
"Apakah dia benar-benar bisa bertahan setelah terjadinya ledakan itu?" tanya Iriana.
Tangan gadis itu malah sudah memegang erat pergelangan tangan Zelin yang sudah bangkit dari duduknya.
Zelin hanya tersenyum, "tidak mudah untuk menjadi ketua di organisasi kami, seberapa banyak Ikram melalui berbagai macam hal yang mengancam nyawanya bersama kami kurasa aku juga tidak perlu cerita," tambahnya sangat tegas.
Genggaman tangan gadis itu mulai terbuka, kemudian mengangguk mantap dan tersenyum menatap Zelin, "aku sudah boleh pergi ?" tanyanya yang sekali lagi di jawab anggukan kepala oleh Iriana.
"Dia memang hanya seorang anak kecil, pantas saja Ikram selalu ribut mengkhawatirkan nya, memang jelas jelas masih bocah," batin Zelin mengelus pelan kepala Iriana sebelum meninggalkan ruangan.
"Tunggu kak, kita masih harus melakukan sesi foto untuk pemberitaan, setelah ini sudah bisa dipastikan harga saham Danial Group akan terjun bebas, untuk jaga jaga saja, setelah ini akan semakin sulit memintamu keluar dari tempat gelap itu," ucap Ifraz dengan sebuah ponsel di tangannya.
"Oke,"
***
Sebuah mobil cukup lama menunggu di depan mansion, bahkan beberapa penghalang untuk masuk ke dalam mansion masih belum di buka.
"Apa tidak ada orang di dalam sana, kenapa pintunya masih belum di buka," tanya Ellia.
Gadis belia ini masih sabar menunggu dengan bermain game di ponselnya, hingga tak lama sebuah pesan dari Rara dan Vania menerobos masuk.
Beberapa video dan link website berbondong-bondong masuk dalam pesan chat Ellia, "kenapa banyak sekali pesan chat masuk dari mereka,"
"Nona muda,"
"Ah iya pak, kenapa?"
"Apa tidak sebaiknya anda menghubungi nona Iriana atau tuan muda Ifraz terlebih dahulu," ucap sopir itu memberanikan diri.
"Ah iya, aku menelfon mereka saja," ucapnya.
Ellia mencari nomor Iriana di ponselnya, cukup lama ia menghubungi nomor tersebut tapi masih tidak ada yang menerima panggilannya.
Tak lama akses masuk terbuka, "kami minta maaf membuat Anda menunggu nona muda," ucap laki-laki berpakaian serba hitam itu.
"Bukan hal besar," ucapnya sangat santai.
Berbeda dengan Ellia, sopir yang membawa gadis itu pulang ke mansion ini sudah penuh keringat dingin sebesar biji jagung sekalipun berada di dalam mobil ber-AC.
"Nona muda," ucapnya sedikit gugup
"Iya pak," jawab Ellia.
"Apakah anda tidak merasa dingin nona, apa saya perlu mematikan AC nya," ucapnya basa basi, ia hanya tidak ingin Ellia membaca berita apapun dari ponselnya mengenai Ikram, seperti yang sudah di instruksikan oleh Ifraz sebelumnya.
"Tidak,"
Baru saja Ellia hendak membuka video yang di kirimkan oleh sahabatnya tiba-tiba mobil yang ia kendarai melaju dengan kecepatan sangat tinggi hingga membuat ponsel miliknya terjatuh entah kemana.
"Ada apa pak, pelan-pelan saja, jangan berkendara dengan terburu-buru begitu,"
"Tuan Ifraz sudah menunggu anda nona muda, saya harus segera mengantarkan anda padanya," ucap sopir itu spontan tidak tau lagi apa yang akan ia bicarakan agar Ellia tidak dan membuka berita apapun.
"Dokter Ifraz ?"
"Kita sudah sampai nona muda," ucapnya dengan nafas lega.
Belum Ellia membuka pintu mobil, namun sebuah tangan kekar terlebih dahulu membuka pintu untuknya, seperti biasanya mansion ini selalu ramai dengan banyak sekali orang, tapi memang kali ini lebih ramai dari biasanya.
"Terimakasih pak,"
"Silahkan nona muda,"
"Mas Ikram sudah pulang belum?"
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Ellia, "Apa beliau masih ada rapat di dalam? baiklah aku akan mencarinya di dalam saja," ucap Ellia kemudian.
"Silahkan nona, tuan Ifraz sudah menunggu anda," ucap salah seorang di antaranya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala, merasa sedikit aneh namun cukup bersabar.
