Ellia's Husband

Ellia's Husband
Ikram dan caranya perhatian



Gadis bernama Zelin dengan sepatu boots di kakinya kini mendekati Ikram, "kau yakin baik? kurasa istrimu sedang tidak baik," ucap Zelin.


Ikram hanya tersenyum, sejak awal juga sudah tau jika gadis ini cemburu, tapi Ikram semakin ingin sengaja membuatnya cemburu, "kapan kembali? tidak aman jika kau meninggalkan benteng terlalu lama," ucap Ikram.


"Iriana masih memintaku mengajari mereka selama satu minggu ke depan, jadi sampai saat itu aku akan tetap berada di sini," jelas Zelin yang mendapat tatapan tidak rela dari semua orang yang ada di sana.


"Satu minggu?" gumam yang lain bersahut-sahutan.


"Bos, tidak bisakah anda saja yang menjadi pelatih kami? kami berjanji akan menurut pada anda,"


"Benar bos,"


"Benar bos,"


"Tidak boleh, dia yang akan melatih kalian," ucap Ikram.


"Nyonya bos, tolong kami," ucap mereka semua membuat Ellia bingung.


"Kenapa meminta padaku?" tanyanya.


"Tolong bujuk bos kami," ucap mereka lagi.


"Nanti akan ku pikirkan dulu, bahkan orang yang kemarin belum meminta maaf padaku," ucap Ellia.


"Ah, iya, dimana Aro?" tanya Ikram.


"Dia masih berdiri di luar sejak kemarin malam bos, dia tidak berani bertemu anda dan nyonya bos," jelas mereka.


"Nanti sore suruh dia menemui ku," ucap Ikram.


"Siap bos,"


"Bos," panggil seorang wanita yang sebelumnya pernah di usir Ikram dari tempat ini.


Ikram menatap pada sumber suara, "kenapa datang lagi,"


"Bos, kami akan melakukan pelatihan dan mengikuti anda, tapi biarkan kami berada di sini,"


"Oke, jangan sampai menyesal,"


"Saya siap melayani anda kapanpun anda membutuhkan bantuan bos," ucap mereka bersamaan.


"Siap melayani? melayani seperti apa yang mereka maksud dengan pakaian seperti itu," batin Ellia dalam hati.


"Kelas pelatihan ku tidak boleh pakai rok mini, kita ke tempat pelatihan tiga puluh menit lagi," ucap Zelin meninggalkan semua orang yang ada di sana.


Ikram masih duduk dengan Ellia, hanya duduk biasa dengan sebuah teh di meja mereka, sebenarnya sangat banyak meja dan kursi di sini, seperti kantin, hanya saja tidak ada penjual yang menjual banyak sekali makanan.


Ketika semua orang sedang sibuk dengan kesibukannya masing-masing, tiba-tiba Iriana datang dengan rambut kusut dan cukup berantakan, "abang, bantu aku sisir kan rambut, ini sangat sakit," ucapnya.


Ikram mengarahkan tangannya di udara, meminta agar Iriana memberikan sisir itu padanya, "kemari, duduk di sini, bagaimana bisa rambutmu kusut seperti ini?" ucap Ikram menepuk sebuah bangku yang tersisa di sebelahnya.


Setelah Iriana duduk di sampingnya, Ikram dengan telaten dan hati-hati menyisir rambut adik perempuan kesayangannya ini, "habis melakukan apa sampai rambutmu seperti ini?" tanyanya lembut dengan tangan bergerak lincah di rambut adiknya.


Ellia hanya tersenyum, "aku baru tau dia juga bisa melakukan ini," ucapnya dalam hati, namun sebuah senyum itu perlahan hilang dari bibir nya, "seberapa banyak rasa sakit yang dia alami sampai bisa melakukan banyak hal, selain pekerjaan kasar dia juga masih harus mengurus kedua adiknya sejak kecil, apa yang ku alami sepertinya tidak sebanding dengan apa yang mas Ikram alami." ucapnya pada diri sendiri.


Bisik-bisik atas perlakuan Ikram yang lembut tentu saja menjadi trending topik di tempat ini, apalagi perempuan-perempuan aneh yang sejak tadi juga tetap tidak meninggalkan tempatnya.


