan?" tanya Ifraz.
"Siapkan jalannya, aku akan membawa Iriana ke mobil," ucap Ikram yang segera menggendong Iriana seorang diri.
Hari ini hatinya begitu hancur, ini pertama kalinya ia melihat Iriana seperti ini, memang lukanya tidak separah luka-luka Ikram, tapi tetap akan sangat menyakitkan.
Ikram berjalan cukup cepat, ia bahkan tidak peduli beberapa orang melihatnya keluar dengan membawa seorang perempuan dengan tangan penuh darah.
"Ifraz yang akan bawa mobilnya, kau kembali urus Logan,"
"Siap tuan muda,"
Ifraz segera mengambil kemudi, skill menyetirnya memang tidak sebaik Ikram, namun kali ia ini menyetir cukup cepat.
"Iriana, Iriana bisa dengar abang?" ucap Ikram yang berusaha mengembalikan kesadaran Iriana sejak tadi.
"Iriana dengar abang? Iriana bangun dek, kenapa melakukan hal-hal berbahaya seperti ini," ucap Ikram sangat panik, terlihat sekali gurat gelisah di wajahnya.
"Kakak ipar?" panggil Ifraz yang baru saja menghubungi Ellia dalam mode speaker yang terhubung di dalam mobil.
"Bagaimana? aku bisa membantu apa?"
"Buka pintu gerbangnya, sebentar lagi ada beberapa orang datang bersama dokter William, tolong bantu aku menyiapkan kamar Iriana,"
"Oke," ucapnya sebelum memutus panggilan.
***
Ellia sedang berada di meja makan hendak bermain dengan semua orang di sana, tentunya di bantu oleh Aro yang sudah di beritahu oleh Ellia sebelumnya.
"Bos kedua baru saja menelfonku, sepertinya kita akan bermain lain kali, ternyata mereka sudah datang,"
"Yah bos," ucap mereka kecewa, mereka jarang sekali bermain, berkumpul dan tertawa seperti ini, terlebih hari ini Zelin sudah pulang ke benteng hitam, tentu saja mereka harus merayakannya.
"Aku janji akan bermain bersama kalian lain kali, tapi sekarang bantu aku untuk membuka pintunya dan menyiapkan kamar Iriana, bolehkah?"
"Baik nyonya bos," ucap mereka semua antusias.
Dengan cepat semua orang berjalan merapikan kamar Iriana, seorang dokter dengan beberapa orang membawa tas cukup besar memindahkan beberapa alat yang sebelumnya berada di kamar Ikram.
"Saya izin mengambilnya," ucap dokter William berpamitan dengan Ellia.
"Iya, sebentar lagi mereka datang, tolong lebih cepat sedikit," pinta Ellia sopan.
Ellia segera turun dan melihat kondisi di bawah, "gerbangnya sudah di buka?" tanya Ellia.
"Sudah nyonya bos," ucap mereka.
Aro mendekati Ellia, "semua sudah terkendali, tenangkan dirimu dan kita tunggu mereka," ucap Aro menenangkan.
Berusaha di tutupi seperti apapun, wajah gusar Ellia sangat terlihat jelas.
Sebuah mobil dengan laju cepat segera berhenti tempat di depan pintu, seseorang membantu membuka pintu, Ikram keluar dengan membawa Iriana yang masih belum sadarkan diri.
Wajah Ikram sangat menakutkan kali ini, ia tidak menyapa siapapun, langsung naik ke atas dengan Iriana di dalam gendongannya.
"Dokter William sudah datang?"
"Semua sudah siap di kamar Iriana,"
"Terimakasih kakak ipar, aku akan membawa kalian semua liburan dengan kapal pesiar ku nanti," teriak Ifraz dengan langkah ke atas hingga kemudian menghilang di ujung tangga.
"Siap bos kedua," teriak yang lain.
"Oke karena bos sudah datang, aktifitas hari ini akan kembali seperti biasa, karena Zelin dan Logan sedang tidak ada, latihan kali ini bersama paman Aro dulu, suasana hati bos sedang tidak baik, karena itu jangan membuat mereka marah oke," pesan Ellia.
"Siap nyonya bos,"
"Mbak,"
"Iya nyonya muda,"
"Lakukan yang harus di lakukan seperti biasa, makanan yang boleh dan tidak boleh di makan harus sesuai dengan rekom dari dokter Ifraz,"
"Iya nyonya muda," ucap mereka.
"Aku naik ke atas dulu, kalian lanjutkan dan jangan bertanya atau membahas apa yang kalian lihat hari ini," pesan Ellia sebelum naik ke atas.
Ellia berjalan naik, begitu sampai lorong setelah tangga tubuhnya lemas, kekuatannya sudah runtuh sejak tadi, kakinya benar-benar tidak kuat lagi untuk menyangga, namun Ikram langsung menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.