
"Bagaimana hasilnya?" tanya Iriana setelah menunggu hampir tiga puluh menit.
"99,99% berhubungan,"
Iriana limbung, pikirannya semakin tidak karuan, "yang hanya bisa berhubungan dengan kita hanya bang Ikram, darahnya masih segar, kain ini bahkan masih basah, artinya dia juga baru saja di pindahkan," ucapnya dengan suara sangat lirih, hampir tidak terdengar.
Ifraz meremas rambutnya kasar, "Aish... " ucapnya penuh emosi, rasa bersalah memenuhi dirinya.
"Bagaimana bisa ini terjadi di wilayah kekuasaan kita sendiri?" teriak Iriana membanting semua hal di meja kerja Ifraz.
"Cepat periksa semua kamera di seluruh hutan, cari siapa yang sudah mengotori hutan ku, " teriak Iriana tidak terkendali pada seseorang yang saat ini tengah menunggu perintahnya di balik earphone.
"Tetap cari di ruangan itu juga, pasti ada pintu rahasia di sana, jangan kembali sebelum menemukan titik terang," tambah Ifraz yang lebih bisa mengendalikan dirinya dari pada Iriana.
Dor dor dor dor, suara tembakan terdengar beberapa kali di telinga Ifraz dan Iriana.
"Ada apa?" tanya Ifraz.
"Kita sedang di awasi tuan muda, ada total empat kamera yang sedang memperhatikan kita sejak tadi di dalam ruangan ini, mereka pasti sudah tau gerakan kita saat ini,"
"Ambil alatnya dan bawa kemari," perintahnya.
"Laksanakan tuan muda," jawab beberapa orang bersamaan.
***
"Ha ha ha ha ha, cepat juga mereka bisa menemukan ku, padahal kamera milikku sudah ku sembunyikan dengan sangat teliti dan hati-hati," ucap seorang laki-laki dengan badan cukup berisi dan beberapa bulu di dagunya.
Seorang laki-laki pemilik kornea mata biru itu masih bisa mengeluarkan seringai dari mulutnya dengan tubuh penuh darah.
"Yang kau lihat ini tidak ada seujung kuku dari dari kekuatanku," ejeknya.
Namun dengan cepat laki-laki paruh baya itu menggerakkan tangannya mendekati leher berwarna putih penuh darah, "aku sudah menyembunyikan mu dengan baik, tapi kenapa mereka masih bisa menemukanmu, mereka yang terlalu pintar atau aku yang cukup bodoh hingga seorang bocah kemaren sore bisa menemukan persembunyian ku," ucapnya semakin menekan leher Ikram dengan tangannya.
Laki-laki paruh baya ini sudah terlampau emosi, hingga tidak sadar jika tawanannya ini sudah melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangannya.
"Kau tidak cukup pintar jika harus bersaing dengan kedua adikku," ucapnya seolah tidak merasakan sakit ketika laki-laki paruh baya itu semakin menekan lehernya.
"Aro, bunuh saja laki-laki ini, dia tidak berguna," teriaknya semakin menggila.
"Mungkin aku yang harus membunuhmu terlebih dahulu," ucapnya yang kini tengah mengarahkan tangannya yang semakin berlumuran darah dengan sebuah ujung pecahan kaca pada leher laki-laki paruh baya itu.
"A.. Aro, Aroo," teriaknya ketakutan ketika ujung pecahan kaca sudah semakin dekat dengan lehernya.
Dengan satu tangan memegang kaca, tangan yang lain melepaskan ikatan di bagian kaki dengan sangat mudah, seolah ini adalah hal yang biasa ia lakukan.
"Aroooo," teriaknya semakin kencang.
"Kau yang membuat ruangan ini kedap suara, lupa ?" ucapnya, orang dengan luka di hampir seluruh tubuh itu kian semakin terlihat menyeramkan dengan banyak sekali darah.
"Ruangan ini di desain khusus untukku agar kalian bisa menyiksaku tanpa ada satu orang pun yang tau bahkan ketika aku berteriak, tapi jangan sampai ruangan ini menjadi tempat terakhirmu," tambahnya tidak memberi kesempatan laki-laki paruh baya itu untuk berbicara.