Tapi memang Ikram adalah sebuah karya seni indah yang di ciptakan tuhan untuk di nikmati, semua hal yang ada di dirinya sempurna, sangat berat bagi siapapun untuk melewatkannya.


"Sudah," ucap Ikram mengelus lembut rambut Iriana.


"Oke, abang aku lapar," ucapnya bergelayut manja pada lengan Ikram.


"Dokter ifraz sudah memesan banyak makanan, kita tunggu saja, tadi dia juga memesan pizza kesukaan Iriana," ucap Ellia.


"Bos makanan sudah tiba," ucap salah seorang di antaranya.


"Oke, ambil masing-masing satu," ucap Ikram.


"Bos, kami sudah menyiapkan makanan anda," ucap Andara yang baru saja tiba.


"Aku juga sudah menyiapkan makanan untuk abang ku," jawab Ifraz yang baru saja tiba.


"Mas Ikram," ucap Ellia menarik lengan baju Ikram yang duduk di sampingnya.


"Apa?"


"Jadi mau makan salad sayur saja? atau mau yang lain?" tanya Ellia tidak menghiraukan drama di depannya ini.


"Itu saja, aku sedang tidak ingin makan makanan yang berat," jelas Ikram.


"Oke," ucap Ellia meninggalkan kebisingan yang akan segera terjadi di sana.


"Tapi kami juga sudah menyiapkan makanan untuk bos kami," ucap Andara.


"Berikan saja padanya, kenapa selalu meributkan sesuatu seperti ini, jika bang Ikram mau makan ya makan, repot banget," ucap Ifraz yang sejak awal tidak senang dengan Andara.


"Seharusnya kau juga belajar apa perbedaan asisten pribadi, sekertaris pribadi, dan wanita simpanan," tambah Ifraz.


"Menjengkelkan saja," gerutu Ifraz sambil berjalan meninggalkan Andara.


"Dia semakin ketus saja," ucap Ikram menggelengkan kepala.


Bersamaan dengan Ifraz, Ellia juga datang dengan banyak sekali makanan di tangannya, "Astaga kakak ipar, kenapa membawanya seperti ini?" ucao Ifraz yang berusaha membantu mengambil beberapa tumpuk makanan yang masih berada di dalam kardus.


"Ini salad buah untuk mas Ikram, ini Pizza untuk Iriana dan ini untuk dokter Ifraz," ucap Ellia meletakkan semua makanan di atas meja.


"Ini minum nya, khusus untuk bang Ikram ada jus stroberi, dan susu hangat untuk Ifraz dan Iriana," tambahnya.


"Untukmu mana?" tanya Ikram.


"Ah iya, steak ku, aku sampai lupa mengambilnya," ucap Ellia yang langsung berlari mengambil steak yang di inginkan nya.


Hampir sepuluh menit Ellia tidak kembali, "kemana perginya dia?" ucap Ikram yang sudah berdiri hendak mencari Ellia, namun tiba-tiba istrinya ini sudah berada di depannya.


"Dimana makananmu?" tanya Ikram.


"Aku lupa menaruhnya, hehe, aku makan ini saja," ucapnya memperlihatkan sebuah bungkus roti di tangannya.


"Sudah habis?" tebak Ikram.


"Hehe," ucap Ellia menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Duduk dulu di sini," ucap Ikram, Ellia hanya mampu menelan ludahnya karena bau steak dari orang-orang di sekelilingnya semakin menyeruak masuk ke dalam lubang hidung.


"Hm, baunya enak sekali, anggap saja ini steak, hm enak sekali," gumamnya pelan sambil mengunyah sebuah roti di mulutnya.


"Pagi semua," sapa Iriana yang sudah rapi dengan pakaian yang ia kenakan.


"Pagi Iriana, ini makanlah sarapan nya," ucap Iriana.


Tak lama seseorang datang dengan sebuah truk mini, "steak yang anda pesan sudah tiba tuan muda," ucap orang itu yang langsung segera menyajikan steak terbaik di depan Ellia.


"Ini di buat khusus untukmu, daging setengah matang dengan lelehan keju yang di bakar, steak favoritmu," ucap Ikram membelai lembut rambut Ellia yang kini dengan sebuah senyum cantik di bibirnya menatap Ikram tak percaya.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.