Ellia's Husband

Ellia's Husband
Ifraz mengamuk manja



"Dia istri bos Ikram, nyonya Ikram al Zaidan," jelas Andara.


Dokter William dan dua orang perawat itu menelan ludahnya kasar, "memang tidak ada berita tentang status tuan muda Ikram, tapi sudah menikah bukankah sebuah berita besar, kenapa semua orang tidak ada yang tau ?" gumam salah seorang perawat yang terdengar di telinga Andara.


"Dunia tidak perlu tau kehidupan pribadi bos kami, kalian hanya cukup menjalankan tugas kalian di sini dengan baik dan tidak banyak bertanya, lebih aman lagi kalau kalian tutup mulut dan diam," ucap Andara.


"Sementara kalian bisa tinggal di sini, untuk dokter anda akan tinggal di sini sementara," ucap Andara menunjuk sebuah kamar yang lain.


"Silahkan beristirahat, saya permisi," ucap Andara.


Andara memang bukan orang yang ramah, akhir-akhir ini ia mulai menunjukan sikap aslinya, karena memakai topeng juga percuma karena Ikram sangat benci orang-orang penjilat seperti peran yang ia lakonkan sebelumnya.


***


Hari sudah gelap, satu persatu lampu bahkan sudah di nyalakan, Iriana masih nyenyak di dalam tidurnya, mungkin karena anastesi yang masih berpengaruh padanya, berbeda dengan kedua laki-laki yang masih berdiam diri di kamar mereka masing-masing dan tidak beranjak satu incipun dari tempatnya, entah apa yang mereka berdua lakukan sejak tadi.


Ellia sibuk menyiapkan makanan untuk semua orang, "kalian makanlah dengan baik, hari ini kami akan makan di atas," ucap Ellia.


"Siap bu bos,"


Ellia meninggalkan mereka semua dan berjalan naik ke atas, menatap dua kamar yang masih tertutup rapat, dengan langkah pasti ia berhenti tepat di kamar Iriana, dokter William sudah ada di sana, "bagaimana keadaannya dok ? apakah sudah ada perkembangan ?" tanya Ellia.


"Masih belum ada perubahan nyonya," ucap William.


Ellia menghela nafas mendekati adik iparnya yang masih terbaring, tangannya menggenggam jari jemari Iriana dengan lembut, namun ia cukup terkejut ketika sebuah jari bergerak di dalam genggamannya, "dokter jarinya bergerak," ucap Ellia kaget.


Dokter William segera memeriksa Iriana, perlahan mata cantik yang hampir sama dnegan milik Ikram itu terbuka, menatap sekeliling kamar yang tampak tak asing menurutnya, "kakak ipar," panggilnya.


Ellia tersenyum, "Anna sudah bangun ? aku akan memanggil mas Ikram dan dokter Ifraz," ucapnya sangat bersemangat.


Namun tangan itu di pegang cukup erat oleh Iriana, "mereka pasti tidak akan mau datang menemuiku, jangan memaksanya,"


"Tidak apa-apa, mereka pasti senang kau sudah bangun, mereka sangat khawatir sejak tadi," ucap Ellia.


"Tidak perlu kakak ipar, mereka akan semakin menyalahkan diri mereka sendiri saat datang melihatku dengan kondisi seperti ini," ucapnya yang langsung membungkam mulut Ellia.


"Keluarga ini benar-benar berbeda dari yang lain, mereka bahkan tidak perlu bicara untuk tau isi hati masing-masing, huft, andaikan punya saudara seperti mereka," bati Ellia.


"Baiklah, bagaimana dok keadannya?"


"Semua sudah stabil nyonya, dengan dokter Ifraz yang merawatnya, saya rasa tidak butuh waktu lama untuk pulih,"


"Baik, terimakasih banyak dok maaf sudah merepotkan anda karena harus berada di sini sampai besok pagi," ucap Ellia.


"Tidak masalah," ucap dokter William sebelum meninggalkan kamar Iriana.


"Bagaimana keadaanmu ? apa ada yang merasa tidak enak atau tidak nyaman ? ingin makan apa ? aku akan membuatkannya untukmu," tanya Ellia.


"Sedang tidak ingin makan apa-apa kak, bang Ikram dan Iraz sudah makan belum ?" tanya Iriana.


"Mereka masih tidak ada yang keluar dari kamarnya,"


"Bawakan saja makanan ke kamarnya kakak ipar, jika tidak begitu mereka tidak akan makan sampai besok pagi," ucap Iriana.


"Kutinggal mengambilkan makanan untuk mereka dulu gak papa ya ?" tanyanya pada Iriana.