"Ikram, bagaimana mungkin kau masih punya keberanian dan kekuatan dengan kondisi tubuh itu, aku bahkan tidak pernah memberimu makanan," tambahnya dengan nyali semakin ciut.
Ikram tersenyum, laki-laki ini mengambil sebuah pistol di saku celana sebelah kiri milik orang yang sudah ada di bawahnya itu, "cih berani melawanku dengan senjata seperti ini, bahkan jangkauan bom yang kalian miliki tidak bisa menghancurkan sebuah gedung secara utuh, tapi sudah berani menjadikan aku target," tambahnya.
"Aro pasti akan membunuhmu, Kau pasti akan mati di tangannya,"
Aura hitam disekelilingnya kini semakin pekat, seolah tidak ada cahaya sama sekali di ruangan itu, hanya ada Ikram dan kegelapan, bahkan bohlam lampu kecil semakin membuat dingin udara di sekelilingnya.
"Aku pemilik benteng hitam penerus Alexander, penerus artinya aku jauh lebih hebat dari Alexander, bagaimana mungkin seseorang yang bahkan memiliki kualitas dibawah Alexander masih punya ambisi memiliki benteng hitam yang sudah ada di dalam genggamanku, mimpi,"
"Aroo..." teriaknya semakin menggila.
Dor
Sebuah tembakan tepat di kepala laki-laki paruh baya yang kini sudah tergeletak di tanah dengan semua kesombongan yang masih melekat di wajahnya.
"Terlalu banyak bicara," gumam Ikram yang kemudian meletakkan tubuhnya di sebuah kursi tempat ia di ikat sebelumnya.
"Huft, sudah tanggal berapa ini ? rasanya sudah lama sekali aku tidak mandi," tanyanya lirih pada dirinya sendiri.
Tak lama derap langkah kaki mulai berdatangan menuju ruangan tempat ia berada saat ini, semua orang shock ketika melihat ketua mereka sudah tergeletak di lantai dengan sebuah tembakan di dahinya.
Seorang laki-laki berkulit sawo matang terlihat tidak begitu kaget dengan apa yang terjadi di depannya.
"Aro, pantas saja kau beberapa kali datang," ucap Ikram tanpa basa-basi.
"Kau bahkan membuat tipuan semacam ini hanya untuk membuatku membunuhnya, aku bahkan harus mengorbankan tubuhku hingga luka separah ini, jika saja kau menjelaskan masalahnya lebih awal," ucap Ikram kesal.
"Ada apa ini bos?" tanya yang lain cukup berani.
"Selamat datang di tempat kami bos," ucapnya menunduk hormat.
Meskipun bingung, namun gerakannya di ikuti oleh beberapa orang yang lain, "selamat datang bos,"
"Kami akan menyiapkan kamarnya," ucap Aro.
"Berikan aku ponsel, aku akan menghubungi seseorang," ucap Ikram.
"Tolong untuk tinggal dan tidak memberi tahu siapapun saat ini bos," ucapnya sopan, bahkan tidak berani menatap langsung mata Ikram.
"Alasan," ucap Ikram.
"Kami membutuhkan seseorang untuk melatih dan mengurus kelompok ini agar bisa bertahan, mereka pasti akan menjemput kemari jika tau anda berada di tempat ini, itu hanya akan membuat kami menjadi tersangka,"
Cukup lama Ikram terdiam, "sudah berapa hari?"
"Lima hari,"
"Aku berjanji pada Iriana akan kembali dalam waktu satu bulan, jika lebih dari itu dia pasti akan menarik kepalaku," batin Ikram
"Hanya dua puluh lima hari, aku akan pergi setelahnya," jelas Ikram yang kini sudah beranjak dari duduknya.
"Bos,"
"Aku bahkan bisa membunuh kalian semua disini dengan kondisi sekarang agar aku bisa pulang," tegas Ikram.
"Baik, hanya dua puluh lima hari,"
"Setelah ini berikan laporan apapun tentang semua hal yang ada di sini, ah dan yang paling penting, aku benci orang yang tidak bersih, ruangan ini cukup bau, penuh dengan ******, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, cepat pergi mandi," ucapnya tanpa basi-basi yang mana membuat semua orang di sana malu.
"Si... siap bos,"