"Sepertinya mas Ikram belum pulang, aku mencari dokter Ifraz saja," pikirnya dengan ringan melangkahkan kaki hendak menuju kamar Ifraz, namun langkahnya berhenti di sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali penjaga, dan semuanya bukan orang yang ia kenal.
"Apa tuan muda ada di dalam?" tanyanya dengan sopan, namun seorang perempuan dengan pakaian formal dan rapi keluar dari dalam sana.
"Dia, bukankah dia yang ada di video mas Ikram waktu itu?" tanyanya pada diri sendiri.
"Apa mas Ikram ada di dalam?"
Tidak menjawab, Zelin hanya melihat Ellia dari atas hingga bawah, "pantas saja dia tidak bisa berpaling darinya, istrinya cantik begini," batin Zelin dalam hati.
"Kak, apa mas Ikram ada di dalam?" tanyanya lagi.
"Masalah Ikram, bisa kamu tanyakan langsung pada adik-adiknya, mereka ada di dalam, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatakannya, kita pergi sekarang," ucap Zelin kemudian meninggalkan Ellia yang masih mematung di tempatnya.
"Kenapa dia meninggalkan ku begitu saja, sebenarnya apa hubungan wanita itu dengan mas Ikram, dia bahkan hanya memanggil nama Ikram Ikram Ikram saja, sampai membawakan obat dan makanan sebelumnya, tanpa mengetuk pintu pula, sampai tidak sengaja masuk ke dalam video kelas kami," gumamnya seorang diri.
Tok tok
"Dokter Ifraz," panggilnya di depan pintu.
"Silahkan menunggu di kamar anda nona muda, tuan muda akan menemui anda setelah rapat selesai," ucap Nando yang langsung keluar begitu mendengar Ellia mengetuk pintu.
***
"Bagaimana akan menjelaskan pada kakak ipar?" tanya Iriana.
"Tinggal di jelaskan saja," ucap Ifraz yang berlalu begitu saja meninggalkan Iriana membisu di dalam sana.
"Sudah, posisi Ikram memang sangat sulit, dia sedang berada di posisi yang juga sama sulitnya, tidak semua orang bisa menggantikan Ikram dengan Kerajaan bisnis sebesar ini," ucap Ginanjar menenangkan Iriana.
"Kenapa kita menjadi sangat kaya kayak gini, aish bahkan musuh bisa ada di balik dinding rumah ini, lengah sedikit saja bisa bisa besok pagi udah bangun tanpa kepala," ucap Iriana kesal.
"Iraz juga menyebalkan, semua orang menyebalkan, paman aku sedang ingin minum susu," ucapnya dengan suasana hati tidak karuan.
***
Kamar Ellia
"Kakak ipar,"
"Iya masuk saja," teriak Ellia yang sudah duduk di atas kursi.
"Boleh aku masuk?" ucap Ifraz yang sudah memasukkan kepalanya ke dalam kamar ketika pintu sedikit terbuka.
"Masuk saja, ini kan rumah kalian," ucapnya dengan sebuah senyum manis memperlihatkan lesung pipi miliknya.
"Kakak ipar sedang apa?"
"Hendak menonton video, temanku baru saja mengirimkannya," tambah Ellia.
"Kakak ipar menonton saja dulu," ucap Ifraz yang sudah tau pasti apa video yang akan di lihat kakak iparnya ini.
Ellia hanya mengklik video yang sudah ter-Download di ponselnya, namun betapa terkejutnya ketika sebuah ledakan muncul di layar ponselnya.
"I... in... ini apa? bagaimana mungkin mas Ikram ada di dalam sana," ucapnya terbata setelah tidak sengaja melempar ponselnya hingga jatuh ke lantai.
Ifraz masih mengamati kakak iparnya dari kejauhan, "dokter berita ini salah kan, mas Ikram beneran nggak masuk ke sana kan?" tanyanya panik.
"Aku sudah beberapa kalo menelfon nya sejak pagi, tapi dia sama sekali tidak menjawab satu pun pesan dan telfon dariku," ucapnya lagi memberi penjelasan.
"Itu karena semua peralatan elektronik yang ada di tubuh bang Ikram sudah tidak berfungsi, Iriana sudah melakukan cek pada semua alat yang sebelumnya di pakai oleh bang Ikram, hasilnya nol,"
"Tunggu, jangan bercanda dengan hal semacam ini dok, dia baik-baik saja pagi ini, aku bahkan melewatkan sarapan bersamanya karena aku ada kelas pagi dan terburu-buru berangkat, tidak mungkin, pasti ada yang salah," ucapnya tidak percaya
"Kami masih mencari, jasadnya juga belum di temukan,"
Deg
Jasad