"Oke kakak ipar,"


Ellia meninggalkan Iriana, turun ke bawah untuk mengambil makanan, "mbak tolong di antarkan ke kamar dokter Ifraz ya," ucap Ellia.


"Siap nyonya,"


***


Kamar Ikram


Ikram hanya diam di atas ranjang dengan sebuah ponsel di tangannya, bukan bekerja, ia bermain sebuah game di ponselnya, benar-benar hal yang sangat jarang terjadi pikir Ellia.


"Mas Ikram,"


"Hm, ada apa ?" tanya Ikram.


Wajah laki-laki ini sudah terlihat normal, sepertinya ia bisa mengendalikan dirinya dengan baik.


"Lapar ? jam berapa sekarang ?" tanya Ikram yang langsung melihat jam dinding di kamarnya.


"Astaga ini sudah hampir jam delapan, Ifraz sudah makan ?"


"Belum juga,"


"Ayo kita makan dulu," ucap Ikram.


"Makanannya sudah di antarkan ke kamar dokter Ifraz kok, kita makan bersama ya," ucapnya.


Pyar


"Ada apa ? apa yang terjadi di luar," tanya Ikram.


Pintu kamar Ifraz terbuka, beberapa pecahan piring ada yang terlempar keluar kamar Ifraz, "mas, dokter Ifraz mengamuk," ucap Ellia yang tidak berani mendekat.


"Huft," Ikram menghela nafas cukup panjang.


Dengan kaki panjangnya, Ikram mulai berjalan menuju kamar Ifraz, "abang tidak pernah mengajarimu membuang makanan, siapa yang mengajarimu melakukan ini ?" ucap Ikram.


"Aku tidak ingin makan," ucap Ifraz.


"Tidak perlu sampai harus melakukan ini jika tidak ingin makan, kau bisa bicara baik-baik," ucap Ikram lagi.


"Sorry bang," ucapnya lirih.


"Ambilkan makanan yang baru dan minta Ellia untuk datang kesini," ucap Ikram.


"Sudah kubilang masalah Iriana abang yang akan selesaikan, lagipula hanya sulit untuk memiliki keturunan, bukan tidak bisa memiliki keturunan, masih ada harapan Ifraz, abang akan panggil semua dokter terbaik di dunia ini untuknya," ucap Ikram lagi.


"Mas Ikram, ini makanannya,"


"Kemari, duduk di sini, kita makan bersama," ucapnya.


"Aku sedang tidak lapar," ucap Ifraz.


Ikram tidak menghiraukan Ifraz yang masih tetap tidak ingin membuka mulutnya, laki-laki ini dengan telaten mengambil sendok hendak menyuapi Ifraz yang masih duduk di atas ranjang.


"Cepat buka mulutmu tangan abang sudah pegal," ucap Ikram kemudian.


"Aku tidak lapar," ucap Ifraz lagi.


"Sejak kapan berani menolak ku, ingin ku cabut semua fasilitas yang sudah ku berikan padamu ?" ancam Ikram.


"Abang, kenapa jahat sekali," ucapnya semakin kesal namun akhirnya memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya.


"Cih, berani padaku tapi sangat tunduk pada uangku," ucap Ikram kemudian.


"Itu bukan tunduk, aku kan masih harus melakukan banyak hal yang membutuhkan sangat banyak biaya, abang pikir laboratoriumku murah, semua butuh uang abangku sayang," ucap Ifraz lagi dengan mulut penuh dengan makanan.


"Kakak ipar makanlah, kenapa sejak tadi hanya aku yang mendapatkan makanan,"


"Aku akan makan di kamar Iriana nanti, pagi ini dia hanya makan buah saja, aku khawatir dia butuh sesuatu," ucap Ellia.


"Makanlah dulu, sudah ada dokter William di sana, jangan khawatir, dia orang kepercayaan Ifraz yang pertama," ucap Ikram.


Ifraz tidak bergeming sama sekali, dia masih sibuk dengan sebuah game di ponselnya, pemandangan yang sama saat ia melihat Ikram tadi, "kenapa mereka sama, hanya sibuk bermain ponsel saat hati sedang gundah," batin Ellia.


"Bu Bos,"


"Ada apa ?'


"Bos ketiga hendak ke kamar mandi, dia memaksa tidak mau di bantu,"


"Oke, aku akan membantunya, mas Ikram aku mermbantu Iriana dulu," ucap Ellia.


"Ah iya aku lupa, tadi Iriana mencari kalian begitu bangun, ia cukup sedih karena bukan kalian yang ia lihat pertama kali ketika bangun," jelas Ellia.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.